CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 27


__ADS_3

Sepanjang hari itu, Clair-de-Lune mendengarkan.


Ia mendengarkan neneknya saat sarapan—begitu serius, tegang, dan gigih—dan untuk pertama kalinya gadis itu berpikir, nenekku sedih.


Ia mendengarkan murid-murid perempuan di sekolah tari—terutama Milly Twinkenham, Fenella Flynn, dan Prudence Eeling—dan tidak hanya sebatas pada apa yang mereka ucapkan. Ia mendengarkan apa yang diketahuinya tentang mereka, sekalipun selama ini ia jarang memikirkannya. Ternyata mereka takut padaku, pikirnya. Bahkan mereka lebih takut padaku


daripada aku pada mereka!


Sekalipun, jujur saja, mengetahui hal ini tidak


mengurangi rasa takut Clair-de-Lune pada mereka.


Namun, bagaimanapun, kebencian mereka terhadapnya ini tidak begitu terasa mengganggu lagi. Sebab, bukankah tidak ada sesuatu pun yang


lebih penting daripada kasih? Ibunya juga mengajarkannya begitu!


Maka, pada pagi yang luar biasa ini, ketika melewati


Milly sebelum masuk kelas, ia menatap matanya dan tersenyum sedikit padanya. Milly begitu terkejut sehingga tidak bisa mengatakan apa-apa.


Ada enam anak laki-laki di kelas Monsieur Dupoint.


Clair-de-Lune tak pernah memerhatikan mereka sebelumnya, tapi sekarang—karena ia mendengarkan mereka—pikirnya dengan takjub, mereka kelihatannya… baik!


“Jangan khawatir—pinjam saja punyaku,” kata yang satu kepada yang lain, dan tepat saat itu ia mengangkat kepala dan melihat Clair-de-Lune memerhatikannya. Karena ia memang pada dasarnya ramah, dan tak tahu harus melakukan apa, anak laki-laki itu tersenyum; dan Clair-de-Lune


segera membalas senyumnya. Ia mulai pandai tersenyum.


Ia mendengarkan Monsieur Dupoint, dan membatin, pria itu sedang cemas.


Ia mendengarkan Mr Sparrow yang sedang bermain


piano—dan mendengar, di balik musiknya, bunyi samar-samar jari-jarinya yang mengetuk tuts piano, dan piano itu terdengar berderik ketika ia mengubah


posisi.


Ia mendengarkan Bonaventure—dan mengkhayal bisa mendengar (sekalipun mungkin hanya imajinasinya) suara kecilnya mencicit kegirangan ketika mengumumkan proyek baru yang gemilang ke hadapan murid-muridnya, yang telah diam-diam berkumpul, satu demi satu, menghadiri pertemuan di dalam lubang rahasianya.


Dan ia mencoba mendengarkan hatinya sendiri.


Tapi itu lebih sukar.


# # #


Ketika Clair-de-Lune berangkat ke pasar sore itu, ia

__ADS_1


terkejut bertemu dengan Monsieur Dupoint di tangga.


“Ah, selamat sore, Nak!” katanya.


Clair-de-Lune menjawab dengan membungkuk memberi salam; dan dilihatnya pelatihnya bukan hanya memakai topi tinggi, sarung tangan, dan jubah hitam, tapi pria itu juga terkejut melihat Clair-de-Lune.


Ia akan mengunjungi seseorang, pikir Clair-de-Lune


sambil terus menuruni tangga. Mungkinkah ia akan berkunjung ke nenekku?


Namun, gedung itu banyak penghuninya. Bisa saja ia


berkunjung ke orang lain.


Monsieur Dupoint memang terkejut, karena ia tengan memikirkan Clair-de-Lune pada saat mereka berpapasan di sudut tangga.


“Gadis malang,” gumamnya sambil mendaki dua anak tangga sekaligus. Tapi bukan kebisuan gadis itu yang membuatnya cemas.


Ketika tiba di lantai enam, ia berhenti sejenak untuk


mengambil napas dan menenangkan dirinya. Ada tugas berat yang dihadapinya. Lalu ia mengangkat tangan dan mengetuk pintu nenek Clair-de-Lune.


“Silakan masuk,” ujar nenek itu, suaranya dingin dan


agak terkejut.


“Madame,” katanya sopan. “Eh—bolehkah aku…?”


“Monsieur Dupoint!” seru nenek Clair-de-Lune.


“Masuklah, masuklah. Duduklah. Teh?”


