
Dion yang sedari tadi membisu melihat kedatangan Fikry, lalu pergi meninggalkan mereka tanpa berkata sekata pun.
Fikry merasa sangat khawatir dengan keadaan zanah lalu membawanya keruang UKS. Sebelum itu Karlina melapor kepada guru tentang keadaan Zanah saat ini dan tentu saja melaporkan perbuatan dari Dion.
Ibu guru wali kelas Zanah yang juga kaget dan khawatir dengan kedaan zanah, lalu melihat ujung bibirnya mengeluarkan banyak darah tanpa henti, ujung bibirnya terluka sangat dalam akibat terbentur keras dengan ujung meja yang keras itu dan harus segera dijahit.
Dalam keadaan khawatir Ibu guru wali kelas Zanah dan penjaga UKS segera membawa Zanah ke rumah sakit terdekat. Fikry saat itu tidak dapat menemani Zanah ke rumah sakit karena masih ada mata pelajaran yang tidak bisa ia tinggalkan.
Zunairah dan Zarah yang mendengar kabar dari Ibu wali kelas Zanah lalu terburu-buru ke rumah sakit dimana Zanah berada, sesampainya di rumah sakit Zunairah sangat kaget melihat baju putih yang Zanah kenakan penuh dengan darah yang keluar dari ujung bibir kanan yang terluka itu.
Saat Zanah hendak dijahit ujung bibirnya oleh dokter ia sedikit gugup dan merasa takut, tetapi sebelum itu dokter menenangkan Zanah bahwa tidak sesakit yang dibayangkannya. Saat ini dokter mulai menjahit ujung bibirnya dengan hati-hati, Zanah yang dijahit ujung bibirnya hanya menatap keatas palapon berulangkali berkedip dan terus saja membaca istigfar dalam hati. Sehingga saat ujung bibirnya dijahit ia tidak terlalu merasakan sakit sama sekali.
“Ya ampun Zanah” Kata Zunairah memeluk Zanah yang ujung bibirnya selesai dijahit.
“Aku nggak apa-apa bunda” Kata Zanah pelan karena sebagian bibirnya di perban.
“Kamu jangan banyak bicara dulu sayang pasti kamu kesakitan kan?” Tanya Zunairah khawatir.
“Baik Bunda, aku nggak apa-apa kok” Kata Zanah pelan.
“Kamu banyak istirahat aja ya nak” Kata Zarah.
“Iya tante” Kata Zanah pelan.
Disisi lainnya Fikry yang sedang mendapatkan pelajaran dari bapak guru menjadi tidak fokus memikirkan kondisi Zanah. Sehingga ia langsung teringat akan sosok Dion yang telah mendorong Zanah dengan keras, Fikry tidak habis pikir dengan sikap Dion yang hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. Dion sedari tadi berada diruang BK dia diberi hukuman skorsing 1 minggu.
***
Saat pulang sekolah fikry yang biasanya menunggu jemputan bersama Zanah diluar sekolah, melihat sosok Dion yang hendak pergi dengan motornya. Tiba-tiba dari belakang Fikry memukul belakang Dion menggunakan buku tebal miliknya.
“Kamu itu batu apa manusia sih?” Tanya Fikry marah.
__ADS_1
Dion merasa kesakitan dipunggungnya tidak menghiraukan Fikry dan sikapnya sama seperti saat mendorong Zanah tanpa rasa bersalah.
“Wah kamu benar-benar gila ya?” Tanya Fikry dengan emosi
‘Aku nggak ngerti apa yang dipikirkan orang ini? Ya ampun, astagfirullah’ Batin Fikry yang merasa kesal.
Dion yang merasa jengkel dengan pertanyaan Fikry dengan cepatnya langsung menonjok hidung Fikry dan membuatnya mengeluarkan darah.
“Wah parah banget orang ini” Kata Fikry melihat darah di ibu jarinya yang keluar dari hidungnya.
Tanpa menunggu lama Fikry yang amarahnya tidak dapat ia kendalikan, lalu membalas pukulan Dion sangat keras sampai membuat wajah Dion yang mulus menjadi memar.
“Dasar b*ngst Lu” Kata Dion dengan nada tinggi dengan amarah.
“Lo itu yang gila tau nggak Ha?” Kata Fikry tidak dapat ia tahan.
“Emang apa masalah loh?” Tanya Dion yang merasa tidak bersalah.
“Terus apa hubungannya dengan lu. Minggir lu dari hadapan gue” Kata Dion mengibaskan tangan Fikry secara kasar.
“Woy Dion itu jadi masalah aku ya, dia itu sepupuku dan kamu sudah menyakitinya. Dan ingat ya Dion kalau kamu nggak sampai minta maaf sama Zanah lihat saja nanti” Kata Fikry mengancam Dion.
“Gue nggk takut sama lu” Kata Dion percaya diri.
“Oke..pegang kata-kata kamu” Kata Fikry dengan senyum licik.
Dion tidak tahu apa yang ada dipikiran Fikry, tetapi dipikirannya sama sekali tidak terlintas bahwa Fikry akan benar-benar melakukannya.
Fikry tidak menahan kepergian Dion, Ia membiarkan pergi begitu saja, bukan karena mengalah tetapi ada cara lain yang membuat Dion akan menyesalinya.
Tidak lama setelah kepergian Dion. Tibalah Zunairah, Zarah dan Zanah yang kembali dari rumah sakit.
__ADS_1
“Bagaimana Zan, apa kamu baik-baik saja?” Tanya Fikry.
“Kamu jangan mengajaknya bicara dulu Fikry, Zanah nggak bisa terlalu banyak bicara. Kamu nggak lihat dia kewalahan berbicara dengan sebagian bibirnya di perban gitu” Kata Zarah mamanya Fikry.
“Iya Mama bawel, aku cuma bertanya kok” Jawab Fikry sedikit jutek.
“Kenapa hidung kamu lecet gini?” Tanya Zarah lagi.
“Aku cuma terbentur dengan tembok, bukan apa-apa” Kata Fikry beralasan.
“Masa sampai segininya sih?” Tanya Zarah lagi.
“Ini nggak apa-apa kok, mama sayang tenang aja” Jawab Fikry.
“Ya udah terserah kamu, nanti bersihin tuh” Kata Zarah yang sebenarnya tahu bahwa itu bekas tonjokkan.
Sesampainya di rumah Zunairah menyuruh Zanah beristirahat di kamarnya. Fikry yang mengerti dengan kondisi Zanah membiarkan dia beristirahat dengan tenang dan tidak menggangunya dulu.
.
.
.
.
"To be continued"
#LoveYouAll🤗
~MELANI PUTRIA~
__ADS_1