
Tidak sampai setengah jam setelah Monsieur Dupoint bergegas pergi, dokter tiba, terengah-engah, di ujung tangga. Ketika memeriksa Clair-de-Lune, wajahnya kelihatan kecut.
“Ia kurus sekali, Madame!” katanya pada nenek
Clair-de-Lune. “Kalau aku tidak tahu ada nenek yang merawatnya—yaitu Anda sendiri—aku akan menganggapnya kelaparan! Tapi, hal ini tidak mungkin. Namun, demam separah ini—yah, anak yang normal akan bisa bertahan. Tapi—ia hanya punya sedikit sekali persediaan kekuatan. Kalau ia sakit berkepanjangan…”
Namun, dokter itu mengangkat bahu, seakan-akan
menyatakan tak seorang pun bisa tahu apa yang akan terjadi, meninggalkan daftar berisi instruksi, dan mengatakan akan datang lagi esok paginya.
Tak lama setelah dokter itu pergi, kiriman
berdatangan, diangkut oleh para pesuruh yang terengah-engah, yang memakai celemek putih di atas kemeja dan celana mereka, dan yang terpaksa duduk dulu selama lima menit di ujung tangga untuk mengembalikan tenaga. Ada buah-buahan
dan sayur mayur, jeli dan susu kental, dua peti sari gandum-lemon, dan bahkan seikat bunga violet untuk diletakkan di meja samping ranjang (Monsieur Dupoint pernah melihat Clair-de-Lune mengenakan gaun terbaiknya dan membayangkan ibunya
dalam gaun yang sama), yang memenuhi ruang bawah atap dengan keharumannya.
Tapi, Clair-de-Lune tidak tahu apa-apa tentang semua ini. Atau paling tidak, ia tidak tahu ada para pesuruh yang turun-naik kedua belas deret anak tangga. Baginya itulah pekerjaannya sehari-hari, naik tangga, turun tangga. Hanya saja hari ini bukan dua belas deret anak tangga: melainkan tidak ada habis-habisnya; dan yang ia tahu hanyalah, ia memegang sesuatu di tangannya yang sangat berharga, dan mencari sesuatu yang tidak bisa
ditemukannya.
Dan sepanjang waktu ia menangis untuk Bonaventure, sekalipun ia tidak ingat lagi siapa dia.
Setiap hari dokter datang, dan setiap kali wajahnya
bertambah serius.
“Kelihatannya ia mencemaskan sesuatu,” gumamnya pada diri sendiri. “Dan sering kali masalah perasaanlah—bukan kesehatan tubuh—yang menentukan, apakah seseorang akan hidup atau mati…”
Lalu suatu malam, ia menatap Clair-de-Lune dan
menggelengkann kepala.
Clair-de-Lune tidak lagi bergerak-gerak dengan
gelisah; ia berbaring dengan sangat tenang, bernapas dengan lembut, dengan ekspresi wajah penuh kesedihan.
__ADS_1
Monsieur Dupoint menangis. Ia datang setiap hari untuk duduk bersama nenek Clair-de-Lune, dan membawa bunga segar. Tapi, nenek Clair-de-Lune tidak menangis.
Ketika dokter pergi, ia berpaling pada Monsieur Dupoint dan berkata dengan mantap.
“Monsieur Dupoint, maukah Anda menemani Clair-de-Lune sebentar? Aku harus pergi.”
Wanita yang malang, pikir Monsieur Dupoint, matanya berair. “Tentu saja, Madame,” katanya. “Anda harus berjalan-jalan sebentar dan menghirup udara segar. Tapi tolong jangan sampai terlalu lelah. Anda juga lemah.”
Nenek Clair-de-Lune memakai topi dan sarung
tangannya—kedua-duanya jarang dipakai—dan mengambil sebuah bungkusan cokelat besar yang disiapkannya di sisi pintu. Lalu diam-diam ia keluar. Monsieur Dupoint, yang sedang melamun, bahkan tidak melihatnya pergi.
# # #
Nenek Clair-de-Lune mungkin kelihatannya tenang, tapi sesungguhnya ia separuh gila oleh kesedihan dan ketakutan. Hanya seseorang yang separuh gila oleh kesedihan dan ketakutanlah yang akan mencari seseorang yang sudah dua belas tahun tidak dijumpainya di tempat terakhir ia menemukannya, dan berharap orang itu masih ada di sana.
