
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
Perkelahian antara garvi dan vandra menjadi topik hangat diseluruh kota venice, bagaimana tidak ? selain dari hebohnya pertikaian itu, ada sesuatu yang menarik disana, yang tak kalah menghebohkannya dari berita itu, yaitu, inilah untuk kali pertama seluruh kota venice melihat wajah asli garvi, pria yang selama ini hanya mereka kenal dari mulut ke mulut, kini dengan sangat jelas bisa mereka lihat di media manapun, baik media tulis ataupun media elektronik.
kaum hawa hanya berteriak histeris karena ternyata apa yang mereka bayangkan tentang garvi, melebihi ekspektasi yang ada di daya khayal mereka selama ini, dan berita ini pun, tak luput dari pantauan garvi, meskipun dia agak risih, namun itu bukan masalah besar lagi buatnya, justru yang membuat masalah baginya adalah si kurang ajar vandra, dia menyesal mengapa waktu itu dia tidak menghajar habis-habisan wajah vandra, agar pria itu sadar akan kedudukannya, pria itu tidak pantas disebut sebagai laki-laki.
" garvi, aku menunggu telpon darimu dari semalam, apa aku tidak perlu melakukan sesuatu untuk berita ini ? " tanya ghibran yang kini tengah berada diruang kerja garvi
" biarkan saja, berita omong kosong itu tidak akan bertahan lama, paling hanya akan menjadi euforia sesaat, nanti juga mereka melupakannya " jawab garvi
ghibran tertawa meledek
" vi, kamu pikir, ini berita tentang selebritis yang memang penuh kepalsuan, kita berbicara tentang nama besar keluargamu, Garvi Akhilendra, pria paling populer diabad ini, pewaris utama perusahaan akhilendra group " lanjut ghibran dengan candaan konyolnya
" konyol sekali, mau kucongkel matamu itu hah ?, memangnya kamu pikir aku ini apa ? sudahlah, jangan membuatku ingin muntah mendengar ocehan ngelanturmu itu " ucap garvi sambil menggelengkan kepalanya geli mendengar ucapan ghibran
" sepertinya aku harus pergi dulu dari kota ini, biar suasana disini kondusif, lagi pula, ada urusan yang harus kita selesaikan bukan, dan ini adalah masalah penting, siapkan tiket pesawat, kita akan ke paris, kita harus menemui orang itu, setelah itu, baru kita tau siapa lawan kita yang sesungguhnya " lanjut garvi, wajahnya yang tadi santai, kini berubah jadi serius
" baiklah kalau begitu, aku pergi dulu, aku harus mempersiapkan semuanya " pamit ghibran
garvi mengangguk
🤗🤗🤗🤗🤗
tamara menatap layar ponselnya yang sudah dipenuhi notifikasi, dan kesemuanya dari vandra, tamara membiarkannya, dia masih marah dengan vandra, kali ini vandra sudah membuatnya sangat kecewa, meskipun dengan alasan membela dirinya, harusnya vandra tidak menjadikannya sebagai umpan untuk memancing garvi, dia merasa terhina atas perlakuan vandra kepadanya, kalila yang ada disampingnya hanya memperhatikan saja tingkah sahabatnya itu.
" kenapa nggak diangkat ? " tanya kalila
" males aku " jawab tamara singkat
kalila mengangkat alisnya heran
" sejak kapan seorang tamara males ngangkat telpon dari vandra, biasanya kan mau sesibuk apapun, kamu pasti langsung mengangkat telpon darinya, lagi berantem ya ? " canda kalila
" apaan sih lil ? awas ya " balas tamara sambil menyubit pinggang kalila, gadis itu hanya meringis kesakitan
" tapi menurutku, lebih baik kalian bicara, tidak baik membiarkan masalah ini berlarut-larut " saran kalila
tamara diam, dia sedang berpikir, tapi anehnya bukan vandra yang kini mengisi pikirannya, tapi garvi, kebungkaman garvi seharian ini, berhasil membuat tamara merasa gelisah, mungkin karena saking terbiasanya mereka berinteraksi sehari-harinya jadi tamara merasa sedikit aneh ketika seharian ini garvi sama sekali tidak berkomunikasi dengannya.
__ADS_1
ditengah lamunannya, sayup-sayup tanara mendengar suara kegaduhan yang bersumber dari depan rumah garvi, karena penasaran kalila dan tamarapun keluar dari kamarnya untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi.
" garvi, keluar kau bajingan ! " teriak vandra diluar
" ayo , keluar pengecut ! " gertak vandra lagi
tamara yang keluar lebih dulu, langsung menemui vandra, yang sudah berkacak pinggang menantang garvi.
