
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
kedua pria dewasa itu sama-sama saling mempertahankan ego mereka masing-masing, tidak ada yang mau menyudahi adu mulut ini, mereka tampaknya sudah tidak peduli lagi dengan sekitarnya, mereka hanya berfokus pada apa yang menjadi perdebatan diantara keduanya.
" van sudahlah, pak garvi itu sedang tidak sadar, kamu yang sadar seharusnya tidak usah meladeninya " oceh tamara, dia tetap berusaha menghentikan pertikaian ini, meski dia tau itu percuma, karena tampaknya, keduanya sudah terbawa suasana yang semakin memanas.
" tidak ra, dia harus diberi pelajaran " sahut vandra dengan menunjuk wajah garvi memakai telunjuknya
" kenapa anda diam saja pak garvi ?, apa anda sudah menyadari sesuatu ? " ledek vandra
" jangan senang dulu, permainan belum berakhir " balas garvi tak mau kalah
" memangnya anda punya nyali untuk melanjutkan permainan ini ? " tanya vandra lagi, tamara menarik baju vandra, membuat vandra menoleh ke arahnya, tamara menggelengkan kepalanya, dia meminta vandra untuk menghentikan kata-katanya.
" anda lihat ?, kekasihku ini sangat pengertian, meskipun anda sering memperlakukannya dengan buruk, tapi dia tetap menghormati anda sebagai atasannya, sampai-sampai dia meminta saya untuk menghentikan semua ini " lanjut vandra.
vandra dengan kelembutannya tersenyum manis kepada tamara, kemudian dia mengambil tangan tamara yang tergantung disisi kanannya, lalu menarik tangan putih tamara dan mendaratkan ciumannya ke punggung tangan tamara.
garvi hanya mengepalkan tangannya mendengar ejekan yang vandra tujukan untuknya.
" mengapa anda masih diam saja pak garvi, apa sekarang anda juga sudah tidak punya nyali ? " sambung vandra
" diam kau " ujar garvi
" mengapa anda menyuruh saya diam ? percuma saja, saya tidak akan diam lagi " sahut vandra
" sudah kubilang diam keparat " bentak garvi , tapi sepertinya vandra tidak mau mendengarkannya
__ADS_1
vandra tersenyum sinis, lalu melanjutkan ucapannya
" sudah saya bilang, saya tidak akan diam lagi, saya akan.... "
belum sempat vandra menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba garvi langsung mendaratkan pukulannya diwajah vandra.
" brengsek ! "
bugh.... vandrapun terhuyung karena efek dari kerasnya pukulan garvi tadi
" kurang ajar ! " teriak vandra membalas
dia langsung menghantam garvi dengan tinjunya yang mendarat ditempat yang sama dengannya, di wajahnya, dan kini keduanya saling mencengkram kerah kemeja lawannya, tamara yang melihat itu terpekik seketika, dia tidak menyangka mereka akan berkalahi ditempat ramai begini, di acara penting seperti ini lagi, tamara harus bisa menghentikannya, sebelum mereka merusak suasana pesta adyatama, dia tidak ingin urusan ini makin panjang, apa lagi banyak wartawan yang sedang meliput acara ini, dan kini mereka malah menjadi tontonan orang banyak.
" vandra, hentikan... ! " teriak tamara
tapi vandra malah mendorong kasar tubuh tamara ke lantai, tamarapun jatuh terduduk dengan kerasnya, yang pada akhirnya, hal itu justru membuatnya berhasil mengalihkan perhatian kedua pria, yang sebentar lagi sudah siap untuk baku hantam.
" tamara.. " vandra yang panik langsung menyongsong tamara yang meringis kesakitan
" maafkan aku, aku tidak sengaja " lanjut vandra sambil mengecek keadaan tamara
garvi membungkukan tubuhnya dihadapan keduanya.
" apa begini caramu memperlakukan wanita ?, dari sini kamu bisa berkaca, siapa pria sejati yang sesungguhnya, karena seorang pria sejati tidak akan menyakiti wanitanya dengan alasan apapun " kata garvi dan lalu pergi meninggalkan vandra dan tamara.
vandra tidak menyahuti omongan garvi, saat ini dia lebih mementingkan tamara dibandingkan apapun, urusan garvi, biar nanti dia selesaikan.
vandra membantu tamara berdiri
" apa ini ? sebenarnya kamu itu kenapa ? terus terang ya van, aku nggak suka sama sikapmu itu, aku tau pak garvi bukanlah orang yang ramah, dia juga sering memperlakukanku tidak adil, tapi setidaknya dia tidak picik kayak kamu, tapi kamu ? aku nggak nyangka, ternyata kamu itu kayak gini orangnya, aku tau kalau kamu tadi sengaja kan memancing amarah pak garvi, kamu tau, aku sangat benci pria seperti itu " cecar tamara
" tapi sayang, dia yang mulai duluan " bela vandra
" ini bukan masalah siapa yang memulai duluan van, tapi cara kamu membalasnya itu salah, aku tidak tau apa yang terjadi diantara kalian dulu, karena seperti yang kamu tau, aku tidak ingat kejadian selama lima tahun yang lalu, dan kamu sendiri juga tidak pernah mau mengatakannya padaku, tapi meskipun begitu, harusnya kamu tidak melakukan semua ini, bukan pak garvi yang pengecut van, tapi kamu, kamu sengaja memancing emosi pak garvi, agar supaya kamu terlihat baik dimata orang lain, dan agar orang-orang menyalahkan pak garvi, karena dia yang mencari masalah duluan ke kamu, aku kecewa sama kamu van, aku tidak percaya kamu bisa bertindak sejauh ini, bahkan kamu sengaja menjadikanku objek untuk memuluskan rencanamu itu, tega kamu van " jelas tamara
karena saking kesalnya tamara, diapun pergi meninggalkan vandra, meskipun vandra memanggilnya berkali-kali, tamara tak memperdulikannya, hatinya begitu sakit, dia merasa di khianati oleh vandra, bagaimana bisa vandra membuat dirinya terlihat sangat konyol dihadapan garvi, entah mengapa dia begitu kesal dengan pebuatan vandra, tamara merasa apa yang dilakukan oleh vandra itu berlebihan, dia tidak menyangka vandranya akan melakukan hal bodoh seperti itu, dia seperti tidak mengenali vandranya yang sekarang, karena vandra yang dia kenal dahulu adalah pria baik dan gentleman, tapi yang diperbuatnya malam ini telah melukai perasaannya sebagai kekasih vandra, pria yang selalu dia banggakan.
