
Aku pun merasakannya dimana saat perempuan harus kehilangan sesuatu yang berharga yang selama ini dia jaga. Bagaimana mungkin aku bersikap biasa saja saat mendengar cerita hidupnya membuat hatiku sakit. Batin Zanah.
“Aku harus bagaimana, harus bagaimana, harus bagaimana? oh tuhan, kenapa harus aku, kenapa? hiks..hiks..hiks...” suara jeritan Liza di dalam hati dengan air mata berlinang membasahi pipi mulusnya itu.
Sejenak memikirkan tentang bagaimana cara untuk membuat Liza berhenti menangis. Tiba-tiba saja bundanya mengetuk pintu kamar Zanah. Di dalam benaknya dia ingin menceritakan masalah yang dihadapi oleh Liza. Tetapi karena sebelumnya Liza telah membuat dirinya berjanji bahwa hanya dia dan dirinya yang boleh mengetahuinya. Dengan berat hati Zanah pun harus menyembunyikan kebenaran yang menyedihkan itu.
tok..tok..tok..
“Masuk bun, belum kekunci!” seru Zanah.
“Ada apa ini?” tanya Zunairah kepada keduanya.
Liza menatap wajah Zanah dengan sedikit risau, karena tidak ingin membuat Zanah berbohong. Dia pun langsung menjawab pertanyaan dari bunda Zanah.
“Aku hanya kangen sama mama tante..” jawabnya dengan nada sedih.
“Sabar nak, besok kami akan mengantar kamu pulang,” ucap Zunairah mengusap kepala Liza dengan lembut.
"Apakah aku harus menyembunyikan kebenaran ini?” Batin Zanah sangat khawatir.
Melihat putrinya melamun tanpa Zanah sadari bundanya pun langsung memegang pundak kanannya mengagetkan Zanah.
“Apa yang sedang kamu pikirkan Zan?” tanya bundanya.
“Nggak ada bun, maaf sedikit melamun tadi..” jawabnya.
Mendengar jawaban dari putrinya Zunairah keluar dari kamar Zanah dan menyuruh mereka segera istirahat.
“Istirahatlah dulu!” ucap Zanah.
“Baiklah,” Liza pun langsung membaringkan tubuhnya.
Sebelum itu Zanah menuju meja belajarnya untuk mengerjakan sedikit tugas pelajaran lain yang belum sempat dia selesaikan. Setelah menyelesaikan dia menyempatkan membuka ponselnya yang sedari tadi banyak notif pesan yang masuk. Di saat melihat ponselnya terdapat banyak pesan grup sekitar 400 chat lebih dan pesan dari sahabat-sahabatnya menanyakan kabarnya. Lantaran karena setiap malam mereka mengobrol tanpa absen, sehingga para sahabatnya bertanya-tanya mengapa Zanah tidak muncul. Dan yang membuat Zanah berdebar ada pesan masuk dari Fikry.
Kenapa banyak sekali spam chat dari kak Fikry?
____Grup chat "The Five Girls"______
“*Rara: Hai, guys. Gimana tugasnya?”
“Firda: Tenang, aman..”
“Delya: Aku bingung,,”
“Nadya: Why?”
__ADS_1
“Delya: Aku masih belum mengerti..”
“Rara: Yaelah, itu mah gampang,. Tenang nanti aku bantulah hehe..”
“Firda: Ngomong-ngomong sih Zanzan kemana coba?”
“Delya: Tahu tuh, anak itu ngilang tanpa jejak,”
“Nadya: Yaelah,, lebay lu.. palingan sibuk kali.”
“Firda: Masa sih?? dia on kok🤔”
“Rara: Hp nya yg on, orgnya off😪”
“Delya: Udahlah nanti juga muncul tuh anak, tag aja 🙄”
“Nadya: @Zanah @Zanah @Zanah @Zanah”
Rara, Delya dan Firda serentak membalas chat Nadya “Nggak gitu juga kali,,,😑*”
Zanah hanya tersenyum melihat chat para sahabatnya itu. Senyuman tidak hilang saat melihat pesan spam dari Fikry. Kira-kira isi spamnya seperti ini.
Seketika senyuman yang tadi langsung hilang karena mengingat kejadian yang sempat terjadi antara mereka bertiga. Zanah berpikir mungkin Fikry menanyakan kabar dari Liza. Entah mengapa membuat hatinya berkecamuk.
Zanah membalas pesan dari grup chat dan Fikry dengan kata yang singkat, jelas dan padat.
“Nggak apa-apa!”
