
Ia menatap ke luar jendela. Seperti Monsieur Dupoint, ia juga dapat melihat bagian belakang teater yang mementaskan tari balet setiap malam. Di dalam bangunan itu, pada hari ini, hampir sepanjang usia Clair-de-Lune, putrinya meninggal dunia.
Anak itu tidak apa-apa, pikirnya lagi. Bahkan ia seorang cucu ideal. Pendiam. Patuh. Disiplin. Dan ia memiliki bakat menjadi penari yang sungguh-sungguh andal. Memang seharusnya begitu. Yah, paling tidak, begitulah seharusnya yang terjadi di dunia yang menyedihkan ini.
Tapi, sementara ia berdiri menatap ke luar jendela, menatap tanpa sungguh-sungguh memerhatikan, pikirannya berbalik lagi ke hari naas bertahun-tahun yang lalu itu; saat setelah malam terakhir pementasan, ketika putrinya meninggal.
# # #
Malam itu ruangan gelap, penerangan hanya tampak memancar samar-samar dari perapian dan lilin, dan udara terasa berat oleh aroma yang tidak dikenalinya. Nenek Clair-de-Lune datang membawa bayi melintasi angin dan hujan; bayi itu dibungkusnya rapat-rapat tapi wajah mungilnya terasa dingin dan lembap dan ia menangis perlahan (seakan-akan tahu saja!)
“Bayarannya,” kata wanita itu.
Nenek Clair-de-Lune terkejut.
“Bayarannya,” kata wanita itu lagi. “Kalau kau sudah membayarku, aku akan menjawab semua pertanyaanmu sejujurnya. Tapi sebelum kau membayar, aku tidak boleh mengatakan apa-apa.”
Nenek Clair-de-Lune mengeluarkan dompet yang penuh dengan uang logam dan meletakkannya di meja di antara mereka. Upah wanita ini mahal—lebih dari kesanggupannya membayar. Tapi ia memang memasang harga paling mahal di seluruh negeri!
Lagi pula apa gunanya pergi kepada seseorang yang
tidak kita yakini kemampuannya?
Wanita itu menatap si bayi, dan menyentuh pipinya.
Bayi itu segera berhenti menangis, dan menatap lekat-lekat pada si peramal. Seolah-olah bayi itu bicara tanpa kata-kata.
“Ia berbakat menjadi penari besar,” kata wanita itu.
“Seperti ibunya!” desah nenek Clair-de-Lune.
“Hanya ada satu hal yang bisa menghalanginya…”
“Apa? Apa?”
Dan wanita itu mencondongkan kepala dan berbisik di telinga nenek Clair-de-Lune.
Nenek Clair-de-Lune bersandar di kursinya, terenyak.
__ADS_1
“Persis ibunya,” bisiknya.
“Ah, tapi kau tidak mengerti!” kata wanita itu
bersungguh-sungguh. Ia takut melihat ekspresi wajah nenek Clair-de-Lune. “Ya, hal itu bisa menghalanginya—tapi ia tidak bisa menghindar. Kalau ia mencoba melakukan yang satu tanpa yang lain, ia akan kelaparan!”
Tapi nenek Clair-de-Lune tidak mau—dan tidak
sanggup—mendengarkan.
“Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara
mencegahnya?”
“Mencegahnya? Tapi, kau tidak boleh mencegahnya!”
“Harus—harus—kalau aku sanggup. Sanggupkah aku?”
Wajah wanita itu ketakutan. Tapi, sebagaimana
peraturan dalam dunia ramal-meramal, ia harus memberitahu apa pun yang diminta pelanggannya.
enggan. “Masukkan dalam sangkar. Ini penangkalnya.”
Nenek Clair-de-Lune tahu apa maksudnya. Sebab bila anak tidur, seekor burung kecil terbang dari jantung si anak dan hinggap di dekatnya, kadang-kadang di tiang ranjang, kadang-kadang di birai jendela, kadang-kadang—entah di mana?—sambil bernapas cepat dan bergumam sendiri.
