
“Aku tahu apa yang akan kulakukan!” kata tikus itu, mengambil keputusan segera. “Aku akan memperkenalkanmu kepada temanku, Bruder Inchmahome. Ada biara tak jauh dari sini. Ia tinggal di situ. Ia tertarik pada apa saja dan siapa saja. Lagi pula, hatinya pernah hancur, oleh karena itu ia sangat bijak. Ia pasti tahu apa yang harus dilakukan. ‘Bruder Incmahome’, kataku ketika aku baru datang ke sini. ‘Aku artis. Aku berbakat menari. Aku begitu cinta pada tari sehingga memikirkannya saja, hatiku begitu rindu. Tapi aku tikus. Konyolkah bila tikus menari?”
“Ibuku juga berpendapat begitu, tahu,” tambah si tikus, membungkuk ke arah Clair-de-Lune seakan-akan berbagi rahasia. “Ia menganggap, kita harus menerima Pembatasan kita. Tapi, pikirku, hidup macam apa itu?”
“’Tikus adalah penari terbaik,’ kata Bruder Inchmahome padaku. ‘Lihat saja gerakan tikus. Tikus menari dengan kumisnya. Tikus menari dengan ekornya. Tikus terus-menerus menari. Justru tikuslah yang mengajar manusia menari… mana mungkin aneh, kalau tikus menari?’”
“Jadi begitulah, aku berencana membangun sekolah tari, dengan maksud kelak mendirikan perusahaan tari. Bisakah kaubayangkan—betapa indahnya sekelompok tikus menari? Suatu hari, Nona kecil, suatu hari…”
Tapi, tepat pada saat itu, mereka mendengar suara dari arah tangga.
“Pergi!” terdengar samar-samar; lalu, “Makhluk
celaka!”
Lalu pintu ganda yang besar itu terbuka dengan bunyi keras, dan Monsieur Dupoint masuk kembali. Clair-de-Lune begitu kaget sehingga ia terlompat berdiri dengan rasa bersalah. Tapi Bonaventure terbiasa menghadapi bahaya. “Besok pagi, Mademoiselle, pagi-pagi sekali, aku akan mengunjungimu,” katanya riang sambil melompat menyeberangi lantai ke tepi ruangan. “Dan aku
akan mengajakmu ke biara…” Clair-de-Lune serasa mendengar tikus itu bicara begitu sementara dengan ekor matanya ia melihat sosoknya yang kelabu menjauh. Monsieur Dupoint mendekatinya dari arah yang berlawanan, membawa dua roti panas dalam saputangan putih, yang dibelinya dari toko roti di bawah. Sekalipun sedang kebingungan, Clair-de-Lune terkejut menyadari bahwa pria itu ternyata tidak hidup dari teh herbal saja.
“Ah, Clair-de-Lune, masih di sini?’ katanya ramah,
tidak melihat tikus maupun ekspresi bersalah muridnya. “Sedang apa kau di sini toute seule—sendirian? Pulanglah kembali ke nenekmu, Nak—nanti ia mencarimu. Dan sampaikan salam hangatku. Katakan, aku akan segera berkunjung!”
Clair-de-Lune membungkuk dan bergegas menyeberangi ruangan dan keluar dari situ. Ketika melewati pintu, rasanya ia melihat, lagi-lagi melalui sudut matanya, sosok kelabu menghilang ke dalam lubang di tepi ruangan.
__ADS_1
“Dan ingat, jangan sampai kaubiarkan kucing celaka itu masuk,” seru Monsieur Dupoint. “Aturannya adalah,” tambahnya—dan ini gurauannya yang biasa—“hanya adegan pas de chat yang diperbolehkan masuk ke sekolah ini.”
Pintu berderit di belakang Clair-de-Lune.
Aku harus membetulkan pintu itu, pikir Monsieur
Dupoint, dan ia meletakkan ketel di atas kompor kecil di ruangan itu, berencana membuat tisane yang enak untuk diminum bersama rotinya. Ia menengok ke luar jendela, menatap atap-atap merah, pipa air, dan burung-burung dara. Persis di seberang bangunan itu tampak bagian belakang gedung teater, tempat Perusahaan Tari mengadakan pementasan setiap malam. Dan Perusahaan Tari itu akan berusia seratus tahum musim semi ini. Sungguh mengagumkan!
