
Ia telah menemukan para pemusik—sekalipun terpaksa berjalan sejauh dua jalan raya untuk menemukan mereka—dan tikus-tikus lain sedang merancang kostum dan latar belakang panggung.
Namun, ia masih harus mencari tempat yang cocok.
Suatu malam, ketika sedang sibuk merevisi tarian
ciptaannya, tiba-tiba ia mengangkat kepala, matanya cemerlang oleh suatu inspirasi.
“Tentu saja!” katanya. “Mengapa tidak pernah
terpikirkan olehku sebelumnya?”
Dan bintang pun muncul di langit di luar jendela.
Tapi, Bonaventure tidak berada di jendela untuk menyaksikannya.
# # #
Pada malam yang sama, nenek Clair-de-Lune menyuruh cucunya naik ke meja dan mengambil sebuah kotak bulat yang tinggi di atas lemari, di dekat kliping surat kabar.
Wajah neneknya mengeras. Clair-de-Lune tidak tahu apa yang tersimpan di dalam kotak itu; tapi sekarang, setelah melihat ekspresi neneknya, ia tahu; ia tahu.
“Bukalah kotak itu, Nak, dan keluarkan isinya,” kata
neneknya.
Clair-de-Lune membukanya; dan menemukan, seperti yang diduganya, sebuah tutu putih, dilipat terbalik. Tapi sekalipun sudah tahu apa yang akan ditemukannya, ketika tutup kotak itu terbuka dan ia melihat isinya untuk pertama kalinya, ia merasa terkejut; karena di bawah sinar lilin yang redup, tutu itu kelihatan serupa dengan angsa mati.
“Keluarkan dan pakailah,” kata neneknya.
Clair-de-Lune mengeluarkannya dengan hati-hati. Cantik sekali, tentunya—tapi membuatnya gugup, karena ada sesuatu yang lain dalam benda itu yang mengingatkannya akan sesuatu, entah apa. Clair-de-Lune membuka pakaiannya dan memakai tutu itu, menariknya sampai melampaui stokingnya dan memasukkan tangannya ke dalam lengan baju itu.
Rasa pakaian itu di tubuhnya—lapis demi lapis tulle
dan bulu angsa—membuatnya mendadak sadar.
Tutu itu mengingatkannya akan bahan yang selalu
__ADS_1
meredam suara itu—suara menakutkan yang ingin memberitahunya sesuatu tentang kematian ibunya.
Aneh sekali, betapa suara itu harus terkubur di bawah benda secantik tutu!
“Berputarlah, Nak,” kata neneknya, dan wanita tua itu
mengencangkan gaun itu di bagian belakangnya, mengaitkan kancing-kancingnya.
“Coba kulihat.”
Dan Clair-de-Lune berputar dan berdiri di hadapannya. Tutu itu terlalu besar baginya, tentu saja; tapi tidak terlalu kebesaran; karena ibu Clair-de-Lune baru berusia delapan belas tahun ketika meninggal, dan kurus. Dalam cahaya lilin, Clair-de-Lune tidak tampak seperti anak kecil memakai baju orang dewasa. Tutu itu hanya membuat Clair-de-Lune tampak lebih besar dari usia
sesungguhnya.
Nenek Clair-de-Lune menatapnya sejenak tanpa
berkomentar. Lalu ia membuka keranjang jahitannya dan mulai memasang jarum pentul di sana-sini, agar tutu itu pas jatuhnya pada tubuh Clair-de-Lune.
Karena sebagaimana baju-baju lain, tutu ini pun—yang dipakai La Lune saat meninggal—harus dipermak agar pas dengan tubuh cucunya.
Clair-de-Lune duduk dengan Bruder Inchmahome di kebun laut. Malam pementasan tidak sampai seminggu lagi, dan Bonaventure sedang pergi
“Clair-de-Lune,” kata Bruder Inchmahome, dengan nada seseorang yang sudah yakin akan mengatakan apa, “kau semakin pucat, semakin kurus, dan tidak memberitahuku apa-apa lagi. Aku bimbang, kalau-kalau sesuatu yang kukatakan—beberapa minggu yang lalu, tentang mendengarkan—lebih
mencelakakan dirimu daripada membawa kebaikan. Aku takut aku telah menghancurkan rasa percaya dirimu. Karena tahukah kau, mendengarkan tidak boleh menjadi beban. Sungguh, Clair-de-Lune, mendengarkan itu membebaskan! Mungkin
aku kurang jelas menerangkannya padamu…”
Tapi, Clair-de-Lune menggeleng berulang kali.
