
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
tamara menaiki anak tangga yang akan mengantarkannya menuju ke ruang kerja garvi, tidak ada keraguan dihatinya, dia sudah memantapkan hatinya untuk menemui garvi, dia tidak bisa menundanya besok, masalah ini harus dibicarakan malam ini juga.
dengan perlahan, kakinya menapaki setiap lorong jalan yang mengarah ke ruang kerja garvi, hening, tamara tidak mendengar ada suara apupun disana, lambat laun dirinyapun makin dekat ke tempat tujuan, dan hanya tinggal beberpa langkah lagi, dia akan sampai di pintu ruang kerja garvi.
kini tamara tengah berdiri tepat didepan pintu ruang kerja garvi, dia tidak langsung mengetuk pintu itu, tamara menenangkan dirinya dulu, denyutan jantungnya terasa begitu cepat karena perasaan gugup yang melandanya, dia menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya, setelah dirasa cukup tenang, tamarapun mengetuk pintu itu dengan perlahan.
tok...tok...tok...
" pak garvi, apa kita bisa berbicara ? " tanya tamara
tapi garvi tak menyahutinya, dia tau tamara sudah pulang, karena dia melihat gadis itu dari balik jendela kaca ruang kerjanya, garvi hanya duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya yang menyangga pada meja.
" pak garvi " panggil tamara lagi
namun garvi pun tetap pada pendiriannya, dia tidak peduli dengan panggilan tamara, dan kini dia malah membalikan kursinya membelakangi pintu, dia enggan meladeni tamara.
tamara cukup sabar menunggu, dia tau kali ini dia yang salah, dia juga paham bahwa pria itu bukan hanya kesal kepada vandra, tapi juga pada dirinya, itu karena dia sudah melanggar kesepakatan yang telah mereka sepakati, tapi tamara sama sekali tak mampu menolak ajakan vandra, dia takut vandra akan curiga, kalau dia menolak ajakan vandra, dia belum berani mengatakan pada vandra yang sejujurnya, bahwa kini dia tinggal dikediaman garvi.
" saya tau bapak ada didalam, dan saya juga yakin bapak pasti mendengar suara saya " lanjut tamara
" baiklah, jika bapak tidak mau menemui saya, saya akan berbicara disini saja, saya mau minta maaf atas nama vandra, saya tau dia sudah kelewatan, tapi saya mohon tolong bapak pahami situasinya, dia begitu karena dia ingin membela saya, karena dia mencintai saya, tolong jangan salahkan vandra, salahkan saja saya, dia begitu karena saya, jadi saya adalah sumber masalahnya, bukan vandra, jadi saya mohon tolong anda jangan melakukan apapun terhadap vandra.
saya tau dengan kekuasaan anda, anda dengan sangat mudah bisa menghancurkan bisnis vandra, tapi sekali lagi saya mohon, jangan lakukan itu, jika sampai itu terjadi, saya akan merasa sangat bersalah, dan saya tidak akan bisa memaafkan diri saya sendiri, pak garvi dengar kan kata-kata saya barusan ? " celoteh tamara
tapi garvi tetap bungkam, dia hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan gadis itu dengan seksama, meskipun dia tidak ingin mendengarnya, namun tetap saja dia tidak punya pilihan selain mendengar ocehan dari tamara.
" saya juga ingin minta maaf kepada bapak, karena saya telah melanggar kesepakatan kita, maaf karena saya tidak bisa menolak vandra yang mengajak saya datang ke acara itu, saya belum mengatakan yang sebenarnya pada vandra, jadi sekali lagi, ini semua murni kesalahan saya.
mungkin pak garvi tidak akan mengerti mengapa saya sebegitunya terhadap vandra, itu karena saya sangat mencintai vandra, seperti vandra, saya pun akan melakukan apa saja untuknya, termasuk merendahkan harga diri saya seperti ini dihadapan bapak, bahkan saya harus memohon kepada bapak, demi untuk keselamatan vandra, karena saya tidak ingin terjadi sesuatu pada vandra, jika sampai hal buruk terjadi padanya, maka hidup saya akan hancur, saya bahkan rela mengorbankan nyawa untuknya, jadi tolong pak, tolong lepaskan vandra, dan sebagai gantinya, saya akan melakukan apa saja yang bapak suruh tanpa protes sedikitpun, itu janji saya " ujar tamara
__ADS_1
dia menyentuh pintu yang memisahkan antara dirinya dengan garvi, sebelum akhirnya meninggalkannya, tanpa tamara ketahui, garvi pun kini tengah bersandar dibalik pintu, dia memejamkan matanya, lalu bibirnya tersenyum miris mendengar semua perkataan tamara barusan.
" dasar gadis bodoh " ujarnya.
🤗🤗🤗🤗🤗
esoknya tamara bangun pagi sekali, seperti biasa dia menyiapkan sarapan untuk garvi, seperti yang dia lakukan selama ini, dia pun sudah berdandan dengan rapih, dia ingin kekantor hari ini, kasian lisa harus menghandle semua pekerjaannya, karena kemarin dia tidak masuk kerja.
tamara merapikan meja makan untuk sarapan garvi, semoga saja suasana hati pria itu sudah membaik, setidaknya satu hari ini saja tidak akan ada masalah, dari kemarin ada aja masalah yang tamara hadapi, mudah-mudahan hari ini semuanya berjalan dengan lancar.
" sudah non, biar saya saja " ucap salah seorang art dirumah garvi
" tidak apa , biar saya saja " balas tamara
" baik non " jawab art itu
setelah selesai menyiapkan sarapan garvi, tamarapun langsung menyiapkan jas yang akan dipakai garvi hari ini, dia menaruh baju itu di atas meja tempat menyimpan aksesoris dan dasi-dasi nya garvi, setelah itu tamara masuk ke kamar yang dia tempati bersama kalila di mansion garvi.
