
Tapi sekalipun nenek Clair-de-Lune mencoba mati-matian untuk berhemat setelah La Lune meninggal, uang mereka makin lama makin menipis. Sekarang—dan sampai saatnya Clair-de-Lune bisa menghasilkan uang sebagai penari dewasa—mereka hidup dari sumbangan yang diberikan Perusahaan Tari.
Pelajaran-pelajaran Clair-de-Lune diciptakan oleh neneknya, dengan tujuan agar ia berpikiran sehat. Maka, selama dua jam setiap siang, Clair-de-Lune menekuni pelajaran-pelajaran yang paling masuk akal yang terpikir oleh neneknya. Ia memerhatikan atlas besar dan menghafalkan tempat-tempat dari utara ke selatan, kota-kota pantai di negara-negara eksotis (Ilmu Bumi). Ia menghafalkan daftar panjang nama Raja dan Ratu, tanggal-tanggal, perang, peristiwa kapal karam, hukuman mati, dan bencana alam (Sejarah). Karena neneknya punya pengetahuan seorang penari tentang bahasa Prancis dan pengetahuan seorang musisi tentang bahasa Italia, Clair-de-Lune mempelajari kedua bahasa itu (Bahasa—Pendidikan Kejuruan). Ia belajar menambah dan mengurangi, mengalikan dan membagi (Belajar Hidup Sebatas Penghasilan). Dan (ini favoritnya) ia membaca buku Kesusastraan (Disiplin—Mengenal Diri Sendiri).
Tapi neneknya memastikan, ia tidak membaca cerita-cerita tentang persahabatan dan cinta.
Bacaan Clair-de-Lune terbatas pada kisah-kisah tentang Kewajiban, Disiplin, dan Ketaatan pada Hal-hal yang Lebih Tinggi—dan boleh dikatakan Clair-de-Lune menganggapnya menarik. Tentu saja, menemukan buku Kesusastraan yang sepenuhnya cocok bagi Clair-de-Lune merupakan masalah tersendiri bagi neneknya. Bahkan Injil pun perlu disensor, dan sekalipun ia menyuruh Clair-de-Lune ke gereja karena ia menganggap sebagai Pengaruh yang Menenangkan, ia selalu merasa agak cemas kalau-kalau anak itu mendengar sesuatu yang subversif di sana.
Clair-de-Lune juga membaca kisah-kisah tentang penari besar—tentang Disiplin dan Ketaatan mereka pada Tari—dan kisah-kisah inilah yang paling disukainya.
Dalam salah satu seri buku berjudul Seniman dan
Pengorbanannya—buku-buku kecil wangi lavender bersampul putih dan sudut-sudutnya sudah menguning—ia membaca tentang Sergei Superblatov, yang menuntaskan tari balet dengan kaki patah tanpa seorangpun curiga, mengalami
rasa sakit tak terperikan, dan memilih menghabiskan sisa hidupnya sebagai
penari daripada merusak rencana pementasan; tentang Lisette L’Oiseau, yang menolak mengunjungi kekasihnya menjelang ajalnya karena itu berarti ia membolos latihan tari selama setengah hari; tentang Eleanor Wood yang sama sekali tidak pernah makan karena yakin makanan akan membuat kakinya berat dan yang, suatu hari, melompat dengan indahnya, melayang seperti bunga dandelion, lalu menghilang tak pernah kelihatan lagi. Yang paling mencengangkan,
sesekali—termasuk hari ini—nenek Clair-de-Lune menyuruhnya berdiri di atas kursi dan mengambil dari rak lemari paling atas, sebuah buku tempelan berisi kliping-kliping tentang karier cemerlang La Lune. Clair-de-Lune menurunkan buku itu dan meletakkannya di meja, membalik-baliknya dengan hati berdebar, dan hampir terisak ketika ia tiba, sekali lagi, ke bagian di mana terdapat kliping
tentang kematian ibunya.
...LA LUNE TEWAS DI PANGGUNG...
