
“Bagaimana dengan kamu Zan?” Tanya Firda memecah lamunannya yang sangat penasaran dengan perasaan Zanah.
“Aku kenapa?” Tanya balik Zanah kepada Firda dan Nadya.
“Perasaan kamu, aku mau tahu apa kamu mempunyai perasaan dengan Fikry?” Tanya Firda dan ketiga sahabatnya juga sangat antusias ingin mengetahuinya.
“Nggak, aku sama Kak Fikry cuma sepupu dan teman bermain aku kok, biasa aja tuh” Jawab Zanah dengan sedikit nada gugup.
“Kamu nggak bohong kan Zan, aku tuh lihat kedekatan kalian kayak gimana dan nggak mungkin kamu nggak punya rasa sama dia” Kata Rara yang tidak kalah penasarannya.
“Ya, bener kata Rara, aku juga lihat kamu tuh punya rasa sama Fikry” Kata Firda menimpali.
Zanah terdiam memikirkan perasaannya apa selama ini dia punya rasa lebih terhadap Fikry apa tidak. Tetapi ia bingung karena selama ini bila bersama Fikry dia merasa nyaman.
‘Aku selama ini begitu dekat dengan kak Fikry tetapi aku nggak mungkin punya perasaan lebih kepadanya, tetapi aku juga nggak tau kenapa kalau kak Fikry lebih dekat dengan yang lain kadang hatiku cemburu. Ada apa ya? Aku bingung, ada apa dengan hatiku?’ Batin Zanah.
Ketiga sahabatnya hanya memandangnya dengan heran. Nadya dengan suara cemprengnya mengagetkan Zanah dari lamunannya.
“Zan, jawab dong pertanyaan kami. Kamu ada rasa nggak?” Tanya Nadya memukul pelan tangan Zanah. Dan Nadya tidak kalah penasaran lantaran ia punya rasa sama Fikry.
“Nggak Nad, aku nggak mungkin punya rasa sama kak Fikry” Jawab Zanah bimbang.
“Ya, nggak ada yang nggak mungkin Zan, bisa aja ya kan?” Tanya Delya tidak kalah penasarannya dengan ketiga sahabatnya.
“Tapi aku merasa biasa aja seperti itu kok” Jawaban Zanah langsung terdengar oleh Fikry yang tiba saat para sahabatnya menanyakan perihal perasaannya kepada Fikry dan dia langsung pulang saat mendengar jawaban Zanah.
“Kamu nggak beralasan kan?” Tanya Delya yang juga sangat penasarannya.
Zanah tidak bisa berbohong lagi, ia pun memberitahu kepada para sahabatnya itu, tentang perasaan yang ia tidak tahu apa benar dia punya rasa lebih apa hanya sekedar menganggap biasa saja kepada Fikry.
“Dengar, aku nggak tahu apa ini benar apa tidak, tapi yang jelas aku sangat nyaman bersama dengan kak Fikry. Tapi tentang rasa aku belum yakin, karena aku tuh nggak ada sama sekali dalam pikiran aku untuk punya rasa sama kak Fikry” Jawaban Zanah membuat para sahabatnya terdiam.
__ADS_1
“Tetapi Zan, terkadang perasaan itu muncul kapan aja loh, kita nggak tau kapan perasaan itu muncul. Terkadang saat kita sangat nyaman dengan seseorang kita bisa saja jatuh cinta kepadanya” Kata Firda membuat Zanah bimbang dengan hatinya.
Zanah menghela nafas perlahan, keempat sahabatnya melihat dirinya seperti belum yakin dengan dirinya sendiri.
“Udahlah, aku nggak mau bahas ini lagi, yang penting aku udah memberitahu apa yang ada di pikiranku” Kata Zanah dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Awalnya ia yang mengusulkan ide itu tapi dia sendiri yang malah bingung sendiri.
“Ya, udahlah tapi, saat kamu benar-benar ada rasa sama Fikry beri tahu kami ya, okay?” Kata Rara dengan senyum lebar.
