CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 23


__ADS_3

Clair-de-Lune kecewa. Mau apa sih ia ke sini? Hari


Minggu begini! Dan apa sangkanya tentang apa yang dilakukan Clair-de-Lune? Ia tidak boleh menarik perhatian pria itu pada tikus-tikus—kalau ia sampai tahu, Clair-de-Lune ragu apakah ia bisa membuatnya mengerti. Lagi pula nanti akan dibicarakan soal jebakan tikus dan mendatangkan kucing, dan entah apa lagi? Tapi tanpa alasan tepat, bagaimana ia bisa menjelaskan kehadirannya di kelasnya yang kosong pada Minggu pagi?


Karena tidak bisa bicara, ia tidak bisa menjelaskan


apa-apa. Dan bagaimana kalau Monsieur Dupoint memberitahu neneknya?


Pelan-pelan, tanpa suara, hati-hati, ia beringsut dari


lubang tikus itu ke pojok yang jauh.


Sementara itu, di dalam lubang tikus, Bonaventure


menyadari apa yang terjadi, dan di dalam kelas itu para murid jadi kebingungan.


“Ia sudah pergi!” seru Margot. “Mademoiselle Pelindung kita tidak menonton kita lagi!”


“Ada seseorang yang masuk,” kata Rudolph sambil


memeluk Margot, menenangkannya. “Haruskah kita bubar?”


“Tidak,” ujar Bonaventure. Suasana jadi hening. Mata


semua tikus menatapnya, dan tiba-tiba, ketika ia berdiri di sana, di depan kelas, dengan kepala tegak, mata bersinar, ia tampak—menurut Juliet—sangat


agung. “Kita harus terus berlatih. Akan ada banyak hambatan, gangguan, dan bahaya. Tidak mudah menjadi tikus penari. Sekarang ini, mari kita kembali ke pelajaran kita. And…”


Clair-de-Lune duduk sangat diam di pojok ruangan.


Monsieur Dupoint belum melihat kehadirannya. Ia masuk dengan pria lain—seorang penari dari Perusahaan Tari—mungkin untuk menambah sedikit waktu latihan, dan mereka kini asyik berbicara. Sedih sekali meninggalkan kelas Bonaventure; tapi


jelas ia perlu bersembunyi. Clair-de-Lune berpikir, kalau ia berpaling ke arahnya, ia dapat menyelinap ke luar pintu tanpa ketahuan. Tapi setiap kali ia


mencoba, salah satu akan menengok ke arahnya dan ia mencoba merunduk serendah mungkin agar tidak tampak.


“Dan benarkah ia secantik yang dikatakan orang?” tanya penari itu. Ia sedang memanaskan tubuh, melakukan gerakan plié di barre.

__ADS_1


“Ah, tentu saja. Ya! Lebih cantik. Ia memiliki rambut


kelam yang liar dan wajah oval yang pucat. Matanya—seperti bintang! Ia begitu hidup, begitu bersinar, begitu hangat! Sampai hari ini aku tidak percaya aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Tapi tahukah kau, mereka menyuruhnya memilih—mereka semua menyuruhnya memilih. Ia tidak boleh menjadi penari


sekaligus wanita, oh, itu tidak boleh! Ia harus memilih salah satunya. Dan mereka meyakinkannya, pilihan mana yang kurang bermutu. Mereka tidak tahu bahwa hidupnya, cahayanya, dan kehangatan tariannya itu adalah berkat cintanya. Penari seperti itulah dia…”


Tiba-tiba Clair-de-Lune merasa aneh. Ia ingin pergi,


tapi ada sesuatu yang mencegahnya pergi, menyuruhnya tetap tinggal. Dengarkan! Dengarkan, kata sesuatu ini. Mereka sedang berbicara tentang… Tapi, siapakah yang mereka bicarakan?


“Ketika kaukatakan mereka, apa maksudmu? Siapa yang memaksanya memilih?”