Begitu judul beritanya, dan nenek Clair-de-Lune pun
__ADS_1
bercerita dengan tegas tentang keberanian dan keagungan La Lune yang rela mati demi Tari; tentang bagaimana ia mati masih memakai sepatu baletnya. Ia selalu bercerita tentang La Lune seolah-olah ia termasuk deretan penari yang ditulis
dalam seri Seniman dan Pengorbanannya; seakan-akan ia tidak lebih rumit, tidak lebih manusiawi daripada Penari Sempurna, yang tidak memikirkan, mencintai, atau melakukan apa pun kecuali menari; dan yang meninggal untuk mengambil tempatnya di antara orang-orang yang Patut Dijadikan Teladan. Sang Nenek belum pernah
memberitahu Clair-de-Lune cerita-cerita apa yang disukai ibunya, atau kata pertama yang diucapkannya, apakah ia lebih suka kucing atau anjing, atau apa lagu favoritnya. Ia tidak pernah memberitahu Clair-de-Lune bahwa ibunya Liar.
Ia tidak pernah memberitahu bahwa ibunya meninggal karena hatinya hancur.
Tapi bilamana Clair-de-Lune memikirkan ibunya, yang sering terjadi, hal-hal seperti itulah yang ingin diketahuinya—hal-hal yang sederhana, yang manusiawi. Tentu saja, ia tidak pernah lupa akan sikap tubuh ibunya selaku penari; begitu sempurna, begitu melelahkan, selalu terbayang, namun serasa tidak mungkin ditiru. Sekalipun sisi ini tentang ibunya, yang harus diusahakannya untuk diteladani, selalu mendominasi hidupnya, yang menarik
minat Clair-de-Lune justru sisi lainnya, ibunya sebagai manusia.
Apa yang membuat ibunya tertawa? Apa yang membuatnya menangis? Berapa sering ia sakit? Pernahkah ia merasa terlalu lelah untuk terus
menari?
Ia mulai merasa takut.
Rasanya seakan-akan seseorang, atau sesuatu, jauh di dalam diri Clair-de-Lune, sedang mencoba
berbicara dengannya, dari balik begitu banyak lapisan—lapisan apa? Ia tidak tahu. Tapi apa pun benda ini, lapis demi lapisnya membungkam suara itu tanpa ampun, sehingga terdengar menakutkan.
Jadi, Clair-de-Lune berhenti melamun, dan cepat-cepat memikirkan sesuatu yang lain.
Clair-de-Lune sangat mengagumi ibunya, si Penari
__ADS_1
Sempurna. Tapi ia takut kalau-kalau dirinya tidak mungkin bisa menjadi seperti ibunya, karena sekarang pun ia tahu, ia menghendaki sesuatu yang lebih dari menari. Clair-de-Lune akan mengorbankan apa pun—bahkan menari—asalkan bisa bicara.
Sementara, tentunya, bagi ibunya menari adalah
segala-galanya.
Sayang sekali orang harus memilih!
“Ini peringatan kematian ibumu, Clair-de-Lune,” kata
neneknya dengan tegang. “Jadi, aku ingin selama sisa hari ini kau memikirkan, bagaimana cara agar bisa lebih seperti ia.”
Clair-de-Lune mengangguk dengan patuh. Tapi ia tersipu malu, walaupun neneknya tidak sadar akan hal itu.
“Sekarang, waktunya kau mengerjakan tugasmu,” kata si nenek akhirnya, sambil memberinya sebuah daftar dan sedikit uang.
Clair-de-Lune mengambil mantelnya dari peti di kolong ranjang, juga topi dan keranjang rotan, mencium neneknya dan berangkat.
Setiap sore, Clair-de-Lune selalu pergi berbelanja di pasar di jalan depan bangunan rumahnya, membeli bahan makanan yang sanggup dibeli neneknya. Kadang-kadang ia mendapat sedikit upah dengan membelikan titipan para tetangga. Kadang-kadang, kalau ia beruntung, upah ini cukup untuk membeli buah plum untuk minum teh, atau sebutir telur untuk sarapan pagi. Tapi biasanya hanya satu-dua orang yang menitip belanja, dan sering kali tidak ada sama
sekali. Sambil turun ia berhenti di keenam lantai, dan mengetuk dua kali di pintu setiap lantai.
“Hari ini aku tidak minta dibelikan apa-apa,
Clair-de-Lune,” Miss Blossom si guru menyanyi berkata dengan suara merdunya.
__ADS_1
Bersambung…