
“Terus terang saja,” ujarnya, “aku mengkhawatirkan ide ini, Madame. Sangat khawatir. Pertama-tama, Clair-de-Lune masih kecil: ia belum sepenuhnya berkembang sebagai penari. Tentu saja, pementasan tari ini akan sangat mengharukan, dan begitu menjanjikan! Tapi bagi penari, mementaskan tari dalam usia yang terlalu muda berpeluang menghambat perkembangannya. Penari tak
selayaknya menari untuk menyenangkan hati penonton. Biarkan saat itu datang ketika ia sudah cukup menguasai kemampuannya—dan cukup kuat untuk menjadi dirinya, apa pun pendapat orang lain.”
“Tapi yang lebih penting lagi, Madame, bagaimana
dampat semua ini pada dirinya? Tentulah sangat menyakitkan—baik bagi Anda maupun bagi Clair-de-Lune? Harus kuakui pada Anda, Madame, aku agak cemas terhadap anak itu. Kelihatannya ia—yah, cukup dikatakan tegang menghadapi tugas
seberat itu—mempelajari dan mementaskan tari yang satu itu… Yah, usaha semacam itu menurutku mungkin berbahaya bagi anak itu, dan aku yakin Anda sependapat.”
“Dan ada hal lain, maaf, mohon kesabaran Anda.”
“Ya?” bisik wanita tua itu. Ia kelihatan seperti
tersihir.
“Kalau rencana ini jadi, aku tentunya yang akan
bertanggung jawab dengan pementasan ini. Jadi, aku akan melatih Clair-de-Lune dari naskah yang ditinggalkan Monsieur De la Croix. Bagaimana mengatakannya, ya? Teater, Anda tahu, adalah tempat yang penuh dengan takhayul—dan sekalipun
aku tidak percaya akan hal-hal yang tak masuk akal seperti itu, aku harus memberitahu Anda bahwa ada kecemasan tersendiri—ketika kita menghidupkan tari yang justru…”
Monsier Dupoint terdiam dan mengangkat lengannya dengan ekspresif.
“Kurasa boleh dikatakan menakutkan,” katanya. “Jujur saja aku merasa tidak nyaman. Tapi, mana bisa aku membantah Monsieur Direktur? Namun,” ia membungkuk mendekatkan tubuhnya, “kalau aku mendapat dukunganmu—kalau Madame mengemukakan keberatan—aku yakin mreka akan membatalkan rencana ini. Madame hanya perlu mengatakannya saja—dan aku akan berjuang
membela Madame.”
Monsieur Dupoint berhenti, menatap penuh harap
kepadanya.
Nenek Clair-de-Lune membalas menatapnya. Rasanya seakan-akan ia sedang berdiri di atas tebing curam. Mengatakan apa yang ingin dikatakannya sama saja dengan melompat ke dalam tebing. Namun, ia mengatakannya
juga.
“Ia akan menarikannya,” desahnya.
Sejenak ruangan itu hening sekali.
“Madame—,” ujar Monsieur Dupoint, tergagap. “Aku tidak yakin aku…”
__ADS_1
“Anda sudah mendengarku dengan jelas. Kataku, ia akan menarikannya.”
“Tapi, Madame—kupikir—yakinkah Madame? Bukankah Madame perlu sedikit waktu untuk—mempertimbangkannya?”
“Kuhargai kepekaan Anda. Aku tidak pernah meragukan bahwa kau adalah sahabat baik anakku, dan juga Clair-de-Lune. Tapi, aku sudah merasa yakin.”
“Tapi—Madame tidak cemas…?”
“Monsieur Dupoint,” kata nenek Clair-de-Lune, pelan
dan lelah, dalam suara yang hampir ramah, “bukan Tari itu yang membunuh putriku. Ia meninggal—aku tahu—karena hatinya hancur. Ia tewas gara-gara
cintanya pada pemuda yang tidak layak. Clair-de-Lune tidak menghadapi bahaya.
Ia tidak mencintai siapa-siapa. Aku yakin akan hal itu.”
Ia menatap mata Monsieur Dupoint sampai guru tari ini menunduk, bingung dan malu.
Monsieur Dupoint terkejut mendengar apa yang dikatakan nenek itu; tapi ia merasa tak berdaya dan terkalahkan. Keyakinan wanita itu begitu besarnya hingga ia seolah layu di hadapannya.
