Complicated Love Story

Complicated Love Story
_Dilema_


__ADS_3

Merisa sangat bingung dengan situasi yang ia alami sekarang. Ia tidak mau kejadian yang sama terulang kembali, lalu ia akan membicarakannya langsung dengan Rendi. Tetapi sebelum itu, ia ingin mengatakan kepada Zain terlebih dahulu.


Pukul 23.00 malam, Zain sedang memeriksa beberapa File di komputernya. Handphonenya berbunyi tanda panggilan masuk. Zain melihat layar handphonenya terlihat nama Merisa ia pun mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum Zain..." Salam Merisa dengan nada sedih.


"Walaikumsalam..Meris Ada apa? kenapa suara kamu terdengar sedih?" Tanya Zain khawatir.


"Bagaimana ini, aku bingung Zain. Aku bahagia kamu sudah melamarku tetapi Rendi juga melamarku langsung kepada Abiku" Jawab Merisa dengan perasaan sedih.


"Apakah abimu menerima lamaran Rendi?" Tanya Zain cemas.


"Iya Zain, Abiku menerima lamaran Rendi tanpa bertanya dulu kepadaku...hiks..hiks..hiks..(suara tangisnya) Aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Merisa kepada Zain dengan tangis.


"Tenang dulu Merisa.. Aku akan mengatakan langsung kepada Abimu, bahwa kita saling mencintai. Dan aku akan membawa kedua orangtuaku. insha Allah kita akan menikah Meris.. sebelum itu aku mau kita selesaikan dulu masalah ini kepada Rendi. Bukankah kalian sendiri yang membatalkan perjodohan kalian kan? lalu mengapa dia melamarmu? Merisa sabar ya, ini mungkin hanya ujian untuk kita berdua." Kata Zain menenangkan Merisa.


"Baiklah aku akan menghubungi Rendi untuk membuat janji pertemuan dengannya, dan aku akan menunggumu Zain.." Kata Merisa dengan penuh harap.


"Baiklah.. tunggu aku lusa Merisa, aku akan mengatakan semuanya kepada kedua orangtuaku" Kata Zain.


"Terima kasih Zain...Maaf telah menggangumu malam-malam begini" Kata Merisa.


"Nggk kok, Ya udah jangan dipikirkan lagi. Kamu harus istirahat yang cukup.Okay! Good night and have a nice dream🙂" Kata Zain


"Okay, see you again.." Kata Merisa


Zain telah selesai dengan pekerjaan di komputernya, kini ia menyandarkan tubuhnya di ranjang. Zain benar-benar khawatir jika nanti ia ditolak oleh Abinya Merisa.


"Bagaimana ini? Baru juga mulai berjuang kenapa sudah ada yang mendahuluiku Ah...(mengacak-acak rambutnya) Aku nggk boleh pesimis, Zain kamu harus buktiin bahwa kamu memang layak untuk Merisa. Kamu nggk boleh pantang menyerang. Mmm.. Zain Fighting Bismillah..." Kata Zain kepada dirinya sendiri.


Sebelum tidur Zain mengirim pesan kepada Zunairah dan Zarah untuk mengunjunginya besok, ia ingin kakak-kakaknya mengetahui masalahnya dan berharap memberikan solusi.


"Assalamu'alaikum kakak-kakakku yang cantik, besok aku mau kalian datang ke rumah ya. Aku mau bahas soal Merisa, aku tunggu kedatangan kalian okay!" Pesan Zain kepada kakak-kakaknya.


----------


Keesokan harinya,,


Karena Hari ini akhir pekan jadi Fikram, Zaidan, Zunairah, Zarah, Zaki, dan Fiza datang bersamaan.


Pukul 09.00 pagi Semuanya sudah tiba dirumah Ibu Mina dan Kakek Yusuf. Karena semuanya tidak sabar ingin mendengar apa yang akan dikatakan Zain, jadi pagi-pagi sekali mereka sudah datang.


Zain yang habis mandi dan memakai baju kaos keluar dari kamarnya, tiba-tiba dia kaget semua kakak-kakaknya sudah datang.


"Assalamu'alaikum..Zain lama banget sih" Kata Zunairah sedang duduk disofa sambil meminum tehnya.


"Om..Zain.." Teriak para keponakan-keponakannya didepan televisi.

__ADS_1


"Walaikumsalam..Kak Zunairah cepat banget datangnya.." Kata Zain sudah duduk bersama semuanya.


"Wah, serunya para keponakanku nonton tv. Nanti Om gabung ya..."


"Iya Om.." Kata Fiza sambil memainkan bonekanya.


"Ya habisnya aku udah nggak sabar mau dengar soal Merisa.. emang ada apasih?" Tanya Zunairah kepada Zain.


"Iya nih... kami udah nggak sabar.." Kata Zarah yang tidak sabar.


Zain duduk bersebelahan dengan Ayah Yusuf, Ibu Mina, dihadapannya Zunairah, Zarah, Samping kiri Zaidan dan samping kanan Fikram.


