
Sinar matahari menyorot dari timur,masuk ke dalam sela sela jendela kamar nya, membuat seorang gadis yang tadinya sedang meringkuk di bawah selimut terbangun.
Ainsley kemudian membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
Dia pun melenguh, melihat ke sekeliling arah
Yang sangat berantakan sudah seperti kapal pecah saja, dia pun melihat ke arah jam dinding yang tertempel di tembok.
"Hah udah jam delapan,mampus gue telat,kenapa bisa gue bangun kesiangan gini sih"ucap Ainsley, Feng segera dia membawa jepitan rambut yang terletak di atas nakas.
Namun saat dia akan membuka selimut dia melihat dirinya bertelanjang tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh nya,dia juga merasakan seluruh badan nya pegal terasa sangat linu seperti ingin remuk.
"Hah kenapa gue gak pake baju"ucap Ainsley kaget langsung menggulung selimut itu,dia juga mengeratkan genggaman selimut nya itu.
Pikiran nya pun melayang ke beberapa waktu lalu,dimana dia sudah menyerahkan mahkota yang sudah dia jaga kepada laki laki yang saat ini sudah menjadi suaminya.
"Gila udah kayak ****** aja gue,udah di pake langsung ilang tuh laki"ucap Ainsley dengan suara serak menahan tangisan nya.
Hingga tanpa di tunggu instruksi dari sang empu,air matanya pun mengalir melewati pipi putihnya, entah lah apa yang Ainsley tangisi.
Tapi yang seka dia rasakan adalah kecewa,marah,sedih,semua bercampur menjadi satu,dia kecewa dengan dirinya sendiri yang tak bisa menjaga mahkota nya, walaupun itu kepada suaminya sendiri,laki laki yang dia anggap kotor,dan brengsek.
Namun apa boleh buat semuanya sudah terlambat dia sudah tak perawan lagi, tangisan Ainsley pun semakin menjadi jadi"cowok gila,brengsek,ibuuu"teriak Ainsley sembari menangis.
"Kenapa sih lo bisa Nerima sentuhan dari dia kenapa hah,dasar Ainsley gila, Ainsley tolol"ucap Ainsley merutuki dirinya sendiri yang mudah terlena oleh Reynold.
Bagaimana bisa Ainsley memberikan mahkota nya pada orang yang sudah menyiksa dirinya sendiri hingga menyisakan rasa sakit dan trauma mendalam pada dirinya.
"Aduh kenapa yah sama nona muda kok dia kedengarannya lagi nangis"ucap salah satu art yang lewat kamar itu, memang kamar itu di pasang pengedap suara,namun apabila suara nya sangat tinggi ya tetap saja akan terdengar walaupun tidak jelas ke luar ruangan itu.
__ADS_1
Meid itu pun menempelkan telinganya di pintu kamar itu, hingga tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundak nya, membuat dia terlonjak kaget.
"Lagi ngapain kamu?"tanya nya.
"Ih kamu ngagetin aja"
"Kamu lagi nguping yah,hati ngaku."
"Eh enggak,mana ada aku tuh lagi mastiin tadi aku denger suara tangisan nona muda"
"Hah masa sih kok aku gak denger."
"Coba sini kuping kamu tempelin di pintu"meid itu pun menuruti nya.
"Bener kan"ucap meid itu di balas anggukan oleh teman nya itu.
"Aduh kira kira nona muda kenapa lagi yah,apa dia habis di sakiti sama tuan, kasihan sekali nona muda."
Cukup lama Ainsley menangis hingga pada akhirnya dia pun berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah tertatih, kerena merasakan sakit yang teramat sangat di bagian intimnya.
Sedang di lain tempat Reynold sudah sampai di alamat tujuan nya,dia pun turun dari mobil dengan menggunakan kaca mata hitam nya.
Dia melihat rumah yang ada di hadapannya itu, kemudian mengeluarkan ponsel nya dan menyamakan gambar yang ada di ponsel dengan rumah yang berada di hadapannya.
"Sama"ucap Reynold lalu kembali memasukan ponsel nya, kemudian langsung berjalan ke arah rumah itu.
Rumah yang jauh dari kata mewah, yang dimana mungkin luasnya hanya seluas kamar Reynold saja,dengan cat berwarna biru langit serta beberapa tanaman hias yang terpajang indah di halaman rumah sepetak itu.
Melihat dari koleksi tanaman nya saja sudah membuat Reynold yakin jika ini adalah rumah yang di tempati oleh sang pujaan hatinya.
__ADS_1
Reynold kemudian mengetuk pintu itu,"permisi"ucap Reynold sembari melihat ke sekeliling nya.
"Iya sebentar"terdengar suara seorang wanita di dalam,tak lama pintu pun terbuka menampakkan seorang wanita yang mungkin umurnya sudah menginjak kepala tiga dengan daster khas emak emak menempel di badan nya.
"Eh Aden,nyari siapa den?"tanya wanita itu menatap Reynold dengan intens dari bawah hingga ke atas dia juga melihat mobil mewah terparkir di halaman depan rumah nya.
"Apa benar ini tempat tinggal Jessica?"tanya Reynold ramah,"ouh iya benar ada keperluan aoa yah dengan keponakan saya?"tanya wanita itu.
"Ouh tidak ada keperluan apa apa hanya saja saya ingin bertemu dengan Jessica,saya teman SMA nya"ucap Reynold.
"Ouh temen nya Ica,ya udah sini masuk bibi panggilin dulu Ica nya"ucap wanita itu mempersilahkan Reynold untuk masuk ke dakam rumah nya.
"Silahkan duduk den"Reynold pun langsung duduk di kursi yang ada di sana,tak empuk namun ya seperti itulah kursi orang sederhana.
Jika di rumah nya mungkin kursi itu sudah ia masukan ke dalam gudang,karena sudah tidak layak di pakai.
Dia melihat ke arah sekeliling, hingga matanya melihat sebuah figura yang ada sebuah foto seorang gadis yang tengah tersenyum.
Reynold kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pigura yang tertempel di tembok itu,masih Reynold ingat sekali itu adalah foto yang dirinya ambil di saat ia dan jessi sedang mengerjakan tugas di sebuah taman yang tak jauh dari sekolah nya.
Saat itu Reynold mengambil gambar Jessi yang sedang tertawa karena lelucon yang dia buat, kemudian mencetak foto itu dan memberikan nya kepada Jessi saat dia ulang tahun bersamaan dengan kalung..
Namun sekarang entah kalungnya masih ada atau tidak ada Reynold pun tak tau,terlalu lama memandangi figura itu hingga tak sadar dua orang wanita sudah berada di dekat nya.
"Den ini ica nya"ucap wanita tadi sembari menuntun Jessica.
Reynold pun membalikan badannya, matanya tampak berkaca kaca melihat sosok sang pujaan hati yang sudah lama hampir tujuh taun tidak bertemu.
Tak ada yang berubah dari Jessi masih tetap sama seperti dulu 'cantik' itu lah yang saat ini berada di pikiran Reynold"siapa yah?"tanya Jessi meraba raba ke arah depan.
__ADS_1
"Jessi"ucap Reynold dengan suara serak menahan tangis yang ingin keluar saat itu juga.
"D-davin"