CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 8


__ADS_3

“Ah, Selamat pagi, Mademoiselle Clair-de-Lune! Kuharap kau tidak keberatan dibangunkan dengan lagu nina bobo! Memang tidak sepenuhnya logis, membangunkan orang dengan lagu pengantar tidur. Tapi aku ingin membangunkanmu secara khusus, karena aku tahu kau sedang sedih. Ini bukan saatnya untuk mengejutkanmu. Sesungguhnya, kupikir tidak layak. Sekarang sebelum kita berangkat—sebab aku menawarkan jasaku mengantarmu menemui temanku, Bruder Inchmahome, kalau kau sempat (dan kita harus kembali sebelum saatnya latihan tari)—aku harus memberitahumu sesuatu."


“Ketika aku menyelinap ke sini setengah menit yang lalu, mataku menangkap sesuatu yang sangat indah—seekor burung perak dengan jantung merah dan emas hingga di tiang ranjangmu! Sebenarnya aku ingin mengucapkan salam padanya dan melihatnya lebih baik—tapi, setelah dengan susah payah mendaki selimutmu, aku mencapai kepala ranjangmu (tak banyak orang menghargai keatletisan tikus!) burung itu bangun, terkejut dan terbang melalui jendela."


“Burung itu milikmu ya? Kuharap ia tidak tersesat. Tapi, karena kau tidak memasukkannya ke dalam sangkar (dan itu patut dihargai—aku tidak setuju mengurung burung di dalam sangkar) pasti ia sudah terbiasa datang dan pergi… Yuk, kita berangkat?”


Clair-de-Lune bangkit dengan hati-hati, agar tidak merusak posisi selimutnya. Seekor burung? Ia tidak mengerti, dan tidak dapat meminta tikus itu menjelaskan. Sekalipun begitu jantungnya berdebar, karena tikus itu memberi kabar tentang kawan lama yang telah lama menghilang.


Clair-de-Lune cepat-cepat berpakaian. Ia tidak suka memikirkan apa pendapat neneknya tentang perjalanan luar biasa ini. Tapi, pagi ini ia bangun dengan kekuatan baru, kejelasan baru, kepastian baru tentang apa yang harus dilakukannya. Tak seorang pun yang dikenalnya, bisa membantunya. Tak ada seorang pun yang dikenalnya, mau membantunya. Tapi barangkali—oleh suatu mukjizat—seseorang yang belum dikenalnya, bisa…


Satu-satunya yang membuatnya takut adalah neneknya terbangun dan menghalanginya.


“Ikuti aku!” ujar tikus itu ketika ia sudah siap.


Mereka merangkak di lantai ruang bawah atap, melewati nenek Clair-de-Lune yang masih terlelap, keluar ke pintu, dan tiba di bordes. Bonaventure bergerak dengan gesit, ringan, dan anggun, berhenti dan melangkah bagaikan penari, sedangkan langkah Clair-de-Lune begitu ragu-ragu, gugup, dan terseok-seok, sekalipun ia penari. Begitu keluar dari apartemen, Clair-de-Lune menutup pintu dengan begitu pelannya sehingga kelihatannya tahap keberangkatan ini memakan waktu tak kurang dari lima menit.


Tapi, neneknya tetap terlelap.


Jadi, mereka pun mulai menuruni tangga, suatu perjalanan yang panjang.


Dan dimulailah pengalaman Clair-de-Lune yang luar biasa dan tak terbayangkan.


Clair-de-Lune sering sekali naik-turun anak tangga itu. Tapi, ia belum pernah melihatnya pagi-pagi sekali. Dalam cahaya fajar yang remang-remang, kelihatannya berbeda—begitu berbeda sehingga ia takut kehilangan pemandunya (karena Bonaventure berjalan begitu cepat, bukan di atas anak tangga tapi melompat-lompat di pegangan tangga). Ia terpaksa berhenti dan memerhatikan segalanya secara lebih teliti. Karena, sementara berjalan turun, ia tetap melihat sesuatu dengan ekor matanya—sesuatu yang seharusnya tidak ada.

__ADS_1


Di tempat seharusnya ada tangga—kenapa sekarang ada kain lembap?


Di tempat seharusnya ada ruang—kenapa sekarang ada gua berisi lumut?


