
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
garvi masuk kembali ke dalam ruang meeting dengan wajahnya yang masam, membuat semua yang ada disitu tidak berani mengeluarkan sepatah katapun, sikapnya yang dingin dengan tatapannya yang nanar membuat yang lainnya merasa horor seketika, seakan mereka tengah menunggu giliran untuk di hukum di tiang gantungan.
garvi menarik kursi dengan kerasnya, hingga kursi itu terjatuh, seakan sedang melampiaskan amarahnya yang tengah bersarang dihatinya, dia mengamati sekelilingnya dengan ekspresi rahang wajah yang mengeras, menahan kegusarannya, dan membuat wajahnya yang tampan kini berubah menjadi tegas.
" apa rapat hari ini bisa ditunda ? " tanya garvi kepada Lisa, sekretaris keduanya.
sebagai seorang CEO perusahaan besar, dengan segudang kegiatan, garvi tidak bisa hanya memiliki satu sekretaris, jika dia hanya memiliki satu sekretaris saja, sudah di pastikan bahwa sekretarisnya itu akan kewalahan mengatur jadwal kerja garvi yang begitu padat, belum lagi jika sekretarisnyw sakit atau ijin tidak masuk kerja, bisa kacau semua urusannya.
" sebentar pak, saya cek jadwal bapak dulu " jawab lisa
garvi langsung menghardik lisa seketika itu juga
" kamu itu sebagai sekretaris tidak kompeten sama sekali, mengatur jadwal kerjaku saja tidak becus, ngapain aja kamu selama ini hah, dan kalian juga, laporan kerja macam ini, semuanya salah, tidak ada satupun yang bisa diandalkan, memangnya kalian pikir saya menggaji kalian, hanya untuk bekerja asal-asalan begini, dasar tidak beeguna " maki garvi
semua hanya tertunduk, tidak ada yang berani berbicara, masing-masing dari mereka keheranan melihat sikap garvi saat ini, memang garvi terlihat agak kaku dan tegas selama ini, tapi tidak biasanya dia marah tanpa alasan, karena sebelum laporan kerja mereka dipresentasikan, semuanya sudah diperiksa oleh garvi, apakah laporannya sudah benar atau belum, tapi lihat sekarang, setelah garvi menyatakan bahwa semua laporan mereka sudah benar semua, kini dia sendiri yang bilang bahwa semua laporannya itu salah, ada yang tidak beres kayaknya ?, sepertinya dia sedang kesal dengan hal lainnya namun melampiaskannya di ruang rapat ini, tapi semua hanya bisa menerima amarah dari bos nya itu, tentu mereka tidak ingin kan kalau sampai kena omelan lagi dari garvi, salah-salah mereka bisa dipecat, apa lagi kini emosinya tengah memuncak, yang ada nanti mereka malah jadi bulan-bulanan kemarahannya garvi.
" kalian buat ulangi lagi semua laporan ini, ingat, saya tidak mau ada kesalahan seperti ini lagi, bubar semuanya " perintah garvi
yang lainnyapun langsung bubar teratur, mereka berkasak kusuk membahas apa yang telah terjadi barusan, ghibran yang merupakan asisten pribadinya garvi plus sahabatnya itu, langsung menggeser kursinya kesebelah garvi yang tengah meremat tangannya dengan kencang, sehingga hampir melukai tangannya sendiri.
" kenapa lagi ? " tanya ghibran santai
" perempuan itu, aku sungguh tidak habis pikir dengan kelakuannya " jawab garvi
__ADS_1
ghibran hanya tersenyum tipis
" sudahlah, tidak usah dipikirkan " timpal ghibran
" bagaimana tidak dipikirkan, dia itu adalah sumber dari semua masalah ini ?, makin hari, tingkahnya makin menjadi-jadi " sewot garvi
ghibran melirik laptop garvi yang masih menyala dengan wallpaper seseorang yang juga sangat dikenalnya.
" nih.. kamu lihat saja foto dilaptopmu itu, aku yakin, itu bisa mengembalikan mood mu, ingat saja semua kebahagiaan yang kalian lewati selama ini, tunggu saja vi, aku yakin waktunya tidak akan lama lagi " nasehat ghibran
" oh ya jangan lupa malam ini, kita diundang ke acara peresmian gedung baru perusahaan adyatama " lanjut ghibran
garvi tidak menyahut, dia malah jadi melamun sambil memandangi foto wanita terkasihnya itu.
