
“Menurutmu studio ini cukup bagus dan profesional?” tanya Bonaventure dengan harap-harap cemas.
Lagi-lagi Clair-de-Lune mengangguk dengan penuh
semangat. Bagaimana cara meyakinkannya? Dengan canggung—karena ia sedang menelungkup dengan pipi menempel di lantai—ia mengubah posisi, mencium tangannya, lalu meniupkan ciuman itu ke dalam studio. Luar biasa! Itu yang ingin dikatakannya.
Bonaventure mengerti.
“Aku sangat tersanjung, Mademoiselle,” katanya. “Dan sekarang aku ingin bertanya…” dan ia duduk dengan formal, “pertemuan kami yang pertama akan berlangsung pada hari Minggu. Aku akan… ah, merasa tersanjung sekali bila… kau bisa hadir! Selain itu, maukah kau, Mademoiselle, menjadi pelindung sekolah ini—dan perusahaan tari ini, kelak bila sudah berdiri?”
Clair-de-Lune merasa sangat terharu. Ia tersipu malu
dan duduk; dan Bonaventure bergegas keluar dari lubang tikus itu agar bisa melihat reaksinya.
Clair-de-Lune membuka tangannya seakan-akan mengatakan bahwa tangannya kosong—bahwa ia tidak berhak menerima kehormatan sebesar itu.
Tapi, kemudian ia menggenggam kedua tangannya, meletakkannya di dada dan membungkukkan kepala.
“Oh, terima kasih, Mademoiselle! Terima kasih! Sungguh suatu kehormatan bagi sekolahku yang baru saja berdiri!”
Sudah saatnya Clair-de-Lune pergi—kalau tidak, ia akan terlambat tiba di kelas—dan neneknya akan cemas. Tapi, baru saja ia bangkit untuk berangkat, ia melihat sesuatu. Ia menjulurkan kepala mendekati dinding, persis di atas ujung barre.
Di situ ada gambar kecil, sesosok kurus yang dilukis
menggunakan kapur, menggambarkan seorang gadis buruk rupa yang menari dengan hidung terangkat. Di bawahnya, tertulis dengan kapur: Clair-de-Lune sombong.
Jadi, inilah yang mereka lakukan. Inilah yang mereka
tertawakan. Inilah yang mereka tunjukkan agar dilihatnya.
Kucing Mrs Costello sedang duduk di anak tangga paling bawah, menunggu, seperti bayangan gelap di atas kayu, ketika Clair-de-Lune tiba di bordes. Tapi ketika pintu berderik di belakangnya—karena saking bingungnya Clair-de-Lune lupa menutupnya dengan hati-hati—kucing itu ketakutan dan berlari menjauh.
# # #
Nenek Clair-de-Lune agak senang melihat cucunya tidak menyantap sarapannya. Artinya, satu kecemasan berkurang—ia bisa menyimpan
makanan itu untuk makan siang nanti. Dan sesungguhnya si nenek berharap suatu hari nanti Clair-de-Lune akan seperti Eleanor Wood yang bisa tetap tampil sempurna tanpa harus makan sama sekali. Sebenarnya ia agak malu karena kemiskinannya menciptakan masalah. Untuk penari yang sesungguhnya, pikirnya, seharusnya tidak begitu; penari sejati tetap perlu makan.
__ADS_1
Ketika Clair-de-Lune telah mengenakan gaun latihannya dan mencium neneknya, ia meninggalkan kediamannya dan berangkat ke kelas paginya. Tapi semakin dekat ke kelas, semakin perlahan ia berjalan di anak tangga.
Akhirnya ia berhenti berjalan sama sekali, dan duduk
di salah satu anak tangga. Minette si kucing sedang tidur di bawah sinar matahari pagi yang memancar dari jendela yang berdebu, tapi Clair-de-Lune
begitu cemas hingga tidak ingin membelainya.
Pastilah sulit hadir di kelas hari ini.
Tentunya ia sudah tahu, tak ada seorang murid pun
menyukainya. Dan sekarang ia tahu apa sebabnya: karena ia tidak bisa bicara dan mereka mengira ia sengaja tidak mau bicara; karena ibunya adalah La Lune dan dia, Clair-de-Lune, adalah murid kesayangan Monsieur Dupoint. Juga karena
rambut pirangnya, tubuh rampingnya, dan wajah pucatnya membuat penampilannya langka dan anggun, keheningan dan tatapannya yang menerawang membuatnya seakan-akan sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin dibaginya dengan orang lain. Tak heran kalau ia dibenci. Ia tahu.
