
Tinggi di dinding, di sayap sebelah sana panggung, ada jendela. Dan melalui jendela ini—yang juga berkisi-kisi—bulan bersinar sedemikian rupa sehingga panggung menjadi terang, seakan disorot oleh lampu sorot yang bersinar ringan.
Clair-de-Lune menatapnya.
Lalu, pelan-pelan, ia melangkah ke panggung.
Ruang penonton merupakan gua besar yang gelap; seluas dan sekelam langit malam; panggung adalah ruang terang, ruang yang disinari bulan, dan bertambah luas karenanya. Sekejap, Clair-de-Lune berdiri tegak penuh kekaguman, sambil memeluk tutu ibunya lekat-lekat ke dadanya.
Lalu, dengan suatu tujuan baru, ia kembali ke sayap,
meletakkan tutu di lantai, menggeletakkan sepatu di sisinya, dan membuka baju tidurnya. Pelan-pelan ia membuka lipatan gaun ibunya dan memakainya. Tadinya ia mengira tidak dapat melakukannya sendiri; tapi malam itu segalanya terasa mudah.
Ketika ia telah memakai sepatunya, menyilang-nyilangkan pitanya di mata kaki, di atas stoking yang telah dipakainya di bawah baju tidurnya, ia menggunakan barre di belakang panggung untuk melakukan pemanasan.
Lalu, sebagai penari, ia melangkah ke panggung. Ia
melipat lengan di dada, lalu berdiri dalam posisi en pointe. Lalu musik mulai mengalun dalam pikirannya.
Dan, kini, sendirian, mengenakan gaun tutu ibunya, di
atas panggung tempat ibunya tewas, ia menarikan tarian ibunya—bukan seperti sebelumnya ketika ia merasa takut, tapi karena ia tahu ia harus menarikannya.
Ia menjadi angsa…
Dan ia sekarat…
Tapi sekalipun hampir meninggal, ia ingin hidup. Jadi, ia memeranginya—tubuhnya yang lemah, bebannya, kelambanan yang membuatnya sulit
mengangkat sayapnya… Tapi sekalipun setiap gerakan terasa sulit, ia tidak akan menyerah. Sekalipun musik menyuruhnya menyerah, menyanyikan lagu nina bobo, menyuruhnya beristirahat, beristirahat, tak takut lagi, beristirahat…
Tapi angsa, konon, bisa menyanyi—dan hanya sekali
dalam hidupnya menyanyi, ketika akan meninggal.
Jadi, Clair-de-Lune mendengarkan, mendengarkan dengan sepenuh hatinya. Sebab ini adalah tarian ibunya, dan ibunya tengah berbicara padanya melalui tarian ini. Dan sementara ia mendengarkan dengan lebih tegar, lapis demi lapis yang meredam suaranya yang melumer. Dan ketika semuanya telah
lumer, suara itu sama sekali tidak menakutkan.
Dan sementara tarian itu mendekati akhirnya; ketika
angsa itu merunduk ke bawah, akhirnya kalah, dan musik mengucapkan selamat tinggal padanya; ketika Clair-de-Lune merosot ke lantai, meluruskan kakinya dan mengulurkan tangannya yang gemetar ke depan, dan akhirnya menumpukan kepalanya
di rok tulle, ia tahu apa yang diucapkan ibunya.
__ADS_1
Akhirnya musik di kepalanya berhenti mengalun. Dalam sekejap, Clair-de-Lune terpuruk di lantai, dibanjiri sinar bulan.
Lalu ia mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke
bulan, penuh kekaguman.
Tapi bagaimana mungkin? Bisiknya dalam suara anak burung; ke arah kegelapan. Kau bahkan tidak mengenal pria itu!
Seperti orang yang sedang bermimpi, ia bangkit,
beringsut ke balik panggung, melepas tutu dan melipatnya terbalik.
Lalu ia memakai baju tidurnya lagi, membungkus dirinya dengan selimut, mengangkut semua bawaannya dan pergi.
Ia telah mendengarkan dengan segenap hatinya; dan ia pun telah mendengar sesuatu—begitu jelasnya hingga tidak mungkin keliru.
Tapi ia tidak mengerti. Ia tidak mengerti.
Ia begitu terlarut dengan pikirannya hingga bahkan
tidak menengok kembali ke panggung. Kalau ia melihat sekali saja, pasti akan tampak olehnya sesuatu yang tergeletak di lantai.
