Complicated Love Story

Complicated Love Story
_Gelisah_


__ADS_3

Zain telah tiba ditempat perjanjian dengan Merisa dan Rendi. Mata Zain mencari sosok wanita berhijab berwarna merah muda yang sempat diberitahukan Merisa tadi sebelum berangkat. Ia pun melihat Merisa bersama Rendi, lalu menghampiri mereka.


Saat Zain hampir mendekati mereka, Rendi mengatakan sesuatu.


"Meris.. apa kamu tahu, aku sudah menyukaimu 2 tahun yang lalu, saat kita dijodohkan dan dipertemukan oleh kedua orang tua kita. Sebenarnya yang aku sukai itu adalah kamu, aku membatalkan perjodohan itu karena aku tidak mau memaksamu menikah karena terpaksa. Tapi selama ini aku berusaha melupakan kamu, tapi lagi-lagi aku nggak bisa dan nggak rela kamu dimiliki oleh orang lain" Kata Rendi tidak menyadari kedatangan Zain.


Merisa yang tadinya hanya menunduk dan memegang kepalanya langsung menatap Rendi.


"Tapi.... Hah Zain?" Kata Merisa langsung terputus melihat Zain sudah tiba.


Rendi menoleh ingin melihat sosok yang dipanggil Zain, ia terkejut melihatnya.


"Zain?" Tanya Rendi terkejut.


"Rendi? kamu Rendi Didi itu kan?" Tanya Zain tidak percaya.


"Iya aku Didi teman SMP (Sekolah Menengah Pertama) kamu" Jawab Rendi.


Zain duduk berhadapan dengan Rendi, lalu disampingnya ada Merisa.


Rendi teman atau sekaligus sahabat Zain sewaktu sekolah menengah pertama dulu. Zain memanggilnya dengan sebutan Didi.


"Didi jadi kamu yang pernah dijodohkan sama Merisa?" Tanya Zain.


"Iya,, Emangnya kenapa?" Tanya Rendi bingung.


Mendengar pertanyaan Rendi, Merisa langsung menjawabnya tanpa menunggu jawaban dari Zain.


"Kamu mau tahu, orang yang disamping aku ini orang yang kusukai dan yang kucintai.." Kata Merisa membuat Rendi terkejut.


"Apa? jadi Zain orangnya?" Tanya Rendi.


"Iya, Jadi kumohon Rendi, batalkan lamaran itu.." Jawab Merisa dengan memohon.


"Didi maaf aku harus mengatakan ini, tapi aku dengan Merisa saling menyukai. Jadi aku berharap kamu mengerti apa yang terjadi saat ini" Kata Zain dengan nada sopan.


"Maaf Zain, aku nggak bisa terima hal ini, aku sudah menyukainya sejak kami dijodohkan. Tetapi walaupun perjodohan itu batal karena keputusan kami berdua, aku setuju membatalkannya karena aku nggak mau Merisa terpaksa menikah. Aku sudah memberikan waktu 2 tahun untuk mendapatkan seseorang yang disukainya, tetapi Merisa belum juga mendapatkannya. Jadi aku tidak ingin memberinya kesempatan lagi, sudah lama aku memberinya kesempatan" Kata Rendi tidak setuju.


"Kamu jangan egois begitu, aku nggak bisa menikah sama kamu. Kamu akan membuat aku jadi orang jahat jika kamu memaksa seperti ini. Dan satu hal lagi aku nggak bisa mencintaimu..ingat itu" Kata Merisa menegaskan.


"Didi apakah sikap kamu ini udah benar? kamu nggak bisa memaksa seseorang untuk menikah dengan kamu" Kata Zain.


"Aku nggak bisa membatalkan pernikahan ini, aku sudah melamarmu dan Abimu juga sudah menerima lamaran itu, jadi aku nggak mau membatalkan lamaran itu" Kata Rendi sudah bulat dengan keputusannya.


"Rendi, kamu benar-benar sangat egois. Kamu itu nggak punya hati" Kata merisa dengan nada sedih.


"Aku bukannya egois Merisa, ini kemauan kedua orangtua kita. Dan terutama Alm. Umimu apa kamu tidak mengingat kenapa Umimu meninggal?" Tanya Rendi.

__ADS_1


"Kenapa kamu membicarakan masa lalu, itu sudah takdir, kamu maupun aku tidak bisa mengubahnya" Kata Merisa


'Didi kenapa sikapnya seperti ini? Dia banyak berubah' Kata Zain dalam hati.


"Didi...Jodoh, Rezeki dan Maut hanya Allah yang tahu, kita tidak boleh menyalahkan orang lain atas takdir yang telah terjadi" Kata Zain mengingatkan.


