Complicated Love Story

Complicated Love Story
_Ada Rasa Cemburu_


__ADS_3

Gadis itu namanya Liza, dia masih memeluk Zanah dengan suara segugukan karena menangis.


“Nggak apa-apa, aku tahu kamu pasti sedang kesusahan,” ucapnya lembut.


Fikry melihat ketulusan di dalam diri Zanah, bukan hanya sekali tetapi, sudah berulang kali melihat kebaikan yang Zanah lakukan. Mungkin itulah mengapa Fikry lebih awal memiliki perasaan terhadap Zanah.


“Bagaimana kalau kita membawa dia ke rumahmu Zan Zan, kamu kan bisa membantunya,” ucap Fikry memberikan saran.


Liza melirik wajah Fikry dan Zanah berulang kali.


“Ya, ide yang bagus kak Fik,” ucap Zanah dengan senyum.


“Liz, aku akan membantumu. Maukah kamu pergi ke rumahku untuk menginap dan aku akan memberitahu ayahku agar mengantarmu kembali ke rumahmu!” ucap Zanah memegang tangan Liza.


“Aku sangat malu, telah menyusahkan kalian berdua, maaf sudah membuatmu kesulitan dengan sikapku tadi!” ucap Liza menatap Fikry.


Fikry pun menatap Liza dengan senyum yang lebar dan menggelengkan kepala. Ada apa di balik senyumannya itu?


“Nggak apa-apa kok,” ucapnya.


“Ya udah, ayo kita ke rumahku,” ucap Zanah mengalihkan perhatian mereka berdua.


Saat ketiganya berjalan, beberapa langkah dari tempat duduk batu itu, mereka bertiga sempat terdiam dengan pemikiran masing-masing di kepala mereka.


Zanah terdiam menggandeng tangan Liza, dengan pikiran yang menghantui kepalanya. Ia berpikir akankah ada perasaan suka Fikry kepada Liza. Pemikiran itu selalu terbayang-bayang di kepalanya.


Liza terdiam memikirkan bagaimana agar dia bisa kembali dengan selamat dan dia terus berulang kali memikirkan pacarnya yang tega meninggalkan dirinya sendiri, saat mereka berdua telah melakukan hal yang tidak terpuji. Di tempat yang tidak ada orang sama sekali.


Fikry pun terdiam dengan banyak yang dia pikirkan di kepalanya, antara Zanah dan Liza. Entah mengapa ada rasa kagum terhadap Liza, dan bukan hanya Fikry, Liza pun ada rasa kagum terhadap Fikry. Ia pun bingung dengan hatinya bagaimana bisa ia memiliki rasa kagum terhadap Liza. Karena sebelum Liza, ia sudah menyimpan rasa kagum terhadap Zanah. Dan itu belum lama terjadi.


Karena tidak nyaman dengan keheningan itu, Fikry membuka suara untuk menghilangkan keheningan.


“Kenapa bisa kamu ditinggalkan oleh pacarmu?” tanya Fikry penasaran.

__ADS_1


Karena malu mengatakan yang sebenarnya, ia hanya terdiam dengan wajah yang sedih.


“Sudahlah kak Fik, jangan kepo seperti itu,” ucap Zanah melihat wajah sedih Liza.


“Kalau Liza udah siap, pasti dia akan mengatakannya,” Zanah dengan senyum mengelus tangan Liza.


“Aku sangat malu, melihat dirimu Zan,” ucap Liza lirih.


“Kenapa?” tanya Zanah.


“Kamu wanita yang baik dan menjaga auratmu, sedangkan aku? aku tidak bisa dibandingkan dengan dirimu. Aku ini hina hiks..hiks..hiks..” ucapnya dengan tangis lagi.


“Jangan merendahkan dirimu seperti itu, kita sama kok. Hanya saja kamu belum melakukan kewajibanmu,” ucap Zanah dengan tersenyum.


Liza sangat kagum atas diri Zanah.


Sampailah mereka bertiga di rumah Zanah, saat memasuki rumah tiba-tiba Fikry dan Zanah kegirangan melihat kedatangan Zain dan Merisa.


“Kok terasa aneh ya, manggil aku tante.. haha geli..” Merisa tertawa sendiri dipanggil tante.


“Haha.. kamu belum terbiasa aja sayang..” ucap Zain merangkul pinggang ramping Merisa.


“Hem..hemm...” Zanah dan Fikry berdehem bersamaan.


“Sayang, jangan gitu. Mereka masih bocil,” ucap Merisa dengan tawa.


“Kami bukan bocil lagi tante,” ucap mereka bersamaan lagi


“Cie..cie kompak banget sih,” Zain menggoda para keponakannya itu.


Fikry dan Zanah malah salah tingkah dengan godaan Zain.


“Oh iya, dia temanmu Zan?” tanya Zain.

__ADS_1


“Iya om, kenalkan ini Liza om,” ucap Zanah.


“Dia menginap di sini, oh iya kalian kapan datang?” tanya Zanah mengalihkan pembicaraan.


“Kira-kira 1 jam yang lalu, kalian dari mana sih? om, sama tante mau pulang nih!” ucap Zain dan Merisa benar-benar sudah siap untuk pulang.


“Lah, kok cepat banget sih?” tanya Fikry.


“Om dan tante kalian cuma mampir bentar kok, masih ada kerjaan yang belum di selesaikan. Kalian baik-baik yah, jangan bertengkar.” ucap Zain.


Mereka berdua berpamitan kepada Zunairah dan Zaidan orang tua Zanah dan Zaki. Karena sebelumnya Zarah mama Fikry sudah pulang terlebih dahulu.


****


“Bun, ayah. Ini temanku namanya Liza, dia tersesat saat jalan-jalan dan dia tidak tahu pulang, tetapi alamat rumah yang dia beritahu lumayan jauh.” Penjelasan Zanah kepada orangtuanya.


“Benerkah? baiklah kamu istirahat aja di kamar Zanah nak, nanti kamu ganti baju kamu!” Zunairah menatap wajah Liza dengan tersenyum manis.


“Makasih, tante.” ucap Liza dengan senyum.


“Baiklah, besok kita sama-sama akan mengantar temanmu pulang ke rumahnya!” ucap Zaidan dengan lembut.


Mereka bertiga pun tersenyum mendengar perkataan Zaidan. Setelahnya Zanah mengantar Liza ke dalam kamarnya. Lalu, Zanah menemui Fikry di ruang tamu lagi.


.


.


.


.


“To be continued"

__ADS_1


__ADS_2