CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 26


__ADS_3

Bruder pun menepuk-nepuknya dengan penuh kasih sayang.


“Benar, aku Guru. Guru Tari! Bukan itu saja, Tuan,


tapi aku—sebagaimana baru kuketahui—juga Koreografer! Dan tak lama lagi akan menjadi Sutradara! Dan aku sangat berterima kasih sepenuh hati padamu, atas saran dan dukunganmu. Tikus pandai menari! Oh, aku punya begitu banyak


rencana!”


“Selamat ya, Saudara Tikus,” kata Bruder Inchmahome hangat. “Kau layak mencapai sukses. Pekerjaanmu bagus. Moga-moga Tuhan


memberkati usaha-usahamu.”


Bonaventure, yang sedang bersandar nyaman di leher Bruder Inchmahome, membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, menguap, lalu tiba-tiba jatuh tertidur.


“Pasti kelelahan,” kata Bruder Inchmahome. “Biarlah ia tidur sejenak. Bagus baginya. Tapi sekarang,” katanya sambil menoleh ke arah Clair-de-Lune, “apa yang akan kausampaikan padaku, gadis kecil? Kulihat kau lelah. Ada lingkaran gelap di bawah matamu! Tapi kau kelihatan senang, kurasa…”


Clair-de-Lune menatap, matanya berkilau oleh air mata. Tiba-tiba ia terdorong untuk berkomunikasi, menceritakan segalanya, agar Bruder Inchmahome tahu dan mengerti.


Ia membuka mulutnya, dan mulai dengan suara anak


burungnya:


Bruder Inchmahome…


Tapi begitu banyak yang ingin dikatakan, tentang


kasih, berbicara, dan canang yang gemerincing, tentang ibunya, patah hatinya, memilih kasih, dan apakah orang memang harus memilih; dan sekalipun ketika ia memikirkan salah satu dari semua ini, atau mencoba, rasanya seakan-akan


masing-masing berkaitan dengan banyak hal lain sehingga pikirannya seperti sekawanan burung yang terbang menjauhinya, dan hanya meninggalkan angin dan kehangatannya. Dan sepanjang waktu itu ia ingin sekali mengatakan segalanya: memegang setiap burung dalam pelukannya dan menunjukkan satu per satu pada Bruder Inchmahome yang kemudian membelai bulu di lehernya dan memberinya makan.


Tapi, ada sesuatu yang lain lagi. Di balik semua itu ada keperihan, dan keperihan ini ingin disampaikannya lebih dari apa pun. Tapi apa


itu? Apa? Sekalipun ia tahu keperihan itu ada, entah di mana, di bawah ribuan hal-hal lain, ia tidak bisa menemukannya; dan inilah yang paling berat.

__ADS_1


Oh, Bruder Inchmahome! Katanya putus asa. Ada ribuan hal yang ingin kukatakan kepadamu—seumur hidup pun aku takkan punya waktu untuk membicarakannya, sekalipun aku bisa bicara! Dan aku ingin mengatakan sesuatu, sesuatu yang khusus, yang paling penting. Tapi aku tidak dapat menemukannya!


Bruder Inchmahome tersenyum pelan, senyumnya bahkan kelihatan agak sedih.


“Ah, Clair-de-Lune!” katanya. “Tidak, kau tidak akan


pernah sempat mengatakan semua yang ingin kaukatakan, sekalipun kau berbicara seumur hidupmu, karena waktunya tidak cukup. Hal itu, kurasa, harus kaupelajari dan kauhadapi sendiri; dan mungkin terasa sangat menyedihkan bagi orang yang begitu ingin berbicara seperti dirimu. Tapi ini bukan alasan untuk tidak berbicara sama sekali. Mungkin akan lebih berguna bagimu untuk mengalihkan perhatianmu kepada hal yang sangat penting: karena tahukah kau, ada hal-hal yang sangat penting. Dan kita sampai pada bagian kedua dari apa yang kaukatakan.”


“Clair-de-Lune, kau telah memberiku jawaban yang


terakhir! Jadi—karena kau telah memberitahuku semua alasan mengapa kau tidak bisa bicara—aku harus mengubah pertanyaanku.” Ia membungkuk ke meja batu itu, lengannya dilipat, dan wajahnya sangat serius. “Apa yang ingin kaukatakan?”


