CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 15


__ADS_3

Mereka tertawa dan tertawa, sementara Clair-de-Lune, kebingungan dan berwajah memerah, berdiri tegak di depan mereka. Kalau saja ia bisa bicara! Kalau saja ia dapat mengatakan sesuatu—bertanya apa yang lucu, menjelaskan kepada mereka bahwa ia tidak sengaja membisu.


Tapi ia tidak bisa, maka, berusaha tidak tersinggung, seolah-olah mereka tidak menertawakannya; berusaha sekuat mungkin untuk bergerak dengan tenang dan anggun, ia beringsut pergi.


“Hei, kalian!” panggil Monsieur Dupoint dengan keras dari arah piano. “Kalian pikir kelasku ini apa—sebuah kafe jalanan? Aku tidak mau ada gadis-gadis tolol tertawa-tawa sementara aku mendiskusikan sesuatu dengan Mr Sparrow. Kalian penari seniman! Kalian seharusnya merenungkan latihan pagi ini di kelas! Keluar! Cepat keluar!” dan ia bertepuk tangan seakan-akan sedang menghalau kucing.


Malam itu, dalam kegelapan, ketika neneknya


terangguk-angguk di atas sebuah buku kecil, Clair-de-Lune melongok ke luar jendela, menatap lampu-lampu kota di bawahnya, dan memikirkan, sekali lagi, pertanyaan Bruder Inchmahome.


Ia juga memikirkan jawaban yang telah diberikannya,


dan sementara berpikir, ia merasa telah memahaminya secara lebih jelas. Neneknya bukan hanya merasa lebih baik ia tidak bisa bicara. Neneknya bukan hanya tidak ingin ia bisa bicara. Tapi juga, neneknya menaruh minat yang minim


sekali terhadap bicara—ia menganggp bicara sangat tidak penting dibandingkan dengan hal-hal yang menurutnya Benar-benar Penting—sehingga Clair-de-Lune selalu merasa sulit dimengerti, bahwa dirinya berhak ingin bisa melakukan hal sepele itu—sekalipun sangat penting baginya.


Kenyataannya adalah, sebelum berkenalan dengan Bruder Inchmahome, ia tidak mengenal seorang pun yang menganggap bisa bicara itu penting baginya.


Lalu suatu pikiran aneh menyelimutinya.


Bagaimana dengan ibunya? Kalau ia ada, apakah ia ingin putrinya bisa bicara?


Clair-de-Lune berpikir dengan sangat serius.


Tiba-tiba, bayangan-bayangan muncul di kepalanya tentang si cantik La Lune dalam kostum angsanya, mata besarnya yang kelam menatap lurus seolah keluar dari potretnya. Ia mencoba membayangkan wanita itu tinggal bersamanya dan neneknya di ruang bawah atap, dan terbiasa dengan kebisuan


Clair-de-Lune—tapi entah kenapa sukar mencocokan ibunya dalam bayangan itu. Karena itulah La Lune hanya hidup di buku di rak atas lemari.


Tapi kemudian sebuah gambaran yang lebih samar muncul di kepalanya, tentang La Lune mengenakan pakaian sehari-hari, berbicara, tertawa, memperbaiki sepatu pointe-nya.


Kemudian, tiba-tiba Clair-de-Lune merasa takut, karena rasanya ia bisa mendengar suara aneh itu lagi, teredam dalam sekian banyak lapisan—entah lapisan apa—berusaha semakin kuat untuk berbicara dengannya, memberitahunya sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang tidak ingin didengarnya, dan ia didera rasa bingung yang sedemikian hebatnya hingga ia harus berhenti


berpikir, karena takut, karena takut…

__ADS_1


Karena takut akan—entah apa, ia tidak tahu.


Clair-de-Lune menenangkan dirinya.


Kali ini perlu waktu lebih lama dari biasa.


Suatu hari, mungkin, pikirnya pada akhirnya, aku akan mencoba memberitahu Bruder Inchmahome tentang hal ini. Mungkin ia akan mengajarkan bagaimana caranya menenangkan diri. Tapi, sekarang aku harus menjawab pertanyaannya.


Mengapa aku tidak bisa bicara?


