
Ketika Clair-de-Lune terpaksa berhenti mengamati kelas Bonaventure, tentunya ia kecewa. Tapi ia sering mendengar tentang artis tenar yang berhasil mengatasi kesulitan pribadi—kematian seorang sahabat atau keluarga, misalnya, pada malam pertunjukan—dan mereka bukan hanya tetap
melanjutkan pertunjukan tapi juga menampilkan permainan yang terbaik. Jadi, ia pun menghimpun kekuatan dari dalam dirinya (dan pikiran waras bahwa kelak akan ada kelas-kelas lain yang bisa ditonton Clair-de-Lune) dan melanjutkan pelajarannya.
Ia memimpin kelasnya melakukan latihan-latihan di barre, menghitung waktunya dan mendengarkan musik di kepalanya. (Ia belum mendapatkan pianis, tapi ia sedang dalam proses negosiasi dengan tikus yang tinggal di Gereja St. Mary—pemusik
yang berbakat sekalipun agak tuli).
Ia mendemonstrasikan setiap gerakan, bergerak
maju-mundur, memerhatikan setiap murid dan memperbaiki posisi kaki muridnya, atau cara muridnya mengangkat tangannya. Ia telah mengembangkan, bagi murid-muridnya, idenya yang cemerlang tentang ekor (suatu unsur yang belum
pernah diperhitungkan dalam mengajar kelas balet klasik)—yang menurutnya harus diletakkan dengan rapi di atas lipatan lengan kanan ketika tidak digunakan, tapi dipakai sebagai anggota tubuh kelima dalam momen-momen dramatis seperti
adegan pas de deux.
Lalu ia membawa mereka ke tengah ruangan, dan
mengajarkan gerakan ports de bras,
pirouette, dan pas de chat. Ia bahkan sedikit bereksperimen dengan gerakan angkat. Ia melihat ekspresi murid-muridnya—penuh respek dan minat besar. Dan ketika ia akhinya mengajari mereka untuk melakukan gerakan révérence (bagi murid perempuan) dan salut (bagi murid laki-laki); dan ketika akhirnya, setelah sebelumnya memerhatikan
lubang tikus dengan teliri, mereka pergi satu per satu sambil mengucapkan, “Terima kasih, Monsieur Bonaventure!” dan “Sampai jumpa!”, Bonaventure memahami sesuatu—sesuatu yang sangat revolusioner—yang sebelumnya belum pernah
dipahaminya.
Apa ya, yang pernah dikatakan Bruder Inchmahome?
Tikus adalah penari terbaik. Hanya perlu melihat
sekilas untuk mengetahui hal itu. Tikus menari dengan kumisnya. Menari dengan ekornya. Sepanjang hidup mereka menari. Tikuslah yang mengajar manusia…
Benar. Manusia harus belajar menari. Tapi, tikus sudah pandai dengan sendirinya.
__ADS_1
“Aku harus menatap bintang!” kata Bonaventure
kegirangan. Dan ia mengambil jubahnya yang tercabik-cabik dari gantungan jas, melongok dengan waspada ke luar lubang, dan masuk ke kelas kosong Monsieur Dupoint.
Jendela ada di sebelah sana. Bonaventure
melompat-lompat di sepanjang pinggiran ruang, mengendap-endap naik dari sisi kompor dan melompat ke kusen jendela. Untunglah jendela sedikit terbuka; dan bintang-bintang sudah tampak berkelap-kelip di langit. Bonaventure beristirahat
di kusen jendela, menatap ke langit dan mendesah dalam-dalam.
Ia begitu kegirangan, begitu bahagia sehingga hampir tidak bisa mengendalikan diri. Rasanya ia bisa meledak saking bahagianya.
Dan kalau memang begitu, pikirnya, mungkin aku akan berubah jadi bintang. Memang Bonaventure pernah membaca cerita, di mana peristiwa seperti itu terjadi.
Awalnya ia bercita-cita mendirikan sekolah tari. Lalu
timbul mimpi lain, mendirikan perusahaan tari. Cita-cita ini sudah diangankan sekian lama.
Sekarang ia tau, bukan hanya cita-cita pertamanya yang bisa digapai, yang kedua pun bisa.
Perusahaan! Perusahaan tari bagi tikus!