“Oh, ibunya—si wanita tua, kau tahulah—dan ketua


Perusahaan Tari pada masa itu. Ia masih sangat muda—dan lembut, sekalipun liar. Sebagian dirinya selalu ingin menyenangkan orang lain. Wanita tua itu juga penari yang luar biasa—aku mengingatnya sejak masih kecil. Tapi, semasa mudanya ia pernah dikecewakan oleh cinta. Sangat dikecewakan. Jadi, ia ingin anaknya menjauhkan diri dari laki-laki, cinta, dan pernikahan. Namun, gadis itu menolak—ia tidak sanggup. Lalu mereka mengatakan jika ia menikah dengan pria itu, ia akan dipecat dari Perusahaan Tari…”


“Cuma ancaman, kan?”


“Ia percaya. Ia memutuskan hubungan. Tapi ia tewas, di atas panggung, dalam tempo satu tahun—dan aku bersumpah demi Tuhan, ia meninggal karena patah hati.”


“Pria yang dicintainya? Oh, hatinya hancur juga. Ia


pergi jauh—memulai hidup baru di negara lain, kukira—dan tidak pernah terdengar beritanya lagi. Wanita tua itu tidak pernah menemuinya. Aku sangsi apakah pria itu tahu ia memiliki anak,” Monsieur Dupoint terdiam sejenak. “Aku mencemaskan


anak itu. Ia seperti ibunya yang hidup kembali; tapi rambutnya pirang seperti sinar bulan! Setiap hari ia bertambah kurus saja… dan sekarang ia tidak bisa


berkonsentrasi menari. Direktur telah bicara denganku tentang dia. Mereka ingin memakainya untuk Perayaan Ulang Tahun ke-100. Ia terlahir sebagai penari, memang. Tapi aku lebih suka ia berhenti menari daripada bunuh diri seperti


ibunya.”


Mereka berdua tiba-tiba menatap ke arah jendela ketika seekor burung aneh berbulu perak melintas di sana. Tapi Clair-de-Lune tidak mendengar seruan-seruan mereka tentang burung itu; dalam syok dan kebingungan ia tidak mendengar apa-apa tentang dirinya. Ia segera menyelinap dari pintu,


tanpa diketahui. Setelah sampai di bordes, ia berlutut di lantai, gemetar.


Jadi, kata sebuah suara pelan di dalam hatinya, di


bawah, di balik, dan di belakang kesedihan an ketakjubannya, kasih lebih penting artinya dari Tari.

__ADS_1


Ibuku juga berpendapat begitu.


# # #


“Kau terlambat sekali, Nak!” kata nenek Clair-de-Lune.


Bisa naik tangga saja ia sudah bersyukur. Ada enam


deret anak tangga antara lantai Monsieur Dupoint dan lantai kediamannya, dan dalam keadaan gemetar, perjalanan itu terasa sangat jauh. Ia pucat, tapi neneknya tidak menyadarinya. Ia tidak dapat makan, tapi neneknya hanya bersyukur makanan itu bisa disimpan.


Karena hari itu Minggu, sepanjang siang itu


Clair-de-Lune memperbaiki sepatu baletnya, sementara neneknya membaca keras-keras buku-buku yang biasa. Tapi, Clair-de-Lune tidak bisa memusatkan perhatian. Untuk pertama kalinya ia bertanya-tanya dalam hati, mana kisah-kisah


tentang persahabatan dan cinta? Benarkah tidak ada buku-buku semacam itu? Apakah para penulis tidak menulis tentna persahabatan atau cinta? Tiba-tiba, tanpa persahabatan, tanpa cinta kasih, pengorbanan para pahlawan atau penari andal itu terkesan kosong.


Menari adalah dewa yang kejam, pikir Clair-de-Lune.


Tapi memang menari bukanlah dewa.


# # #


Malam itu, ketika hari sudah gelap, Bonaventure


berjalan hilir-mudik di lubang tikusnya.


Sebentar-sebentar ia berhenti berjalan di


tengah-tengah ruangan, menatap ke udara kosong. Lalu berganti arah, berjalan ke sudut, dan mengempaskan diri di kursi kecilnya.


Lalu ia menatap kosong ke arah depannya di meja tulis seukuran tikus dengan salib kecil dan vas bunga plastik, yang semuanya adalah pemberian seorang teman yang memiliki akses ke rumah boneka (dan yang cocok sekali untuk dipakai menulis).


Tapi kemudian, tiba-tiba ia melompat lagi, dan


berjalan lagi dengan cepat dari satu ujung ruangan ke ujung lainnya. Mata kelamnya bersinar. Kumisnya berdiri dan bersinar keperakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2