CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 13


__ADS_3

Clair-de-Lune menundukkan kepala. Tetapi, dengan sedih, ia mengangkat kepalanya dan menggeleng… Ia tahu jawabannya.


Wajah Clair-de-Lune cerah, Bruder Inchmahome tersenyum padanya. “Apa?” katanya.


Tapi, kemudian Clair-de-Lune ingat ia tidak bisa bicara. Apa gunanya mengetahui jawabannya, kalau ia tidak bisa memberitahunya?


Ia menatap Bruder dengan putus asa.


“Ah,” kata Bruder Inchmahome, menatapnya dengan manis dan ceria dari balik kacamatanya, “tapi kau lupa, kurasa kau sudah bisa bicara—atau bisa, kalau aku mendengarkanmu.”


Lalu, dengan sangat tenang tapi waspada, ia duduk mendengarkan.


Betapa inginnya Clair-de-Lune bicara!


Ia membuka mulutnya. Ia menjilat lidahnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Lalu menarik napas sekali lagi. Tapi, bagaimanapun ia mencoba, kelihatannya ia tak bakal bisa. Ia tidak tahu caranya.


Air mata menggenang di matanya, dan pelan-pelan jatuh ke pipi.


Tapi, Bruder Inchmahome tidak tampak sedih. Ia hanya menatap dengan penuh minat.


“Keluarkan suara,” sarannya. “Suara apa saja.”


Clair-de-Lune menelan; berpaling, menatapnya lagi;


memejamkan matanya. Ia mencoba mengeluarkan suara. Ia mencoba mengeluarkan suara lain. Ia mulai menggeleng…


Lalu ia mendengarnya; atau merasakannya, bukan hanya seputar Bruder Inchmahome, tapi di seputar dirinya, Clair-de-Lune: keheningan yang hangat, penuh dengan cahaya, yakni keheningan yang merupakan kemampuan mendengarkan Bruder Inchmahome.


Keheningan itu menjaganya agar tidak jatuh.


Ia membuka mulutnya…


…dan sebuah suara kecil—suara yang hampir tak


terdengar—muncul entah dari mana, dari dalam dirinya.


Matanya terbelalak, terbuka lebar saking terkejut dan ketakutan.


Tapi Bruder Inchmahome hanya tersenyum ceria padanya. Clair-de-Lune tiba-tiba sadar, Bruder senang melihatnya.


“Sekarang!” katanya. “Pikirkan saja apa yang ingin kau katakan padaku, dan buat suara pada saat yang bersamaan.”


Clair-de-Lune menatapnya dengan gelisah. Ia hampir


tidak percaya akan apa yang telah terjadi. Ia separuh kegirangan separuh ketakutan.

__ADS_1


Ia menarik napas dalam lagi, dan lagi-lagi, memejamkan matanya.


Aku tidak minta izin pada nenekku,pikirnya, karena aku takut ia akan melarang. Tahukah kau, ia tidak ingin aku datang ke sini, karena ia ingin aku selalu bisu. Dan itu, Bruder Inchmahome adalah penyebab mengapa aku bisu. Aku tidak mendapat izin nenekku.


Sementara berpikir begitu, ia membuat suara-suara


sehalus suara anak burung.


Kedengarannya seperti bayi bicara, sebelum ia bisa


bicara.


Kedengarannya seperti ini:


“Ah… ah ah ah… ah! Ah-ah, ah, ah, ah… ah!”


Clair-de-Lune terdiam, lalu mendesah dalam-dalam.


Tiba-tiba ia merasa lelah; dan sedih, karena ia tahu itu bukan berbicara. Bagaimana mungkin itu bicara, kalau tidak ada orang yang bisa memahaminya?


Ia menatap dengan penuh penyesalan pada Bruder


Inchmahome.


Tapi, ia tidak memahami ekspresi wajah Bruder


seakan-akan hampir memahaminya.


“Aneh sekali!” katanya sambil menatap Clair-de-Lune dengan minat yang bulat.


Tapi…! Pikir Clair-de-Lune.


“Mungkinkah,” kata Bruder Inchmahome, “nenekmu


menganggap bicara bukan sesuatu yang baik?”


Tapi…! Pikir Clair-de-Lune.


“Bukankah,” ujar Bruder Inchmahome lagi, “ia sendiri


bisa bicara?”


Tapi…! Pikir Clair-de-Lune.


“Bagaimanapun, Clair-de-Lune,” ujar Bruder Inchmahome serius, “ia tidak boleh menghalangimu, sekalipun ia nenekmu. Kau berhak bicara kemampuan bicara itu diberikan sendiri oleh Tuhan kepadamu! Tak seorang pun—termasuk nenekmu yang baik (aku yakin jauh di dalam hatinya ia orang yang baik),” gumamnya sendiri, “berhak mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada seseorang.”

