
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
garvi mengambil mobilnya dengan terburu, dia jadi menyesal, mengapa tadi dia tidak langsung membawa mobilnya ketika dia menghampiri tamara, namun nasi sudah menjadi bubur, bukan saatnya untuk menyesal, ini adalah waktunya untuk berkonsentrasi untuk mencari tamara.
garvi berusaha secepat mungkin untuk mengikuti mobil van itu, dia tidak boleh sampai kehilangan jejak, dia tau tamara ada didalam sana, dia pasti tengah ketakutan, garvi harus bisa menyelamatkan gadis itu, bagaimanapun caranya.
jarak mobil garvi dengan mobil van itu cukup jauh, sehingga garvi kini kehilangan jejak, meski dia sudah berusaha sekuat tenaga mengerahkan skill mengemudinya, tetap saja dia tertinggal karena memang didaerah situ juga banyak belokan dan pertigaan, sehingga membuat mobil van itu bisa dengan mudahnya mengecoh garvi.
dia menepikan mobilnya, lalu menekan beberapa nomer diponselnya.
" ghibran, maaf aku mengganggumu malam-malam begini " ujar garvi
" tidak apa vi, kenapa ?, apa ada masalah ? " tanya ghibran cemas
" tamara diculik, aku sedang mengejarnya, tapi aku kehiangan jejak, tolong kamu cari mobil van yang menculik tamara, nanti aku kirimkan nomer plat mobilnya kepadamu, kalau bisa jangan terlalu lama, sebelum semuanya terlambat " jawab garvi sambil mengirimkan nomer plat mobil kendaraan yang membawa tamara.
ghibran langsung bergegas mencari keberadaan mobil van tersebut, rasa kantuknyapun langsung hilang setelah mendengar tugas yang diberikan oleh garvi tadi, sedang garvi sendiri terus mencari keberadaan mobil itu disekitaran situ, dia tau butuh waktu untuk ghibran menemukan mobil van itu, tapi tamara tidak bisa menunggu, dia harus segera ditemukan.
garvi bolak balik mengecek disetiap gang yang ada daerah itu, wajahnya semakin cemas karena tak juga menemukan mobil van yang membawa tamara, dia khawatir jika yang menculik tamara adalah orang suruhan yang dikirim oleh tuannya untuk menghancurkan dirinya.
" dimana kamu tamara ?, dasar payah, payah ! " maki garvi, lantaran kesal kepada dirinya sendiri
dia merasa berang, karena dirinya tadi terlalu lamban, sehingga penjahat itu berhasil membawa kabur tamara.
ghibran dengan susah payah melacak plat nomer kendaraan van itu, dia sudah memerintahkan antek-anteknya yang tersebar disegala penjuru untuk mencarinya, dia pun jadi ikut gelisah menunggu hasil dari pencariaan anak buahnya.
dia bahkan sudah menghabiskan beberapa gelas kopi karena saking tidak sabarnya menunggu kabar dari anak buahnya, tak lama ada sebuah chat yang masuk ke ponselnya, dia langsung membukanya.
" bos, saya sudah menemukan mobil van yang bos cari, saya akan kirimkan lokasinya kepada bos " isi pesan chat tersebut
ghibran langsung menelpon garvi yang juga sedang cemas memikirkan keselamatan tamara.
" vi, aku sudah dapat lokasinya, nanti aku kirim lokasinya ke kamu, kamu jangan gegabah, tunggu aku, aku yakin mereka pasti banyak " ujar ghibran
__ADS_1
" tidak bisa bran, kamu kirimkan saja lokasinya sekarang, nanti kamu bisa menyusul, aku akan duluan pergi kesana, aku tidak bisa mempertaruhkan nyawa tamara, orang itu pasti sengaja melakukan ini semua untuk menekanku "
tuut...tuut...tuut...
