CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 37


__ADS_3

Kumis Bonaventure menggelitik telinganya.


“Tengoklah ke atas!” katanya. “Tengoklah ke atas,


Mademoiselle!”


Clair-de-Lune menurut; dan tahu-tahu ia sudah


berhadapan muka dengan bulan.


Tapi itu bukan bulan. Melainkan wajah oval seorang


wanita yang pucat, dengan langit hitam penuh dengan rambut acak-acakan, dan


mata yang seperti bintang.


“Wanita itu!” bisik Bonaventure.


Clair-de-Lune menatap wajah wanita itu. Wanita itu


balas menatap wajah Clair-de-Lune.


Dan seketika Clair-de-Lune lupa akan tangga, lupa akan bobot tubuhnya. Ia melepas dirinya dan menggapai si Wanita dengan segenap tenaganya, hampir melompat ke atas, dan persis pada saat ia merasa dirinya jatuh, ia melihat mata wanita itu melebar berisi ketakutan dan sesuatu yang


lain, semacam keperihan. Tapi Bonaventure, dengan kekuatannya yang baru, menopangnya dari belakang, menariknya kembali; dan lagi-lagi jari-jari Clair-de-Lune mencengkeram tangga.


Tapi,itu ibuku! Katanya tanpa sadar.


Ya, kata Wanita itu, aku ibumu…


“Sekalipun begitu, tolong, Mademoiselle,” ujar


Bonaventur tegas di telinganya, “apa pun yang terjadi, jangan lepaskan tangga. Keajaibannya terbatas sampai di situ.”


Jadi, Clair-de-Lune berdiri diam, dan tangga itu


bergoyang maju-mundur. Ia ingin sekali mendekat pada wanita itu, tapi keinginannya itu hanya diucapkannya dalam hati.


Ibu meninggalkan aku! Katanya.


Ah! Itu di luar kehendakku! Kata Wanita itu. Kalau saja kau tahu!


Aku tahu. Aku tahu, ujar Clair-de-Lune. Angsa itu mati, tapi ia ingin hidup…


Kalau saja kau tahu betapa besarnya keinginannya hidup! Kata si Wanita itu. Tapi hatiku hancur…


Hati pria itu juga hancur! Ujar Clair-de-Lune.


Dan aku belum pernah mengatakannya, kata Wanita itu. Aku mati saat mencoba mengatakannya.


Bolehkah aku tinggal bersamamu? Pinta Clair-de-Lune.


Wanita itu menatap ke bawah, ke arahnya, matanya

__ADS_1


cemerlang oleh air mata, bagai bintang.


Kalau kau tinggal bersamaku di sini, pria itu takkan pernah tahu. Dan hatinya takkan sembuh.


Aku sayang pada ayahku! Kata Clair-de-Lune.


Aku juga! Kata Wanita itu. Tapi


ia tidak mengetahuinya!


Mereka saling menatap tanpa berkata apa-apa, dan


Clair-de-Lune merasa, sekalipun separuh hatinya sedang tertidur bermil-mil di bawahnya, separuh lagi berada di antara bintang-bintang bersama Wanita itu, dan bahwa di mana pun ia tinggal, hatinya akan terbelah dua.


Dan sekarang hati kita semua akan hancur! Katanya.


Katakan padanya apa yang tidak berhasil kukatakan, pinta Wanita itu. Bukan dari hatiku, tapi dari hatimu.


Hidupku sudah usai. Hidupmu baru dimulai. Tapi kau dapat menyelamatkan


hidupku—membenahi segalanya, segala yang telah lalu, semuanya!—dengan menjalani


hidupmu dengan merdeka, bukan seperti aku. Tahukah kau, ada keajaiban dalam


hidup. Dan kalau kau melakukan hal ini, semuanya akan baik-baik saja.


Dan suaranya seperti bergema, seperti lonceng yang


berdentang memecah malam:


“Sudah fajar!” bisik Bonaventure.


Hiduplah, Clair-de-Lune, kata Wanita itu. Hiduplah.


Dan Clair-de-Lune tahu, ia harus segera turun kembali dan meninggalkan Wanita itu selama-lamanya.


Tapi ia masih saja berdiri terayun-ayun di tangga,


menengadah menatap wajah Wanita itu. Dan Wanita itu balas menatapnya, sementara rambut hitamnya yang liar seolah-olah tersebar di langit, dan matanya berkilau oleh cinta.


