CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 34


__ADS_3

“Dan lihat!” katanya lagi sambil menunjukkan bandul


itu. “Lihat apa yang kubawakan untukmu! Ini… hadiah! Ini—penting. Berjanjilah padaku… kau akan memakainya! Berjanjilah… kau akan menyimpannya—apa pun yang terjadi! Dan berjanjilah… akan menunjukkannya… pada Bruder Inchmahome!”


Ia begitu bersungguh-sungguh sehingga Clair-de-Lune terpaksa menurutinya. Maka, dengan hati-hati, sambil terus meratap, Clair-de-Lune meletakkan di pangkuannya. Diambilnya bandul itu dari cakarnya, dan dengan tangan gemetar, dipasangnya di lehernya. Lalu ia mengangkatnya lagi dan memeluknya di dadanya.


“Bagus!” kata Bonaventure dengan sangat puas. Ia


terdiam lagi. Lalu:


“Bau ikan! Kurasa… kucing itu… meninggalkan bau ikan dari mulutnya pada tubuhku… Tapi ikan… mengingatkanku… akan kampung halamanku…


di dekat laut. Kurasa… aku akan kembali ke sana. Selamat tinggal! Selamat tinggal!”


Ketika Clair-de-Lune mendekatkan tikus yang sekarat itu ke bibirnya dan menciumnya, dirasakannya hidungnya yang berkumis itu


gemetar di kulitnya untuk terakhir kalinya, memberinya ciuman tikus. Lalu ia tidak bicara, tidak menari, dan tidak mencium lagi.


Clair-de-Lune tetap meratap tanpa suara di tangga,


sambil memeluk tikus itu. Lama sekali. Ia menyangsikan, apakah benar takkan ada


yang buruk terjadi di bangunan itu. Menurutnya, justru sesuatu yang buruk, sangat buruk, telah terjadi. Ketika akhirnya ia berhenti menangis dan duduk diam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak ingat lagi mengapa ia berada di tangga.


Clair-de-Lune berdiri, dan tubuhnya berguncang hebat. Ia bersandar pada pegangan tangga untuk menguatkan dirinya. Ia harus pergi ke biara. Ia harus memberitahu Bruder Inchmahome. Hanya pria itu yang bisa mengerti. Hanya pria itu yang bisa menghiburnya dari kejadian sedahsyat ini.


Susah payah Clair-de-Lune mulai melangkah turun. Ia melewati satu bordes, lalu bordes lainnya. Tapi mana pintu batu itu? Ragu-ragu, ia menyeret dirinya turun lagi. Namun, lantai berikutnya adalah lantai kelas Monsieur Dupoint. Terburu-buru ia mundur, naik lagi; melewati satu bordes, lalu bordes berikut, sampai ia terperosok di ruang bawah atap. Lagi-lagi, ia mundur.


Mana pintu batu itu? Mana?


Ia ketakutan. Ia harus menemukannya, ia harus…


Terseok-seok ia mulai berlari, turun ke tempat yang dikiranya pintu batu itu berada. Tapi tidak ada! Tidak ada!

__ADS_1


Sekarang kepalanya serasa berputar-putar, ia harus


berbaring. Barangkali, kalau ia berbaring, segalanya akan menjadi lebih jelas. Ia merangkak ke ruang kecil di bawah tangga tempat ia menemukan Bonaventure, ia meringkuk di bawah naungan tangga sambil memeluk tikus itu di dadanya. Gemetar, kedinginan, cemas, dan cukup tersembunyi dari orang yang lalu-lalang. Lalu ia tertidur dalam demam tinggi.


# # #


Ketika Clair-de-Lune bangun beberapa jam kemudian, ia bahkan tidak ingat lagi apa yang terjadi; ia tidak tahu apa yang dipegangnya dalam telapak tangannya.


Yang diketahuinya hanyalah, benda itu sangat berharga.


Aku harus pulang, pikirnya.


Maka, selangkah demi selangkah, ia mulai mendaki kedua belas deret anak tangga itu, bergumam sendiri dalam suara anak burungnya. Setiap tangga seakan dibuat dari batu: ia seperti sedang mendaki gunung. Bukankah itu langit di atasnya; air terjun di sebelah kanannya? Tidak, itu pintu ke ruang bawah atap. Ia mengetuk pintu seakan-akan ia tamu.