Tapi entah bagaimana—gambar itu, dan tulisan di
bawahnya—semua ini telah mengubah pemahamannya terhadap mereka. Sebelumnya, ia
berharap berbicara dapat menjawab semua persoalan. Bukankah jika bisa bicara, ia bisa menjelaskan tentang dirinya, menunjukkan jati dirinya, dan setelah itu mereka tidak akan membencinya lagi. Tadinya ia mengira, kebisuan adalah penghalang. Sekarang, setelah melihat gambar itu, ia merasakan betapa besarnya
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa kebisuan
menjadi semacam pelindung.
Memang sulit untuk dibenci karena siapa dirinya,
penampilannya, dan hal-hal lain yang di luar kekuasaannya. Sulit untuk dibenci karena kesalahpahaman. Tapi bila dibenci karena dirinya yang sesungguhnya-- Clair-de-Lune yang tidak bisa mengungkapkan perasaan hatinya, kalaupun hati memiliki suara—ah, sungguh tak tertahankan.
Ia berubah pikiran. Ia tidak boleh belajar bicara. Ia
akan memberitahu Bruder Inchmahome tentang hal ini besok.
Pikirnya, Bruder Inchmahome pasti akan kecewa, dan hal ini juga akan melukai Clair-de-Lune, tapi ia mengabaikan pikiran ini. Sekarang ia tidak akan memusingkannya. Ia hanya masuk kelas.
Tapi apa yang dilakukannya dengan tariannya?
__ADS_1
Clair-de-Lune menutupi wajah dengan tangannya. Ia
berpikir, berpikir.
Tentu saja, menari adalah masalah tersendiri baginya: atau sebagian besar masalahnya. Teman-temannya tidak menyukainya karena ia
menari terlalu indah. Dan itulah sebabnya ia menjadi murid kesayangan Monsieur Dupoint. Ia tidak bisa mengubah ibunya. Ia tidak bisa mengubah penampilannya. Tapi pikirnya, ia bisa menari dengan buruk.
Tapi bila menari dengan buruk, ia akan bermasalah
dengan Monsieur Dupoint. Pelatih itu akan berkomentar dan semua murid lain akan tertawa dengan senangnya.
Dan bila menari dengan buruk, ia akan mengkhianati ibunya, neneknya, dan Seni yang Suci itu.
Jadi bagaimana? Apa yang harus dilakukannya?
Kalau tidak bergegas sekarang, ia akan terlambat.
Clair-de-Lune memaksa dirinya berdiri dan berjalan
menuruni tangga. Setiap langkah membutuhkan kekuatan baru, ia merasa seakan-akan berjalan melalui sirop yang lengket. Ia tiba di deretan anak tangga terakhir, ia mencapai bordes di luar kelas.
Kelompok gadis-gadis yang biasa mengobrol sedang berkumpul di sekitar pintu. Ia melewatinya dengan wajah pucat dan tenang, sekalipun perutnya sakit karena ketakutan dan penderitaan.
“Sombong,” bisik Milly, dan lainnya terbahak.
Untunglah, saat itu Monsieur Dupoint berseru agar
anak-anak masuk dengan tertib, dan mereka pun masing-masing menempati tempatnya.
Tapi, Clair-de-Lune belum bisa memutuskan bagaimana ia akan menari. Ia mencoba menari dengan tidak begitu baik, tapi juga tidak begitu
buruk. Tapi, ternyata tidak semudah yang diduganya. Menari adalah naluri baginya. Dan bertindak bertentangan dengan naluri ternyata sulit.
Monsieur Dupoint mengamati, ada sesuatu yang aneh dengan cara Clair-de-Lune menari pagi itu. Tapi kali ini, dengan bijak, ia tidak mengatakan apa-apa.
# # #
__ADS_1
Aku sudah memutuskan, kata Clair-de-Lune dengan sangat sedih pada Bruder Inchmahome, bahwa ternyata yang paling baik bagiku adalah tidak belajar bicara. Maafkan aku, Bruder Inchmahome, karena telah membuatmu susah. Tapi memang begitulah kenyataannya.
Bersambung...