
“Bagaimana kalau aku mengantarnya ke sana, dan kita berlatih berlari?” ujar Leonard. “Kalau kurasa ia sanggup, mungkin kita bisa mengizinkannya belajar menari.”
“Aku juga berpikiran begitu,” kata Virginia. Ia sudah
mengambil keputusan. “Juliet?”
Juliet agak terkejut. Ia membersit hidungnya, mengusap matanya, dan merangkak keluar dari sudut.
“Ya, mama?”
“Ayahmu ingin mengatakan sesuatu padamu, sayangku.”
Juliet berpaling padanya, penuh tanda tanya.
“Ambillah topimu, sayangku. Aku akan mengantarmu ke sekolah tari.”
“Tapi…” ujar Juliet, gagap. “Kok…”
“Sudahlah. Kita lihat saja. Cepatlah, Nak.”
“Oh, terima kasih, Papa! Terima kasih, terima kasih,
terima kasih!”
“Jangan berterima kasih dulu. Kau harus berjanji untuk selalu membuka mata dan telinga lebar-lebar…”
“…khususnya bila keluar dari tempat yang terlindungi,” sambung ibunya.
“Dan memanfaatkan hidungmu.”
“Hidung yang tajam adalah sahabat tikus,” kata ibunya.
“Jangan melamun, dan jangan sampai perhatianmu teralih oleh apa pun.”
“Sekalipun sangat menarik,” sela ibunya.
“Bila kau berada di suatu tempat yang tidak aman, kau harus selalu waspada terhadap Kucing.”
“Hanya Kucing. Tidak yang lain.”
“Kau harus langsung pergi ke sana…”
“Dan segera kembali pulang!”
“Jangan berlama-lama melihat apa pun…”
“Dan jangan sekali-sekali bereksplorasi…
Pendek kata, sore itu Juliet sudah terdaftar sebagai
murid Bonaventure yang ketiga.
Pemandangan seperti ini terjadi hampir di seluruh komunitas tikus. Pemandangan yang serupa, tapi
tidak sama—karena setiap tikus dan masing-masing situasinya memang tidak sama.
Ada tikus yang berasal dari bengkel tukang sepatu,
__ADS_1
yang terlahir di dalam sepatu balet dan merasa masa depannya berkaitan erat dengan Tari. Ada tikus yang tinggal di Duke of Wellington (sebuah bangunan umum), yang begitu pandai menghibur teman-temannya dengan menari ketika pemain
piano memainkan lagu-lagu populer dalam kesempatan nyanyi bersama, hingga ia jadi bercita-cita menjadi penari profesional.
Ada tikus yang bersedih hati, yang sepanjang hari bersembunyi di jendela dan menatap ke luar, dan ingin sekali melakukan sesuatu yang baru untuk mengangkat semangat hidupnya. Dan ada tikus penggembira yang tidak dapat tidur di malam hari karena kegirangan, dan karena belum mendapat cara yang tepat untuk mengekspresikan diri, berharap tari adalah keputusan yang tepat. Dan ada tikus dari rumah penjahit, yang hanya ingin mengenakan tutu.
# # #
Sementara Bonaventure bekerja di lubang tikusnya,
merancang kelasnya yang pertama, angin kecil yang riang menari-nari di jalanan.
Angin itu bermain-main dengan salah satu posternya, dan akhirnya menangkapnya—poster yang ditempel dengan terburu-buru dan telah sekian
lama hampir terlepas dari dinding. Angin itu membawanya menempuh perjalanan yang panjang dan gelisah.
Sekian lama poster itu tergeletak di jalan,
diinjak-injak orang, yang kalau tidak memerhatikan akan menganggapnya sepotong kertas tanpa arti.
Angin meniupnya lagi ke sepanjang jalan, lalu ke jalan lain—kemudian berhenti meniup dan meninggalkannya di selokan. Tetapi keesokan
paginya, angin yang periang itu menjadi liar dan meniup poster itu—bersama debu dan daun-daun kering, ranting kayu dan benda-benda kecil lainnya yang tidak tahan terhadap tiupannya yang kuat—melewati atap-atap rumah dan cerobong asap
dan masuk ke kota kecil, beberapa mil jauhnya di pedesaan, di mana hari-hari selalu hening bagaikan danau.
Dan di sana poster itu dilihat oleh tikus yang seumur
hidupnya bercita-cita menjadi penari.
yang begitu indah, lembut, dan manis, sehingga ia dicintai siapa pun yang mengenalnya.