garvi memutuskan telponnya tanpa menunggu persetujuan dari ghibran, prioritas utamanya saat ini adalah tamara, tidak boleh terjadi apapun pada gadis itu, dia tidak bersalah, karena garvi yakin gadis itu tidak mempunyai masalah dengan siapapun, kalaupun ada ? apa alasannya ?, yang garvi tau selama ini, tamara tidak pernah berbuat sesuatu yang bisa membuat orang lain, punya alasan untuk melakukan hal ini padanya.
setelah sampai dilokasi yang diberitahukan ghibran, garvi memarkirkan mobilnya agak jauh dari tempat mobil van itu berada, dia berjalan mengendap-endap, menghampiri mobil van itu, diintipnya kedalam, dan persis seperti dugaannya, tidak ada siapapun di dalam sana.
kemudian garvi mlipir ke tembok gedung yang tak jauh dari mobil van itu di parkir, garvi dengan sembunyi-sembunyi masuk ke dalam gedung kosong itu, dia harus waspada, karena dia yakin didalam gedung itu pasti ada banyak orang.
" ah... !!! "
" tamara " lirih garvi
dia terperanjat mendengar teriakan tamara, dia langsung berlari menuju ke arah sumber suara tersebut, kali ini garvi sudah tidak berpikir panjang, terserah apa yang akan terjadi dengannya nanti, yang pasti dia harus segera menyelamatkan tamara.
garvi bergegas menuju ke arah suara tamara terdengar tadi, dia terperangah menyaksikan tamara yang sudah diikat di kursi dan dikelilingi empat pria bertato dan bertubuh besar.
" pak garvi " pekik tamara histeris
garvi menggeram dengan wajahnya yang memerah, dia murka melihat tamara yang diikat seperti itu, lalu tanpa banyak kata, garvi menerjang para penjahat itu, dengan kemampuan berkelahinya, mestinya dia bisa menghadapi para penculik tamara itu, karena didalam situ hanya ada empat orang saja.
dengan membabi buta garvi memukuli siapapun yang dapat dia raih, tamara yang melihat itu hanya mampu menangis, dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tangannya yang terikat, dia hanya bisa berdoa semoga saja garvi dan dirinya bisa keluar dengan selamat dari tempat ini.
akhirnya garvi pun bisa mengalahkan mereka semua, dengan tertatih garvi mendekati tamara dan membuka ikatan talinya, tanpa sadar, tamara langsung memeluk garvi, dengan erat, dia sangat bersyukur bahwa garvi baik-baik saja, walau ditubuhnya terdapat beberapa luka, dan garvi pun membiarkannya, karena diapun turut bersyukur, tamara tidak terluka sedikitpun.
" sudah tamara, ayo, kita harus bergegas pergi dari sini, sebelum teman-teman mereka datang kesini " ucap garvi
tamara mengangguk, diapun memapah garvi karena jalannya yang pincang, mereka berduapun berjalan keluar gedung itu.
baru saja beberapa langkah mereka keluar dari gedung itu, tiba-tiba para penculik yang lainnya mengepung mereka kembali, garvi menarik tamara ke belakang tubuhnya, dia sedang melindungi tamara dari jangkauan penjahat itu.
" kalian pikir bisa semudah itu keluar dari sini, jangan harap " ujar penjahat itu
" jangan sentuh dia, atau aku akan meremukan semua tulang kalian " ancam garvi
" ha...ha...ha...ha...ha.... !!! " mereka tertawa semua
" sepertinya dia sedang mabuk, apa kau tidak lihat jumlah kami berapa ?, kau hanya sendirian, mana mungkin sanggup melawan kami " ujar salah seorang dari mereka
" jangan remehkan kemampuanku " balas garvi
" pak garvi lebih baik pergi saja, mereka hanya menginginkan saya, cepat, selamatkan diri bapak " titah tamara
__ADS_1
" tidak tamara, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh sehelai saja rambutmu " sahut garvi
" ku mohon pak, lihat kondisi bapak saat ini, pak garvi tidak mungkin bisa mengalahkan mereka, jumlah mereka terlalu banyak, biarkan saja saya disini, jangan korbankan nyawa bapak hanya untuk saya " mohon tamara
garvi membalikan tubuhnya dan menangkup wajah tamara dengan kedua tangannya yang besar.
