
Siapa???
Firda terkejut melihat Fikry kembali, padahal baru beberapa menit kepergiannya.
“Nih lain kali jangan lupa lagi” Kata Fikry memberikan sesuatu yang berharga baginya.
“Loh, kok bisa handphoneku bareng kamu, terus Zanah kemana?” Tanya Firda bingung.
“Ini dari Zanah, dia aku tinggal di pinggir jalan, aku pamit dulu” Kata Fikry berlalu.
“Okay Fikry, hati-hati di jalan. Jaga hati ya! hehe” Kata Firda dengan nada sedikit gombal.
“Okay itu jelas” Kata Fikry dari kejauhan.
Tidak selang berapa lama kemudian ada seseorang yang tidak asing menghampiri Firda lagi.
Firda tidak jadi memasang helmnya, ia langsung menatap wajah seorang laki-laki yang pernah singgah dihatinya.
“Kamu..kamu..kamu lagi?” Kata Firda jadi gugup.
“Fir, maafin gue dong” Kata Rio nama orang pernah di hati Firda.
“Jangan ganggu aku lagi, aku sudah move on” Kata Firda menghiraukan Rio.
“Segampang itukah?” Tanya Rio membuat Firda terdiam.
“Gampang, itu cuma hal kecil buatku” Kata Firda sudah siap mengeluarkan motornya.
Merasa tidak dipedulikan Rio menarik tangan Firda dengan kasar, membuat tubuh Firda menempel ke dada bidang Rio. Firda yang merasakan itu lalu cepat-cepat berpaling, tetapi Rio begitu sigapnya langsung memeluk Firda.
“Rio lepaskan, apa-apaan sih kamu” Kata Firda memberontak.
“Aku nggak akan lepaskan kamu Fir” Kata Rio semakin mempererat pelukannya. Firda menjadi sulit bernafas dengan ulah Rio.
“Fir, bolehkah aku menjadi orang yang satu-satunya kamu cintai?” Tanya Rio melepaskan perlahan pelukannya.
“Itu sudah nggak mungkin lagi” Kata Firda memalingkan wajahnya dari Rio.
“Apakah karena aku nakal?” Tanya Rio semakin geram mendengar jawaban Firda.
Firda tidak menjawab pertanyaan yang Rio berikan, ia hanya memalingkan wajahnya tanpa menatap wajah Rio sama sekali.
Rio pun menarik tangan Firda dengan erat membawanya ke dalam kelas X MIPA 1, yang kosong itu.
Rio semakin geram dan dia memaksakan kehendaknya ingin mencium Firda, ia tidak pernah sama sekali menyentuh Firda selama mereka pacaran karena ia menghargai Firda. Karena merasa di abaikan, tanpa pikir panjang memegang kedua pipi Firda dengan paksa, dan menempelkan kedua tangannya ke pipi Firda.
Firda menyadari apa yang akan dilakukan Rio kepadanya, ia langsung mendorong Rio dengan keras. Sehingga yang di dorong terjatuh, tetapi tidak membuat Rio menyerah, Rio sampai memegang sangat erat kedua tangan Firda, membuat Firda sulit melepaskannya.
Rio sudah sangat dekat dengan wajah Firda, tiba-tiba Firda menundukkan kepalanya. Dengan secepat kilat Firda membentur dagu Rio dengan keras dan membuatnya merintih kesakitan. Firda lari secepatannya sebelum Rio mengejarnya kembali.
“Hosh..hosh..hosh..” Firda ngos-ngosan sampai di motornya ia buru-buru memakai helmnya.
Dari kejauhan Rara melihat Firda terburu-buru, lalu dengan langkah yang cepat ia pun menyusulnya.
“Firda......” Panggil Rara keras.
Rara tambah mempercepat langkahnya sebelum Firda semakin jauh mengendarai motornya.
“Fir.....da woy” Teriak Rara kencang.
“Ini anak cepat banget sih” Batin Rara.