Tapi kalau nenek Clair-de-Lune sudah setengah gila,
itu artinya ia masih setengah waras, dan mungkin ia tahu bahwa peraturan peramal berbeda dengan peraturan orang biasa.
Atau mungkin ia menyadari wanita itu akan mengetahui kedatangannya, dan berada di sana untuk menunggunya.
berjalan, dan bungkusan kertas cokelat yang dibawanya di dada mengingatkannya akan bayi yang digendongnya terakhir kali ke sini, sehingga sulit baginya untuk mengingat peristiwa mana yang kali ini dijalaninya.
Yang sekarang, atau yang dulu? Dulu atau sekarang?
Angin seakan-akan bertanya. Bangunan-bangunan dengan gang-gang sempit membentuk lorong-lorong tempat bertiupnya angin, dan nenek Clair-de-Lune hampir saja terbawa angin setiap kali ia melewati satu lorong. Akhirnya ia tiba di lorong
yang ditujunya; dan berjalan lurus menembus angin terasa demikian sulitnya hingga ia takut dirinya terkalahkan.
Akhirnya, setelah mendorong sekuat tenaga, ia berhasil mencapai pintu ketiga yang dicarinya, dan sambil bersandar ia mengetuk keras dengan pengetuk pintu dari kuningan yang ada di sana.
Seketika pintu itu terbuka; dan nenek Clair-de-Lune
sekali lagi berada di dalam kegelapan yang dikenalnya benar dalam mimpi-mimpinya (sebab kadang-kadang ia memimpikannya setiap malam); kegelapan pekat yang hanya diterangi cahaya dari perapian dan lilin-lilin, dan dipenuhi aroma yang tidak dikenalinya.
Ia meletakkan bungkusan di meja. Wanita itu
__ADS_1
membukanya, memeriksa isinya, gaun malam dari beledu hitam, gaun terindah milik La Lune.
“Ini bayaranku?”
“Aku tak punya uang,” ujar nenek Clair-de-Lune.
“Ini lebih dari cukup,” kata wanita itu.
“Tidak apa-apa,” kata nenek Clair-de-Lune. “Anak itu
sekarat.” Tiba-tiba ia menutup wajah dengan tangannya. “Kata dokter ia kelaparan…”
“Sudah kukatakan padamu!” kata wanita itu. Ia marah. Seakan-akan percakapan mereka yang terakhir baru saja terjadi beberapa menit
yang lalu. “Sudah kukatakan padamu. Ia tidak mungkin bisa mencapai yang satu tanpa yang lain. Kalau ia mencoba melakukan hanya salah satu saja, ia akan kelaparan!”
“Tapi sekarang sudah terlambat! Sudah terjadi! Aku
datang untuk bertanya padamu, apakah masih ada harapan? Bisakah aku membatalkan apa yang telah kulakukan? Karena aku melakukannya—kau tahu aku
melakukannya—untuk menyelamatkan dia dari bahaya! Bagiku nasib ini terlalu kejam, bagaimana kalau usahaku untuk menghindarinya dari bahaya justru…”
“Membinasakannya?” kata wanita itu. “Aku mengerti apa yang kaumaksud. Yah, mudah saja. Kau harus membebaskan burung itu…”
Nenek Clair-de-Lune meratap. “Tapi burung itu sudah
kabur bertahun-tahun yang lalu, ketika anak itu masih bayi…”
“Kalau begitu jauh lebih baik. Sekarang tergantung
pada burung itu. Tapi katakan padaku, Madame,” dan ia membungkuk di meja dan menatap mata kliennya, “sangkarnya masih ada?”
Nenek Clair-de-Lune mengangguk.
“Kalau begitu musnahkan,” kata wanita itu cepat-cepat. “Kau harus bersumpah tidak akan mengurung burung itu lagi. Kalau begitu—yah, mungkin burung itu akan kembali. Aku sudah
memberitahu segala yang kuketahui.”
__ADS_1
Nenek Clair-de-Lune bersusah payah pulang lagi, melalui angin dan hujan. Sebenarnya ia lemah, dan sekurus Clair-de-Lune, dan perjalanannya sulit.
Bersambung...