
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
seharian ini vandra tidak bisa tenang sama sekali, hatinya resah memikirkan bagaimana caranya memperbaiki hubungannya dengan tamara yang sudah terlanjur retak ini, dia ingin secepatnya dapat menyelesaikan semua masalah ini, dia rindu gadisnya, karena selama ini dia sudah kecanduan dengan kehadiran tamara disetiap hari-harinya.
frustasi karena tidak mendapatkan ide, dia pun menjambak rambutnya dengan kasar, mukanya kusut bak baju yang belum disetrika, ini masalah besar baginya, dia ingin gadisnya kembali, namun dia sendiripun tidak dapat menemukan cara yang tepat untuk bisa mendapatkan kembali cintanya tamara.
bila mengingat peristiwa itu, dia jadi blingsatan sendiri dibuatnya, dia marah pada dirinya sendiri, mengapa dia tidak pernah bisa mengendalikan amarahnya, dia selalu menyalahkan garvi karena mengganggap bahwa garvi berbuat semena-mena terhadap tamara, tapi apa yang dilakukannya ini lebih parah.
meski garvi sikapnya menyebalkan, tapi semarah apapun dia pada tamara, pria itu tidak pernah merendahkannya, dan semua itu dia ketahui sendiri dari tamara, tapi dia ?, yang katanya sangat mencintai tamara, justru tega memaki tamara dengan perkataannya yang kotor.
walau mungkin dia sangat menyesalinya, tapi... masih adakah jalan untuk kembali ?, kalaupun ada, bagaimana caranya ?, permohonaan maaf saja rasanya tidak cukup untuk mengobati hati tamara yang sudah terkoyak, dia memang punya tekad kuat untuk mengembalikan tamara padanya, dan tidak akan menyerah sampai gadis itu mau menerimanya kembali, tapi... apakah modal itu saja cukup untuk merayu tamara agar mau kembali padanya, sementara dia telah menebar kepedihan didalam hidup tamara.
pusing karena tidak menemukan ide, akhirnya dia memutuskan untuk langsung menemui tamara, urusan tamara mau menemuinya atau tidak itu belakangan, yang penting dia harus berusaha untuk bisa membuat tamara mau menemui dirinya dan memaafkannya.
vandra mengendarai mobilnya dengan perasaan campur aduk, dia tidak tau apa yang akan terjadi nanti, di hubungi lewat ponsel saja tamara tidak mau mengangkatnya, apa lagi jika sampai bertemu dengannya, tapi apapun itu, vandra sudah siap untuk menghadapinya dengan sabar, mobil vandra sudah sampai didepan gerbang rumah garvi, diapun turun dan menghampiri para penjaga.
" saya ingin bertemu tamara " ujar vandra
" maaf pak, tuan garvi sudah memerintahkan kami, untuk melarang anda masuk " timpal penjaga
" saya kesini, bukan untuk bertemu garvi, tapi ingin menemui tamara, kekasihku, mengerti ? " tekan vandra
" tidak bisa, itu adalah perintah tuan garvi " sahutnya
" kalian buka pagar ini sekarang, atau saya akan berbuat nekat " gertaknya
" silahkan saja, kami tetap tidak akan mengijinkan anda masuk, apapun yang terjadi " ujar penjaga itu
__ADS_1
vandra sudah gerah karena tidak berhasil membuat penjaga rumah garvi membukakan gerbang untuknya, diapun masuk kembali ke dalam mobilnya, lalu dengan kecepatan penuh, vandra menabrakan mobil mewahnya ke pagar rumah garvi, pagar itupun ambruk plus mobilnya vandra pun rusak parah, saking kerasnya benturan itu membuat airbag mobilnya terbuka, dengan susah payah vandra keluar dari mobil, meskipun dia terlihat baik, namun dibeberapa bagian tubuhnya ada yang luka memar akibat dari benturan tadi, vandra langsung lari masuk ke dalam mansion garvi dan mencari tamara.
