
Perlahan kedua mata itupun terbuka, mengerjapkan secara perlahan mata itu, mengumpulkan nyawa yang tadi entah pergi jalan jalan kemana.
"Awssss"ringis Ainsley memegangi kepalanya dengan sebelah tangan,dia merasakan sebuah perban berada di kepalanya.
"Nok sudah bangun"ucap salah satu meid yang di tugaskan oleh Reynold untuk menjaga Ainsley di sana.
Ainsley pun mengangguk,dengan segera meid itu membantu Ainsley untuk bangun dari tidur nya dan bersandar di sandaran kasur, kemudian memberikan segelas minuman.
"Saya masih hidup"ucap Ainsley melantur,sangat aneh emang,sudah tau dia masih berada di dunia ini masih saja bertanya,mana mungkin di alam sana ada meid yang membantu nya.
"Masih nona"ucap meid itu,dia tak heran Ainsley berbicara seperti itu,karena memang pasti jika dia berada di posisi Ainsley akan berpikir jika dirinya telah meninggal.
Ainsley melihat ke arah tangan kirinya yang saat ini terlapisi oleh perban yang cukup tebal,dia pun merasakan sakit yang sangat luar biasa di area leher nya.
Dia baru mengingat tentang kejadian tadi saat Reynold mencekik lehernya,tak hanya itu dia juga masih sangat mengingat perkataan Reynold sebelum tadi dia tak sadarkan diri.
"Non makan dulu"ucap salah satu meid yang baru saja masuk ke dalam kamar itu dengan membawa nampan berisi bubur serta air putih.
Tak hanya itu di belakang nya juga ada satu meid lagi yang membawa nampan berisi buah buahan serta obat untuk Ainsley konsumsi.
"Saya tidak mood untuk makan"ucap Ainsley, rasanya melihat saja sudah membuat dirinya kenyang.
"Tapi nona harus makan lalu minum obat,ini perintah dari tuan Rey,jika nona tidak makan kami yang akan terkena amukan tuan Rey"ucap meid itu sembari menunduk.
Ainsley pun menghela nafasnya"apakah Kak Rey memang seperti itu? Apakah dia suka sekali menyiksa orang"tanya Ainsley,dia merasa saat ini dirinya terancam karena berada di dalam lingkungan yang salah.
"E-em maaf nona kami tidak bisa memberitahukan itu."
"Tak perlu takut aku tak akan melaporkan kalian pada kak Rey,aku hanya ingin tau lebih dekat tentang siapa kak Rey itu"ucap Ainsley.
Para meid itupun saling menatap satu sama lain"iya,nona selama kami bekerja di sini jika tuan Reynold marah sangat lah mengerikan, bahkan ada satu art yang dulu bekerja disini,dia tak sengaja menumpahkan minuman ke baju tuan dan tuan sangat marah besar hingga menyiksa art itu hingga dia koma sampai sekarang, bahkan jika tidak ada teman yang menenangkan tuan Rey mungkin orang itu sudah meninggal"ucap meid itu menceritakan salah satu kejadian yang menimpa rekan kerja mereka.
__ADS_1
"Iya nona kita juga waktu itu tak sengaja mendengar tuan Rey katanya membunuh orang yang telah berkhianat di perusahaan tuan Reynold, dengan menyiksa nya setelah itu memberikan jasad itu kepada hewan peliharaan tuan Rey"ucap meid yang lain, membuat buku kuduk Ainsley berdiri.
Ainsley sampai berpikir mengapa ada orang yang sebejad dan sejahat Reynold di dunia ini,dia kira orang seperti itu hanya ada di dalam dunia fiksi novel yang dia baca,nyatanya sekarang orang itu ada di dalam kehidupannya.
"Kami juga tak jarang mendapati tuan Rey pulang dengan banyak darah di baju nya,atau tuan Rey luka luka,kami sudah biasa dengan itu nona,dan tak hanya itu saja tuan Rey selalu pulang dalam keadaan mabuk dan juga tak jarang tuan Reynold membawa sebuah jal*ng ke rumah ini,atau tidak di bawa ke apartemen nya"lagi dan lagi Ainsley mendapatkan informasi yang menurut nya sangat lah di luar isi kepalanya.