"Sudahlah Zain, aku akan tetap pada Keputusanku. Aku akan tetap menikahi Merisa" Kata Rendi dengan tegas.


"Kalau kamu seperti ini, aku benar-benar akan pergi saja dari rumah dan pernikahan yang kamu impikan tidak akan pernah terjadi" Kata Merisa dengan nada kesal.


"Astagfirullah, istighfar Merisa.. sabar pasti ada jalan okey.." Kata Zain meyakinkan.


"Aku akan tetap dengan keputusanku dan Merisa aku tidak akan membiarkan kamu dimiliki laki-laki lain" Kata Rendi langsung pergi dengan nada menyindir Zain.


"Kamu benar-benar sudah berubah Didi, kamu bukan Didi yang kukenal dulu" Kata Zain tetapi Rendi menghiraukannya.


"Kita harus bagaimana Zain? aku nggak mau menikah sama Rendi" Kata Merisa dengan sedih.


"Aku akan menemui langsung abimu besok. Aku akan datang bersama orangtuaku, tunggu aku Merisa. Semoga semua sesuai dengan rencana kita" Kata Zain dengan menyakinkan Merisa.


"Baiklah, aku akan menunggumu.. semoga abiku mau mendengarkan penjelasan kita" Kata Merisa berusaha tegar.


"Kamu mau makan?" Tanya Zain mengalihkan pembicaraan.


"Iya aku mau" Jawab Merisa.


Mereka pun makan bersama lalu pulang.


----------


Zain sedang merenung diteras rumah sambil duduk di tangga dengan segelas coklat hangat ditangannya. Zanah dan Fikry melihat Zain merenung lalu menghampirinya.


"Om Zain kenapa sih, nggak biasanya om seperti ini ada apa?" Tanya Zanah penasaran.


"Apa yang om pikirkan?" Tanya Fikry juga penasaran.


"Kalian ini kepo banget sih, aku ini lagi galau gitu" Kata Zain dengan meminum coklat hangat.


"Galau mikirin kak Merisa ya?" Tanya Fikry.


"Kamu itu selalu benar aja deh." Jawab Zain dengan senyuman.


"Emang ada apa dengan kak Merisa?" Tanya Zanah penasaran.


'Apa aku katakan saja kepada mereka ya? Mereka kan masih kecil mana tahu apa yang aku rasakan. Huffft' Kata Zain dalam hati.


"Ada apa sih om?" Tanya Fikry sudah tidak sabar.

__ADS_1


"Aku mau menikahi kak Merisa tapi...." Jawab Zain.


"Tapi kenapa om?" Tanya Zanah penasaran.


"Sudah ada yang mendahului aku. Kak Merisa udah ada yang lamar" Jawab Zain dengan nada sedih.


"Yah... om sih kelamaan lamar kak Merisa jadinya ditikung duluan. Kan sakit.." Kata Fikry dengan nada kesal.


"Apalagi yang nikung teman sendiri. Huffft'" Sambung Zanah menambahkan.


"Widih.. kalian itu masih bocil ya, belum tahu yang gituan" Kata Zain.


"Bocil?.." Tanya Zanah dan Fikry bersamaan.


"Bocah kecil huffft'..." Jawab Zain dengan nada meledek.


"Om Zain benar-benar aneh.." Kata Fikry dengan canda.


"Aneh?" Tanya Zain.


"Iya aneh.. " Jawab Fikry.


"Kamu tuh yang aneh" Kata Zain tidak mau kalah.


"Kalian itu yang aneh, udahlah aku mau dengar lagi gimana dengan kak Merisa?" Tanya Zanah tidak sabaran.


"Ya gitulah, aku akan memperjuangkan cinta aku.. doain ya, besok aku mau ke rumah kak Merisa untuk mengutarakan perasaan aku ke Abinya" Kata Zain dengan senyuman.


"Aku berharap semoga om Zain dan kak Merisa bisa menikah. Kak Merisa akan jadi Tante kita kak Fikry yeah..." Kata Zanah antusias.


"Aamiin.. semoga saja kaka' ups Zanah hehe.." Kata Fikry dengan tawa.


"Makasih ya Bocil-bocilku.." Kata Zain dengan memeluk mereka.


Merisa maupun Zain sama-sama tidak bisa tidur, mereka masih kepikiran tentang pernikahan itu. Mereka sangat gelisah tak karuan dibuatnya.


.


.


.


.


"To be continued"


***Jangan lupa like, Komentar, Vote, saran, kritiknya dan jadikan Favorit.

__ADS_1


#LoveyouAll♥️🤗***


~Melani Putria~


__ADS_2