__ADS_1
Firda melihat di kaca spion motornya siapa yang memanggilnya berulang-ulang. Menyadari Rara memanggilnya ia pun bergegas menyuruh Rara berlari cepat.
“Ra, cepat kemari woy” Teriak Firda menghentikan motornya.
Rara pun berlari dengan kencang mengalahkan angin di depannya.
“Kamu kenapa sih, di kejar hantu?” Tanya Rara yang tidak tahu apa-apa.
“Hantunya mesum banget" Kata Firda dengan sudah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
“Fir, jangan ngebut-ngebut aku takut banget” Kata Rara menasehati Firda yang memang suka kecepatan tinggi.
“Yaelah, ini baru 80 km Ra, belum 100 km” Kata Firda santai.
“Astaga kamu mau bunuh aku ya?” Tanya Rara memeluk Firda dengan erat.
Firda merasa geli dengan pelukan Rara, dan ia pun memperlambat kecepatannya.
“Jangan peluk gue gini Ra, geli tahu” Kata Firda memegang tangan Rara agar melepas pelukannya.
“Itu juga gara-gara kamu, bawa motor kayak mau bunuh diri aja” Kata Rara sudah melepaskan pelukannya.
“Ya udah nih, gue nggak ngebut lagi!” Kata Firda.
“Nah gitu dong, kan kalau gini aku bisa menikmati pemandangan yang kita lewati” Kata Rara tersenyum lebar melihat pemandangan hutan kota.
***
Di pinggir jalan hutan kota, mereka berbincang-bincang berdua di bawa pohon dan disekelilingnya ada pantai tak berombak.
Rara menikmati setiap hembusan angin yang mengenai pipi tembemnya itu.
“Nikmat tuhan mana lagi yang kau dusta kan?” Batinnya.
“Kenapa Ra? lu nggak mau makan?” Tanya Firda yang kala itu memakan batagor goreng.
“Aku hanya mengagumi ciptaan Allah yang begitu indah, iya aku makan nih” Kata Rara dengan senyum manisnya.
“Jangan senyum gitu deh” Kata Firda.
“Emang kenapa?” Tanya Rara heran.
“Lu tambah manis aja, buat gue diabetes lihat lu” Kata Firda yang hanya fokus makan.
“Wiuh, so sweet. Kalau kamu cowok udah deg degan aku” Kata Rara tertawa kecil.
“Yaelah, lu emang nggak mau pacaran apa?” Tanya Firda kepada Rara yang sedang meminum air mineralnya.
“Nggak tertarik” Jawab Rara.
“Kenapa?” Tanya Firda yang sudah menghabiskan batagor gorengnya.
“Lebih suka sendiri aja dulu. Nggak ada yang gangguin” Jawab Rara lagi.
Firda hanya terdiam mendengar jawaban yang Rara berikan kepadanya, membuat Rara bingung, Rara tidak menyadari apa yang dirasakan Firda. Dengan rasa penasaran yang menghantui hatinya Rara pun bertanya kejadian yang dialami Firda.
“Fir, kamu kenapa buru-buru banget tadi, emang kamu benar lihat hantu sampai segitunya?” Tanya Rara menatap wajah Firda.
“Lebih seram dari hantu, sebenarnya Rio menemui gue” Jawab Firda.
“Oh my god, Rio? anak sekolah lain dan geng motor itu?” Tanya Rara tidak sabaran.
__ADS_1
“Siapa lagi kalau bukan dia, sekarang dia udah kelewatan batas banget” Kata Firda mengelus-elus pipinya.
“Dia ngelakuin apa? dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?” Tanya Rara khawatir.
“Nggak sih, dia narik tangan gue ke kelas, hampir aja dia maksa cium gue, ya udah gue bentur aja dagunya, kepala gue jadi benjol nih, dan gue lari sekencang-kencangnya” Kata Firda dengan santainya.
