
“Besok saja,” Mr Kirk si aktor berkata dengan suaranya yang nyaring.
“Oh,” Mrs Costello yang gugup dan tua berkata, sambil bergegas di pintu dan membukanya sedikit, dan Minette menjulurkan hidungnya yang berkumis sementara sang nyonya mencari uang kecil di dompetnya. “Bisa tolong belikan sedikit ikan lady? Tapi ingat, hanya kalau ikan itu segar! Terima kasih, Nak.”
Tapi dari pintu-pintu yang lain, tidak ada jawaban.
Clair-de-Lune belum pernah masuk ke bangunan lain seumur hidupnya, maka ia tidak menganggap kediamannya aneh. Tapi pengunjung yang pertama kali datang pastilah merasa heran melihat keanehan bangunan itu.
Setiap lantai berbeda dari lantai lainnya. Ada yang memiliki bordes atau ruang yang tidak disangka-sangka; beberapa bahkan memiliki koridor-koridor menuju area yang belum pernah dikunjungi Clair-de-Lune, koridor-koridor yang mengarah ke udara terbuka lalu masuk kembali, karena beberapa bagian bangunan itu kosong!
Ada anak-anak tangga yang muncul tiba-tiba dengan pintu di atasnya, dan jendela-jendela yang besar dan dalam, beberapa di antaranya menghadap ke jalan di bawah atau gedung teater di seberang, beberapa lainnya menghadap langsung ke dinding batu bata. Di lantai empat ada piano kuno, yang belum pernah dimainkan orang. Di lantai dua ada kursi rotan yang besar dan rumit.
Clair-de-Lune tidak tahu, ada satu lantai di bangunan itu yang belum pernah dilihatnya, sekalipun ia tinggal di ruang bawah atap dan mengira tentunya ia pernah berada di setiap lantai untuk bisa mendaki sampai ke sana. Tapi tentang lantai itu nanti sajalah kita bicarakan.
Ketika Clair-de-Lune akhirnya sampai di bawah sinar matahari atau curah hujan, angin atau salju, selalu terasa olehnya seakan-akan ia baru keluar dari penjara. Kadang-kadang ia merasa seakan-akan bangunan yang ditinggalinya ada di mana-mana—di atasnya, di bawahnya, dan di mana pun ia memandang. Keluar ke pasar sendirian membuatnya merasa liar dan bebas; ia berjalan dari satu toko ke toko lainnya, membeli susu, roti, atau ikan pada para pemilik toko yang sudah terbiasa melihat kebisuannya, yang memahami bahasa isyaratnya; lalu ketika tugasnya sudah selesai, ia biasa berjalan sedikit lebih jauh sepanjang jalan, semakin lama semakin cepat, belanjaan di keranjangnya terempas-empas di kakinya, menatap teliti ke setiap sudut, selalu berharap melihat…
Tapi seberapa jauh pun ia berjalan—dan ia tidak punya waktu untuk berjalan jauh-jauh, karena neneknya menunggunya—sejauh mata
memandang ia tidak pernah melihat apa pun kecuali bangunan-bangunan, yang satu lebih tinggi dari yang lain.
Clair-de-Lune ingin sekali melihat sesuatu di balik semua bangunan itu, ia selalu berharap pemandangan akan berubah dari hari ke hari, dan bahwa hari ini, entah bagaimana ia akan melihat sekilas gunung, atau laut (yang ia tahu, berada tidak jauh dari situ) atau langit yang lebih besar dan tidak dibingkai oleh sudut-sudut kasar atap bangunan.
Kadang-kadang ia merasa dirinya akan meledak bila tidak melihat sesuatu yang bebas. Tapi setiap hari, ketika ia tiba di pagar gereja di ujung jalan, ia berhenti, mendesah, dan berbalik, lalu berjalan pelan-pelan ke arah ia datang.
Ketika tiba di pintu bangunannya, ia menundukkan kepala dan masuk kembali. Ia mendaki setiap anak tangga dari kedua belas deretan anak tangga dan berhenti di lantai yang ini atau yang itu untuk mengantarkan pesanannya.
