CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 10


__ADS_3

Dan kata-kata… yah!” dan ia menunjuk ke buku besar,


halamannya yang terbuka separuh terisi tulisannya yang kecil dan halus, mendeskripsikan batu penemuannya, “kata-kata tidak bisa mengungkapkan segalanya. Bahkan kadang-kadang, kurasa kata-kata tidak bisa mengungkapkan sesuatu yang benar-benar berharga. Mademoiselle, bicara itu tidak penting.”


Clair-de-Lune begitu kecewa sehingga ia tersenyum


untuk menutupi perasaannya. Ia merasa, menunjukkan perasaan yang sesungguhnya


pada orang sebaik itu bukanlah sikap yang terpuji.


“Ah,” ujar Bruder Inchmahome, “tapi bagimu hal itu


penting.”


Lagi-lagi Clair-de-Lune terkejut. Ia menatap Bruder


dengan mulut separuh terbuka.


“Kau ingin bisa bicara,” gumam Bruder senang, sebagian pada dirinya sendiri. “Dan aku ingin bisa mendengarmu.”


Masih dengan mulut terbuka, Clair-de-Lune mengedipkan mata.


“Kalau begitu,” lanjut Bruder sedikit lebih cepat.


“Maukah kau kubantu, agar bisa—bicara?”


Rona wajah Clair-de-Lune berubah pucat, kegirangan.


Bruder Inchmahome tersenyum lebar.


Clair-de-Lune mengangguk satu kali; tapi anggukan itu begitu dalamnya sehingga hampir-hampir saja ia kehilangan keseimbangan.


Bruder Inchmahome tertawa.


“Sekarang,” katanya setelah Clair-de-Lune tenang


kembali. “Aku akan berbagi rahasia kecil denganmu. Kurasa kau sudah bisa bicara. Ah, Mademoiselle, dengarkan aku!” katanya ketika Clair-de-Lune


menggeleng untuk membantah. “Begini, kurasa yang kaubutuhkan hanyalah seseorang yang mendengarkanmu; dan aku senang sekali menjadi seseorang itu. Lagi pula apa gunanya berbicara kalau tak ada yang mendengarkan?

__ADS_1


“Mademoiselle—eh, maafkan aku, siapa namamu?”


“Clair-de-Lune!” seru Bonaventure segera.


“Sinar Rembulan!” ujar Bruder Inchmahome. Ia berhenti sejenak, matanya menerawang, seakan-akan sedang mengenang sesuatu yang


indah—atau sedih. Lalu ia mendesah, dan melanjutkan dengan lembut, “Ibumu tentunya seorang wanita yang puitis sehingga bisa memberimu nama seindah itu—ah, tapi ia kini berada di surga, bukan?” Lagi-lagi ia menerka dengan tepat! “Sayang sekali. Mungkin suatu hari nanti, kau bisa bercerita tentang dirinya.”


“Mademoiselle Clair-de-Lune, sudah menjadi kewajibanku dalam hidup ini untuk mendengarkan dan mengamati sebanyak mungkin dan seteliti


mungkin setiap detail, karena tampaknya dengan melakukan hal itu aku mencintai semua itu dan mencintai Sang Pencipta. Pernah, dahulu kala, aku merasa sendirian di dunia ini. Lalu aku memahami bahwa dengan mendengarkan kita mengetahui bahwa kita tidak sendirian. Aku telah mendengarkan banyak hal yang diam, dan banyak di antaranya, telah berbicara padaku. Kalau kau ingin bicara,


aku akan siap mendengarkan. Tapi sekalipun kau diam, aku bisa mendengarmu.”


“Sekarang, kusarankan kau datang ke biara ini setiap


pagi pada waktu seperti ini. Satu pelajaran pendek setiap hari, hanya itu yang kaubutuhkan. Kalau kau mau, aku akan berada di sini untuk mendengarkan. Tapi, sekarang aku perlu bertanya padamu—apakah ada yang tahu kau berada di sini?”


Clair-de-Lune menggeleng. Biasanya, hal seperti ini


akan membuatnya cemas setengah mati. Tapi, ia begitu bahagia sehingga tidak sempat merasa cemas.


“Neneknya,” kata Bonaventure. “Atau mungkin juga


gurunya, Monsieur Dupoint.”


“Kalau begitu, sebelum kau datang lagi besok, kau


harus minta izin pada salah seorang di antara orang-orang yang baik ini.”


“Tapi sebelum kau pergi, ada pertanyaan untukmu.


