
Ketika akhirnya tiba di kediamannya—dan ia
menghabiskan waktu setengah jam untuk mendaki tangga—rasanya ia takkan terkejut bila mendapatkan Clair-de-Lune berhenti bernapas dan dingin. Tapi tidak, anak itu masih hidup, ia bernapas lembut sambil tertidur.
Monsieur Dupoint yang malang juga tertidur di
kursinya.
Nenek Clair-de-Lune mengguncang bahunya pelan, dengan tangan yang sekurus cakar.
“Madame!” kata Monsieur Dupoint, terkejut. Lalu
tambahnya dengan penuh perhatian. “Anda baik-baik saja?”
“Baik-baik saja, Monsieur Dupoint,” katanya mantap.
“Terima kasih atas bantuanmu. Aku akan menjaganya sekarang.”
Ketika Monsieur Dupoint minta diri, wanita itu berdiri
sejenak di sisi tempat tidur, mengawasi Clair-de-Lune. Lalu ia pergi ke peti tempat ia menyimpan baju-baju putrinya, dan mengeluarkan sesuatu dari situ. Sebuah sangkar keemasan, tempat dulu ia mengurung burung berbulu perak dan
berjantung merah keemasan. Ia membuat api, dan menjebloskan sangkar itu ke dalamnya. Lalu ia menyeret kursi, dan duduk menatap sangkar itu meleleh menjadi gumpalan logam.
Setelah itu, kelelahan, ia naik ke ranjangnya dan
tertidur. Tidurnya lelap dan tak terganggu, sebab ia tahu ia telah melakukan semua yang bisa dilakukannya.
# # #
Larut malam itu, sementara Clair-de-Lune bernapas
lembut di ranjangnya, ia merasa ada hidung berkumis menggelitiki pipinya.
Pelan-pelan—karena sangat lemah—ia membuka matanya dan memiringkan kepalanya di bantal.
Bonaventure! Katanya; tapi untuk mengeluarkan suara anak burung pun ia tidak sanggup.
“Kau harus segera menemaniku, Mademoiselle!” ujar
__ADS_1
Bonaventure. “Karena seorang Wanita menunggumu! Ia minta bertemu denganmu—dan
ia menyuruhku menjemputmu!”
Seorang wanita! Kata Clair-de-Lune dengan suara yang begitu pelan hingga hanya seekor tikus yang bisa mendengarnya. Tapi, Bonaventure—aku takut—aku tidak kuat berjalan…
“Ah, Mademoiselle!” kata Bonaventure. “Peganglah—kalau kau mau—bahuku.”
Clair-de-Lune terlalu lemah untuk memindahkan
tangannya ke bantal. Tapi, Bonaventure melompat ke tempat tangannya terkulai, dan menyusup ke bawahnya. Merasakan bulu Bonaventure yang hangat di jari-jarinya, Clair-de-Lune membelainya dengan lembut. Lalu dirasakannya sesuatu yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Apa ini—benda berbulu yang terlipat?
“Sayap!” kata Bonaventure. “Nah, kalau kau mau bangkit dari ranjangmu, Mademoiselle,” katanya sok penting, “aku akan menggendongmu!”
Sekalipun Bonaventure memiliki sayap, Clair-de-Lune
sangsi apakah tikus itu kuat menggendong anak manusia. Tapi ia tahu, Bonaventure tidak pernah mau mengalah dengan Pembatasan apa pun.
Sangat pelan, ia mulai duduk. Tepat pada saat itu,
terjadi sesuatu yang ganjil. Ia merasa ada kekuatan di belakangnya, sekuat dua tangan yang kokoh, membantunya berdiri dan turun dari ranjang.
“Tuh, kan?” katanya dengan bangga. “Sekarang kita
harus segera berangkat! Tengoklah ke atas!”
Clair-de-Lune menatap langit-langit, dan kaget ketika
melihat langit berbintang, seakan-akan, secara tiba-tiba, atap bangunan itu hilang, atau tak tampak. Persis seperti mimpiku! Pikirnya.
“Wanita itu,” kata Bonaventure serius, “tinggal di
Negeri di Balik Bintang-bintang.”