Ia tahu perjalanan ke kota tentulah panjang dan
berbahaya. Tapi ia langsung mengemas benda-benda miliknya yang tidak seberapa,
mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya, dan berangkat malam itu juga.
Sekolah tari Bonaventure belum dimulai. Tapi telah berhasil mengubah dunia.
# # #
Suatu pagi—masih sangat gelap seperti malam—Bonaventure merangkak dari lubang tikusnya (memeriksa kiri dan kanan dulu, kalau-kalau ada bahaya), menyeberangi lantai kayu kelas Monsieur Dupoint, menyelinap ke bawah pintu ganda dan keluar ke bordes. Ia mengepit sesuatu di bawah lengannya—sesuatu yang kira-kira sebesar gulungan kertas yang menempel di permen Natal.
Begitu sampai di bordes, ia membuka gulungan kertas itu dan memasangnya di dinding, persis di tengah-tengah, di bawah pengumuman yang berbunyi:
...AKADEMI...
...MONSIEUR DUPOINT...
...UNTUK...
...ANAK-ANAK PARA ARTIS...
...YANG...
...INGIN MENGIKUTI...
__ADS_1
...PROFESI...
...ORANGTUA MEREKA...
Lalu ia mundur sedikit untuk melihat hasilnya.
Ia mendesah puas.
Belakangan, pagi itu juga, ketika Clair-de-Lune akan
pulang ke ruang bawah atap setelah berkunjung ke biara Bruder Inchmahome, Bonaventure berkata padanya.
“Mademoiselle Clair-de-Lune, maukah kau menemani aku ke bawah untuk—katakanlah—kunjungan ekstrakurikuler ke ruang belajarmu? Ada
sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”
Clair-de-Lune mengikutinya dengan sopan. Ketika mereka tiba di lantai itu, yang begitu sunyi dan masih kosong sepagi itu, Bonaventure tiba-tiba berhenti di depan pintu dengan sikap bangga sekaligus malu. Sejenak Clair-de-Lune kebingungan. Apa yang ingin ditunjukkannya? Lalu ia sadar, ia
harus melihat setinggi mata Bonaventure, jadi ia pun menelungkup di lantai, dan melihat ke arah tikus itu menatap.
Lalu ia melihatnya. Dengan huruf-huruf kecil, di
poster kecil, tidak sampai satu inci di atas lantai, tertulis:
...SEKOLAH...
...KHUSUS BONAVENTURE...
...UNTUK...
...TIKUS-TIKUS PENARI...
...Keterangan:...
...di lubang tikus di dalam...
“Papan nama yang elegan, kan?” kata Bonaventure sambil menatap cemas wajah Clair-de-Lune (yang hanya beberapa inci dari wajahnya).
Ekspresinya unik: sebagian hampir meledak saking bangganya, sebagian lagi cemas
kalau-kalau gadis itu tidak menyukainya.
Clair-de-Lune mengangguk berulang kali.
Wajah Bonaventure memancarkan kebanggaan. Kumisnya berdiri tegak dan mata kelamnya bersinar. “Hanya sedikit orang,” komentarnya, “menghargai kemampuan tikus dalam membuat kaligrafi.”
“Maukah kau memperkenankan aku mengantarmu ke dalam?” tambahnya; dan segera menghilang di bawah pintu. Clair-de-Lune segera berdiri, mendorong pintu sedikit, dan mendesak maju. (Pintu itu tidak dikunci karena tidak ada barang berharga di dalamnya yang bisa dicuri, kecuali mungkin piano, tapi itu pun akan sulit diangkut ke lantai bawah.) Bonaventure telah menghilang
di dalam lubang tikusnya. Lagi-lagi, Clair-de-Lune mengikutinya, menelungkup di depannya dan mengintip ke dalam. Apa yang dilihatnya membuat hatinya tercekat.
Studio tari mini! Barre-nya, yang setinggi lengan tikus, terbuat dari tusuk gigi! Cerminnya! Ruang ganti
yang ditutupi tirai! Dan gambar-gambarnya—gambar kecil-kecil—menunjukkan sosok Arabella Moncrief, Myra Livinstonem dan Pierre Nicholas Roulette!
Clair-de-Lune mendesah panjang—gembira dan kagum. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat sesuatu yang begitu sempurna.
Bersambung...
__ADS_1