“Yaelah, nggak apa-apa kepala kamu benjol, daripada bibir mungilmu itu yang benjol” Kata Rara yang membayangkan tidak-tidak.
“Gue bersyukur untung bisa melarikan diri” Kata Firda.
“Benar banget” Kata Rara.
“Terus lu kenapa masih di sekolah tadi?” Tanya Firda penasaran.
“Aku nunggu mama aku, eh tau-taunya dia telat jemput aku soalnya ada urusan mendadak gitu. Yah, aku di suruh nunggu 30 menit. Terus aku dari kantin tuh, waktu pulang aku lihat kamu. Jadi, aku lihat kamu terburu-buru, aku berteriak manggil kamu deh” Jawab Rara.
“Terus mama lu udah tahu kan, lu pulang bareng gue?” Tanya Firda.
“Udah aku kirim pesan tadi” Jawab Rara.
“Fir, kamu bisa nggak kalau bareng aku tuh, panggil aku kamu, jangan gue lu dong biar nyambung gitu” Sambung Rara.
“Udah kebiasaan, nanti deh, gue biasakan ya” Kata Firda.
“Kamu kalau kumat gitu, bilang gue lu” Kata Rara.
Semua kejadian yang dialami Firda, ia ceritakan semua kepada Rara tanpa ada yang di sembunyikan.
“Emang kamu masih punya rasa sama dia?” Tanya Rara ingin tahu.
“Sebenarnya aku masih punya rasa sama dia tapi aku korbankan rasa itu demi dia juga” Kata Firda serius benar-benar dari lubuk hati yang paling dalam.
“Maksudnya gimana?” Tanya Rara ingin lebih detail.
“Dia sebenarnya anaknya baik banget kalau udah orang kenal, anaknya itu nakal bagi yang nggak kenal dia, tetapi dia itu punya rasa sayang yang berlebihan sama aku, dia perhatiannya benar-benar berlebihan, dia beliin aku baju, beliin aku makanan, beliin aku apa pun yang dia lihat cocok untuk aku” Kata Firda.
“Bagus dong, emang kamu nggak suka dia perlakukan kamu berlebihan gitu?” Tanya Rara semakin penasaran.
“Bukannya aku nggak suka, tapi aku nggak suka sama orang yang terlalu berlebihan, aku tahu anaknya itu kurang mampu, orangtuanya cuma dagang kecil-kecilan, dan bapaknya itu seorang satpam” Kata Firda membuat Rara terkejut.
“Lah, terus kenapa dia beliin kamu banyak banget?” Tanya Rara.
“Nah, itu yang aku nggak tau, dia perlakukan aku secara berlebihan sedangkan aku nih cuma pacar, belum tentu aku nih benar-benar berjodoh dengan dia. Awalnya aku menerima semua perlakuan dia yang begitu, lama-kelamaan dia semakin berlebihan, aku nasehatin dia malah dia marah sama aku” Kata Firda.
“Emosi dia nggak bisa dia kontrol ya?” Tanya Rara.
“Banget, aku malah nyuruh dia perlakukan orang tuanya seperti itu, tapi malah nggak mau nurut, cuma aku katanya yang bisa nerima dia apa adanya. Tetapi aku udah nggak bisa berlama-lama dengan sifat yang berlebihan dia, aku menyuruhnya lebih perhatian kepada kedua orangtuanya, pas malam aku ketemuan sama dia, aku memutuskan hubungan dengannya. Dia tiba-tiba marah dan menangis tidak ingin putus, terus aku meninggalkannya begitu saja, bukan karena aku tega. Tapi itu lebih baik daripada harus menetap” Kata Firda panjang lebar.
“Woah, kamu keren firda...aku bangga punya sahabat kayak kamu” Kata Rara takjub dengan sikap Firda.
Semua tentang diri Firda ia ceritakan kepada sahabatnya itu, Firda pun menanyakan tentang diri Rara.
.
.
.
.
“To be continued”
__ADS_1
~Melani Putria~