
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
mobil ambulance sampai dirumah sakit, para staf yang ada disana bersiaga didepan, setelah garvi diturunkan dari mobil ambulance, para perawat itupun langsung membawa garvi ke ruang operasi, tidak ada waktu lagi, mereka harus segera mengambil tindakan untuk garvi.
" maaf pak ghibran, anda harus menandatangani surat persetujuan untuk operasi ini, agar pak garvi segera bisa kami tangani "
" saya tidak bisa menandatanganinya, saya harus menghubungi keluarga pak garvi terlebih dulu, karena merekalah yang berhak menentukan segalanya " ujar ghibran
" baiklah, tapi tolong cepat ya pak ghibran, ini sangat penting untuk penanganan tuan garvi " timpal suster
ghibran segera menghubungi keluarga garvi yang berada di inggris, mereka harus tau keadaan garvi yang sebenarnya, meski ghibran tau, garvi pasti akan memarahinya jika mengetahui apa yang dilakukannya ini, karena garvi tidak suka jika keluarganya ikut campur urusan pribadinya.
tapi ghibran tidak bisa tinggal diam saja, keadaan ini darurat, ghibran tidak bisa mengambil keputusan yang sangat riskan untuk garvi sendirian, salah sedikit saja, maka dia akan menanggung beban ini disepanjang hidupnya.
ghibran mengusap wajahnya frustasi, dengan bergetar, ghibran menghubungi keluarga garvi lewat sambungan telpon.
" hallo, maaf pak Artha Akhilendra, ini saya ghibran, maaf jika saya mengganggu anda tengah malam begini " ucap ghibran
" ada apa bran ?, tidak biasanya kamu menelpon selarut ini, apa ada masalah dengan garvi ? " tanya pak artha
" maaf pak artha, saya gagal menjalankan amanah bapak untuk menjaga pak garvi " sesal ghibran
" apa maksudmu bran ?, cepat katakan, jangan membuatku penasaran " desak pak artha
__ADS_1
" sekali lagi tolong maafkan saya pak artha, saya tidak tau harus memulainya dari mana, saya tidak bisa menjelaskannya secara rinci lewat telpon, ini soal pak garvi, saya harap bapak bisa tenang setelah mendengar apa yang akan saya sampaikan nanti " ghibran menjeda kalimatnya
" ada apa dengan garvi ?, seburuk apapun kondisinya, katakan dengan terus terang bran, jangan kamu tutupi, ini menyangkut anak saya, saya harus tau yang sebenarnya " potong pak artha
" pak garvi.. , beliau saat ini ada dirumah sakit, dan kondisinya kritis, pak garvi harus dioperasi sekarang juga, tapi pihak rumah sakit membutuhkan tanda tangan dari pihak keluarga pak garvi, agar operasi bisa segera dilakukan "jelas ghibran
" apa ?, mengapa kamu baru memberitahuku sekarang ?, ada apa sebenarnya ini bran ? " pak artha terkejut mendengar kabar anaknya barusan
" maaf pak artha, saya tidak bermaksud begitu, makanya ini saya langsung menelpon bapak " sahut ghibran
" begini saja, kamu tanda tangani saja surat persetujuan itu bran, karena kamu juga sudah menjadi bagian dari keluarga kami, jika harus menungguku untuk tanda tangan, itu terlalu lama, garvi tidak bisa menunggu selama itu, aku akan langsung segera kesana, aku percayakan semuanya kepadamu bran " titah pak artha
" baik par artha, saya akan melaksanakan perintah bapak " sahut ghibran hormat
pak artha langsung menutup telpon dari ghibran, dan membangunkan istrinya yang tertidur disebelahnya.
" sayang, bangun " ujarnya lembut
" hem... ada apa pah ?, memangnya ini sudah pagi ya ? " tanya bu shabia kepada suaminya.