Malam itu, ketika Clair-de-Lune tidur, neneknya masuk ke kamarnya dan membujuk burung itu hinggap di jarinya dengan sepotong manisan
buah. Lalu ia memasukkannya ke dalam sangkar keemasan yang dibelinya khusus untuk keperluan itu. Jantung burung itu, yang tampak di balik bulunya yang keperakan di dadanya, bersinar merah dan emas. Clair-de-Lune bayi tertawa dan bertepuk tangan keesokan paginya, ketika melihat burung cantik di dalam sangkar. Tapi tak lama kemudian, entah bagaimana pintu sangkar itu terbuka dan
burung itu meloloskan diri melalui pintu itu dan ke luar jendela.
Mereka tak pernah melihat burung itu lagi.
Jauh di dalam hatinya nenek Clair-de-Lune tahu, itulah sebabnya Clair-de-Lune tidak bisa bicara; dan ia merasa cemas memikirkan burung itu tidak berada di tempat yang seharusnya—di dalam sangkarnya.
Ketika nenek Clair-de-Lune beranjak dari ruangannya,
__ADS_1
si peramal menangis karena telah terpaksa berterus terang. Tapi kemudian ia mendekatkan bola kristalnya, berbisik dan membela-belainya, dan akhirnya membungkuk menatapnya dengan penuh perhatian. Setetes air mata jatuh ke atas kaca itu, dan ketika si peramal melihat adegan-adegan yang ada di situ, ia tersenyum kecil dengan hati puas.
“Segalanya akan baik-baik saja,” gumamnya.
# # #
Siapa pun yang benar-benar mengenal Clair-de-Lune
pastilah mengetahui, bahwa saat masuk dari pintu, ia menyimpan suatu rahasia. Tapi, neneknya tidak menyadarinya.
Nenek tidak tahu kapan aku merasa bahagia, pikir
Clair-de-Lune. Ia tidak tahu kapan aku sedih. Tapi, kelihatannya ia tahu segalanya.
Clair-de-Lune tidak membuang-buang waktu memikirkan, bagaimana mungkin Bonaventure, seekor tikus, bisa bicara. Ia pun tidak membuang-buang waktu untuk menyangsikan tikus itu bisa menari. Tak ada yang mengherankan di dunia yang ajaib ini. Tapi, apa yang dilakukannya tadi membuatnya cemas—sebab, sekalipun tidak jelas mengapa, ia yakin neneknya tidak akan setuju ia mengobrol dengan seekor tikus. Dan kalau neneknya tidak setuju ia mengobrol dengan tikus, tentunya itu perbuatan yang salah.
“Ah, kau sudah pulang, Nak. Cepat ganti baju. Lalu
makan siang!”
Clair-de-Lune segera mengganti bajunya dengan baju berwarna kelabu-merpati bergaris-garis putih dengan ikat pinggang lebar berwarna merah jambu dan kerah putih, dan duduk diam di meja. Lalu (seperti biasa) ia makan, sesopan mungkin sementara (seperti biasa) neneknya menatapnya seperti kucing menatap tikus.
“Duduk tegak, Nak. Harus berapa kali kukatakan padamu? Punggungmu tidak boleh menempel di sandaran kursi. Dan kakimu ada di mana?”
Clair-de-Lune mengurai kakinya yang bersila dan dengan patuh meletakkannya di lantai.
Tentu saja, ia tidak bicara pada tikus itu. Sepatah kata pun tidak! Clair-de-Lune hampir tersenyum. Hampir. Karena ia tahu, mendengarkan tikus itu saja sudah suatu kejahatan—apalagi kalau pergi bersamanya ke biara!
Biara apa sih yang dimaksudnya?
“Jangan makan berlama-lama begitu, Nak. Nanti tidak sempat mengikuti pelajaranmu. Cobalah jangan menjadi si Lambat Makan!”
Dulu Clair-de-Lune memang si Lambat Makan. Ia tidak dengan sengaja melakukannya—bahkan sadar pun tidak—tapi memang ada alasannya.
Makan dengan lambat membuatnya merasa makan lebih banyak dari sesungguhnya. Ia selalu merasa lapar, tapi kini sudah terbiasa sehingga hampir tidak menyadarinya lagi.
Mereka tidak selamanya miskin. Ketika La Lune masih menjadi penari kenamaan, mereka cukup kaya. Mereka tinggal di rumah kecil yang indah di seberang taman, dan mempekerjakan juru masak bernama Mrs Mobbs dan pembantu bernama Nellie, juga memiliki anjing kecil jenis spaniel King Charles yang dipanggil Chouchou, dan memiliki banyak makanan.
__ADS_1
Bersambung…