
keesokan harinya,,
Dimana cuaca hari ini sangat cerah, tetapi tidak dengan hati Zain yang dimana hatinya tak karuan, gelisah, risau, khawatir, dan bimbang.
Disela-sela doanya ia berdoa agar harapannya sesuai yang direncanakan, jika dibilang gugup? iya Pasti gugup siapa yang tidak gugup disaat keadaan seperti ini.
"Bagaimana Zain apa kamu udah siap?" Tanya Ayah Yusuf.
"Insha Allah, aku udah siap lahir dan batin hehehe..." Jawab Zain dengan tawa untuk menghilangkan gugupnya.
"Baiklah. Kamu harus yakin dengan diri kamu sendiri nak, kamu harus siap dengan keputusan apa yang akan diberikan Abinya Merisa..Yakinlah pada Allah, semua yang akan terjadi nanti itu yang terbaik untukmu" Kata Ayah Yusuf mengingatkan.
"Insha Allah Ayah, apa pun yang terjadi nanti aku akan menerimanya dengan lapang dada" Kata Zain.
"Aamiin.. Ibu doakan yang terbaik untukmu nak, Ibu mendoakan agar kamu bisa bersatu dengan wanita pilihanmu" Kata Ibu Mina.
"Aku sangat bersyukur memiliki kedua orangtua seperti kalian, dan aku sangat bangga terima kasih sudah melahirkan aku ibu.." Kata Zain dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu dan Ayah juga sangat bersyukur dan bangga memiliki anak seperti kamu" Kata Ibu Mina sambil memeluk Zain.
Mereka bertiga saling berpelukan, Zanah dan Fikry yang melihatnya ikut berpelukan juga.
"Wah Bocil-bocilku.. kalian ngapain ikut peluk-peluk?" Tanya Zain yang sudah melepaskan pelukannya.
"Aku terhura om.. ets,, Terharu om" Kata Zanah dengan senyum Pepsodent.
"Aku sangat senang melihat om, kakek dan nenek berpelukan, Romantis gitu." Kata Fikry polos.
"Hahaha.. cucu-cucu nenek yang manis dan imut, Kalian di rumah aja ya. Nenek, kakek dan om kalian, Mau pergi kerumah kak Merisa. Kalian jaga rumah ya." Kata Ibu Mina.
"Siap nek, tapi aku nggak mau jaga rumah" Kata Fikry.
"Memang Kenapa?" Tanya Ibu Mina.
"Rumah itu nggak perlu dijaga, rumah nggak akan kemana-mana kok, kan rumah nggak punya kaki" Kata Fikry dengan canda.
"Kak Fikry bisa aja, Nenek, kakek dan om Zain hati-hati ya. Kami doakan semoga berjalan dengan baik" Kata Merisa dengan senyuman.
"Aamiin. Kami pergi dulu ya. Assalamualaikum bye-bye..." Kata Zain
"Walaikumsalam" Jawab Zanah dan Fikry bersamaan.
----------
Merisa duduk di meja makan bersama Ayah dan Iyan adiknya. Saat Merisa sedang makan ia mengatakan kepada Abinya bahwa Zain akan datang.
"Abi sebentar lagi seseorang yang aku sukai akan datang bersama kedua orangtuanya. Jadi aku harap Abi mau merestui aku dengannya dan membatalkan lamaran Rendi" Kata Merisa sambil menunduk.
"Apa? Abi tidak bisa membatalkan secara sepihak nak, Kamu dan Rendi akan menikah" Kata Abi Malik.
__ADS_1
"Sampai kapan pun aku nggak akan terima abi, aku punya hak memilih dengan siapa aku akan menikah. Jika aku menikah karena terpaksa, aku nggak jamin itu akan bertahan lama. Jadi aku harap abi mau mengerti dengan perasaanku. Aku masuk ke kamar dulu untuk siap-siap" Kata Merisa lalu masuk ke kamarnya.
Abi Malik sejenak berpikir bahwa sebenarnya ia tidak pernah berpikir tentang perasaan putri satu-satunya itu. Tetapi ia juga bingung karena lamaran Rendi sudah ia terima.
Merisa mendapatkan WhatsApp Chat dari Zain. Ia tersenyum lebar membacanya.
" Meris, aku sebentar lagi akan sampai." WhatsApp Chat Zain.
"Aku menunggu kedatanganmu😊" Balasan Merisa.
----------
Merisa Langsung lari membuka pintu rumah ketika mendengar suara mobil Zain. Ia tersenyum lebar melihat Zain dan kedua orangtuanya. Tak lupa ia bersalaman kepada Ibu Mina.
"Assalamu'alaikum.. kamu nak Merisa? wah Masya Allah kamu cantik sekali nak" Kata ibu Mina.
Zain yang mendengar perkataan ibunya hanya tersenyum melihat Merisa dan membuat Merisa salah tingkah.
"Walaikumsalam, Hehe.. makasih Tante, silahkan masuk om, Tante dan Z... Zain" Kata Merisa gugup.