Tapi bagaimana kita bisa ke sana? Pikir Clair-de-Lune. Baru saja berpikir begitu, ia melihat sesuatu di langit di atas mereka, bukan bintang, sesuatu yang kecil tapi makin lama makin membesar, turun dengan ringan dan pasti ke arah mereka, dalam kecepatan luar biasa. Segera, sebelum Clair-de-Lune sempat melompat mundur—sekalipun ia kuat dan sanggup melakukannya—benda itu jatuh, lurus, ke ruang bawah atap, jatuh ke lantai di depan kakinya dengan bunyi berdebum. Dilihatnya sebuah tangga tambang, terbuat
dari bahan berwarna putih dan perak dan agak berkilau; lembut seperti sarang laba-laba tapi mengilat dan kuat seperti baja.
“Tak ada tempat tujuan yang tidak memiliki tangga
__ADS_1
untuk mencapainya,” ujar Bonaventure. “Mari kita pergi, Mademoiselle.”
Lalu, ditopang dari belakang oleh seekor tikus yang
bersayap seperti burung kolibri, Clair-de-Lune mulai memanjat tangga tambang itu, naik, naik, naik, langkah demi langkah, berpegangan pada tangga, menuju langit hitam yang berbintang.
Tangga itu sedikit berayun karena bobot tubuhnya; tapi ayunannya lembut, seperti seorang ibu menidurkan anaknya sambil mengayunnya
dari kiri ke kanan; dan sementara memanjat, Clair-de-Lune bukan hanya menengok ke atas dan ke sekitarnya, tapi juga ke bawahnya (karena ia sama sekali tidak takut) dan semakin tinggi ia memanjat, semakin banyak yang dapat dilihatnya.
Mula-mula, ketika menatap ke bawah, ia hanya melihat ruang bawah atap—tapi tentunya dari atas, yang pasti berbeda dari yang biasa dilihatnya. Ia melihat ranjangnya sendiri, lantai kayu, peti besar, lemari, bahkan neneknya yang sedang tidur, semua dari kejauhan. Tak lama kemudian neneknya kelihatan sekecil seorang anak.
Sementara ia memanjat semakin tinggi, ruang itu
kelihatan semakin kecil di antara luasnya atap-atap merah yang dibangun begitu dekat satu sama lain, yang merupakan kota tempat tinggal Clair-de-Lune. Tak heran ia hanya bisa melihat sepotong kecil langit dari bawah sana! Bergelantungan di atas, ia tidak melihat ruang sama sekali di antara atap-atap
itu.
Sementara ia memanjat lebih tinggi lagi, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terperangah. Kota itu adalah lingkaran besar yang tidak rata, tampak besar sekalipun dari kejauhan. Tapi tidak hanya itu. Di luar kota, sekarang dilihatnya sawah-sawah yang disinari bintang-bintang, dan di antaranya ada sungai-sungai berair segar, berkilauan dan bergerak seperti belut raksasa, dan lebih jauh lagi, ada sawah-sawah dan laut keperakan yang luas.
Kota sudah tampak kecil, begitu kecilnya hingga
Clair-de-Lune kasihan melihatnya.
Dan setelah Clair-de-Lune mendaki lebih tinggi dan
lebih tinggi lagi, ia melihat tidak hanya laut, tapi negeri-negeri lain, laut-laut lain, tempat-tempat bersalju, gunung-gunung dan gurun-gurun; dan
akhirnya ia melihat seluruh dunia, bola biru yang makin lama berada makin jauh di bawahnya.
Tak lama kemudian bumi tampak sedemikian kecilnya hingga ia merasa kasihan pula terhadapnya.
Ia naik dan naik, melalui sebuah simfoni sinar bintang di atas, di sekitar, dan di bawahnya.
Akhirnya ia berhenti pada tangga yang bergoyang itu untuk beristirahat. Dan sekarang terjadi sesuatu
yang ganjil lainnya. Karena ketika ia menatap berkeliling, kelihatannya ia sekali lagi berada di atas panggung, menatap ke gua gelap besar yang merupakan langit malam, dan disinari dari atas oleh sebuah lampu sorot yang ternyata adalah bulan.
Bersambung...
__ADS_1