" vi ? " tanya ghibran
garvi hanya menoleh sesaat kearah ghibran tanpa memberikan jawaban apapun, untung saja ghibran sudah terbiasa menghadapi sikap garvi yang moodian itu, mereka sudah sangat lama berteman, sedari kecil hingga kini, walaupun status sosial mereka jauh berbeda, namun itu tidak menjadi jarak didalam persahabatan mereka.
ghibran memang terlahir dari keluarga yang serba kekurangan, ditambah ayahnya yang tega meninggalkan dirinya dan ibunya sewaktu dia kecil dulu, ayahnya lebih memilih wanita lain ketimbang ibunya, wanita yang sudah memeberikannya anak, hingga akhirnya takdir mempertemukan ghibran dan garvi, merekapun menjalin hubungan yang sangat akrab hingga kini, bahkan keluarganya garvi sudah menganggap ghibran sebagai bagian dari keluarganya, ibunya ghibran sudah meninggal sewaktu dia masih kecil, tak lama setelah ayahnya meninggalkannya, ibunya sering sakit-sakitan karena tekanan batin, dan hal itulah yang menjadi penyebab kematiannya, setelah lima tahun berjuang, pada akhirnya takdirlah yang memisahkannya denga ibunya untuk selama-lamanya.
semenjak itu, ghibran hidup sebatang kara, dan setelah dia bertemu dengan garvi, semuanya berubah, keluarga garvi membantunya dengan menyekolahkan ghibran hingga lulus kuliah, dan menanggung semua biaya pendidikan dan kebutuhannya sehari-hari, dan karena semua kebaikan yang diberikan oleh keluarga akhilendra, ghibran sangat bersyukur untuk itu, dan dia pun membalasnya dengan mencurahkan segenap jiwa raganya untuk mengabdi kepada keluarga yang sudah membantunya tanpa pamrih itu.
dan omongan yang keluar dari mulut ghibran barusan, berhasil menarik atensi garvi, kini dia jadi memperhatikan ghibran dengan serius.
" apa kamu sudah mengurusnya ? " tanya garvi
" tenang saja vi, sebentar lagi kita akan mengetahui siapa dalang dibalik kejadian waktu itu, aku yakin dia pasti hanya orang suruhan, serahkan saja padaku " jawab ghibran
" aku sangat percaya padamu bran, makanya aku selalu mengandalkanmu selama ini " ujar garvi pasti
" thank's atas kepercayaannya, by the way, kamu mau bareng aku nggak datang ke acaranya adyatama, oh ya aku lupa, kamu kan biasanya datang bareng sekretarismu itu, ya sudah aku duluan ya " ucap ghibran tanpa menunggu sahutan dari garvi
garvi pun keluar dari meeting room yang ada dilantai tiga, dia segera menuju ke ruang kerjanya yang ada dipuncak gedung, namun sebelum dia masuk ke ruangannya, dia menghampiri lisa terlebih dahulu.
" lisa, apa bisa kamu mengosongkan jadwalku beberapa hari, kurang lebih tiga hari ? " tanya garvi pada sekretarisnya
__ADS_1
" maaf pak garvi, biasanya kan yang mengatur jadwa harian bapak itu ibu tamara, sekretaris utama bapak, saya hanya menerima mandat saja dari bu tamara, karena hari ini beliau ijin, makanya ketika pak garvi tadi menanyakan jadwal bapak ke saya, saya tidak bisa langsung menjawab, saya harus menanyakannya dulu kepada ibu tamara " jawab lisa
garvi berdecak kesal, sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya.
" ok , oh ya, tolong jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan saya, saya sedang tidak ingin diganggu " lanjut garvi, ya... memang jika di kantor, garvi pasti akan berbicara menggunakan bahasa baku agar terlihat resmi, kecuali dengan orang-orang tertentu yang dianggapnya dekat, biasanya garvi akan berbicara dengan bahasa yang sedikit santai.
