CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 12


__ADS_3

Ibu Bonaventure selalu menekankan padanya perbedaan antara tikus dan pencuri--untuk membagi dua sudut di belakang menjadi ruang ganti, satu untuk pria dan satu lagi untuk wanita. Saputangan itu kedua-duanya putih, dan agak ternoda oleh tinta, dan disulami monogram CD. Bonaventure sebenarnya berharap inisial itu terbalik. Jadi, ia bisa menganggapnya singkatan dari Dancing Class daripada misalnya, Charles Dickens.


Minggu lalu, Bonaventure mendesain sebuah poster


cantik yang mengumumkan pendirian sekolahnya, lengkap dengan tanggal dan waktunya, dan jadwal berlangsungnya pelajaran. Poster ini dibawanya ke temannya sesama tikus yang bernama Leonard, yang bersama istri dan anak gadisnya tinggal


di percetakan, dan telah menjadi pakar dalam membuat barang cetakan bagi tikus. (Leonard bahkan terlibat dalam produksi Kumpulan Karya Shakespeare terbitan pertama, khusus untuk tikus).


Keesokan paginya, Bonaventure mendapat seratus


helai poster, dan seharian ia menempel semuanya setinggi mata tikus di seluruh bangunan dan di sekitar jalan-jalan yang berdekatan. Poster ini, tentu saja, terlalu kecil untuk dilihat manusia—kecuali kalau orang berusaha keras.


Tapi tikus-tikus dapat melihatnya dan menyebarkan berita ini pada teman-temannya. Tak lama kemudian setiap tikus di dalam itu sudah tahu bahwa Bonaventure telah membuka sebuah sekolah tari khusus untuk tikus—dan berita ini tersebar lebih


luas lagi, karena jaringan tikus-tikus itu cukup besar dan efisien.


Bonaventure tentunya akan merasa puas sekali kalau saja ia melihat apa yang terjadi pagi itu di depan poster yang dengan nekat ditempelnya di dekat pintu masuk teater.


“Oh, Rudolph, lihat!” kata seekor tikus betina ketika


melihat poster itu. Ia tikus putih seperti salju, memakai pita merah jambu yang diikatnya dengan manis di lehernya, dan memiliki kumis yang luar biasa ekspresif. “Sekolah balet khusus untuk tikus! Ini dia yang kita tunggu-tunggu!”


“Benarkah?” kata tunangannya, Rudolph, yang tangannya digandeng manja oleh si tikus betina. “Yah, sekarang kau tahu, sayangku.”


“Aku sudah lama sekali ingin menari di atas


pentas—dengan cara yang anggun, tentunya. Tapi kesempatan bagi tikus langka sekali! Lagi pula ada kau, cintaku, dan caramu melompat, sekalipun harus


dilakukan di tempat-tempat yang sempit, begitu artistik. Selama ini bakatmu tersia-sia saja. Kita harus mendaftar bersama-sama, Rudolph!”


“Haruskah, Margot?” tanya Rudolph, sambil membetulkan kembali letak kacamatanya yang selalu merosot, dan menatap poster itu lebih


teliti lagi.

__ADS_1


“Tentu harus, sayangku. Aku memikirkan bakatmu lebih dari dari bakatku sendiri. Balet itu seluruhnya terdiri atas lompat-lompatan, khususnya untuk laki-laki. Tunggu saja kalau mereka sudah melihatmu menari!”


“Tunggu sampai mereka melihat kau,” balas Rudolph


sopan, dan mereka melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan. Maklum, mereka baru saja bertunangan.


Mereka adalah murid-murid pertama Bonaventure, dan mereka mendaftar sore itu juga.


# # #


Ketika Clair-de-Lune merasakan gerakan kumis dan


hidung Bonaventure di bawah telinganya keesokan harinya, ia sudah separuh terbangun karena tidurnya memang tidak lelap. Ia tidak tahu apakah ia harus


ikut Bonaventure atau tidak—bisakah ia datang lagi ke sana sebelum memenuhi permintaan Bruder Inchmahome?


Tapi memikirkan tidak menemui Bruder Inchmahome lagi—atau mungkin tidak pernah lagi—dan Bruder sendiri jadi kebingungan memikirkan apa yang terjadi dengannya—terasa begitu menyakitkan sehingga ia tahu ia harus pergi, setidaknya untuk menjelaskan duduk perkaranya. Ia berpakaian cepat-cepat; dan mengulurkan tangannya pada Bonaventure—sebab pikirnya, setelah ia tahu jalan, sebaiknya ia menggendong si tikus.