“Ya, Zan beritahu kami, jangan tertutup sama kita” Kata Nadya dengan perasaan yang berkecamuk, karena sebenarnya dia punya perasaan terhadap Fikry tetapi ia tidak mengungkapkan karena tidak ingin persahabatan mereka jauh.
“Benar, aku setuju beritahu kami ya, aku akan marah jika kamu nggak beritahu kami” Kata Delya juga dengan perasaan yang sedikit aneh, karena sebenarnya ia sangat mengagumi Fikry, tetapi jika memang sahabatnya itu mempunyai perasaan dan Fikry pun punya rasa dia akan mundur tanpa mengatakan apapun tentang perasaannya itu.
“Nah, kami semua itu sayang sama kamu Zan, pokoknya jangan nutupin apa pun dari kita” Kata Firda dengan senyuman manis.
“Makasih ya, kalian baik banget sih. Umm... sini peluk yuk” Kelima orang tersebut saling melingkar dan memeluk satu sama lain.
“Belum selesai loh, sekarang giliran Nadya dan Delya” Kata Zanah.
“Aku mau Delya dulu deh” Kata Nadya.
“Ya udah, aku nggak tau ya, mau ngomong apa. Tapi, aku tuh kan banyak yang naksir terus banyak yang nembak aku. Aku bingung dong kan, aku nggak tau harus memilih siapa karena di sekolah kita itu nggak ada yang masuk dalam tipeku” Kata Delya dengan sedikit sombongnya.
“Hadeuh,,,” Kata keempat sahabatnya.
“Kami itu tanya masalah perasaan kamu, bukan malah ceritain tentang cowok yang nembak kamu” Kata Nadya dengan nada kesal.
“Emang nggak ada sama sekali yang terlintas dalam pikiran kamu, satu cowok yang nembak kamu?” Tanya Zanah.
“Nggak ada Zan, mereka bukan tipeku. Aku belum menemukan tipe aku yang sesungguhnya” Jawab Delya.
“Ada Zan, tapi dia nggak sama sekali melirikku, kalau kamu tahu mungkin kamu akan kaget” Batin Delya.
__ADS_1
“Haduh, kamu itu kebanyakan memilih ya” Kata Firda dengan tertawa.
“Ya, dong. Aku mau yang paling perfect gitu loh” Kata Delya dengan sombongnya.
“Kamu nggak akan dapat Del, karena semua manusia nggak ada yang sempurna” Kata Rara menasehati.
“Hem, tapi aku mau yang nggak terlalu jauh dari tipe aku, semoga aja aku menemukannya” Kata Delya sambil mengkhayal setinggi langit.
“Halu terus..” Kata Nadya.
“Sekarang kamu Nad” Kata Zanah.
“Aku juga nggak punya perasaan kepada siapa pun sekarang, karena aku tuh, nunggu oppa aku untuk jemput aku” Kata Nadya dengan senyum lebar.
“Ya ampun, ini lagi satu, ngatain orang halu terus dirinya yang halunya paling tinggi setinggi angkasa” Kata Delya menimpali dengan kesal.
“Aku tuh punya rasa lebih sama Fikry tahu, kalau kalian tahu kalian mungkin langsung pingsan saat ini, karena aku baik orangnya, ya udah lebih baik dipedam daripada di ungkapin walaupun ujung-ujungnya akan menjadi jerawat” Batin Nadya dengan senyum yang tidak bisa diartikan.
“Haduh, kalian mah, ya udahlah kalau kalian udah punya rasa kepada seseorang katakan aja ya pada kita semua okay, nggak boleh nutupin sama sekali” Kata Zanah dan mereka mengangguk bersamaan.
Pukul 17.00 Sore, mereka selesai mengobrol Setelahnya mereka izin berpamitan kepada Zunairah bunda Zanah, untuk pulang ke rumah masing-masing.
.
.
.
“To be continued”
Ada apa dengan Fikry?🤔
__ADS_1