" sayang, aku harap kamu yang tegar ya " ujarnya
" pah, ada apa ?, jangan bikin mamah khawatir, tidak ada hal buruk yang terjadi kan ? " tanya bu shabia
" mah, anak kita, garvi, dia kritis, dia membutuhkan kita mah, kita harus segera kesana " jawab pak artha
" apa ? " kagetnya
bu shabia langsung berurai air mata, sebagai seorang ibu, dia tidak bisa mendengar hal buruk tentang anaknya, perasaan khawatir melingkupi dirinya, dia sedih karena tidak bisa berada disamping putranya disaat genting seperti ini, pak artha langsung memeluk perempuan yang telah setia mendampinginya selama puluhan tahun ini.
" tapi mengapa itu bisa terjadi pah ?, apa yang terjadi dengan anak kita ? " tanyanya cemas
" sudah sayang, jangan menangis lagi, aku juga belum tau cerita lengkapnya, tadi ghibran hanya memberitahu bahwa garvi kritis, jadi kita harus segera ke milan "
__ADS_1
" pah, mengapa nasib anak kita malang sekali, belum selesai satu masalah, sudah datang lagi masalah yang lainnya " lirih bu shabia
" mamah harus tenang, jangan bicara seperti itu, ini adalah perjalanan hidupnya, dia harus menghadapinya, mamah sendiri kan tau, anak kita itu kuat, dia pasti akan baik-baik saja, sekarang bangunkan jennie, kita harus bergegas " suruh pak artha
pak artha menelpon salah satu pegawainya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
" hallo kenzie, segera siapkan jet pribadi saya, saya dan keluarga harus ke milan malam ini juga " perintah pak artha
" siap pak artha, saya akan segera menyiapkan jet pribadi bapak " timplanya
bu shabia bangkit dari ranjangnya, dia lalu menuju ke kamar anak bungsunya, jannie masih tertidur dengan pulasnya, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu, tidak terusik sama sekali dengan suara pintu kamarnya, yang dibuka oleh ibunya.
bu shabia mendekati anak gadisnya dan membelainya dengan penuh kasih sayang, dia jadi teringat kembali dengan garvi, dia tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian buruk seperti ini, anaknya yang sudah lama tidak dijumpainya, justru mengalami kondisi yang dia sendiri tidak tau seberapa seriusnya, anak sulungnya itu kini tengah bertaruh diantara hidup dan matinya, dan itu membuat hatinya pilu.
" jennie, bangun sayang " ujar bu shabia
" ada apa mah, jennie masih ngantuk nih " sahut jennie malas
" nak, kakakmu... dia kritis " balas bu shabia sambil terisak
jennie seketika terlonjak kaget, dia langsung membelalakan matanya yang sepet, karena tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
" mamah serius ? " jennie tak percaya
" iya sayang, ayo, kamu bersiap-siap, kita akan ke milan " suruh bu shabia
jannie mengangguk patuh, tak banyak yang dikatakannya kepada ibunya itu, meskipun dia juga sangat mengkhawatirkan kakaknya, tapi dia tidak boleh menunjukannya dihadapan mamah shabia, yang ada nanti mamahnya akan tambah sedih lagi, maklumlah namanya juga seorang ibu, mau keadaan anaknya baik ataupun buruk, seorang ibu akan selalu mengkhawatirkan anak-anaknya, dimanapun mereka berada.
keluarga garvi tengah mempersiapkan semua keperluan yang akan mereka bawa ke milan, sudah lama mereka tidak saling bertemu, semenjak peristiwa waktu itu, sebuah tragedi yang mengharuskan garvi menjauh dari keluarganya, demi mengejar orang yang dicintainya, garvi pun harus rela hidup berjauhan dengan keluarganya.
bukan garvi tidak mencintai keluarganya diinggris, tapi dia pun punya kewajiban terhadap kehidupannya sendiri, dan ini bukan pilihan yang mudah, namun seluruh keluarganya selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan garvi.
banyak orang mengira garvi begitu teganya meninggalkan keluarganya demi seorang wanita, padahal tidak begitu kenyataannya, walau tidak menutup fakta bahwa garvi memang tidak hidup serumah dengan keluarganya, namun itu pun atas persetujuan dari keluarganya, karena mereka lebih mengenal garvi dibandingkan siapapun, dia pria dewasa dan dia berhak untuk hidup mandiri.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