"Nggak usah gugup gitu nak. hehehe" Kata ibu Mina meledek Merisa.
Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu. Zain duduk berhadapan langsung dengan Abi Malik, sedangkan Merisa sedang berada di dapur membuatkan teh untuk mereka semua.
"Aduh jangan gugup gini dong merisa, kamu harus yakin semuanya akan baik-baik saja" Kata Merisa pada dirinya sendiri saat membuat teh.
"Kalau boleh tahu nama kamu siapa? kamu bekerja dimana?" Tanya Abi Malik langsung kepada Zain.
"Namaku Zain, Aku bekerja sebagai dosen bahasa Inggris di UNM (salah satu kampus ternama di kota itu) dan Oiya om.. ini kedua orangtuaku namanya Ibu Mina dan Ayah Yusuf" Jawab Zain santai.
"Maksud kedatangan kami ini, ingin membicarakan tentang hubungan anak kami dan putri bapak" Kata ibu Mina.
"Sebenarnya anak kami sangat menyukai putri bapak, dia ingin melamar putri bapak" Kata Ayah Yusuf.
Merisa telah selesai membuat teh lalu membawanya keruang tamu dan menyajikan cemilan kecil dan teh hangat. Setelahnya ia duduk disamping Abinya. Yang dimana Merisa berhadapan langsung dengan Zain.
"Maaf nak Zain, Bu Mina dan bapak Yusuf. Bukannya saya tidak merestui nak Zain dengan Merisa, tetapi sudah ada yang melamarnya dan saya sudah menerimanya. Dan saya tidak bisa membatalkannya secara sepihak" Kata Abi Malik.
Merisa yang mendengar penjelasan Abinya kaget dan merasa sedih dengan keputusan Abinya.
"Jika Rendi membatalkan lamaran itu, Abi akan merestuimu dengan Zain, keputusannya ada pada Rendi" sambung Abi Malik.
'Kalau keputusannya ada pada Rendi, berarti aku dan Zain nggak akan pernah bersama. Huh kenapa harus seperti ini sih. Ya Allah bagaimana ini?' Kata Zanah dalam hati.
'Berilah aku kesabaran ya Allah, aku pasti bisa meyakinkan Rendi' Kata Zain dalam hati
"Jadi Keputusannya ada pada Rendi? baiklah aku akan meyakinkan dia untuk membatalkan lamaran itu" Kata Merisa membuat semua terkejut.
"Baiklah terima kasih om.. aku akan berusaha untuk itu" Kata Zain menyakinkan Merisa dengan menatapnya.
__ADS_1
"Aku akan menunggu kabar baiknya" Kata Abi Malik.
"Terima kasih.. kalau begitu kami permisi pamit dulu bapak Malik" Kata Ayah Yusuf.
Merisa dan Abi Malik mengantarkan mereka ke depan pintu. Zain bersalaman dengan Abi Malik. Sedangkan Ayah Yusuf memeluk Abi Malik. Zain hanya tersenyum menatap Merisa. Dan Merisa bersalaman dengan ibu Mina.
----------
Malam hari,,
Zain menelepon Merisa ingin membicarakan tentang tadi siang.
"Assalamu'alaikum Hello Miss Merisa, what are you doing? (Hello Nona Merisa, kamu lagi apa?)" Kata Zain Berbahasa Inggris.
"Walaikumsalam, Hi Zain. I'm really sad (saya sangat sedih) Kata Merisa dengan nada sedih.
"Why? apa karena kejadian tadi?" Tanya Zain berusaha menyembunyikan sedihnya.
"Apa kamu nggak sedih Zain? kamu tahu sendiri kan Rendi itu nggak mau membatalkan lamarannya walaupun aku menolak. Ini semua membuatku bingung.." Kata Merisa dengan sedikit kesal.
"Sabar Meris,, Bukannya aku tidak sedih, aku malahan juga takut kamu akan menikah dengan Rendi, tapi kita harus bersabar dulu. Allah sedang menguji kita. Jadi kita harus tetap sabar dan berusaha okey" Kata Zain menenangkan Merisa.
"Andai aja kamu juga nggak sabaran, pasti kamu udah nggak akan memperjuangkan aku. Terima kasih Zain, aku bersyukur bahwa aku tidak salah memilih.." Kata Merisa dengan haru.
"Terima kasih juga kamu sudah memilihku. Ingat kita harus berdoa dan berusaha.." Kata Zain.
"Baiklah.. aku yakin pasti Allah memberikan kita yang terbaik" Kata Merisa.
"Aamiin.. kamu tidur gih, Selamat malam dan semoga mimpi indah. Assalamu'alaikum" Kata Zain.
"Iya kamu juga, walaikumsalam" Kata Merisa.
Entah bagaimana dengan nasib Zain nantinya, tetapi dia tetap akan berusaha. Merisa juga tidak akan mundur begitu saja.
.
.
.
.
"To be continued"
***Jangan lupa like, Komentar, Vote, saran, kritiknya dan jadikan Favorit.
#LoveyouAll♥️🤗***
~Melani Putria~
__ADS_1