__ADS_1
sedangkan ghibran yang baru selesai melakukan aktifitasnya di toilet, hanya celingak celinguk kebingungan mencari keberadaan garvi, dia pun merasa aneh dengan suasana pesta adyatama yang berubah menjadi gaduh, tak tau persis apa yang sebenarnya terjadi, dia hanya mendengar nama garvi dan vandra yang tengah menjadi topik pembicaraan di acara itu.
🤗🤗🤗🤗🤗
garvi menabrakan mobilnya ke pagar mansionnya, dia tidak mau menunggu penjaga rumahnya untuk membukakan pintu pagar kediamannya itu, dan hal itu bukan hal aneh lagi bagi para pengawalnya, karena ini bukanlah yang pertama, itu sudah terjadi berkali-kali, kadang kasihan juga sama tuh pagar, salah apa coba dia di tabrak ampe berkali-kali, kalau itu orang, dah pasti langsung nangis bombay dah.
semua pegawai disana sudah sangat paham dengan perilaku atasannya itu, kalau majikannya sudah begitu, otomatis dia pasti tengah kesal dengan sesuatu, dan mereka tidak mau ikut campur, dari pada mereka menjadi sasaran, lebih baik mereka diam saja, dan menunggu perintah dari bosnya itu.
garvi membanting pintu mobilnya dengan keras, saat ini dia tengah berada dipuncak kemarahannya, dia langsung saja melewati para penjaga rumahnya, kalila dan nanna yang berbaris rapih diluar untuk menyambut kedatangannya, tapi garvi hanya diam saja, sama sekali tidak menganggap mereka ada disitu, meskipun para pegawai dirumahnya menyapanya dengan hangat, jangankan menyahut, dia bahkan tidak memelankan jalannya sama sekali, nanna yang sudah hapal betul dengan karakter garvi, hanya diam saja dan menyuruh yang lainnya untuk kembali ke pekerjaannya masing-masing.
garvi masuk ke ruang kerjanya, dia membanting semua barang yang ada disitu, ditendanginya semua perabotan yang ada didalam ruang kerjanya, dadanya begitu bergemuruh karena tak sempat meluapkan semua amarahnya tadi.
" Kivandra Gunandhya, tunggu saja pembalasanku " geram garvi sambil memukulkan tangannya pada kusen jendela, matanya masih berapi-api karena bara didalam hatinya yang tak kunjung padam, dia menatap lurus ke arah jendela yang berada tepat diatas pintu masuk mansionnya.
tak lama tamarapun menyusul garvi pulang, gadis itu berlari kecil masuk ke mansion garvi, ada perasaan khawatir di hati tamara, meski dia sendiri bingung, untuk siapa perasaan khawatirnya itu, apakah dia sedang mengkhawatirkan bos nya itu atau dia tengah mengkhawatirkan vandranya yang sepertinya sudah berubah sifatnya.
" lil, kamu lihat pak garvi nggak ? " tanya tamara yang kebetulan melihat kalila yang sedang duduk diruang tamu bersama nanna
" ada apa sih ra, keliatannya pak garvi lagi emosi banget, horor tau " jawab kalila
" nanti deh aku ceritain, pokoknya kamu kasih tau aku dulu, dimana pak garvi sekarang ? " tanya tamara lagi
" kayaknya tadi dia ke ruang kerjanya " jawab kalila
" sebaiknua non tamara jangan menemui tuan dulu, percuma, saat ini, tuan pasti tidak akan mendengarkan siapapun, kalau memang nona ingin bicara dengan tuan, lebih baik besok saja " cegah nanna
" iya ra, aku lihat tadi pak garvi mukanya suntuk banget, yang ada nanti kamu malah jadi pelampiasan amarahnya " sambung kalila
" tidak lil, nanna, aku harus bicara dengan garvi saat ini, aku juga sudah siap menerima semua amarahnya pak garvi " sahut tamara
" jangan nekat kamu ra " bujuk kalila
" aku tau apa yang aku lakukan, tolong, percaya saja sama aku ya lil " ucap tamara yang sepertinya sudah bertekad ingin menemui garvi, apapun resikonya.
nanna dan kalila hanya bisa saling pandang mendengar kata-kata tamara, gadis itu memang sangat berani, mereka tidak bisa berbuat apapun, selain hanya bisa berdoa, semoga apapun yang akan dikatakan tamara ke garvi, akan menyelesaikan masalah yang sedang terjadi, bukan malah akan menambah masalah yang ada, bisa tambah ruwet nantinya.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1