" baik pak garvi " jawab lisa, yang selanjutnya langsung sibuk mengurusi pekerjaannya yang tak kunjung selesai.
malam menyapa dengan diiringi bunyi rintik gerimis yang mengguyur kota venice hari ini, diterangi lampu-lampu jalanan yang menghadirkan suasana romantis, di sebuah gedung nan luas, tampak beberapa orang berkumpul dengan berbusana indah, sangat meriah, seperti ada pesta.
benar saja, rupanya malam ini, para usahawan, baik yang muda ataupun yang sudah berumur, sedang berkumpul dalam satu acara, ya... ini adalah acara peresmian gedung baru perusahaan adyatama, pesta besar yang menghadirkan orang-orang kenamaan dalam bidang perbisnisan.
namun, ditengah banyaknya kerumunan orang-orang, ada satu makhluk yang duduk menyendiri di bangku mini bar yang memang disediakan disitu, dengan memakai setelan tuxedo, tubuh atletisnya terlihat masculine dan berwibawa, dia tengah menikmati minumannya sendirian, dia tidak suka kebisingan seperti ini, tapi demi mempererat relasinya dengan para pengusaha lainnya, meskipun dengan berat hati, dia pun harus melakukannya, nggak usah ditanya lagi lah ya dia itu siapa, udah pasti lah CEO Garvi nan tampan dan rupawan.
" sendirian ?, biasanya ada nyonya ? " ledek ghibran yang sudah ikut nimbrung disamping garvi
begitulah ghibran, meskipun dia tau garvi pasti akan murka karena ledekannya, dia tetap saja melakukannya, terkadang hal itu malah menjadi hiburan tersendiri bagi ghibran, sahabatnya yang jarang tersenyum itu, memang harus di begitukan, supaya nggak kaku hidupnya.
Garvi memang tidak biasa datang sendiri ke acara seramai ini, biasanya dia selalu mengajak sekretaris utamanya itu, tamara, tapi hari ini, gadis itu sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya, dan hal itu pun membuat para wanita yang ada disitu berusaha menarik perhatian garvi, tentu mereka sudah paham betul siapa itu garvi, tapi sepertinya garvi tidak tertarik sama sekali, setiap kali ada wanita yang berusaha mendekatinya, garvi langsung mengeluarkan tatapan death glare nya, sebagai tanda bahwa dia tidak ingin di ganggu.
agak menyesal juga garvi tidak mengajak tamara, tapi mau bagaimana lagi, gadis itu sudah membuatnya bete seharian ini, jadi garvi putuskan untuk tidak membawa tamara ke acara ini, dia tidak ingin melihat gadis itu, dia sedang malas melihat tampang sekretarisnya itu, selalu saja membuatnya naik pitam.
" sudahlah, jangan bahas dia, aku sedang malas " jawab garvi
" sorry, habis, biasanya kan kalian lengket kayak perangko " ledek ghibran lagi, garvi hanya membalasnya dengan tatapan tidak sukanya, lalu dia menenggak lagi minumannya
" tau gitu, mending tadi kamu bareng aku vi " tawar ghibran
" it's ok, sepertinya aku harus membiasakan diri berada dikeramaian seperti ini " sahut garvi
" kamu nggak kepengen tuh nyamperin salah satu cewek yang dari tadi pada melototin kamu ?, lumayanlah buat teman malam ini " ajak ghibran sambil menatap para cewek yang tengah berusaha menggoda garvi dan dirinya
" mereka itu bukan tipeku, aku tidak akan membiarkan perempuan seperti itu menyentuh tubuhku " balas garvi tanpa memperdulikan wanita-wanita itu
ditengah perbincangannya dengan ghibran, tiba-tiba garvi melihat vandra yang turut hadir di acara itu, dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah seseorang yang ada disebelahnya, perempuan cantik dengan dress selututnya yang berwarna lavender, membuat tampilannya begitu mencuri perhatian disekitarnya, dia tersenyum dengan ramahnya menyapa yang lainnya, tak hentinya memamerkan senyuman manis miliknya, tangannya menggandeng mesra sebelah tangan vandra, dan vandrapun mengapitnya dengan begitu posesif.
__ADS_1
emosi garvi yang tadinya mulai mereda, kini kembali mendidih melihat pemandangan yang ada dihadapannya, gadis yang sangat dikenalnya itu, telah berbuat kelewatan dengan datang menghadiri acara ini, dia telah melanggar kesepakatan, dan itu akan menjadi mimpi buruk untuknya nanti.
🤗🤗🤗🤗🤗