Complicated Love Story

Complicated Love Story
_Nostalgia_


__ADS_3

Angin sepoi-sepoi yang kala itu mereka rasakan berdua, persis seperti sepasang kekasih yang sangat romantis. Tetapi tidak seperti kalian bayangkan.


🍃🍃🍃


Rara perlahan menceritakan tentang dirinya kepada Firda, bagaimana sebuah perasaan yang dia rasakan selama ini.


“Bagaimana dengan kamu Ra?” Tanya Firda memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arah Rara.


“Aku sebenarnya menyukai seseorang Fir, tapi hanya bisa aku pendam tanpa bisa ku ungkapkan” Jawab Rara menunduk kebawah melihat jari-jarinya.


“Siapa yang sudah mencuri hatimu Ra? biar aku tangkap dan kubawah ke hadapanmu” Kata Firda dengan nada yang sangat percaya diri.


Rara yang awalnya sedikit sedih menceritakan tentang seseorang yang disukainya, menjadi tertawa kecil membayangkan yang Firda katakan baru saja.


“Ada-ada aja kamu Fir, kamu nggak bisa nangkap dia” Kata Rara dengan senyum tipis dan sedikit terpaksa.


“Kenapa?” Tanya Firda.


“Dia sangat jauh Fir, kami udah beda kota” Kata Rara dengan nada sedikit sedih mengingatnya.


“Cuma beda kota kan, bukan beda alam. Santailah kalian masih bisa berjumpa lewat ponsel. Ya kan?” Kata Firda seperti seseorang yang berpengalaman saja menyampaikan nasehatnya. Padahal nasibnya sendiri tidak seberuntung itu.


“Kamu percaya diri banget Firda” Batinnya.


“Kami sudah tak sedekat itu lagi, kami udah sangat jauh banget” Kata Rara dengan ekspresi wajah yang sedih.


“Masalahnya kenapa coba?” Tanyanya lagi.


Belum sempat Rara menjawab tiba-tiba ponsel Fida dan Rara berdering ada video call.


“Siapa ya, kok ponsel kita berdua berdering?” Rara menanyakan kepada Fida.


“Lihat aja dulu Ra” Jawab Firda memegang ponselnya itu, lalu melihat nama yang tertera di layar.


“Zanah?” Tanya mereka kompak.


“Ngapain dia video call kita?” Tanya Firda yang belum menjawab Video call WhatsApp dari Zanah.


“Makanya angkat biar tahu” Jawab Rara dengan santainya.


“Assalamualaikum” Salam Zanah.

__ADS_1


“Walaikumsalam” Jawab keduanya.


“Kalian di mana?” Tanya Zanah yang sedang membolak-balik halaman buku yang dia pegang.


“Di hutan kota, ada apa Zan, tumben nih video call siang gini?” Tanya Rara lalu mematikan panggilan Zanah. Rara pun mendekatkan dirinya pada Firda.


“Hai Zan” Rara melambaikan tangannya kepada Zanah.


“Kok, kalian bisa bareng?” Tanya Zanah bingung.


“Sih Rara, ngikutin aku mulu kayak ekor” Kata Firda menaikan alisnya kepada Zanah.


“Enak aja, nggak-nggak. Aku tuh tadi numpang sama tukang ojek ini Zan” Kata Rara protes.


“Lu ngatain gue, tukang ojek?” Tanya Firda kini menghadap ke arah Rara.


“Emang siapa lagi, kumat lagi deh" Kata Rara dengan senyum lebar tanpa dosa.


“Astagfirullah, kalian ini ya, aku malah dicuekin” Kata Zanah dengan nada kesal.


“Yaelah, jangan ngambek gitu Zan” Kata Rara dan Firda kompak.


“Kalian lupa ya?” Tanya Zanah yang kini fokus kepada keduanya.


“Lupa, emang kami lupa apa ya?” Tanya Firda tidak kalah bingung.


“Kalian belum tua, udah pikunnya bukan main” Kata Zanah menepuk jidatnya.


“Biasalah Zan, kami ini manusia yang tempatnya salah dan dosa” Kata Firda.


“Wuih, mama Dedeh ceramah” Kata Rara dengan tertawa kecil.


“Haha, kalian ini ya, udah-udah jangan bercanda mulu” Kata Zanah menasehati mereka berdua.


“Emang ada apa sih Zan, kami benar-benar lupa. Kami keasikan berdua nih, ngobrol-ngobrol masa lalu yang teramat banyak kenangan yang terlewati dengan rasa yang hanya bisa dipedam tanpa diungkapkan, rasanya nyesek banget” Kata Rara malah curhat.


“Malah curhat sih Rara” Kata Zanah.


“Hehe, nggak apa-apa kalian doang” Kata Rara dengan senyum lebar sekali.


“Itu bibir bisa nggak, jangan lebar gitu. Nanti nggak bisa kembali lagi” Kata Firda melihat Rara dengan alis dikerutkan.

__ADS_1


“Bagus tuh Fir, biar orang lihat aku senyum terus, supaya nggak di bilang sombong” Kata Rara malah mengiyakan kata Firda.


“Ya udah, kalian lanjutkan. Aku pamit dulu” Kata Zanah.


“Ya kok gitu, kamu belum jawab kami lupa apa?” Tanya Rara sudah fokus ke Zanah.


“Ya Zan, jangan ngambek gitulah. Maaf nyuekin kamu” Kata Firda sudah fokus ke Zanah juga.


“Haha, apasih kalian, nggak gitu. Aku cuma bercanda, kalian lihat ini!” Kata Zanah menunjukkan buku pelajaran bahasa Inggris kepada mereka.


Keduanya langsung terkejut melihat buku pelajaran bahasa Inggris itu, lantaran besok ada pertunjukan drama perkelompok menggunakan bahasa Inggris.


“Ya ampun” Kata Rara dan Firda bersamaan.


“Udah ingat kan?” Tanya Zanah dengan tertawa melihat ekspresi mereka.


“Haduh, aku belum hapal dialognya lagi” Kata Firda mulai panik.


“Aku belum siap” Kata Rara memegang kepalanya seperti ekspresi seseorang yang depresi.


“Makanya hapal dong, udah cepat kesini biar aku ajarin” Kata Zanah dengan tertawa kecil.


“Okay Zan, aku on the way” Kata Firda dengan semangat.


“Aku hubungi mama aku dulu ya, nanti dia nyariin aku lagi” Kata Rara memegang ponselnya lalu menelpon mamanya.


“Gimana, mama kamu bilang apa?” Tanya Firda sudah menggunakan helmnya.


“Udah sip, kita berangkat” Kata Rara dengan tertawa.


Mereka pun bergegas berangkat ke rumah Zanah dengan kecepatan sedang, cerita masa lalu Rara harus tertunda lantaran Zanah menghubungi mereka.


Tunggu cerita selanjutnya.


.


.


.


.

__ADS_1


“To be continued”


~Melani Putria~


__ADS_2