Complicated Love Story

Complicated Love Story
_Kekonyolan_


__ADS_3

Selesai upacara bendera semua siswa pun bergegas ke kelas masing-masing, karena selanjutnya mereka akan mendapatkan pelajaran dari bapak ataupun ibu guru.


Zanah duduk bersama Rara, di belakangnya ada Firda dan Delya, Nadya duduk bersama dengan Cici teman lainnya. Karena sikap Nadya yang humoris dan suka ketawa terus banyak yang selalu menyukainya. (Jangan salah bukan ketawa karena gila ya, ketawa saat ada yang lucu aja)


“Nad, lu ngerti nggak soal ini?” Tanya Firda kepada Nadya.


“Nggak, tanya sih Zanah tuh, dia kan jago kalau soal hitungan” Jawab Nadya.


“Yaelah, Kirain lu tahu” Kata Firda.


“Emang sih aku tahu, tapi aku nggak mau nunjukin kepintaranku ke kamu, nanti kamu tertular lagi kan bahaya” Kata Nadya dengan polos.


“Yaelah, sok banget lu bilang aja nggak tahu. Jangan pura-pura pintar gitu deh, kayak virus aja tertular” Kata Firda protes.


“Gini nih, makanya nggak mau kasih tahu kamu Fir, nggak percayaan amat dengan teman sendiri” Kata Nadya protes juga.


“Ya bagus tuh, kalau kepintaran bisa tertular, lah kalau virus yang ngetren itu yang tertular itu kan bahaya. Ih ngeri nauzubillah” Kata Zanah.


“Hus, udah nggak usah berisik tau, nih gampang kok” Kata Delya.


“Emang kamu tahu?” Tanya Rara tidak yakin.


“Kalian kok nggak percayaan banget sama teman sendiri sih?” Tanya Delya balik dengan songong.


“Kan cuma nanya doang jangan ngegas dong” Kata Rara.


Ibu guru yang mengajar mereka melihat mereka dengan mata yang tajam. Karena saat itu ibu guru sedang memeriksa tugas mereka kumpul barusan.


“Kalian jangan berisik, kerjakan dengan tenang dan pakai perasaan” Kata ibu guru Difa.


Seketika mereka semua yang berisik terdiam tanpa ada yang bergerak.


“Kalau pakai perasaan ujung-ujungnya sakit gimana bu?” Tanya Firda berbisik.


“Ibu nggk tahu aja, kalau pakai perasaan kan nggak enak bu” Kata Nadya berbisik


“Apalagi perasaan kita nggak terbalas, sakit nggak ada obatnya” Kata Rara berbisik.


“Sakit tak berdosa” Kata Delya berbisik.


“Berdarah yaelah” Kata Firda berbisik lagi.


“Astagfirullah, kalian ini baperan amat sih!” Kata Zanah menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


“Kan ibu guru sendiri yang bilang pakai perasaan” Kata Rara polos.


“Haduh, nggak gitu juga dong” Kata Zanah menepuk jidatnya.


***


Fikry saat itu menegur Zanah lantaran dia ikut berisik juga. Fikry hanya menegur Zanah melalui tatapan matanya, Zanah yang melihat tatapan Fikry langsung tersipu malu karena ketahuan berisik dengan teman lainnya.


“Tatapan matamu awal aku berjumpa...” Kata Nadya dengan bernyanyi menyadari tatapan Fikry.


“Pandangan pertama awal aku berjumpa Nad, yaelah geer amat sih kamu” Kata Rara protes.


“Fikry itu lagi menatap mata indahku ini” Kata Delya dengan senyum lebar.


“Hadeuh ampun deh kalian ini, geernya bukan main. Orang yang di tatapin nggak geer kayak kalian” Kata Firda.


“Udah-udah kalian ini berisik banget, Cici aja bingung lihat kalian” Kata Zanah menegur mereka.


“Cucu kamu nggak keberatan kan kalau kami ribut?” Tanya Nadya yang bisa dibilang paling dekat dengan Cici.


“Astaga Nad, lu kira itu anak dari anak lu ya, panggil cucu” Kata Firda.


“Cici, bukan cucu yaelah pencemaran nama baik kamu Nad” Kata Rara juga.


“Haduh, parah banget sih kamu Nad” Kata Delya.


“Nggak papa kok, aku nggak keberatan kalau kalian manggil aku apa. I'm fine” Kata Cici polos.


“Aduh Cici sayang, kamu itu polos banget sih. Sini pengen peluk” Kata Firda dengan manja.


“Aduh Ci, kamu punya hati yang besar banget” Kata Rara.


“Buset, gimana besarnya Ra?” Tanya Nadya.


“Sebesar biji merica” Kata Rara jutek.


“Haduh, itu kecil banget tahu, jangan jutek gitu Rara, nanti manisnya hilang gimana?” Kata Nadya.


“Kasih gula aja biar manis” Kata Cici ikut nimbrung.


“Uwah benar banget, kata Cici loh” Kata Delya tertawa.


“Hadeuh...” Kata Zanah, Firda, Nadya, dan Rara bersamaan.

__ADS_1


***


Pulang sekolah,,


Zanah dan Fikry bersamaan ke parkiran sekolah, lantaran sekarang Fikry sudah pandai mengendarai motor sendiri.


“Zan, kamu di mana sih?” Tanya Firda di balik telpon.


“Di parkiran ada apa?” Tanya Zanah balik.


“Tunggu bentar okay, aku ke sana sekarang” Kata Firda.


“Iya okay” Kata Zanah.


“Nih anak kalau kumat panggil lu gue, kalau nggak kumat panggil aku kamu” Kata Zanah pada dirinya sendiri.


“Ada apa Fir?” Tanya Zanah bingung.


“Ini dompet kamu ketinggalan, makanya periksa dulu sebelum pergi” Kata Firda menasehati seperti ibu-ibu kompleks.


“Makasih banyak bu Firda, baik banget sih hehe” Kata Zanah cengengesan.


“Yaelah, nggak perlu ada terima kasih di antara kita” Kata Firda dengan senyuman.


“Yaudah ya, aku mau pulang dulu, kamu hati-hati di jalan dan sekali lagi makasih!” Kata Zanah memakai helmnya.


“Iya kamu juga hati-hati, oh iya Fikry jangan ngebut dan kamu Zan jangan makasih Mulu kayak kasir aja” Kata Firda.


Sahabat lainnya sudah pulang lebih awal karena dijemput oleh kedua orangtua mereka. Kini giliran Firda pulang sendiri dengan motor maticnya. Saat sedang memakai helm Firda terkejut melihat orang di sampingnya yang baru saja datang dari luar.


jeng..jeng..jeng..


.


.


.


.


“To be continued”


~Melani Putria~

__ADS_1


__ADS_2