CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 38


__ADS_3

Tapi Clair-de-Lune menggeleng semakin kuat. Sari


gandum itu telah memberinya kekuatan.


“Kau ingin membicarakannya sekarang?”


Clair-de-Lune mengangguk.


Bruder Inchmahome berpikir sejenak. Lalu katanya


lirih, hampir kepada dirinya sendiri, “Mungkin kau butuh membicarakannya—agar bisa sembuh…”


Clair-de-Lune mengangguk tegas. Bruder Inchmahome hampir saja tertawa.


“Kalau begitu baiklah!” katanya.


Dan ia pun membungkuk semakin dekat lagi.


“Kau ingat apa pertanyaanku yang baru?” tanyanya


lembut.


Clair-de-Lune mengangguk.


Bruder Inchmahome terdiam sejenak, hampir seakan-akan ia terlalu terharu untuk bisa berbicara. Dan tampaknya bagi Clair-de-Lune, bahwa udara di sekelilingnya belum pernah sehening itu. Akhirnya ia berkata—ah, begitu lembut—“Kalau begitu, Clair-de-Lune, apa yang ingin kaukatakan?”


Clair-de-Lune tersenyum tipis. Pelan-pelan, dengan


sekuat tenaga, ia mengangkat lengannya dan memeragakan dengan jari-jarinya yang terjulur, lingkaran terbesar yang bisa dibuatnya.


Segalanya!


Lalu ia mengangkat telunjuknya.


Dan satu hal.


Bruder Inchmahome tersenyum dan membungkukkan kepalanya, sebagai tanda ia mengerti.


“Dan apakah satu hal itu?”


Clair-de-Lune membuka mulutnya untuk mengucapkannya; sebab sekarang ia tahu bila menghendakinya, ia sanggup bicara. Tapi, tepat


ketika kata itu hampir menjadi suara, persis ketika ia hampir bisa bicara, dengan bibir, lidah, dan suaranya, untuk pertama kalinya, ia mengerti: ia


mengerti!


Sebab ternyata, hal yang paling ingin dikatakannya

__ADS_1


tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.


Maka, sebagai gantinya, ia mengulurkan lengannya dan Bruder Inchmahome mengangkatnya dengan lengannya sendiri dan gadis itu memeluknya dengan sisa kekuatannya, karena ia tahu pelukan menyatakan ‘aku cinta padamu’ secara lebih jelas dari kata-kata.


Tapi tepat saat itu, mereka berdua mendengar sesuatu: bunyi tepukan, angin; kepak sayap pada jendela di atas ranjang Clair-de-Lune, dan Bruder Inchmahome, yang sedang menggendong Clair-de-Lune, mengerutkan alis, keheranan dan takjub.


Karena ia merasa melihat burung berbulu perak, yang jantungnya merah-keemasan dan bersinar seperti api di dadanya, mengepak-ngepakkan sayap di kaca jendela, seakan-akan minta diizinkan masuk.


Apa lagi yang dapat dilakukannya kecuali menurutinya?


Sambil berlutut di ranjang Clair-de-Lune, ia


mengulurkan tangan dan membuka kaca jendela. Burung itu segera terbang masuk, melewati ranjang Clair-de-Lune, dan masuk ke jantungnya.


Clair-de-Lune menatap mata Bruder Inchmahome yang kelabu bagaikan air mengalir di atas batu, kelabu bagaikan langit fajar—kelabu seperti matanya sendiri!—dan berkata, dalam suara yang belum pernah diperdengarkan sebelumnya.


“Matamu selalu tampak seolah-olah kau selalu melihat hal-hal yang indah.”


Dan Bruder Inchmahome berkata,


“Aku memang selalu melihat hal-hal yang indah.”


Lalu tatapannya jatuh pada bandul yang bergantung di atas baju tidur Clair-de-Lune, di lekuk lehernya, dan seluruh warna seperti lenyap dari wajahnya.


“Dari mana kau mendapatkannya?” bisiknya.


menebarkan bintik-bintik di bagian bawah wajahnya.


Anak muda itu memancarkan ekspresi luar biasa,


seakan-akan ia sedang melihat sesuatu yang paling indah di dunia.


Kenangan Bruder Inchmahome berputar, berputar, ke masa lalu.


Itu gambar dirinya semasa muda.