Bonaventure menatap bintang. Langit bertambah gelap sementara ia duduk di situ, dan semakin banyak bintang bermunculan di latar belakang yang gelap dan tak terbatas itu. Langit itu adalah pentas—ya, langit itu adalah pentas! Dan, sementara Bonaventure duduk bermimpi, bintang-bintang
itu berenang berbarengan dan menjadi tikus.
Tikus! Mengenakan kostum yang sangat indah! Ekor-ekor mereka tersampir dengan elegan di lipatan lengan kanan sementara mereka—yang
perempuan di satu sisi dan yang laki-laki di sisi lain—menarikan dalam formasi, tarian istana yang gemulai. Karena—ya! (pikir Bonaventure)—sekarang ini zaman yang anggun, zaman ksatria dan pasangannya, zaman diberlakukan semua etiket
serta keagungan. Tapi kemudian (sementara Bonaventure menatap dan bermimpi) adegan istana itu menghilang dan Pangeran Tikus berdiri di pekarangan istana. Ia berlari keluar dari ruang dansa, karena mendengar teriakan seekor makhluk
aneh, dan ketika ia menatap ke langit dilihatnya seekor burung ajaib—burung dengan jantung membara—terbang melintas dan menghilang di kegelapan malam. Ia harus mengikutinya!
__ADS_1
Ah, tapi (tentu saja, pikir Bonaventure) untuk
melakukannya ia harus meninggalkan kekasihnya, dan ia bahkan tidak bisa berjanji akan kembali, karena perjalanan ini mungkin akan menewaskannya! Bonaventure melihat adegan pas de deux: dua tikus menari untuk saling menyatakan cinta, dan saling berpisah dengan perasaan sedih. Dilihatnya keperkasaan sang Pangeran, dan tulusnya pengorbanan kekasihnya—ekor mereka pun bertaut. Lalu dilihatnya Pangeran Tikus itu berangkat untuk mengejar burung dengan jantung membara itu…
Bonaventure bergidik. Tiba-tiba, dalam udara malam, ia kedinginan. Tapi kepalanya penuh dengan bintang. Ia melompat dari jendela, turun melalui kompor, dan bergegas di sepanjang pinggiran ruangan dan kembali ke lubang tikusnya. Ia menghambur ke meja tulisnya dan menyalakan lilin yang ada di situ, di depan salib. Lalu ia membuka laci teratas. Laci itu penuh dengan bekas bungkusan permen, yang telah disetrika licin-licin oleh Bonaventure dengan setrikaan kecil (dibuat dengan sulitnya dari tutup botol). Dengan cara ini ia telah mengumpulkan banyak lembaran kertas tulis bagi tikus. Diambilnya sehelai, dan duduk dengan gelisah di meja untuk menulis.
...Perburuan...
...Pangeran...
Ditulisnya di bagian atas kertas itu dengan hurup
kecil-kecil lalu dicelupkannya sebuah biji jeruk yang sudah dikosongkan dan diisinya dengan tinta, dan ditambahkannya di bawah kata-kata itu:
...Tari...
...Balet Khusus Tikus...
Dan di bawah sinar lilin kecil itu, terlalu kecil
untuk manusia dan terlalu kecil untuk ditemukan di tempat sampah, Bonaventure—hatinya penuh cinta—duduk terjaga sepanjang malam, mendeskripsikan
tari baletnya.
# # #
Monsieur Dupoint sama sekali tidak tahu bahwa di
lubang tikus di pinggiran dinding di sekolah baletnya, ada tikus yang sedang menciptakan tarian. Tapi—anehnya—selagi Bonaventure kegirangan menciptakan tari balet yang baru, Monsieur Dupoint sedang duduk di kamarnya di bangunan seberang, membaca naskah tentang tarian tempo dulu.
Naskah itu merupakan buku besar, sudah menguning, bersampul tipis dan berisi musik dan tanda-tanda musik yang oleh penari disebut
notasi. Di bawah sinar lilin, kelihatannya seperti naskah suci. Monsieur Dupoint menatapnya dengan kagum dan hati-hati. Ia ragu apakah kesucian naskah itu akan memberinya rasa yakin atau rasa takut.
__ADS_1
Dengan hati-hati, ia membalik satu halaman yang bertutur tentang sesuatu, lalu menutupnya lagi.
Bersambung...