Dan Monsieur Dupoint membuka pintu.


“Ah, ini dia si gadis kecil. Untunglah. Tapi ia sakit!


Dan Clair-de-Lune merasa dirinya diangkat dan


diletakkan di ranjang.


“Anak ini panas sekali!” didengarnya Monsieur Dupoint berkata. “Dan ada apa ini di tangannya? Bangkai tikus? Aneh!” dan ia mengambil tikus itu dari tangan lunglai Clair-de-Lune dan membuangnya ke tempat sampah. “Kita harus memanggil dokter,” lanjutnya, “dan ia harus diberi makanan yang


cocok untuk orang sakit—meskipun ia mungkin tidak bisa makan selama beberapa hari… Jadi, untuk sementara ia harus diberi sari gandum: yang terbaik! Dan harus selalu dijaga agar hangat, Madame…”


Tetapi, nenek Clair-de-Lune hanya duduk diam di kursi di sisi ranjang. Wajahnya yang tegas dan cantik kini pucat pasi saking syok. Ia menelan ludah, dan menjilat bibirnya; dan berkata,


“Kami sangat miskin…” katanya, lalu terdiam. “Tapi ada barang-barang yang bisa kujual…”


“Madame!” kata Monsieur Dupoint sambil


menggeleng-geleng dan mengulurkan kedua tangannya dengan telapak tangan di atas, tanpa sadar melakukan posisi yang disebut donner le coeur, menawarkan hati. “Jangan bingung soal ini. Ini tidak seberapa. Aku akan memanggil dokter

__ADS_1


dan segera membawakan sari gandum. Dan aku akan mengirim makanan; sebab tak ada yang tahu kapan ia cukup kuat untuk makan… mudah-mudahan tidak lama lagi!”


“Lalu aku akan pergi ke Perusahaan—dan, Madame, kalau kau tidak keberatan aku mengatakannya, seharusnya sejak lama Madame menemui mereka. Uang yang Madame terima tidak cukup untuk hidup, itu jelas. Aku tahu mereka akan memberi, kalau aku menjelaskan duduk perkaranya. Semua orang


mengingat putri Anda. Dan semua orang menaruh harapan pada Clair-de-Lune!”


Setelah berkata begitu, ia bergegas keluar dari


ruangan.


Ketika ia sudah pergi, nenek Clair-de-Lune membuka


pakaian cucunya, membersihkan tubuhnya dengan spons, dan memakaikan baju tidur. Ia melihat bandul itu; tapi tidak mengenalinya, dan ia tidak membukanya, dibiarkannya saja. Diberinya anak itu—yang gelisah bergerak ke sana kemari dan


mengeluarkan suara-suara aneh dari tenggorokannya—sedikit air untuk diminum;


dan sekali, Clair-de-Lune menatapnya dengan mata kosong.


Lalu ia duduk di sisi ranjang, menerawang, berdoa agar burung berbulu perak dan berjantung merah itu segera kembali.


# # #


Larut, larut malam itu, kalau siapa pun di bangunan itu bangun dan keluar ke tangga, akan tampak pemandangan prosesi yang ganjil: dua puluh empat tikus berjalan pelan-pelan naik tangga menuju ruang bawah atap.


Ketika sudah tiba, satu per satu mereka menyelinap ke bawah pintu kediaman Clair-de-Lune, di mana gadis ini tidur gelisah karena demam dan neneknya duduk menerawang di ruang gelap yang hanya diterangi cahaya sebatang lilin.


Tiga di antara mereka naik ke keranjang sampah dari rotan, dan dengan susah payah berhasil mengeluarkan tubuh kecil yang mereka temukan di dalamnya. Lalu enam tikus mengangkat tubuh Bonaventure di atas bahu mereka dan prosesi itu berjalan kembali melalui pintu dan menuruni tangga.


Sepanjang malam itu, terdengar suara tikus meratap di seluruh bangunan itu. Tapi suara itu begitu


lirihnya hingga hanya bisa didengar oleh tikus.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2