Ia jadi salah tingkah; mula-mula ia mencoba mengatakan sesuatu yang akan membuat wanita itu mengubah pikirannya, lalu ia mencoba—karena ia pria yang sopan dan sangat terhormat—mengucapkan kalimat basa-basi untuk memperbaiki suasana.
Tapi sebenarnya tidak perlu. Madame Nuit begitu
Dengan lunglai ia menuruni tangga, memutar-mutar
topinya dengan gugup, semakin lama semakin canggung.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau memang rencana ini harus diteruskan, ia harus bekerja sama, harus setuju melatih anak itu. Sebab kalau ia menolak—kalau mereka memberi tugas kepada orang lain…
Artinya takkan ada orang yang bisa melindungi anak
itu.
Tapi yang paling membuatnya cemas adalah, dari segala alasan yang dikemukakannya, dari semua bukti-bukti yang menentang rencana itu, yang paling memberatkan hatinya adalah alasan yang terakhir.
“Padahala selama ini aku belum pernah percaya
takhayul,” gumamnya.
Ia berpapasan lagi dengan Clair-de-Lune di tangga.
__ADS_1
“Oh, selamat sore, Nak,” katanya sendu.
Ketika Monsieur Dupoint menghilang di sudut bordes berikut, Clair-de-Lune berdiri diam, menatapnya, dan mengigit bibirnya.
Sesaat kemudian, ketika membuka pintu ruang bawah atap, Clair-de-Lune begitu terkejut melihat penampilan neneknya sehingga jantungnya seakan-akan melompat. Ruangan itu diterangi sinar matahari sore; neneknya duduk lebih ke tengah daripada biasanya, dan diseberangnya ada kursi
lain yang kosong. Mengenakan gaun hitamnya, di tengah cahaya matahari sore, ia benar-benar mirip bayangan, seperti sepotong malam di tengah hari.
Nenek Clair-de-Lune mengangkat kepala.
“Masuklah, Nak, dan letakkan belanjaanmu di meja. Ada kabar bagimu.”
Dengan jantung berdebar, Clair-de-Lune menuruti
perintahnya. Sejenak ia mundur-maju di dekat meja, kepalanya menunduk. Lalu, sambil menyeret belanjaannya, ia bergerak—satu langkah, dua langkah—mendekat ke neneknya, dan berdiri di hadapannya, matanya menatap lantai, tangannya
menggenggam roknya.
“Kau mendapat tugas yang sangat mulia,” neneknya memulai, bukan menatap cucunya tapi pandangan
neneknya menembus sosoknya dan menatap pada seseorang lain (dan sekalipun orang itu tidak ada, Clair-de-Lune tahu siapa dia). “Tarian besar ibumu—untuk itu ia mengorbankan hidupnya—akan dipentaskan kembali dalam perayaan keseratus tahun Perusahaan Tari. Kau yang akan menarikannya. Kau belum sepandai ibumu—masih
jauh. Tapi kau harus mencoba dengan segenap hatimu untuk menarikannya sebaik mungkin, agar tidak mengecewakan ibumu dan Perusahaan, dan agar tidak menyia-nyiakan kehormatan ini. Sekarang saatnya berlatih piano, lalu kita makan malam, dan tidur lebih awal. Monsieur Dupoint akan mulai melatihmu besok.”
Tapi, Clair-de-Lune tidak dapat menelan makanannya; dan ketika berbaring di ranjangnya malam itu, ia bertanya-tanya dalam hati apakah ia akan pernah merasa bahagia lagi.
Bukan soal tarinya; bukan soal pementasannya, bukan karena ini pemetasannya yang pertama, bukan karena akan ada penonton. Itu semua
bukan apa-apa.
Bukan. Hal yang paling menyakitkannya—begitu
menyakitkan hingga ia tidak bisa menegakkan kepalanya—adalah dengan menarikan tarian ibunya, ia dipaksa menghidupkan kembali kematian ibunya.
Ia tidak tahu bagaimana ia bisa tahan melakukan semua itu.
Rasanya setiap langkah akan terasa menyakitkan; akan menghancurkan dirinya berkeping-keping.
Jadi, inilah dia—suara-suara itu, suara teredam yang
seumur hidup membuatnya takut. Rasanya aneh baginya sekarang, mengapa ia pernah meragukan hal buruk yang ingin disampaikan suara itu. Sekarang ia tahu. Suara itu mencoba memberitahunya tentang kematian ibunya.
__ADS_1
Dan tampaknya bagi Clair-de-Lune, bayangan gelap ini kini bergerak di antara dia dan matahari untuk selama-lamanya.
Bersambung...