Dan di ujung sebuah koridor pendek, kenapa samar-samar dilihatnya ada air terjun?


Tiba-tiba, Clair-de-Lune merasa harus berhenti melangkah, ada atau tidak ada Bonaventure. Ia berdiri di bawah sederetan anak tangga, menenangkan dirinya, lalu mendongak.


Mungkinkah—mungkinkah…


Apakah yang dilihatnya itu langit fajar yang kelabu dan berawan, atau hanya langit-langit bangunan dari kejauhan?


“Mademoiselle!” panggil Bonaventure.


Bukankah ia mengenal setiap lantai dalam bangunan itu? Tapi ia jelas tidak tahu, apakah ia pernah berada di sini. Sebab, di hadapannya ia melihat pintu baru yang paling indah. Sangat tua, diukir begitu indahnya, dan ia tahu, seumur hidupnya ia belum pernah melihatnya.


Bonaventure memberi isyarat agar mendekat. Lalu, tiba-tiba saja, ia menghilang di bawah pintu, yang tepi bawahnya berakhir sekitar dua inci dari lantai. Untuk sekejap Clair-de-Lune menyangka si tikus menyuruhnya mengikuti langkahnya. Tapi kemudian, pelan-pelan, pintu itu terbuka.


Clair-de-Lune melangkah mundur saking terpesona.


Di hadapannya, terhampar sampai ke ambang pintu, ada kebun yang lebat. Di sebelah sana, ada pinggiran jurang. Di sebelah sana lagi, laut! Dan di atas, langit! Dan, sedikit ke kanan, permukaan kelabu sebuah lereng gunung, yang ke dalamnya terukir—sebuah biara!


Clair-de-Lune bergidik ditiup angin laut yang berembus tiba-tiba.

__ADS_1


“Ayo, Mademoiselle!” panggil Bonaventure dengan suara nyaring, suaranya hampir hilang di antara bunyi ombak di bawah mereka dan kebun—yang dipenuhi burung-burung—di hadapan mereka. “Ikuti aku!”


Clair-de-Lune menatap ke bawah, ke kakinya. Kaki itu menapak di atas papan kusam di ambang pintu yang tak dikenal ini. Tepat di hadapannya, rumput terhampar berkelok-kelok. Ia mengangkat kakinya,


menapakkannya di atas rumput, dan, dalam tiga langkah, melewati pintu. Tiba-tiba, ia merasakan matahari pagi yang lembut menghangatkan wajahnya. Ia berada di luar! Di luar! Tetapi…


Kepalanya berputar-putar. Ia memejamkan mata. Lalu ia melihat ke belakangnya.


Kelihatannya ia baru saja keluar dari sebuah gua. Batu kelabu yang lembap di sekitar pintu masuk itu bertepi kasar dan berlumut; ambang pintu itu kosong, kelihatannya begitu gelap sehingga dari situ tidak tampak sesuatu apa pun. Sungguh, kegelapan yang ditinggalkannya di belakang begitu pekatnya sehingga hampir membuatnya ketakutan.


Di mana rumahnya? Di mana bangunan tempatnya tinggal seumur hidupnya? Mungkinkah terkurung di dalam gua di lereng gunung?


Tapi ia berada di mana sekarang? Bagaimana mungkin langit ini, laut ini, kebun ini, gunung ini, biara ini, tersembunyi di balik sebuah pintu batu yang tua?


Tapi, mana ada sesuatu yang benar-benar mengejutkan di dunia yang aneh ini?


Ia berpaling keheranan dan mengikuti sosok kecil Bonaventure yang melangkah cepat di atas rumput; melewati bunga-bunga liar, semak-semak dan pohon-pohon, tepian jurang dan laut biru di sisi kirinya, yang bahkan lebih luas dan bebas dari bayangannya, ditambah lagi langit luas di atasnya, ke mana pun mata memandang.


Menghirup napas dengan sulit, ia mengikuti si tikus ke pintu biara—yang seperti diukir di sisi gunung—dan menunggu, jantungnya berdebar saking terpesona, ketika tikus itu menyelinap di bawah pintu itu.


Pintu itu segera terbuka, dan tampak seorang biarawan tua, dengan Bonaventure hinggap di bahunya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2