" tamara, ayo keluar sayang, kita harus bicara " teriaknya sambil berkeliling didalam rumah vandra, mencari keberadaan tamara.
meskipun seluruh pengawal garvi mengejarnya, vandra tak perduli, dia bahkan memukuli beberapa anak buah garvi yang berusaha menghadang jalannya, dia sudah tidak memikirkan apapun, selain bisa bertemu dengan tamara, jika tamara mau menemuinya, maka semuanya bukan masalah lagi baginya.
hingga akhirnya dia membuka pintu sebuah kamar, dia begitu syok melihat situasi yang ada didalam sana, tamara yang ingin ditemuinya, ternyata tengah diinfus disana, entah apa yang terjadi padanya, sehingga gadis itu terbaring dengan wajahnya yang pucat.
perlahan vandra mendekati tamara, namun anak buah garvi langsung mencengkram tangannya dan mencegahnya masuk, mereka membawa paksa vandra keluar dari kamar tamara, mereka menggiring vandra dengan kasar, dan vandra pun tak tinggal diam, dia terus meronta, ingin membebaskan diri, dia terus berteriak memanggil-manggil nama tamara, namun anak buah garvi tetap berusaha untuk sesegera mungkin mengeluarkan pria itu dari mansion garvi.
tentunya mereka tidak ingin jika peristiwa ini membuat mereka kehilangan pekerjaan, karena dianggap tidak becus menjalankan perintah tuannya, hingga akhirnya sebuah suara menghentikan mereka.
" lepaskan dia, biar aku nanti yang akan bertanggung jawab terhadap pak garvi, pergilah, ada yang harus kami bicarakan " ujarnya
ternyata suara itu berasal dari tamara, entah sejak kapan dia sadar, tau tau dia sudah ada disitu, dia berdiri tertatih sambil satu tangannya memegangi tiang infusannya, untuk menopang tubuhnya, dengan kondisinya yang masih lemas, tamara berusaha tegar menghadapi vandra.
semua anak buah garvi bingung harus bagaimana, mereka tidak berani mengambil keputusan, mereka takut jika tuannya akan murka jika mereka melepaskan vandra, hingga akhirnya nanna pun datang.
" sudah ,biarkan saja, nanti saya yang akan mengatakannya pada tuan garvi, kalian kerjakan saja yang lainnya " titah nanna
" baik nyonya " kata salah satu anak buah garvi
" katakan, apa lagi yang kamu mau dariku ?" tanya tamara tanpa basa basi
vandra memandang iba ke arah tamara, dia tau gadisnya itu sedang menahan rasa sakitnya demi dirinya, ada perasaan haru yang melingkupinya, dia merasa semakin bersalah karena telah mencela gadis sebaik dan selembut tamara.
" kenapa diam ? , jika tidak ada, pergilah " usir tamara
vandra langsung tersadar dari lamunannya, dia melangkah ingin mendekati tamara, tapi gadis itu malah menghentikannya, dia memasang jarak untuknya, meski tidak jauh, tapi bagi vandra, jarak ini bagaikan jurang yang telah memisahkannya dengan tamara, dimana di jurang itu tidak ada jembatan untuk bisa membuatnya melewati celah jurang itu dan mendekati tamara.
" maaf " hanya kata itu yang mampu lolos di bibir vandra
" aku sudah memaafkanmu " sahut tamara, dia langsung membalikan tubuhnya, membelakangi vandra
" bukan itu maksudku ra, aku yakin, kamu tau apa yang aku maksud " ujarnya
tamara menoleh
__ADS_1
" aku tidak mengerti maksudmu " elak tamara
" ini soal kejadian semalam " vandra meremat tangannya karena kehilangan kata-kata
" aku sudah melupakannya, kamu sudah mendapatkan maafku, untuk itu kan kamu datang kesini ? , jadi pulanglah, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau " ucap tamara getir, dia menggigit bibirnya, karena tak sanggup melanjutkan ucapannya.
" tidak ra, aku tidak akan pergi dari sini, sampai kamu benar-benar memaafkan aku dengan sepenuh hatimu " lanjut vandra
tamara tak kuasa menahannya lagi, kali ini diapun mulai bereaksi
" apa sih maumu van ?, aku sudah memaafkanmu, dan itu belum cukup juga
bagimu, apa lagi yang kamu inginkan dariku, hah , apa ?, aku tau kamu sengaja kan ?, kamu tau betul kalau hatiku ini mudah luluh dihadapanmu, kamu sengaja melakukan ini kan ? " omel tamara
" aku bisa memaafkan semua kesalahanmu, tapi tidak kali ini, apa kamu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan, kamu menghinaku sampai aku tak mampu lagi menemukan alasan untuk bisa kembali padamu, aku tau aku masih mempunyai perasaan kepadanmu, tapi kali ini, aku tidak akan lemah lagi kepadamu " sambung tamara
" aku tidak mau lagi mengalah, yang kamu hina ini, bukan orang lain vandra, tapi kekasihmu sendiri, orang yang selama ini mencintaimu, apa kamu tidak merasakannya ?, bagaimana bisa kamu tidak peka ?.