“Oh, terima kasih, Sayang!” begitu kata Mrs Costello. “Minette pasti suka sepotong ikan lady bersama tehnya. Dan aku punya resep sup krim ikan lady.”
Lalu ia pun berjalan menuju rumahnya di bawah atap, berlatih piano, bersantap malam dan tidur.
Namun sore itu, ketika Clair-de-Lune selesai berbelanja dan sedang berjalan cepat-cepat ke arah gereja sambil membayangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi hari itu, rasanya ia mendengar tawa yang tertahan. Tawa yang disengaja, karena ingin didengar. Ia cepat-cepat menengok ke seberang jalan—dan melihat sesuatu yang membuatnya panas-dingin saking malu.
__ADS_1
Milly Twinkenham—gadis berambut merah terang dan bermata cokelat kacang—dan teman-temannya Fenella Flynn dan Prudence Eeling sedang berjalan bergandengan tangan, persis di seberangnya, menirukan kecepatannya, gerakannya dan langkahnya.
Clair-de-Lune segera berhenti melangkah—rasa malu dan kebingungannya membuatnya membeku di tempat. Ia menatap mereka sekejap saja, cukup untuk memutuskan akan segera berbalik dan kembali pulang. Tapi, Milly sempat berseru padanya,
“Ya? Ada apa? Ada yang kaubutuhkan?”
Fenella dan Prudence pun sempat melontarkan tawa.
Clair-de-Lune menggeleng dengan paniknya, dan segera berbalik ke arah pulang. Masih didengarnya mereka tertawa di belakangnya, dan ia merasa curiga kalau-kalau ada sesuatu pada gaunnya, topinya, atau keranjang belanjaannya, yang memang menggelikan. Ia mencoba merunduk mengecilkan tubuhnya agar tidak begitu tampak, tapi ia yakin, pasti mereka melihat betapa anehnya caranya berjalan. Sebab, kakinya gemetar hebat sekali.
Ketika akhirnya masuk ke dalam pintunya, ia bersandar lelah ke pegangan tangga pertama. Air mata mengalir dari matanya. Ia tak mungkin berjalan-jalan menuju gereja lagi.
Tapi tak lama kemudian, tiba-tiba ia teringat akan
Bonaventure, dan janjinya akan berkunjung dan mengajaknya ke biara.
Sementara ia mulai mendaki anak-anak tangga menuju kediamannya di ruang bawah atap, sesuatu muncul dalam dirinya yang begitu kuatnya sehingga membuat dirinya terkejut sendiri.
Bukan rasa malu, bukan rasa takut.
Karena, di balik itu semua, Clair-de-Lune memiliki
tekad sekuat baja.
# # #
Malam itu Clair-de-Lune bermimpi indah. Ia berdiri di
lantai dasar bangunan itu, dan ketika menengok ke atas ia melihat atap bangunan itu benar-benar berlubang—dan langit-langit di atasnya adalah langit malam penuh bintang.
Keesokan paginya, ketika hari masih fajar, ia
__ADS_1
terbangun oleh suara kecil yang bernyanyi:
Naiklah ke perahu layar, kekasihku
Peluk dirimu erat dan hangat
Dan Tikus Perahu akan mengajakmu berlayar
Melintasi Lautan Tidur
Melintasi Lautan Tidur, sayangku!
Dan ombak akan membuaimu sementara aku
Ibu tikusmu mengayun buaianmu—
Cepat seperti terbangnya albatros
Bila kau sampai di Pantai Pagi
Aku menunggumu di sana
Dan Pulau Siang
Di Lautan Tidur
Begitu terang seterang-terangnya!
Pelan-pelan, Clair-de-Lune membuka matanya. Dirasakannya sebuah hidung yang kecil, lembap, dan berkumis menggelitiki lehernya tepat di bawah telinga. Sensasi ini terasa aneh sekaligus dikenalnya.
Siapa yang kukenal, pikirnya mengantuk, yang memiliki hidung seperti itu?
__ADS_1
Pelan-pelan, ia menengok. Bonaventure sedang berada di depan wajahnya.
Bersambung…