Cold CEO My Husband

Cold CEO My Husband
bab 57.


__ADS_3

"D-davin"ucap Jessi,tanpa Reynold memperkenalkan dirinya pun dia sudah tau jika pemilik suara itu adalah Reynold.


Mata jessi pun tampak berkaca kaca,dia meraba raba ke arah depan, Reynold yang mengerti dengan keadaan nya pun langsung menghampiri Jessi kemudian menggenggam tangan wanita itu.


Bibi Jessi pun mengerti dengan keadaan sang keponakan pun, memilih untuk pergi dari sana, memberikan ruang untuk mereka berdua saling melepaskan rindu.


"Ini beneran kamu kan Davin"ucap Jessi, Reynold pun mengangguk walaupun sebenarnya dia tau jika wanita di hadapan nya itu tak akan melihat jika dia mengangguk.


"Davin kok kamu gak jawab pertanyaan aku"ucap Jessi yang tak mendengar jawaban dari seorang pria di masa lalu nya itu.


Pria yang selalu membuat nya tertawa setiap saat,pria yang selalu menjaga nya,pria yang sangat dia sayangi setelah ayah nya.


Reynold pun menghela nafas nya sebelum bersuara,dia tak mau suara nya terdengar sedang menahan tangis, walaupun sebenarnya tangisan itu sudah ingin meluncur dari tadi.


"Iya Jess ini aku Davin"ucap Reynold,Jessi pun tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya.


Reynold pun mengerti jika Jessi ingin berpelukan dengan nya, Reynold langsung memeluk tubuh wanita di hadapannya itu.


"Aku kangen kamu Vin"ucap Jessi,dia tak bisa lagi menahan tangis nya,dia menangis di pelukan Reynold.


Tak jauh berbeda dengan Jessi Reynold pun sama dia juga menangis,jika teman nya melihat ia mengeluarkan air mata sudah pasti mereka akan mengejek nya.


Seumur hidup dia tak pernah memperlihatkan air matanya kepada siapa pun,dan sekarang dia menumpahkan air matanya di hadapan seorang perempuan,ya walaupun gadis itu tak melihatnya.


Ya,wanita itu adalah pengidap tunanetra,dia tidak bisa melihat sejak empat tahun yang lalu, akibat salah satu permasalahan,yang memang ada sangkut pautnya dengan Reynold.


Maka dari itu Reynold ingin balas dendam pada orang yang sudah membuat wanita nya itu tidak bisa melihat lagi, bahkan dulu wanita itu sempat ingin bunuh diri karena trauma.


"Hah apa kamu menangis Vin"ucap Jessi saat merasakan pundak nya sedikit basah karena tangisan Reynold.

__ADS_1


Reynold pun melepaskan pelukannya"hah tidak aku tidak menangis,kamu tuh yang menangis lihat hidung kamu sampai merah seperti itu"ucap Reynold menyangkal,sembari segera menghapus air matanya.


"Davin, jangan terus menyangkal walaupun aku sudah tak bisa melihatnya,tapi aku sanga yakin kalau kamu saat ini sedang menangis"ucap Jessi sembari tersenyum, Reynold tak menjawab nya,dia menghapus air mata Jessi dengan tangan nya.


"Ayo kita duduk Vin,cape berdiri terus mau jadi patung kita berdiri terus"ucap Jessi, Reynold pun langsung menuntun Jessi untuk duduk di kursi rumah itu.


"Sebentar aku mau ambil sesuatu dulu di dalam mobil"ucap Reynold langsung pergi ke luar untuk mengambil beberapa barang yang tadi dia beli untuk Jessi.


Tak lama Reynold pun kembali masuk dengan tangan kanan nya membawa satu buket bunga mawar yang sangat besar,serta tangan kiri nya membawa beberapa paper bag.


Sedikit susah juga karena kedua tangan nya penuh dengan barang barang,serta penglihatan nya lumayan terhalangi karena buket bunga yang besar itu.


"Ini buat kamu"ucap Reynold memberikan buket itu pada Jessi,serta menyimpan papar bag di atas meja.