Ia menggenggamnya dekat ke dada kirinya; dan merasakan bulunya yang hangat, detak jantungnya yang lirih dan hidungnya yang berkumis mengintip di antara jemarinya.


Lalu Clair-de-Lune merangkak melewati neneknya yang masih terlelap, keluar ke bordes, dan menuruni anak tangga.


Ia berjalan dengan hati-hati—karena sedang menggendong temannya—sehingga ia lagi-lagi lupa sudah berada deret anak tangga yang dilaluinya sebelum sampai di lantai berpintu batu.


Tapi, begitu ia meletakkan kakinya di lantai itu,


pintu itu terbuka—seakan-akan khusus untuknya—dan seketika, sebelum ia dapat melihat apa-apa di kecerahan sinar pagi, sudah didengarnya gumam merdu laut.


Karena ia sedih, karena ia takut tidak bisa melihat


semuanya lagi, kebun liar, gunung, dan langit itu, kelihatannya semua lebih indah lagi daripada kemarin.


“Ia berada di kebun di tepi laut,” ujar penjaga pintu

__ADS_1


ketika Bonaventure bertanya; maka mereka pun berjalan melewati lorong, bertemu dengan dua biarawan muda yang tersenyum ramah pada mereka, melewati ruang belajar, dan keluar ke kebun tepi laut, yang dihiasi tanam-tanaman, bunga-bunga, dan jurang yang meluncur jatuh ke laut luas.


“Itu dia!” ujar Bonaventure gembira.


Tapi, ketika Clair-de-Lune melihat biarawan itu, ia


berhenti berjalan saking takjub.


Bruder Inchmahome sedang duduk di bawah cahaya matahari di sebuah bangku batu yang menghadap ke laut, sosoknya bersinar di terang fajar, seperti bab pembuka sebuah naskah kuno. Ia sedang mencoret-coret dengan tulisan tangannya yang lucu dan halus, ke buku catatannya, yang diletakkannya


di pangkuan. Jubah cokelatnya, rambut keritingnya yang kelam, dan halaman-halaman buku catatannya agak berkibar diembus angin, tapi sekalipun


sedang menulis Bruder Inchmahome duduk dengan sangat tenang.


Sebentar-sebentar, dengan gerakan kecil yang anggun, ia mengangkat kepala, duduk diam sejenak tapi tetap waspada, kepalanya meneleng seakan-akan sedang mendengarkan sesuatu. Lalu


dengan wajah serius, ia menulis lagi. Apakah ia sedang mendengarkan laut? Atau mendengarkan—segala sesuatu?


Ketenangan Bruder Inchmahome, kedamaiannya, caranya mendengarkan, begitu menakjubkan sehingga bagi Clair-de-Lune semua itu seakan-akan mengisi udara di sekitarnya, seperti juga kehangatan dan cahaya. Ketika tadi ia sampai di kebun itu, Clair-de-Lune sedih dan cemas; sekarang, hanya dengan menatap Bruder saja, ia merasa tenang dan dimaafkan. Tapi toh Clair-de-Lune ragu-ragu, tidak ingin mengganggunya. Sebab bagaimanapun, itu


semua adalah kehangatannya, kecerahannya, dan Clair-de-Lune ragu apakah ia cocok berada di sini.


Tapi, Bonaventure tidak ragu-ragu. Begitu melihat


biarawan itu, ia melompat riang dari tangan Clair-de-Lune, berlari di atas rumput, dan naik ke bangku batu. Ia lalu menggigit-gigit jemari Bruder


Inchmahome tersenyum sambil masih menulis, dan menjulurkan satu jari untuk


membelai si tikus.


“Ah, Bonaventure!” katanya. “Dan Clair-de-Lune…” Ia


menulis beberapa kata lagi, menutup bukunya, meletakkannya di bangku dan memalingkan wajah lembutnya yang berbentuk hati ke arahnya. “…boleh aku memanggilmu Clair-de-Lune? Kau sudah minta izin pada nenekmu? Dan sudah ada jawaban bagi pertanyaanku?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2