__ADS_1


Clair-de-Lune menatapnya dengan takjub. Ia mengerti! Tapi bagaimana mungkin? Tidak mungkin! Tidak…


“Kau heran aku memahamimu?” tanya Bruder Inchmahome lembut.


Clair-de-Lune kini gemetar. Ia mengangguk berulang-ulang.


“Ah, tapi, Clair-de-Lune—kata-katamu jelas! Kapan kau akan percaya padaku, Nak? Aku memahami karena aku mendengarkanmu.”


Bonaventure yang sedang duduk di rumput di bawah kaki Bruder Inchmahome kini melompat, dan memegang dadanya erat-erat dengan cakar kecilnya. “Mendengarkan?” serunya. “Tapi tentunya, Bruder Inchmahome, mendengarkan seperti yang kaumaksud ini mukjizat!”


“Mukjizat?” katanya. “Mungkin. Tapi, sungguh, hanya mendengarkan, dan semua orang seharusnya dapat melakukannya. Kita semua punya telinga. Aku


sudah banyak memikirkannya, karena aku telah bertahun-tahun mencoba melakukannya. Memang sulit—dulu pun sulit bagiku. Kita harus membiarkan apa pun yang kita dengarkan itu sebagaimana apa adanya… dan lucunya, mula-mula terasa


menakutkan. Mungkin karena…” lalu ia terdiam, kelihatan malu-malu. “Tapi kau tidak mau mendengar tentang hal ini, kan?”


Kalau saja Clair-de-Lune lebih terbiasa didengarkan,


ia mungkin akan segera menjawab, ya, tentu saja aku mau, tolong beritahu kami tentang mendengarkan ini, tapi Bruder Inchmahome buru-buru menambahkan, “Dan Clair-de-Lune kelihatannya lelah. Cukuplah untuk sehari. Tapi—aku ingin memberimu tugas lain.”


“Clair-de-Lune, itu bukan satu-satunya alasan kau


tidak bisa bicara. Pikirkan alasan lain… dan beritahu aku besok.”


“Dan sekarang,” lanjutnya sambil mengangkat jubah


cokelat yang tergeletak di bangku di sisinya, “aku akan ikut kau pulang untuk minta izin pada nenekmu. Aku kelihatan tidak takut, kan?”


Ia membungkuk dan menjulurkan tangan pada Bonaventure, yang segera naik ke atasnya. Lalu ia memberikan tangan satunya lagi pada Clair-de-Lune. Gadis ini memegangnya, tersenyum malu, dan ketiganya segera berangkat, meninggalkan kebun, melewati ruang belajar dan kembali ke lorong,


melewati penjaga pintu, yang dihadiahi anggukan oleh Bruder Inchmahome, lalu keluar melalui pintu masuk untuk kembali ke bangunan utama.


Clair-de-Lune harus bergegas agar tidak tertinggal,


sebab Bruder Inchmahome berjalan cepat, dengan langkah-langkah lebar. Tapi ia merasa bangga dan terhormat bisa berjalan di sisinya; dan tiba-tiba ia tidak merasa sedih atau takut lagi melewati kembali pintu hitam itu—bahkan rasanya menyenangkan karena melakukannya bersama-sama teman. Ketika mereka melaluinya ia hampir saja tertawa—tapi tidak sampai terbahak, karena sekalipun ia mencoba, Clair-de-Lune belum bisa tertawa dengan bersuara.


Tapi Bonaventure mendengarnya.


“Apa sih yang membuatmu geli, Mademoiselle?” tanyanya dari bahu Bruder Inchmahome, kumisnya bergerak-gerak penuh rasa ingin tahu.


“Ah,” kata Bruder Inchmahome. “Kurasa, kalau aku tidak salah, itu tawa kecil yang hening karena bahagia, Bonaventure sayang. Dan sekarang, Saudaraku Tikus—karena kita akan menempuh jalan yang berbeda—sudah saatnya kita mengucapkan selamat pagi!”


“Ya, selamat pagi!” Bonaventure mengiyakan. Ia sudah menuruni separuh tangga. “Sampai besok, Bruder, Mademoiselle!”


Dan kini tinggallah mereka berdua, Clair-de-Lune dan

__ADS_1


Bruder Inchmahome, di bordes yang gelap itu. Pintu kayu itu tertutup dengan sendirinya di belakang mereka.


Bersambung…


__ADS_2