Pulanglah, Mademoiselle, dan renungkan. Mengapa, menurut pendapatmu, kau tidak bisa bicara?”


Saat itu Bonaventure telah beranjak pergi, dan sudah


berada di tengah lorong. “Sampai jumpa besok, Bruder!” Clair-de-Lune mendengarnya berkata. Semua kemunculan dan kepergian yang memang serba mendadak seperti ini. Tapi, Clair-de-Lune masih berdiri di sana, enggan untuk berlalu. Tiba-tiba bagian bangunan di luar pintu batu itu jadi begitu menyedihkan baginya. Dan bagaimana, pikirnya panik, kalau semua ini hanya mimpi?


“Ini bukan mimpi,” ujar Bruder Inchmahome,

__ADS_1


menggodanya. “Aku akan berada di sini besok. Kau tampaknya orang yang pesimis, Mademoiselle! Ah, tapi aku orang yang optimis, jadi kataku, janganlah takut! Dunia ini tidak sekejam yang kau duga—bahkan jauh lebih menyenangkan!” Dan matanya yang kelabu jernih, jernih seperti batu, jernih seperti air, tersenyum padanya.


Sekali lagi Clair-de-Lune menatap sekeliling ruang


batu itu, dan kebun di luar, dan mendesah. Lalu, setelah menatap mata si biarawan untuk menunjukkan keseriusannya, ia melakukan gerakan révérence—salam hormat penari—yang paling indah, sambil menundukkan kepala. Seolah-olah mengatakan dengan sepenuh hatinya, terima kasih. Lalu ia berlari mengejar Bonaventure.


Maka kembalilah mereka, si tikus dan si gadis kecil,


melewati patung Bunda Maria, melewati biarawan penjaga pintu, dan keluar dari pintu, menyeberangi rumput, di bawah sinar matahari, melewati tepi laut,


melintasi bunga-bunga dan tetumbuhan, di bawah langit luas menuju ke pintu yang gelap, gua dan kembali ke bangunan yang aneh itu, lebih aneh dari yang bisa dibayangkan siapa pun, rumah Clair-de-Lune. Clair-de-Lune semula takut untuk


pulang. Tapi, Bonaventure adalah seekor tikus. Ia biasa menghadapi bahaya. Clair-de-Lune menarik napas dalam dan dengan setia mengikutinya di kegelapan.


Pintu baru itu pelan-pelan tertutup sendiri di


belakang mereka, seakan-akan tertiup angin misterius. Clair-de-Lune menatap kekelaman di sekelilingnya.


“Jangan cemas,” ujar Bonaventure. “Aku sudah


berkali-kali kembali. Selalu seperti ini. Sekarang kau pulanglah, begitu pula aku, dan kita harus bersiap-siap masuk kelas. Aku akan menjemputmu lagi besok. Sampai jumpa!” Dan ia pun menghilang, bergegas di pegangan tangga.


Clair-de-Lune pelan-pelan mendaki anak tangga. Apa


yang akan dikatakan Nenek? Pikirnya ketakutan, sebab tentunya neneknya sudah bangun sekarang. Ia begitu kebingungan, sehingga tidak menyadari sudah berapa deret anak tangga dilaluinya. Tahu-tahu ia sudah tiba di lantai bawah atap.


Clair-de-Lune berhenti berjalan. Bagaimana mungkin, pikirnya sambil menatap ke belakang, dan tidak melihat sesuatu apa pun yang aneh. Lalu ia melihat lampu, karena ia tengah berdiri di sisi jendela, dan dari situ ia bisa melihat atap-atap merah dan cerobong asap sejauh mata memandang—dan kotak kasar yang membingkai langit fajar yang kelabu. Waktu seolah sama sekali tidak berlalu.


Diam-diam, Clair-de-Lune merayap naik ke ruangan bawah atap, melewati neneknya yang masih tidur, mengganti pakaiannya cepat-cepat, dan naik ke ranjangnya. Tentunya semua itu hanya mimpi.


Bagaimanapun, sepanjang waktu latihannya di kelas


bersama Monsieur Dupoint, ia merenungkan pertanyaan Bruder Inchmahome.


Mengapa ia tidak bisa bicara?


Bila ia tidak sedang memikirkan hal itu, dengan


bahagia dan takjub ia memikirkan Bruder Inchmahome, biara, tebing, laut, dan langit yang tersembunyi di lantai atas—atau lantai bawah?—di bangunan yang sama, tempat ia merasa terpenjara.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2