Para sahabatnya heran dengan jawaban singkatnya itu, tentunya juga dengan Fikry merasa heran dengan sikap Zanah kepadanya.
Pukul 05.00 subuh, Zanah bangun untuk melaksanakan kewajibannya untuk menunaikan shalat subuh. Tak terkecuali dengan Liza, ia pun terbangun saat melihat Zanah sudah siap dengan mukenah yang dia pakai.
“Aku mau shalat juga Zan,” ucap Liza dan dibalas senyuman oleh Zanah.
“Kalau begitu kamu segera wudhu aku akan menyiapkan mukenah untukmu,” Zanah bergegas mengambil mukenah di dalam lemarinya.
Semua orang melakukan shalat berjamaah bersama di ruang tengah. Dengan suara merdu dari Zaidan membuat yang mendengarnya takjub dan damai saat mendengarkan lantunan ayat suci yang di bacakan olehnya.
Selesai shalat subuh Zanah membereskan kamar dan membantu bundanya memasak. Liza pun tak mau diam dia pun mengikuti kemanapun Zanah pergi.
“Liz, mungkin sebentar siang aku, baru bisa mengantar kamu pulang yah,, soalnya aku harus ke sekolah dulu nggak apa-apa kan?” tanya Zanah saat itu di mereka berada di dapur.
“Nggak apa-apa kok, Zan. Aku mengerti kok!” jawab Liza dengan senyum manis.
****
__ADS_1
Tepatnya pukul 14.00 siang, Zanah, Liza, Ayahnya, bundanya, dan Fikry pun ikut serta untuk mengantar pulang Liza.
3 jam perjalanan dengan kecepatan sedang mereka akhirnya sampai di depan gerbang putih dan megah itu. Liza memang anak orang kaya yang berada tetapi dia anak tunggal dengan orang tua yang sangat super sibuk dengan pekerjaan sehingga Liza tidak diperhatikan sama sekali. Bahkan kemanapun Liza pergi orang tuanya tidak mencarinya sama sekali. Sehingga Liza pun harus mengalami pergaulan bebas yang telah dia alami. Tetapi setelah bertemu dengan Zanah hatinya pun terbuka melihat keharmonisan keluarga Zanah dan dalam hatinya paling dalam dia berjanji akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi dari sekarang.
Saat memasuki gerbang itu muncullah seorang satpam dengan melihat Liza ia pun tertunduk mempersilahkan mereka masuk.
“Selamat kembali nona Liza, dan silahkan masuk!” satpam itu menatap semua orang yang datang bersama Liza.
“Makasih, pak Maman.” ucap Liza santun dan tentu saja membuat pak Maman yang selama ini tidak pernah mendapat balasan salam dari Liza.
Akhirnya mereka semua berkumpul di ruang tamu saat itu. Para pembantu mempersilahkan mereka dengan jamuan yang telah di sediakan.
“Maaf, makanannya hanya seperti ini!” ucap Liza merendah.
“Tidak Liz, ini sudah lebih dari cukup malah.” ucap Zanah dan di anggukan yang lain.
“Nak Liza, orang tua kamu dimana nak?” tanya Zunairah.
“Maaf tante, mama dan papa memang jarang di rumah. Kadang mereka pulang saat malam hari saja, itupun kalau sempat. Karena kami punya rumah juga dekat kantor mama dan papa kerja.” jawab Liza dengan sedikit nada sedih.
“Begitukah? jadi kamu sendiri di sini?” tanya Zaidan.
“Tidak om, kadang ada bibi yang menemani aku, mereka berjumlah 3 orang dan umur mereka ada yang 20, 35, dan 45 tahun.” jawab Liza.
Mereka semua pun mengerti jawaban dari yang Liza ucapkan. Dan setelah berbincang-bincang mengenai keluarga Liza mereka pun berpamitan pulang. Tetapi sebelum pulang Liza mengatakan sesuatu.
“Om, Tante, Zanah, dan Fikry. Aku bisa kan kapanpun berkunjung ke rumah kalian lagi?” tanya Liza dengan senyum.
“Tentu saja nak..” jawab Zunairah dan dianggukan yang lain.
“Kapanpun, itu aku akan menantikan kedatangan mu okay?” ucap Zanah dengan memeluk Liza.
“Benar kata Zanah..” ucap Fikry dengan senyum.
Mereka pun naik ke atas mobil dan sebelum mobil itu pergi jauh Liza masih menatapnya dari belakang. Dengan bahagia dia mengatakan dalam hatinya “Beruntung aku ketemu mereka”.
.
.
.
.
“To be continued”
__ADS_1
😉😉