# # #


“Kumohon,” kata anak muda itu. Suaranya serak oleh


keputusasaan; rambutnya yang hitam basah ditimpa hujan; matanya serasa terbakar di wajahnya yang kurus. “Aku tak punya apa-apa untuk diberikan. Tapi ini sangat berarti bagiku. Kami sudah bertunangan—dan akan menikah.”


Ia sedang berdiri, gemetar, di pintu panggung dalam


hujan dan angin; ia memohon pada penjaga yang berdiri tegap, lengan terlipat di ambang pintu.


Penjaga pintu itu terkejut mendengarnya.

__ADS_1


“Bertunangan?” katanya sambil melihatnya ke atas ke bawah. “Jadi, kau orangnya, ya? Nah, kuberitahu satu hal padamu, kawan. Aku bisa dibunuh bila mengizinkanmu masuk. Sudahlah, pergi saja! Dan kalau kau mau menerima saranku, sebaiknya kau menjauh…” Tapi kemudian ia merasa kasihan pada


pemuda kurus itu, yang kesengsaraannya tampak begitu jelas. “Ini,” katanya sambil mengambil sesuatu di sakunya. “Belilah makanan. Dan lupakan dia, kawan. Para penari ini—sekarang ada, besok hilang—tidaklah penting. Mereka bahkan tidak cukup makan untuk bisa terus hidup. Yang kaubutuhkan adalah gadis montok seperti Elsie-ku…”


Tapi, anak muda itu sudah berlalu, berjalan


sempoyongan, seperti seseorang yang baru saja dipukuli.


“Hati-hati…” penjaga pintu itu memperingatkan ketika sebuah kereta kuda mengelak untuk menghindarinya. Tapi, anak muda itu berjalan


terus, tanpa sadar.


“Malam yang dahsyat!” gumam penjaga pintu itu. “Mademoiselle Moon tiba-tiba meninggal dan udara


separah ini! Semua ini cukup untuk menimbulkan pikiran-pikiran mengerikan, oh, tolonglah aku!” dan ia membungkukkan bahunya dan mengetatkan letak mantelnya, sementara bunyi tangisan mengalun di tangga di belakangnya.


# # #


“Mereka tidak mengizinkan aku menemuinya,” kata Bruder Inchmahome, air mata mengalir deras di pipinya. Ia telah membaringkan Clair-de-Lune dengan hati-hati di ranjang, dan duduk di sisinya, berbicara cepat, suaranya pecah bagaikan suara anak muda. “Segalanya begitu tiba-tiba!


Kami saling mencintai! Kami berjumpa setiap hari—kapan saja ia bisa—tapi suatu hari, semuanya terhenti begitu saja! Aku mengirim surat—tapi semua surat itu dikembalikan tanpa dibuka…”


“Aku tidak tahu apakah ia—atau mereka…”


Dan ia menumpu kepalanya dengan kedua tangannya.


“Jadi, aku pun pergi ke teater itu untuk melihatnya


menari,” katanya lagi setelah terdiam sejenak, dan suaranya makin lama sarat dengan kesedihan. “Aku tahu ia sedih, tapi aku tidak bisa menolongnya! Aku


tidak bisa menolongnya!”


“Aku ada di sana—pada malam ia meninggal. Meskipun begitu, mereka tidak mengizinkan aku menemuinya, bahkan untuk mengucapkan


selamat tinggal—untuk selama-lamanya. Aku datang kembali—menembus angin dan hujan—ketika sudah tidak ada harapan. Aku ingin berbaring dan mati. Tapi, aku tidak dapat menemukan lantai itu! Aku terus naik—naik—naik—naik tangga. Rasanya


seperti—semacam—neraka. Naik tangga, dan tahu bahwa ia sudah meninggal. Dan tidak mungkin pulang lagi…


“Aku naik, aku turun, kurasa aku sudah gila. Lalu, aku menemukan tempat baru ini, lantai yang tak


pernah kutemukan sebelumnya, pintu, biara… Mereka—para bruder—menerimaku. Mereka mengatakan, aku sedang menunggu sesuatu…”


“Kupikir aku menunggu maut! Sungguh, kupikir mautlah yang kunantikan! Aku begitu kesepian! Tapi aku belajar mendengarkan—dan mendengarkan membuatku sembuh…”


Lalu ia menatap Clair-de-Lune.


“Tapi hidup ini,” bisiknya, “tidak pernah berakhir—hanya memulai, berulang dan berulang lagi…”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2