“Tidak usah. Terima kasih, Madame.” Dan nenek


Clair-de-Lune mendesah lega, karena kalau Monsieur Dupoint bilang ya, tidak ada kue yang bisa disuguhkannya sebagai teman teh. Terlalu mahal menyediakan kue untuk tamu. Dan tamu jarang sekali datang! Nenek Clair-de-Lune mulai enggan


menerima tamu setelah kematian putrinya.


“Kuharap aku tidak mengganggu. Anda baik-baik saja, kan?”


“Ya, aku baik-baik saja, Monsieur, terima kasih.”


“Syukurlah—maaf mengganggu, tapi aku perlu menanyakan pada Anda mengenai masalah penting. Aku juga perlu mengingatkan (sekalipun ini


berita gembira) hal ini bisa membuat Anda teringat akan—kenang-kenangan yang menyedihkan.”

__ADS_1


Nenek Clair-de-Lune duduk dengan punggung tegak di kursinya. Matahari sore bersinar melalui kisi-kisi jendela di belakangnya. Mengenakan gaun hitam dan selendang renda, ia tampak seperti bayangan yang anggun. Ia menatap Monsieur Dupoint dengan matanya yang kelam, sedih, dan lebar.


“Teruskan saja, Monsieur, aku kuat mendengarnya.”


Monsieur Dupoint bergeser di kursinya dan berdeham.


“Madame,” ia memulai dengan lembut, “sebagaimana Anda ketahui, ulang tahun keseratus Perusahaan akan jatuh pada bulan Mei, dan akan


dirayakan dengan pementasan istimewa, termasuk di dalamnya penghargaan pada prestasi terbesar kami, dahulu maupun sekarang. Perayaan seperti itu tentunya tidak akan lengkap tanpa menyebut La Lune—bintang kami yang terbesar…”


“Tentu,” gumam nenek Clair-de-Lune.


“…dan ada yang menyarankan padaku agar tariannya—tari yang paling erat kami kaitkan dengan dirinya…”


“Tarian yang terakhir,” ujar nenek Clair-de-Lune


dengan nada dingin.


“Ya,” kata Monsieur Dupoint dengan berani, “tariannya yang terakhir—ada usul agar tarian itu dipentaskan kembali. Tentunya Perusahaan


memiliki beberapa calon, yang semuanya, dengan ciri masing-masing, bisa menarikannya dengan baik sebagai penghargaan tertinggi pada bintang kita. Tapi Monsieur Direktur merasa—bahkan kurasa seluruh staf Perusahaan berpendapat—pendek kata telah disarankan kepadaku, bahwa tidak ada yang lebih tepat untuk menghidupkan kembali tarian La Lune kecuali putrinya sendiri.”


Monsieur Dupoint menatap waswas pada wanita tua itu. Ia duduk maju di ujung kursinya, tangannya melebar di pangkuannya.


Madame Nuit duduk terpaku, tegak bagaikan patung. Ekspresi wajahnya hampir tidak bisa diduga. Tapi—tampak jelas—sedikit memucat.


Luka hati akibat kematian putrinya—bahkan setelah dua belas tahun—masih begitu segar, mendengar namanya disebut saja sudah cukup membuat ruangan itu seolah berputar. Sesaat, rasanya ia bakal pingsan.


Kuatkan hati, ia menekankan pada dirinya. Kuatkan


hati.


Ketika sedang berjuang mengendalikan dirinya, hatinya terasa perih, perih sekali; lalu mendadak


menyala dengan amarah. Mementaskan kembali tarian putrinya? Alangkah beraninya mereka. Jadi, mereka pikir La Lune sudah ada penggantinya, ya? Atau lebih buruk lagi, penerusnya! Dengan geram ia mengingat kelompok tari yang kini dimiliki Perusahaan—hanya anak bawang, tak ubahnya penari cancan yang diagung-agungkan. Bagaimana mungkin mereka begitu buta? La Lune tidak tergantikan! Ia tidak memiliki penerus…


Kecuali…


Lalu putaran di ruangan itu mulai mereda, seperti


komidi putar menjelang akhir putaran, dan nyonya tua itu mengerti apa yang dikatakan Monsieur Dupoint, dan bergumam pelan,


“Clair-de-Lune?”


Seperti yang kuharapkan, pikir Monsieur Dupoint, dan dari ekspresi wajahnya, kelihatannya

__ADS_1


Madame Nuit tidak setuju. Monsieur Dupoint mendesah lega.


Bersambung...


__ADS_2