"Wah bunga,kamu ternyata masih mengingat kesukaan ku,kenapa bunga nya sangat besar sekali"ucap Jessi meraba raba bunga itu.


"Gak papa biar kamu puas kalau bunga nya besar"ucap Reynold kemudian duduk di sebelah Jessi.


"Iya bi gak papa."


"Ini apa den?"tanya wanita itu menatap ke arah papar bag yang sangat banyak berada di atas meja.


"Itu buat bibi sama Jessi di sana juga ada beberapa makanan, silahkan di bawa BI"ucap Reynold.


"Beneran den?"tanya nya.


"Iya bi beneran silahkan di bawa."


Wanita itu pun membawa paper bag itu,"makasih yah den"ucap wanita itu di balas anggukan oleh Reynold.

__ADS_1


"Kok repot repot sih Vin, padahal gak perlu tau"ucap Jessi.


"Gak papa udah lama kita gak ketemu jadi aku bawa banyak makanan kesukaan kamu,sama yang lain juga ada"ucap Reynold,Jessi pun tersenyum lalu mengangguk.


"Makasih yah Vin"ucap Jessi,sudah biasa dia selalu di beri makanan serta beberapa barang seperti itu dari Reynold, terkadang dia juga menolak nya karena Reynold terlalu sering memberi kan nya barang barang.


Namun percuma saja Reynold sangat lah keras kepala, walaupun Jessi melarangnya, Reynold masih tetap membelikan barang barang untuk Jessi.


Mereka pun menghabiskan waktu nya,setiap obrolan nya selalu terselip canda dan tawa mereka berdua,saling melepaskan rasa rindu mereka,yang telah lama tak bersua.


Terlalu asik mengobrol dan menghabiskan waktu mereka hingga tanpa sadar ternyata hari sudah mulai gelap, karena tak ingin menimbulkan fitnah di kalangan warga sini.


Ya kalian tau kah bagaimana orang kampung jadi Reynold memutuskan untuk pulang,jarak yang di tempuh pun lumayan lama juga"Jess aku pulang yah,lain kali aku kesini lagi"ucap Reynold.


"Iyabhati hati di jalan yah"ucap Jessi di balas anggukan oleh Reynold.


**


Setelah selesai membersihkan badannya, Ainsley kemudian membereskan kamar nya yang sudah seperti kapal pecah itu,saat sedang membereskan sprei tiba tiba netra nya melihat ke arah bercak darah yang ada di sana.


Tanpa menunggu instruksi air matanya pun kembali mengalir,sakit sungguh sangat sakit apalagi saat ingatan nya kembali pada ucapan Reynold kemarin, dia berkata bahwa dirinya saat ini sudah tidak virgin lagi.


Namun lihatlah noda itu,noda bercak merah yang menunjukkan bahwa dia masih virgin,dan sekarang sudah tidak lagi karena sudah di ambil oleh seorang laki laki brengsek.


Ainsley pun tersenyum smrik, kemudian segera menghapus air matanya itu dengan kasar"ayolah come on Lo kenapa lemah gini sih,lo gak boleh lemah hanya karena gara gara cinta lo itu,hapus semua cinta lo sama dia,Lo berhak bahagia dengan pasangan yang baik bukan jahat dan brengsek seperti Reynold itu"ucap Ainsley menyemangati dirinya sendiri.


Setelah nya Ainsley pun mengganti sprei itu menjadi yang baru, setelah selesai semuanya Ainsley duduk termenung di balkon kamarnya, menatap ke arah depan yang menyuguhkan pemandangan indah ibu kota dengan bangunan yang mencakar langit itu.


Sebenarnya dia ingin pergi ke markas untuk mengerjakan pekerjaan nya di sana namun dia berpikir kembali, bagaimana dia bisa pergi ke sana dengan keadaan seperti ini,mata bengkak jalan nya pun sudah seperti keong saja, lambat sangat.

__ADS_1


Perutnya pun terasa lapar namun dia tak mood untuk makan,ya kalian tau sendiri lah yah,gimana rasanya jika sedang lapar tapi sedang tidak mood memikirkan perihal masalah yang lain nya.


__ADS_2