Sebuah benda perak kecil dan bersinar, tadi jatuh dari tutu ibu Clair-de-Lune ketika ia menari. Ibu Clair-de-Lune dulu menjahitnya sendiri ke dalam lapisan tutu itu. Tapi dua belas tahun telah berlalu, sutra itu telah lusuh, dan La Lune juga tidak begitu terampil menjahit.
berkilau itu. Tapi ada yang melihatnya. Sebab Clair-de-Lune sebenarnya tidak sendirian di teater itu. Bonaventure ada bersamanya, dan dari sayap di sebelah sana, ia menyaksikan segalanya.
Sebab di panggung inilah Bonaventure berniat
mementaskan tari perdananya: di antara semua pilihan tempat, ia justru memilih panggung teater milik Perusahaan Tari sendiri! Tentu saja, beberapa adaptasi perlu diterapkan. Panggung itu begitu besar—terlalu besar untuk rombongan tari
tikus. Tapi, Bonaventure mengharapkan hadirnya begitu banyak penonton—karena jumlah tikus yang tinggal di daerah itu cukup banyak.
Jadi, ia berencana akan membuat panggung ukuran tikus di panggung itu, dari beberapa kotak sepatu—mudah dipasang dan mudah pula dibawa pulang dalam semalam. Penonton akan berkumpul di sekitarnya. Panggung itu akan diterangi lilin-lilin kecil, dan di sekelilingnya akan ditebarkan kelopak-kelopak mawar. Dan pementasan akan berlangsung pada malam perayaan seratus tahun itu: dimulai tepat ketika manusia terakhir meninggalkan teater.
Bonaventure berharap Clair-de-Lune dapat menemukan cara untuk hadir menonton.
Tapi ketika melihat Clair-de-Lune malam ini, ia merasa takjub.
Apa yang membawanya ke sini, sendirian, di tengah
malam? Ia sendiri berada di sini karena ada urusan; ia bolak-balik untuk melihat panggung, sementara latihan-latihan baletnya berjalan terus. Ia perlu
mengingat-ingat besarnya panggung; dan menyerap suasananya.
__ADS_1
Tapi Clair-de-Lune?
Ketika melihatnya menari, rasanya ia mengerti. Karena ia menari dengan cara yang berbeda! Bonaventure sama sekali tidak memahami tarian yang ditarikan di dalam kelas Monsieur Dupoint. Dikirannya itu tarianntentang burung mekanis, dan ia tidak mengerti mengapa tarian itu begitu terkenal.
Tapi, ketika ia melihat Clair-de-Lune menarikannya
sendirian…
Alangkah halusnya! Alangkah mengharukannya!
Bonaventure terharu, dan menghapus air mata dari bulunya.
Tentu saja! Interpretasi gadis itu terlalu halus,
terlalu pribadi untuk diungkapkan dalam latihan biasa! Tapi diam-diam, dalam hatinya, dan di sini sendirian, ia menyempurnakannya; dan pada malam
pementasan, tarian itu akan berkembang!
Ketika gadis itu selesai menari, hampir saja
Bonaventure tak dapat menahan diri untuk tidak bertepuk tangan. Lalu ia sadar, Clair-de-Lune pasti akan merasa terganggu dengan kehadirannya. Jadi, ia diam saja.
Tapi ketika Clair-de-Lune bangkit dan berjalan
menjauhi panggung, Bonaventure melihat benda yang jatuh dari kostumnya.
Ia menunggu sampai gadis itu hilang di tangga. Lalu ia cepat-cepat menghampiri benda itu dan memeriksanya. Lalu… sambil duduk mengamatinya, mata kelamnya jadi bingung.
Benda itu bandul kecil berbentuk hati; dan ketika terjatuh, bandul itu terbuka. Sekarang Bonaventure melihat foto; foto yang bagi manusia tergolong kecil, tapi bagi tikus, sebesar potret.
Ada sesuatu…
…yang dikenalnya…
Bahkan…
Bonaventure membungkuk, menatap tajam ke dalam benda perak itu.
Sesaat, keheranannya membuat ia ragu-ragu.
Lalu, dengan tegas, ia menjulurkan tangan dan menutup bandul itu dengan hati-hati, sampai
menimbulkan bunyi klik, agar isinya aman.
__ADS_1
Bersambung...