Mendengar hal itu semakin membuat kepala Ainsley berdenyut nyeri, memikirkan nya"entah dosa apa yang telah ku perbuat hingga bisa mendapatkan suami seperti kak Rey"ucap Ainsley,tanpa dia sadari air matanya luruh.
Sumpah dalam seumur hidupnya dia baru mengenal sosok seperti Reynold,dia seolah baik di luar namun nyatanya sangat lah buruk,jika dia tau gak ini sebelum mereka menikah mungkin Ainsley akan lebih memilih untuk pergi dari Jakarta dan kembali ke kehidupan awalnya lagi.
Tanpa harus memikirkan bagaimana wasiat dari sang ibu,"non apakah nona tidak papa?"tanya meid itu panik saat melihat Ainsley memegang kepalanya serta menangis.
Ainsley pun membuka matanya kemudian tersenyum"tidak papa"ucap Ainsley lirih.
"Terimakasih sudah memberitahukan hal itu kepada saya"ucap Ainsley di angguki oekh para meid itu.
"Sekarang mari non makan terlebih dahulu"ucap meid itu, Ainsley pun mengangguk lalu menerima suapan bubur sari meid itu.
Di dalam kamar Ainsley kembali menumpahkan air matanya,belum sembuh luka fisik nya kini harus ada luka batin yang dia peroleh.
"Ibu qila udah gak tahan"ucap Ainsley menangis.
Di lain tempat entah kenapa perasaan dara menjadi tak enak,dia menjadi tak fokus mengerjakan tugas nya, pikiran nya terus saja tertuju pada Ainsley.
Tak hanya itu saja tadi keluarga Ainsley yang berada di Bandung pun menanyakan tentang kondisi Ainsley, karena handphone Ainsley tidak aktif jadi mereka menanyakan nya kepada dara.
"Lo kenapa dar?"tanya Fani.
"Enggak,entah kenapa perasaan gue gak enak yah, gue kepikiran terus Ainsley"ucap dara.
"Iya tuh anak kenapa belum kesini yah bukan nya tadi mau kesini"ucap Evelin.
__ADS_1
"Coba lo telpon"ucap Fani memberikan saran.
"Udah malahan gue udah nelpon dia beberapa kali tapi gak di angkat juga"ucap dara.
"Udah mungkin itu cuman perasaan lo doang, positif thinking dulu aja mungkin ponsel Ainsley lagi lowbat makanya gak aktif"ucap Evelin menenangkan teman nya itu.
"Gays gays aaaaaa kalian harus tau ini"ucap Tasya berjalan dengan terburu buru dari arah tangga.
"Kenapa dah Lo sya"ucap Fani.
"Gue punya kabar bahagia"ucap Tasya,"kabar bahagia apa?"tanya Evelin.
"Ayo tebak kalau ada yang bisa gue kasih sepuluh juta"tawar Tasya yang menggiurkan itu.
"Di tembak kak Leo"tebak Fani,ya siapa tau saja teman nya ini di tembak oleh crush nya hingga membuat nya tampak sangat bahagia seperti itu.
"Enggak,beda jurusan kalau itu mah"ucap Tasya"terus apa dong"ucap dara.
"Ayo lah tebak, sepuluh juta nih"ucap Tasya menaik turunkan alis nya.
"Gak tergiur gue"ucap dara,"ah Lo mah gak seru"ucap Fani memberengut.
"Jangan buat penasaran cepat apa"ucap Evelin,"misi kita akan segera berakhir, rencana kita yang waktu itu berhasil sekarang udah ada beberapa perusahaan yang mundur jadi clien perusahaan pak Demian,gak hanya itu ada beberapa perusahaan besar juga yang udah gak ngedukung perusahaan Demian"ucap Tasya dengan wajah sumringah nya.
"Alhamdulillah"ucap Fani dan juga dara, sedangkan evelin hanya diam karena memang dia bukan beragama Islam.
Tapi dia pun ikut bahagia karena misi mereka ada kemajuan yang lumayan pesat"puji Tuhan"ucap Evelin.
*visual bisa liat di Ig@alwiah_putri
jangan lupa untuk like komen dan follow
__ADS_1
jika ada kritik dan saran bisa tulis di komentar*