Bukan itu,katanya dalam suara anak burung yang kelaparan tapi takut induknya tidak akan
kembali lagi ke sarangnya. Masalahnya Bruder Inchmahome tersayang, aku sampai ke sesuatu yang tidak bisa kudengarkan. Dan sekarang tampaknya aku akan gagal—aku takkan bisa mendengarkan, dan oleh sebab itu tak mungkin bisa bicara. Sebab sekarang aku tahu bahayanya
mendengarkan—aku tahu bila aku mendengarkan, aku akan mati.
“Tapi, Clair-de-Lune!” kata Bruder Inchmahome tulus.
__ADS_1
“Mendengarkan bukan berarti kematian. Mendengarkan berarti kehidupan!”
Mendengarkan itu menakutkan, kata Clair-de-Lune, dan untuk pertama kalinya ia membantah Bruder.
“Mendengarkan adalah kasih,” ujar Bruder Inchmahome; dan tiba-tiba suaranya mengandung tangis. “Dan kasih memang kadang-kadang
menakutkan. Tapi kasih itu selalu baik, Clair-de-Lune. Dan kasih itu lebih penting dari segalanya. Kita harus membuka diri terhadap kasih. Kita tidak boleh menutup hati—apa pun akibatnya. Kau sedang bertempur melawan sesuatu, sayangku. Jangan melawan. Dengarkan saja.”
Ketika Clair-de-Lune menatapnya dengan air mata
mengalir di pipinya, akhirnya gadis kecil ini tahu apa yang harus dilakukannya.
# # #
Larut di malam hari itu, Clair-de-Lune tidur di
ranjangnya di ruang bawah atap, dan, melalui kisi-kisi jendela, bulan bersinar ke atas wajahnya yang tenang, jari-jari bulan yang panjang membelai sejuk dahinya, pipinya, dan merapikan rambutnya. Mata Clair-de-Lune bergetar, terbuka. Sejenak ia berbaring diam. Lalu, pelan-pelan, ia bangkit dari
ranjangnya. Ia menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya. Lalu, dengan telanjang kaki, ia beringsut ke arah meja.
Disana, dilipat terbalik dan teronggok dengan kaku,
terdapat tutu angsa ibunya, yang sudah dipermak sesuai ukuran Clair-de-Lune. Sepasang sepatu balet pointe merah muda terletak di sisinya. Clair-de-Lune
mengangkat gaun itu, dan meletakkan sepatu di atasnya. Ia ragu sejenak, melirik ke arah neneknya, lalu beranjak ke luar.
Ia menuruni tangga, kesemuanya dua belas deret, dan akhirnya keluar ke jalan. Udara malam terasa dingin, dan tentu saja tidak ada pasar: hanya bayangan kedai-kedainya yang kosong. Clair-de-Lune tidak berhenti berjalan. Ia menyeberangi jalan, dan setibanya di bagian belakang teater, ia masuk melalui pintu panggung. Ia mendapat kunci dari Monsieur Dupoint siang itu; karena memang semua pengurus memiliki kunci. Tapi, Clair-de-Lune membutuhkannya untuk digunakan secara khusus.
Setelah menutup pintu kembali, ia berada dalam
kegelapan total. Tapi, Clair-de-Lune sudah tahu jalannya. Dan ia tidak takut. Memeluk tutu dan sepatunya dengan satu lengan, selimut tersampir seperti selendang di bahunya, ia berjalan menyeberangi lobi kecil dan naik ke tangga.
Kalau ingin ke ruang ganti, ia harus berbelok ke kiri, dan berjalan terus ke lorong. Tapi, ia malah naik ke tangga kedua. Dan di sini tidak begitu gelap
lagi. Sejenak Clair-de-Lune merasa cemas, kalau-kalau ia tidak sendirian, sekalipun malam sudah sangat larut. Tapi ketika ia mencapai puncak tangga dan merayap ke sayap—sekarang ia ada di belakang panggung—ia melihat sesuatu yang
aneh.
__ADS_1
Bersambung...