mungkin aku bisa memaafkanmu, jika kamu hanya menuduhku selingkuh, aku bisa memaafkanmu, meskipun hatiku sakit karenanya, tapi ini, kamu menuduhku sebagai wanita murahan, entah kamu menyadarinya atau tidak, setelah mendengar kata-katamu waktu itu, aku baru sadar, kalau ternyata selama ini, kamu tidak setulus itu padaku, seharusnya kamu berpikir, jika kamu saja tidak aku ijinkan untuk menyentuhku, apa lagi orang lain " sentak tamara sambil menangis
" ya, aku tau aku salah " sesal vandra
" tapi aku rasa, semuanya sudah terlambat van, meski kamu tau kamu salah, dan bahkan mungkin saat ini kamu sangat menyesalinya, kamu tidak bisa menarik kembali ucapanmu itu, tapi aku harus berterima kasih padamu, karenamu, akhirnya aku paham, seberapa berartinya aku untukmu, dan jawabannya adalah tidak ada, aku bukan apa-apa untukmu,
kamu mungkin akan menyangkalnya, tapi itu kenyataannya, karena pada akhirnya aku tau, selama ini kamu tidak bisa mencintaiku tanpa pamrih, rupanya selama ini kamu mengharapkan itu dari hubungan kita, jika kamu benar mencintaiku, kamu tidak akan merusak kehormatanku, aku pikir kamu beda dari pria lainnya, tapi aku salah, itu memang salahku, aku salah karena aku tak mampu mengenali dirimu karena dibutakan oleh cintaku,
aku tidak bisa memberikan apa yang kamu mau, karena aku hanya akan mempersembahkan itu untuk suamiku, laki-laki yang sepenuhnya berhak atas diriku, sudahlah, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, aku lelah " cecar tamara
vandra hanya membeku, dia tidak bisa mengelak dari semua yang dikatakan tamara, meski tak semuanya benar, tapi pada intinya, memang itulah yang terjadi, memang selama ini tamara tidak pernah mau berhubungan lebih jauh, sebelum adanya pernikahan, dia sangat menjunjung tinggi kehormatannya.
vandra mengakui selama mereka pacaran, pernah dia meminta hal itu, tapi tamara tidak pernah goyah dengan pendiriannya, dia tetap mempertahankan kehormatannya.
sebenarnya vandra menghormati keputusan tamara, bahkan dia bangga dengan keputusan tamara itu, selama bertahun-tahun mereka bersama, vandra tidak pernah lagi membahas hal itu, dia menerima tamara apa adanya, tapi ketika dia mendengar tamara tinggal bersama garvi, dia langsung kalap, apa lagi tamara tidak mengatakan persoalan sepenting ini kepadanya, kecemburuannya telah menutup akal sehatnya.
vandra tidak bisa menerima tamara yang hidup bersama garvi, sebagai laki-laki dia merasa terhina, karena ternyata tamara lebih memilih tinggal bersama garvi dibandingkan dirinya, yang notabenenya adalah kekasihnya, tentu dia yang lebih berhak dibanding garvi, dia tidak terima kalah dari garvi, dan gara-gara itu pula, kini dia harus menerima balasan dari semua perbuatannya.
vandra mengepalkan tangannya, dia meredam emosinya yang tertahan, dia tidak bisa menerima jika tamaranya menjauhi dirinya, dia tidak bisa membayangkan akan melalui hari-hari sepi tanpa keceriaan dari tamara, mungkin hari ini dia sudahi saja pembicaraan ini, biar tamara tenang dulu, nanti jika tamara sudah tenang, mungkin dia bisa berbicara lagi dari hati ke hati, semoga ketika itu terjadi, tamaranya sudah bisa memaafkan dirinya dengan tulus, dan kembali merajut tali asmara yang sudah terputus ini.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