CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 29


__ADS_3

Pada pukul dua siang keesokan harinya, Clair-de-Lune melakukan pemanasan di barre. Sejak saat itu, sampai Monsieur Dupoint merasa


puas dengan pertunjukannya, ia harus menghadiri kelas pagi, lalu naik ke kediamannya untuk makan siang, dan kembali ke kelas untuk berlatih selama dua jam. Belanja ke pasar dilakukan setelah itu, dan selama beberapa minggu ia tidak akan mengikuti pelajaran dari neneknya.


“Sekarang apa yang akan membuat pikiranku tetap


sehat?” pikir Clair-de-Lune sementara ia bergerak secara otomatis dari posisi pertama ke posisi kedua, dan melanjutkan gerakan plié-nya.


Tadi, begitu ia masuk kelas, dilihatnya Monsieur


Dupoint marah. Ia tidak tahu, Monsieur Dupoint adalah jenis orang yang cenderung tampak marah justru pada saat ia sesungguhnya merasa simpati atau protektif terhadap orang lain. Ia mengeluh ketika Clair-de-Lune masuk ke ruangan, dan bergumam, “Beberapa minggu! Hanya beberapa minggu! Dan mereka berharap aku mengubah seorang anak kecil menjadi penari profesional! Sungguh tak masuk akal!” Dan ia membelalakkan mata, tanpa alasan apa-apa, pada Mr Sparrow yang sedang duduk di piano dengan wajah lebih sedih lagi dari biasanya.


“Mengharukan! Cocok! Huh!” kata Monsieur Dupoint lagi, dan menekuni lagi naskah besar yang sudah menguning, yang dipegangnya dengan hati-hati.


Clair-de-Lune tidak ingin melihat naskah itu, tapi—selagi ia terus melakukan pemanasan—tanpa disadari matanya semakin tertarik pada naskah itu. Ia tahu, di dalam naskah itu ada notasi yang merekam koreografi tarian ibunya yang terakhir.


Tarian itu diciptakan oleh pria tua, mantan penari


balet bernama Gilbert de la Croix, yang meninggal setelah merampungkannya.


Ada jendela yang didedikasikan kepadanya di Gereja St. Mary di ujung jalan.


Kalau saja Clair-de-Lune dapat berbicara—dan kalau


saja (lebih penting lagi) ia pernah tahu neneknya bisa dibujuk untuk mengubah keputusannya—ia akan memohon sambil berlutut agar diselamatkan dari tugas berat ini.


Tapi ia tidak bisa bicara, dan neneknya tidak mungkin bisa dibujuk, dan Clair-de-Lune merasa sangat tidak berdaya; terjebak. Ia merasa ketakutannya yang paling dahsyat kini telah terjadi. Seakan-akan ketakutan ini telah menantinya seumur hidupnya, dan seluruh kemajuannya—seluruh


pagi-paginya dengan Bruder Inchmahome—jadi tidak berarti apa-apa dibandingkan dengannya.


Dan yang paling buruk, sekalipun pagi ini sebagaimana biasa ia mengunjungi Bruder Inchmahome, ia tidak berhasil membuat Bruder


mengerti—padahal sampai saat ini Bruder-lah orang yang paling memahami segalanya.


“Apa salahnya, anakku?” katanya penuh perhatian.


Tapi, Clair-de-Lune hanya menggeleng tanpa daya.


Karena sesuatu telah menangkapnya, sesuatu dari masa lalu, begitu jauh di masa lalu sehingga tidak tergapai oleh pendengaran Bruder Inchmahome.

__ADS_1


Sekarang ia benar-benar sendirian.


# # #


“Clair-de-Lune? Sekarang ke tengah ruangan, anakku. Mr Sparrow akan memainkan musik. Lalu kita akan mempelajarinya, melakukan langkah-langkahnya, sebagian demi sebagian. Dengarkan dengan teliti. Mr Sparrow, silakan.”


Pelan-pelan, dengan murung, Clair-de-Lune melepaskan barre dan menuju ke tengah ruangan.


Dan Mr Sparrow yang muda, dengan wajah tegang, mulai bermain.


Monsieur Dupoint menengadah ke langit-langit,


menghitung tanpa suara.


Mr Sparrow terhanyut dalam musiknya.


Tapi, Clair-de-Lune berdiri di tengah lantai—sementara musik seolah mengetuk-ngetuknya dengan jari-jari kecil, seperti hujan rintik-rintik—bergetar dari kepala sampai ujung jari kaki.