" kamu tidak usah mengkhawatirkanku, jika aku ingin membiarkanmu dibawa oleh mereka, tidak mungkin aku akan mengejarmu sampai kesini " tukas garvi
" bapak mengejar saya ? " tanya tamara terharu
" iya, aku kemari hanya untuk dirimu " jawab garvi
" tidak usah banyak bacot "
mendadak salah seorang dari penjahat itu langsung menendang garvi dari belakang, untung dia bisa menahan tendangan itu dengan tubuhnya, jika tidak, bisa dipastikan tamara pun akan terjatuh dengan keras ke tanah, karena tak kuat menahan bobot tubuh garvi.
mereka kembali beradu kekuatan, cukup sulit bagi garvi untuk bertarung sambil menjaga tamara, sebisa mungkin garvi menjauhkan tamara dari kepungan para penjahat, meski untuk itu dia harus menjadi tameng bagi tamara, tak jarang diapun terkena beberapa pukulan untuk melindungi tamara.
karena bertarung sendirian, garvi pun tak mampu menahan tamara lebih lama lagi, salah seorang dari bandit itu berhasil menarik tamara menjauh dari garvi, menyadari hal itu, garvi berusaha merebut kembali tamara, namun selalu saja dihadang oleh bandit yang lainnya.
tamara terus meronta sambil ditarik paksa oleh bandit itu, dia berusaha mempertahankan dirinya, tapi tenaga bandit itu jauh lebih kuat dibanding dirinya, tak habis akal, tamara menggigit tangan bandit itu agar melepaskan dirinya, akan tetapi bandit itu malah menghempaskannya ke tanah, dan tamarapun tersungkur dibuatnya, karena kerasnya benturan itu, darahpun keluar dari hidung tamara.
melihat itu garvi panik, dia sebisa mungkin melepaskan diri dari para berandalan itu, kewaspadaannya lengah karena dia terus memperhatikan tamara, hingga dirinya pun terkena pukulan lagi.
pria yang digigit tamara, begitu marah, dia mengambil sepotong kayu yang ada disekitar situ, dia mengayunkan kayu itu kearah tamara, dia sudah tidak peduli lagi dengan perintah tuannya, untuk jangan menyakiti tamara, perbuatan tamara tadi kepadanya, sudah membuatnya gelap mata.
dia megayunkan kayu itu dengan sekuat tenaganya
" buugghh.... " kayu itu pun menghantam keras ke arah punggung, tamara berteriak kencang, tapi garvi dengan sigap menghalangi kayu itu mengenai tamara, dan diapun mengorbankan tubuhnya demi untuk tamara, darah keluar dari mulut garvi, tamara kaget melihat garvi yang sebegitunya melindungi dirinya.
" pak garvi " lirih tamara
garvi hanya tersenyum, seakan memberi isyarat bahwa dirinya baik, meskipun pada kenyataannya tidak, dia tidak ingin tamara mengkhawatirkannya.
" tapi kenapa ? " tanya tamara
" karena kamu itu berharga " jawab garvi
melihat garvi yang tengah tertelungkup melindungi tamara, membuat leluasa para bandit itu untuk menghajarnya, merekapun tanpa belas kasih menghujani garvi degan pukulan dan tendangan, namun garvi tetap nerusaha menegakan badannya, lagi-lagi demi untuk melindungi tamara.
semua rasa sakit yang dirasakannya sudah tidak begitu terasa, dia mati rasa, lalu dengan perlahan pandangannya menjadi gelap, tidak ada lagi yang diingatnya, selain dari suara tamara yang terus memanggil-manggil namanya dengan perasaan cemas.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1