Clair-de-Lune menatapnya dari seberang meja. Ia


melihat ketenangan dan kewaspadaan di wajah Bruder Inchmahome; minat besar di matanya. Dan entah mengapa kebaikannya terasa membakar dan terasa perih bagi Clair-de-Lune dan ia tahu perasaan inilah yang ingin disampaikannya. Tapi, sekalipun ia merasa hal ini begitu dikenalnya, rasanya juga teramat aneh sehingga ia tidak akan menemukannya, sekalipun misalnya ia pergi ke Bulan.


Apa itu? Apa itu?


Ia menatap Bruder tanpa daya dan menggelengkan kepala.


“Ah,” kata Bruder Inchmahome, “tapi kau tahu,


Clair-de-Lune! Jangan takut.” Dan tiba-tiba ia merasa Bruder Inchmahome sedang mendengarkan sesuatu, sesuatu yang kurang jelas. “Sekarang, akhirnya,” katanya lembut, “kita telah tiba di jantung persoalan. Atau persoalan itu telah tiba pada diri kita!”


“Tahukah kau, sayangku—kalau aku boleh berterus


terang?—sekalipun kau kira kesulitanmu adalah keadaanmu yang tidak bisa bicara, aku sendiri kurang yakin. Aku belum pernah yakin. Kukira kesulitanmu adalah kau tidak tahu caranya mendengarkan.”


Clair-de-Lune menatap padanya, kecewa.


Mendengarkan? Katanya. Tapi mendengarkan apa?


“Pertama-tama,” ujar Bruder Inchmahome, “hatimu

__ADS_1


sendiri. Dan setelah itu, apa saja dan siapa saja yang berbicara denganmu.”


Hati Clair-de-Lune berdebar-debar. Sesuatu tentang apa yang dikatakan Bruder Inchmahome terasa sangat menakutkan. Ia juga merasakan semacam keputusasaan. Bagaimana kalau ia tidak dapat melakukannya?


“Tapi kulihat kau ketakutan—kau tidak boleh takut!


Tahukah kau, Clair-de-Lune, ada satu hal yang kaudengarkan sepanjang waktu. Rasa takut. Jangan dengarkan rasa takut…”


Tapi lagi-lagi Clair-de-Lune melihat Bruder sedang


mendengarkan sesuatu yang tidak begitu jelas; dan di matanya yang jernih ada keperihan.


“Kalau saja kita bisa melindungi orang-orang yang kita kasihi,” gumamnya, begitu pelannya sehingga Clair-de-Lune hampir tidak mendengarnya; dan tiba-tiba ia merasa dirinya tengah memulai suatu perjalanan panjang. Ia baru akan mengajukan pertanyaan lain, ketika tiba-tiba, ketika ia menatap mata Bruder Inchmahome, ia melihat, hanya sekejap, suatu hal yang luar biasa: seorang pemuda, mengintip dari balik sesuatu, menatapnya malu-malu, hampir saja berbicara. Baru saja ia melihatnya, pemuda itu menghilang.


Bruder Inchmahome—ia memulai.


“Ah, cukuplah obrolan iseng-iseng ini!” kata Bonaventure tiba-tiba, ketika ia terbangun. “Aku akan terlambat! Mademoiselle akan terlambat! Terima kasih sekali lagi, Bruder Inchmahome, dengan segenap hatiku. Sampai jumpa!”


“Terima kasih kembali, Saudara Tikus,” ujar Bruder


Inchmahome lembut; karena tahu-tahu tikus itu sudah berlalu. “Selamat jalan, Clair-de-Lune!”


Jadi, Clair-de-Lune pun mengikuti Bonaventure ke


sepanjang koridor panjang, melewati penjaga pintu, melalui kebun dengan laut di sebelah kanannya dan langit biru di atasnya, dan melewati pintu hitam dan masuk kembali ke kehidupannya yang lain. Lalu, seperti biasa, ia naik ke ruang bawah atap untuk berganti baju dan pergi ke kelasnya; dan Bonaventure turun ke bawah untuk menyiapkan kelasnya sendiri.


Sambil berpakaian, wajah Clair-de-Lune serius.


Selangkah lagi, ia sudah sampai pada tujuannya.


Tapi sekalipun ia tahu langkah itu besar, ia tidak mungkin tahu petualangan apa saja yang masih


akan dialaminya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2