"Ibu, Ayah dan kakak-kakakku. Aku sudah serius dengan Merisa, aku juga sudah melamarnya, tapi aku mengatakan kepadanya bahwa aku akan melamarnya secara resmi..." Kata Zain menggantung.


"Iya itu bagus apalagi yang kamu tunggu?" Tanya Zarah.


"Tunggu dulu Merisa itu siapa?" Tanya ibu Mina dan Ayah Yusuf bersamaan.


"Jadi Zain belum cerita ya Ibu Ayah? Wah dasar sih Zain. Gini ibu Ayah, Merisa itu teman SMA Zain dan sekarang dia seorang dokter bedah dia juga pernah Zain ajak kerumah waktu itu. Aku setuju aja kalau Zain melamar Merisa dia orangnya baik, cantik dan sopan gitu" Kata Zunairah menjelaskan.


"Wah benarkah? Kenapa Zain nggk pernah cerita?" Tanya Ibu Mina.


"Aku hanya ingin menunggu waktu yang pas aja ceritanya. Tapi aku bingung sekarang, saat aku melamar Merisa didepannya ada orang lain yang melamar Merisa langsung didepan Abinya" Kata Zain dengan muka sedih.


"Waduh kamu keduluan dong.." Kata Zaidan dengan nada bercanda.


"Kalau begitu kamu nggak punya harapan lagi dong." Kata Zarah.


"Kak Zarah ah, bukannya memberikan semangat malah membuat aku pesimis aja" Kata Zain dengan nada kesal.


"Gini kalau kamu benar-benar serius dengan Merisa dan kalian saling mencintai ayah akan dukung kamu. Jangan mundur Zain karena Jika kamu mundur kamu akan jatuh" Kata Ayah Yusuf.


"Wah Ayah keren banget deh..plok..plok..plok (suara tepuk tangan)" Kata Zunairah dan Zarah bersamaan.


"Kamu tak boleh menyerah Zain, masih ada kesempatan kok, Kamu berusaha bujukin Abi Merisa" Kata Fikram.


"Iya aku rencananya berpikir seperti itu kak, insha Allah besok aku mau ibu dan ayah ikut bersamaku kerumah Abinya Merisa aku ingin menunjukkan bahwa aku benar-benar serius" Kata Zain.


"Ibu dan ayah akan selalu mendukung kamu nak, jika itu memang baik untukmu" Kata Ibu Mina.


"Makasih ibu ayah....." Kata Zain.


Zain merasa lega bahwa kedua orangtuanya mendukung keinginannya.


----------


Siang hari,,

__ADS_1


Pukul 14.00 siang saat Zain sedang menghabiskan waktu bersama keluarganya. Merisa memberikan kabar bahwa hari ini ia dan Rendi akan bertemu dan Merisa mengajak Zain untuk menemuinya.


"Kayaknya om mau pergi dulu ya.. kalian jangan rewel okay!" Kata Zain.


"Baiklah om..." Jawab semuanya.


Zain telah rapi dan mengenakan baju warna hitam, setelahnya Zain berpamitan kepada keluarganya.


"Ayah, ibu, Kakak-kakakku semua aku mau pergi ya, mau membereskan masalah aku dan Rendi dulu. Doain semoga sesuai dengan rencana" Kata Zain kepada keluarganya.


"Doa kami selalu menyertaimu..." Kata Semuanya.


----------


Merisa telah tiba ditempat perjanjian dengan Rendi, Kini ia sedang menunggu Zain.


"Rendi, apa maksud kamu melamar aku langsung kepada abiku? tanpa memberitahu aku dahulu? bukankah kamu menyukai seseorang? dan kita sudah setuju kan perjodohan kita dibatalkan?" Pertanyaan bertubi-tubi dari Merisa untuk Rendi.


"Merisa aku hanya mencintaimu..." Jawab Rendi singkat.


"Tapi aku tidak mencintaimu Ren, aku mencintai orang lain, dan aku mohon batalkan lamaran ini" Kata Merisa memohon.


"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan membatalkan lamaran ini, aku sangat mencintaimu Merisa..(Memegang tangan Merisa yang diatas meja)" Kata Rendi dengan senyuman tipis.


"Jangan seperti ini Rendi, aku benar-benar tidak akan setuju jika kamu menikahiku..." Kata Merisa langsung menepis tangan Rendi.


"Kamu tidak akan bisa menolaknya, karena Abimu sendiri yang telah menerima lamaranku..." Kata Rendi percaya diri.


Merisa tidak tahu apa yang harus dikatakannya lagi, ia dibuat frustasi dengan perubahan sikap Rendi.


Merisa beberapa kali telah menghembus kasar nafasnya dan memegangi kepalanya.


.


.


.


.


"To be continued"


***Jangan lupa like, Komentar, Vote, saran, kritiknya dan jadikan Favorit.


#LoveyouAll♥️🤗***


~Melani Putria~

__ADS_1


__ADS_2