Waktu pun berlalu; lama, seolah-olah seumur hidup,


atau sepanjang mimpi.


Lalu akhirnya, dengan enggan, Clair-de-Lune mulai


menuruni tangga.


Ia turun, turun, turun, sambil terus-menerus menatap


wajah Wanita itu, dan selagi turun ia merasa dirinya diselimuti sinar bulan yang lembut keperakan, begitu penuh kelembutan hingga Clair-de-Lune tidak


merasa sakit, sekalipun ia tahu setiap langkah membawanya semakin lama semakin jauh, dan di ujung sinar ini ia akan bangun lagi di dunia yang biasa.

__ADS_1


Sementara itu bola biru bertambah besar, dan


negara-negara di dunia—gurun-gurun dan gunung-gunung, daerah bersalju dan laut


luas—semakin lama semakin dekat; dan sungai-sungai gemerlap dan tanah pedesaan


di sekitar kotanya semakin lama semakin dekat sehingga akhirnya ia turun dari tangga tambang itu dan masuk ke dalam ruangan di bangunan ajaib tempatnya berasal. Tapi, ia tak pernah mengalihkan matanya dari bulan, bahkan juga ketika, dengan


bantuan Bonaventure, ia berbaring kembali di ranjangnya dan merebahkan kepalanya—yang penuh dengan bintang—ke atas bantal.


“Selamat malam, Mademoiselle Clair-de-Lune,” didengarnya Bonaventure berkata, “Selamat tinggal!”


Selamat tinggal, anakku, terdengar suara Wanita itu di dalam pikirannya. Tuhan memberkatimu!


Dan Clair-de-Lune berbaring kembali di ranjangnya,


tertidur lelap sementara fajar hari yang baru membentang di langit, dan bandul yang merupakan pemberian terakhir Bonaventure merapat di lekuk pangkal lehernya.


# # #


Clair-de-Lune membuka matanya.


Ia sedang berbaring di ranjangnya di ruang bawah atap. Hari sudah pagi; dan sangat hening. Di ranjang di sisi lain kamar, neneknya tertidur; Clair-de-Lune tahu dari napas nenek itu, sekalipun ia terlalu lemah


untuk menggerakkan kepalanya.


Lalu ia sadar ada seseorang sedang memegangi


tangannya, dan, dengan susah payah, ia menengok sedikit untuk mengetahui siapa orangnya.


“Selamat pagi,” ujar Bruder Inchmahome. Ia duduk di


kursi di samping ranjang, menatap ke arahnya, matanya sejernih dan sekelabu langit fajar.


Perlahan-lahan Clair-de-Lune tersenyum.


“Jadi,” kata Bruder Inchmahome lembut, “kau sudah


kembali dari perjalananmu. Aku begitu takut kau memutuskan untuk tidak kembali.”


Pelan sekali, Clair-de-Lune menggeleng. Lalu matanya di penuhi air mata.


“Bonaventure,” kata Bruder Inchmahome. “Ya, aku tahu. Ia mencintai lalu kehilangan cintanya, kan? Tapi aku ragu, benarkah ia kehilangan cintanya?”


Samar-samar tapi pasti, Clair-de-Lune menggeleng.


Hening sejenak. Bruder Inchmahome bangkit, dan menuang sedikit sari gandum ke dalam gelas. Lalu ia menopang kepala gadis itu dan memberinya minum. Ia membaringkannya lagi di bantal, dan memindahkan gelas. Lalu ia duduk, memegang tangannya dan mendengarkan, dan Clair-de-Lune merasa Bruder akan cukup puas duduk di sini menemaninya seumur hidup. Ia menengadah


menatap mata Bruder, dan air mata jatuh ke pipinya, ke rambutnya, yang tersebar di sekitar bantal, seperti sebuah halo.


“Dan selama ini, apakah kau mengabaikan pelajaranmu?” tanya Bruder Inchmahome lembut.


Lagi-lagi Clair-de-Lune menggeleng.

__ADS_1


“Ah!” kata Bruder Inchmahome. “Kurasa tidak. Kelihatannya kau kembali dari perjalanan panjangmu, membawa jawaban! Yah, sayangku,” tambahnya dengan sangat lembut, “kita masih punya waktu berhari-hari untuk membicarakannya. Kita tidak perlu membahasnya sekarang. Mungkin nanti kalau kau sudah lebih kuat…”


Bersambung...


__ADS_2