
“Aku merasa sangat bersalah karena telah menyusahkan keluarga ini. Tetapi aku juga nggak punya pilihan.” Batinnya.
Zanah memberikan pakaian ganti untuk Liza pakai, dan mempersilahkan dia setelahnya ia keluar menemui bundanya.
Zunairah bertanya kepada Zanah apa yang sebenarnya terjadi, setelah mendengar semua dari putri cantiknya itu. ia pun mengerti dan paham apa yang akan dilakukan olehnya.
“Kenapa bisa seperti itu?” tanya bundanya.
“Aku pun nggk mengerti bun,” jawabnya.
“Ya udahlah, kamu temenin dia saja Zan.” ucap bundanya.
Liza duduk termenung di pojok tempat tidur Zanah. Dengan perasaan bersalah dan perbuatan dosa yang menghantuinya.
Zanah yang mendekatinya pun, ia tidak tahu kedatangannya. Karena sedang memikirkan sesuatu.
“Apa aku boleh duduk?” tanya Zanah menyadarkan Liza dari lamunannya.
“Eh, i.. ya, Silahkan ini kan rumah kamu,” jawab Liza terbata-bata.
“Maaf, tapi bolehkah aku menanyakan hal yang sangat pribadi? tapi aku takut kamu tersinggung!” ucap Zanah dengan sedikit risau.
“Aku tahu dan paham, pasti kamu mau tahu tentang yang sebenarnya terjadi bukan. Mungkin semua orang akan seperti dirimu Zanah, ingin tahu kebenarannya. Tetapi aku nggak keberatan jika aku harus memberitahukan kepadamu. Aku sangat percaya denganmu,” ucap Liza dengan sangat tulus dan tanpa terpaksa sedikit pun.
“Terima kasih Liz, atas kepercayaannya. Insyaallah aku akan menjaga kepercayaanmu!” Zanah mengembangkan senyumnya kepada Liza dan menggenggam tangannya untuk membuktikan bahwa Zanah akan menjaga kepercayaannya.
Liza membalas senyuman Zanah dengan hati yang sangat bahagia dan serasa ia tidak perlu merasa khawatir tentang apa pun.
“Aku takut jika kamu tahu tentang diriku, kamu akan merasa jijik terhadapku dan tidak mau berteman denganku lagi,” ucapnya dengan lirih.
“Jangan katakan itu lagi Liz, aku benar akan marah jika kamu mengatakannya. Jujur aku nggak suka, aku berteman bukan melihat dari perbuatan apa yang pernah kamu alami bahkan jika perbuatan itu perbuatan yang sangat buruk. Bukankah manusia tempatnya salah dan dosa. Kita bisa memperbaiki kesalahan itu selagi kita masih diberikan kesempatan!” ucap Zanah dengan panjang lebar.
__ADS_1
Liza hanya tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Dan kemudian ia pun menceritakan kepada Zanah.
*Flashback on*
Sepasang pasangan muda sedang menikmati hembusan angin laut kala siang itu. Dengan perasaan yang sangat bahagia Liza saat itu hanya memakai pakaian yang sangat terbuka.
Dengan santai mereka saling menggenggam tangan berjalan di atas pasir putih itu.
Tanpa ada orang sama sekali, karena sang pacar. Memang sengaja membawanya pada pantai yang memang sangat sepi dan tentu saja Ia tidak mengetahui jikalau pantai yang mereka kunjungi sangat jauh dari jarak rumahnya. Karena terlanjur cinta kepada pacar itu, tanpa sepatah katapun ia tidak menolaknya.
Dengan perlahan sang pacar memeluk pinggang ramping Liza. Membawanya kedalam dekapannya. Sekali lagi, Liza tidak menolak apa yang diperbuat pacarnya. Seperti tersambar petir di siang hari kala itu. Sang pacar yang tanpa meminta persetujuan sama sekali langsung mencium pundak Liza yang mulus itu. Liza pun terkejut dengan apa yang dilakukan pacarnya itu.
“Apa yang kamu lakukan sayang?” pertanyaan Liza dihiraukan olehnya dia hanya melanjutkan aksinya.
“Nikmati saja sayang,” ucapnya beberapa menit.
Liza pun langsung menghentikan aksi pacarnya itu.
“Jangan munafik sayang, aku tahu kamu juga menginginkannya kan?” tanya pacarnya.
Memang Liza tidak bisa menyangkalnya karena dia juga menginginkannya. Tetapi di lubuk hati yang paling dalam ia masih berpikir jernih bahwa salah jika melakukannya dengan pacarnya.
“Tapi sayang..” ucapnya dengan memohon.
Tanpa mendengarkan perkataan Liza pacarnya langsung ******* bibir tipis Liza yang manis itu. Liza hanya membelalakkan matanya langsung mendorong dada pacarnya.
“Apa yang kita lakukan ini salah sayang,” ucap Liza masih sadar.
Sang pacar meyakinkan apa yang mereka lakukan hal biasa di luar sana. Bahkan berciuman bukan hal yang tabu lagi. Tetapi bukan itu yang sebenarnya yang diinginkan sang pacar dia ingin lebih dari itu.
Dengan hati bimbang dan perasaan yang bingung di hatinya. Seperti yang diinginkan sang pacar Liza pun mengiyakan. Tentu saja senyuman pacar Liza mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Perlahan sang pacar memegang kedua pundak Liza menatap wajahnya yang mulus itu. Kemudian tangannya berpindah memegang dagu Liza. Kemudian dengan perlahan mereka mengulang kejadian yang tadi. Awalnya ciuman itu biasa saja, mereka malah menikmatinya. Tanpa sadar mereka melakukannya lebih dari 10 menit.
Dengan hasrat yang begitu besar sang pacar dengan cepatnya mencium leher mulus Liza. Tanpa penolakan dari Liza dia pun meneruskan karena mereka berdua sama-sama menginginkan. Akhirnya apa yang awalnya di tolak Liza terjadi juga dan tanpa sadar malah meminta lebih.
Setelah kejadian itu sang pacar malah menurunkan Liza di pinggir jalan yang sepi. Dan itu membuat dia frustasi apa yang dilakukan pacarnya membuatnya seperti perempuan murahan. Dia mencakar badannya berulang kali membuat baju panjang yang dia kenakan sobek.
*Flashback off*
Mengingat apa yang dilakukannya ia merasa hina, ia pun memukul berulang kali tubuhnya dengan keras.
“Aku harus bagaimana Zan?” tanya Liza membuat Zanah tidak bisa berkata-kata dengan cepatnya ia memeluk dan menenangkan Liza.
Zanah merasakan apa yang di rasakan Liza saat itu, merasa tidak berarti lagi. Tetapi bukan Zanah tidak ingin Liza merasa seperti itu. Ia hanya memberikan nasehat kepadanya.
“Semua belum berakhir Liz, ini sudah takdir. Tetapi kamu harus memohon ampun sama Allah dan sungguh-sungguh bertaubat yang kamu lakukan adalah dosa besar,” ucap Zanah masih memeluk Liza.
“Aku sangat hina Zan, aku... aku... nggak suci lagi..huhuhu..” tangisnya pun pecah.
Apa pun yang Liza lakukan sudah tidak bisa dihindari akan tetapi, semuanya masih bisa diperbaiki dan masih ada jalan. Walaupun yang dilakukannya adalah dosa besar. Tetapi, jika dia bersungguh-sungguh maka Allah akan memberi jalan. Wallahu alam..
.
.
.
.
“To be continued”
Jangan lupa vote dan rate guys.🙏
__ADS_1