Monsieur Dupoint memikirkan Clair-de-Lune dengan penuh rasa sayang, dan mendesah ketika teringat akan kekurangan anak itu.
Ah, pikirnya, tapi anak itu pandai menari. Buat apa ia
bicara?
# # #
balet, nenek Clair-de-Lune sedang menantikan cucunya. Tapi ia tidak sadar akan keterlambatannya. Sementara Clair-de-Lune berlatih balet, seperti biasa ia mengelap debu, menyapu lantai, mencuci piring-mangkuk bekas sarapan, menjemur cucian, dan merapikan tempat tidur. Dan kali ini ia juga sudah menyiapkan makan siang sederhana bagi Clair-de-Lune—roti dan seiris keju. Sekarang ia duduk
dengan punggung tegak dikursinya, membaca buku tentang disiplin, pengorbanan, dan pentingnya fokus dalam mempelajari cabang seni yang ditekuni. Tapi, ia tidak bisa berkonsentrasi penuh. Ia malah memikirkan ibu Clair-de-Lune; karena hari ini adalah hari peringatan kematian La Lune.
La Lune, tak disangsikan lagi, adalah penari besar.
Tapi ia juga gadis liar, rambutnya yang juga liar tak henti-hentinya menyusahkan ibunya. Tak peduli betapa banyak jepit rambut, minyak rambut, dan
__ADS_1
betapa kuatnya rambut itu dipilin atau dikepang, ada saja ikal hitam yang lolos di sekitar wajah dan lehernya ketika ia menari, dan itu mengalihkan perhatian penonton. Begitulah pandangan nenek Clair-de-Lune, selaku orang yang memuja kesempurnaan.
Rambut Clair-de-Lune sebaliknya, pikir neneknya dengan puas. Rambut itu pucat bagai sinar bulan, halus seperti bulu, dan lurus, tapi tidak terlalu lurus—benar-benar mudah ditata.
Tingkah laku La Lune sama nakalnya dengan rambutnya. Tidak puas hanya dengan menari, ia harus pula terus-menerus mengejar pria-pria
yang tidak layak! Yah, paling tidak, salah satu di antara mereka memang tidak layak. Surat-surat cinta yang saling melintas! Air mata dan pertengkaran! Tingkah La Lune yang tidak tahu terima kasih!
Nenek Clair-de-Lune duduk diam di kursinya. Wajahnya yang cantik—keras dan tegang—tak ubahnya wajah patung. Ia tahu anaknya meninggal karena hatinya hancur, dan ia tidak pernah memaafkannya untuk itu.
Ia tidak menganggap kebisuan Clair-de-Lune sebagai kekurangan. Ia menganggapnya suatu keberuntungan, suatu berkah. Buat apa anak
itu bisa bicara? Bukankah ia bisa menari? Dan kemampuan bicara—nenek Clair-de-Lune bergeser di kursinya dengan jengkel—akan membuatnya berteman, dan dari berteman ia akan bertemu dengan para pemuda, dan berlanjut ke kekasih…!
Dan, akhirnya kekecewaan dan kemusnahan!
Karena bagi nenek Clair-de-Lune, seluruh hidup
ini—kecuali Tari—bisa dengan mudah berubah jadi debu. Hidup ini seperti mawar yang hancur di genggaman begitu dipegang atau buah berkilau yang ternyata pahit ketika dicicipi. Tapi Tari—ah, Tari! Itu sesuatu yang tidak mungkin mengecewakan! Ada keindahan di dalamnya yang takkan luntur! Ada kehidupan di dalamnya. Dan bagi nenek Clair-de-Lune, tidak ada kehidupan di luar itu.
Ia menutup bukunya, meletakkannya di meja, lalu
bangkit dan beranjak ke jendela. Hampir seumur hidupnya ia tinggal di kota ini, di antara para imigran seperti dirinya, tapi toh ia merasa dirinya orang asing di negara yang asing. Ia dilahirkan di tahun Revolusi; orangtuanya, kedua-duanya penari, melarikan diri dan memboyongnya sebelum ia bisa tersenyum.
__ADS_1
Tapi satu-satunya negara yang dianggap miliknya adalah Negara Tari.
Bersambung…