Clair-de-Lune mulai menenangkan diri dan berpikir lagi tentang bagaimana rasanya ketika ia mencoba berbicara. Waktu itu—hanya dua hari yang lalu, sekalipun rasanya sudah lebih lama—ia berusaha berbicara dengan Mr Sparrow. Ia juga mengingat-ingat, bagaimana perasaannya sebelum ia mengeluarkan suara-suara anak burung di hadapan Bruder Inchmahome.


Ia mengenal kata-kata: ia dapat membaca dan menulis! Ia mengerti apa yang diucapkan orang kepadanya. Ia bisa membentuk kalimat-kalimat di kepalanya. Tapi setiap kali mencoba mengucapkannya, seperti ada yang menghentikannya: sesuatu yang mirip tangan di tenggorokannya; tangan yang terbuat dari besi. Pada saat yang sama—persis pada saat sebuah kata akan meluncur keluar—ia merasa takut; takut mengucapkan kata itu.


Mengapa aku takut? Tanyanya pada dirinya sendiri.


Dan jawabannya segera muncul di pikirannya.


# # #


itu:


Aku takut pada apa yang mungkin kuucapkan.


Bruder, tikus, dan gadis kecil itu sedang duduk di


bawah sinar matahari di kebun liar di depan biara. Tak perlu bertanya pada penjaga pintu tentang keberadaan Bruder pagi ini. Mereka langsung bertemu dengannya begitu muncul dari pintu. Ia sedang berbaring menelungkup, mendengarkan sehelai rumput. Sekarang, ketika ia duduk bersama mereka, jubahnya yang besar itu ditebarkan seperti selimut piknik, bagian depannya berhiaskan bintik-bintik embun. Di sekitar mereka, di atas rumput lembap, tumbuh bunga-bunga putih mirip


bintang. Di atasnya, burung layang-layang yang kecil meluncur dan menukik ke langit biru.


Bruder Inchmahome mempertimbangkan dengan serius jawaban Clair-de-Lune. Kalau saja gadis itu tidak menatapnya lekat-lekat, mungkin saja ia tertawa. Tapi sebelum ia berkomentar, Clair-de-Lune


melanjutkan:

__ADS_1


Di dalam hati aku tahu, aku jahat. Kalau aku membuka mulut, bukankah kejahatan ini


akan keluar?


Sekarang Bruder Inchmahome menjadi marah.


“Siapa bilang kau jahat?” katanya.


Clair-de-Lune menatapnya takut-takut. Ia tahu Bruder bukan marah kepadanya, tapi ia takut juga. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


Sebab tak seorang pun perlu memberitahunya.


Tentunya—apa ya kata yang tepat—tentunya sudah jelas dengan sendirinya.


Jelas dengan sendirinya, katanya sungguh-sungguh; dan ketika ia bicara Bruder Inchmahome mengira itu suara sedih burung camar dari batu karang di bawah mereka.


“Jelas dengan sendirinya?” ia mengulang; dan alisnya berkerut karena berkonstrasi, ia berusaha keras memahami gadis itu. “Tidak jelas bagiku. Kau harus dengan sabar menjelaskannya padaku. Kejahatan apa yang kaumaksud itu?”


Wajah Clair-de-Lune sangat serius.


Egois, katanya dengan suara burung camar.


Tidak tahu terima kasih, tambahnya segera.


Pengecut, katanya lagi.


Ia mencoba menjelaskan pada Bruder tentang


penari-penari pemberani yang dibacanya di buku-buku neneknya, dan dibandingkan dengan mereka, ia egois, tidak tahu terima kasih, dan pengecut. Tidak seperti mereka. Ia mencoba menjelaskan tentang ibunya yang sempurna, dan betapa menakutkannya memiliki bakat ibunya (sebagaimana selalu ditekankan neneknya)


tapi tidak memiliki semangat keanggunannya.


Sebab Clair-de-Lune tahu, ia takkan berani

__ADS_1


mengorbankan hidupnya demi Tari. Sayangnya, ada begitu banyak hal yang sangat berarti baginya. Ia sudah lama tahu, ia akan mengorbankan Tari kalau saja ia bisa bicara. Sekarang ia tahu, kalau harus memilih antara Bonaventure, Bruder Inchmahome, atau menari, ia akan memilih teman-temannya itu. Sekarang keduanya jauh lebih penting baginya dibandingkan Tari.


Bersambung...


__ADS_2