" dari mana ra ? " tanya kalila yang tengah menyisir rambutnya
" biasa, pekerjaan rutin " jawab tamara, kalila hanya membalasnya dengan senyuman karena dia mengerti apa yang dimaksud oleh tamara
" udah belum ? , ayo berangkat, tar takut telat " ajak tamara
kedua gadis itu pergi kekantor bersama, namun, ketika mereka sampai di pintu depan, sebuah mobil sudah menunggu mereka, lengkap dengan supirnya, supir itu membukakan pintu belakang mobil, membuat tamara dan kalila saling pandang.
" silahkam non " ujarnya
" saya ? " tanya tamara sambil menunjuk dirinya sendiri
" iya, ini perintah pak garvi, kata tuan mulai hari ini, nona harus naik mobil ini kemanapun nona akan pergi " jawab supir
tamara tidak membantahnya, dengan menurutnya, dia dan kalila langsung pergi meninggalkan kediaman garvi.
" mereka sudah pergi tuan " lapor nanna
" ya , aku bisa melihatnya " timpal garvi yang rupanya memantau tamara dari jendela kamarnya, dia sengaja menunggu tamara pergi, karena dia tidak ingin berpapasan dengan gadis itu.
" apa tuan akan sarapan sekarang, non tamara sudah menyiapkan sarapan untuk tuan " tawar nanna
" tidak, aku tidak ingin memakan masakannya, tolong buatkan lagi untukku nanna "
__ADS_1
nannapun segera pergi menyiapkan sarapan untuk garvi, selesai sarapan, garvi langsung berangkat ke kantornya, hari ini, dia harus melakukan banyak pekerjaan, dengan mobil mewahnya garvi menembus keramaian kota untuk sampai ke kantornya.
sesampainya di kantor, dia disambut oleh para bawahannya, semua pegawai berdiri dan memberikan salam kepada garvi, garvi hanya menganggukan kepalanya pelan, dia terus berjalan menuju ke ruang kerjanya.
tibalah dia di meja kerja sekretarisnya, tamara dan lisa berdiri memberikan salam juga kepada bos mudanya itu, namun garvi tidak menggubrisnya, dan itu membuat heran yang lainnya, karena biasanya garvi akan membalas sapaan tamara, dan merekapun mulai bergosip lagi tentang kejadian tadi malam.
merek yakin semua itu pasti gara-gara peristiwa itu, tamara hanya geleng-geleng kepala karena melihat kelakuan para pegawai disitu, bukannya mengurusi pekerjaan masing-masing, malah lebih suka mencampuri urusan orang lain.
tamara melihat garvi tidak memakai jas yang dipilihkannya, dan hal itu cukup membuatnya kecewa, dia merasa tidak nyaman dengan sikap garvi, seperti ada yang hilang, karena kini garvi mengabaikannya.
telpon di meja lisapun berbunyi, dan lisa langsung mengangkatnya
" iya pak, baik " ujar lisa menjawab telpon dari garvi
" ada apa ? " tanya tamara
" tidak tau, sebentar ya " jawab lisa
lisapun segeta masuk ke rungan garvi, tak lama kemudian lisa polun keluar dari ruangan itu.
" maaf bu tamara, tadi pak garvi bilang, mulai hari ini, jika ada sesuatu yang harus bu tamara laporkan pada pak garvi, bisa di wakilkan kepada saya, nanti biar saya yang akan menyampaikannya, pak garvi bilang, bu tamara dilarang masuk kesana " jelas lisa
tamara mengerti, pasti akan sulit buat garvi untuk langsung memaafkan dirinya, garvi pasti masih marah padanya, dan tamara harus menerima hal itu, tidak ada pilihan lain saat ini, selain bersabar menghadapi sikap acuhnya itu.
selama seharian penuh tamara tak melihat wajah garvi, pria itu sama sekali tidak keluar dari ruangannya, bahkan disaat makan siangpun, garvi meminta lisa untuk memesankan makanan untuknya dan langsung mengantarkannya ke dalam ruangannya.
bete juga tamara diperlakukan seperti itu, dianggap tidak ada, sebegitu muaknya kah garvi padanya, sampai enggan melihat wajah tamara, tamara jadi resah melihat tingkah garvi, setiap kali dia selalu memandangi pintu ruangan garvi, berharap pria itu keluar, tapi harapannya tidak menjadi kenyataan, garvi sepertinya betah sekali didalam ruangannya.
tak terasa waktu pun sudah sore, saatnya pulang kantor, hampir semua karyawan sudah pulang semuanya, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih lembur, tamara sengaja pulang agak belakangan, walaupun semua kerjaannya sudah selesai, dia sengaja menunggu garvi, meskipun dia tidak tau apa yang akan dilakukannya jika seandainya mereka bertemu nantinya, namun pria itu tak kunjung juga keluar.
" hai ra, ayo pulang " ajak kalila
" duluan aja lil, aku masih ada pekerjaan " tolak tamara
" jangan bohong, ayo kita pulang saja, tadi pak garvi menelponku, menyuruhku untuk mengajakmu pulang" jelas kalila
" begitu ya " sesal tamara
" udah, jangan sedih, masih ada hari esok kan " hibur kalila
tamarapun mengangguk setuju, tamara langsung mengambil tasnya dan mengikuti kalila yang menarik tangannya untuk pulang, garvi menyibakan tirai ruangannya, melihat tamara sudah pulang, diapun langsung membereskan mejanya, dan keluar ruangannya untuk pulang, ya ampun dah ini orang berdua, kayaknya lagi main petak umpet aja, pake acara kucing-kucingan segala ðŸ¤.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