Musik itu. Musik itu dikenalnya dari nada pertamanya. Itulah musik yang membuatnya menangis pada hari itu, hari ia berjumpa dengan


Bonaventure, hari ia mulai belajar bicara.


Dikiranya itu musik terindah yang pernah didengarnya; tapi ia tidak tahu itu musik tarian ibunya.


Dan sekarang, tiba-tiba saja musik itu hadir, bukan


sekadar menimbulkan ketakutan, tapi berupa bahaya yang sama dengan binatang buas di dalam ruangan. Seakan-akan di dalam musik itu ada emosi yang begitu tajamnya sehingga, bila ia menyerahkan diri kepadanya, ia akan mati. Seakan-akan di dalam musik itu ada suara yang memohon padanya untuk


mendengarkan, tapi bila didengarkan, dirinya akan hancur.


Clair-de-Lune menatap ke seputar ruangan. Ada dua


naluri yang mencekamnya: menutup telinga dengan tangannya, atau melarikan diri—keluar dari ruangan, menuruni tangga, keluar dari bangunan dan pergi jauh, tak kembali lagi. Tapi, ia melawan kedua nalurinya.


Karena hanya ada satu jalan nyata untuk melindungi


dirinya.


Ketika Monsieur Dupoint melihatnya, ia terkejut:

__ADS_1


diperhatikannya, sekalipun anak itu berdiri tegak dengan rapi, hal itu dilakukannya dengan kaku dan susah payah.


Ia menduga, Clair-de-Lune menjadi seperti itu karena


ingin menandingi ibunya; dan kekisruhan hati Monsieur Dupoint pun mulai mereda.


Tapi sesungguhnya, Clair-de-Lune tegang karena


berusaha tidak mendengarkan.


“Sekarang, Nak,” ujar Monsieur Dupoint setelah Mr


Sparrow berhenti bermain dan menatapnya, “Mr Sparrow akan memainkan satu bagian dulu, dan aku akan menunjukkan langkahnya. Pertama aku menari, lalu kau mengikutiku.” Dan ia berdiri di sisinya, menegakkan tubuh, mengangguk pada Mr Sparrow, dan memeragakan langkah-langkah pertamanya.


Tapi, sekalipun ia memeragakan bagian tari


enchaînement dengan sangat indahnya, ia tidak menari sebagai dirinya sendiri. Ia meniru ingatannya tentang La Lune.


“Bourrée, bourrée, bourrée—lengan naik perlahan,


dan—turun dan lipat di dada,” katanya, seirama dengan musik. Ia selesai, dan Mr Sparrow berhenti bermain, musiknya bergema di udara. “Sekarang, coba kautirukan. Potongan tari terkesan sederhana, tapi sesungguhnya membutuhkan pengendalian penuh. Dan lebih dari segalanya, perasaan. Silakan, Mr Sparrow.”


Dan musik pun mulai berkumandang lagi. Kali ini


Clair-de-Lune yang menari.


“Bourrée, bourrée, bourrée—betul, pelan-pelan—lengan turun dan lipat di dada—bagus. Ingat, lengan selalu bergerak—lengan-lengan ini dalam keadaan sempurna hanya untuk berlanjut, tanpa putus, ke sikap berikut. Sekarang bagian berikutnya: perhatikan aku. Silakan, Mr Sparrow.”


Begitulah seterusnya. Pertama-tama Monsieur Dupoint menari, meniru ingatannya tentang La Lune. Lalu Clair-de-Lune menari, meniru Monsieur Dupoint. Sebentar-sebentar Monsieur Dupoint berhenti, berjalan cepat menuju piano, dan memeriksa naskah.


“Ah, ya,” ia bergumam, lalu kembali dan mengubah sesuatu yang baru saja diajarkannya kepada


Clair-de-Lune. Dan dengan patuh, Clair-de-Lune menurutinya.


Tapi sementara menari, Clair-de-Lune menggertakkan giginya begitu kuatnya hingga seluruh tempurung kepalanya terasa sakit.


Sementara latihan berlanjut, Monsieur Dupoint semakin lama semakin ceria.


Karena anak itu menari dengan baik—lebih baik dari yang pernah dilihatnya—dan kecemasan Monsieur Dupoint, sekalipun serius, tidak terbukti. Kecemasan itu tidak terjadi pada murid kebanggaannya ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2