" apa-apaan sih kamu van, jangan bikin malu " omel tamara
" hei garvi akhilendra, tunjukan dirimu, ayo hadapi aku ! " teriak vandra, kali ini dia menendang pot tanaman yang ada dihalaman rumah garvi, pot itupun pecah dan kepinganya berhamburan di lantai, maklum pot tanamannya terbuat dari barang pecah belah, sehingga mudah pecah.
" jangan gila kamu van " cegah tamara
" iya, aku memang sudah gila, lalu kamu mau apa hah ! " bentak vandra kepada tamara
tamara mundur satu langkah karena kaget melihat vandra yang menatapnya dengqn tatapan menghina, tamara tidak siap menerima bentakan dari vandra, karena saking kagetnya tamara hampir jatuh terlentang, kakinya menyandung batu yang berada dibelakang tumit kakinya, namun dengan sigapnya, sesosok tubuh perkasa segera menangkap tamara, dia menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi tamara.
tamara menolehkan kepalanya kebelakang, dan dilihatnya garvi yang ternyata menyelamatkannya tadi, tamara langsung membenarkan posisi berdirinya, dia tidak mau vandra semakin salah paham.
" beginikah kepribadianmu yang sesungguhnya ?, bisanya hanya menyakiti wanita saja, kalau memang kamu jantan, hadapi aku " balas garvi
" kamu pikir, aku datang ke rumahmu untuk bertamu, aku kesini ingin menantangmu untuk duel, kita selesaikan urusan kita yang tertunda " ungkap vandra dia langsung melinting kemejanya untuk bersiap berkelahi dengan garvi
seluruh pengawal garvi berkumpul untuk menjaga majikannya itu, mereka sudah siap membuat barikade untuk menghadang vandra, namun garvi menginstruksikan bawahannya itu untuk mundur, dia ingin menghadapinya sendiri, tidak ada yang boleh ikut campur.
"mengapa kau diam, ayo sini hadapi aku, bukankah kau juga ingin menuntaskan urusan kita " ujar vandra lantang
" aku tidak mau meladeni pria rendahan sepertimu " sahut garvi
vandra sudah sangat geram, menyaksikan garvi yang sok tenang, dia tidak bereaksi sama sekali, dia langsung mengahajar garvi habis-habisan, begitu juga dengan garvi, dia pun membalas dengan sangar semua pukulan dari vandra, jadilah kini kedua pria dewasa itu berkelahi untuk membuktikan siapa yang paling hebat diantara keduanya.
tamara berteriak histeris menyuruh mereka untuk berhenti, namun kedua pria itu mengacuhkannya, mereka asik bergumul di lantai, saling pukul, saling tendang, saling dorong, tidak ada satu hal pun yang mereka lewatkan, mereka benar-bemar tengah melampiaskan amarahnya, dendam yang selama ini menumpuk, kini tertumpahkan dalam perkelahian ini.
darah bercucuran dari keduanya, mereka babak belur, ada banyak sekali luka lebam di wajah tampan mereka, semua pengawal garvi hanya menyaksikan majikannya itu dengan perasaan khawatir, majikannya tengah beradu jotos dengan lawannya itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang garvi yang melarangnya, hingga tiba garvi berada diatas tubuh vandra, tangannya sudah terkepal ingin meninju vandra, namun tiba-tiba tamara langsung menghambur di atas vandra, dia tidak sanggup melihat kekasihnya itu berakhir ditangan garvi.
" hentikan... !!! " teriak tamara
dia memeluk erat kepala vandra, dia menangis sejadi-jadinya, hatinya pilu melihat vandra yang terkapar, menyaksikan itu garvi langsung mengurungkan niatnya, dia beranjak dari tubuh vandra, meski sedikit sempoyongan, namun dia masih bisa berdiri sendiri.
tamara terus mendekap vandra dalam pangkuannya, tangisnya tak reda sedikitpun, dia merasakan sakit dihatinya, namun vandra menolaknya, dia langsung menjauhkan dirinya, untuk yang kedua kalinya dia mendorong tamara, meskipun kali ini dia mendorong tamara dengan pelan, tapi tetap tak mengurangi perasaaan bingung dihati tamara.
" singkirkan air mata palsumu itu tamara " ujar vandra seraya membenarkan kemejanya
tamara berhenti terisak
" apa maksudmu van ? " tanya tamara
" cih... aku tidak menyangka kamu semurah itu tamara, pantas saja kamu selalu membela bos mu itu, ternyata ini jawabannya, sejak kapan ? " vandra balik bertanya
__ADS_1
" apanya ? " tamara tidak mengerti
" kamu tidak usah pura-pura lagi, hentikan sikap sok polosmu itu, jelaskan padaku, sejak kapan ? sejak kapan kamu menjadi simpanan bosmu ? " tanya vandra lagi
tamara sangat terpukul mendengar pertanyaan vandra, sudah serendah itukah vandra menilai dirinya, apakah kebersamaan selama bertahun-tahun ini, tak cukup membuatnya mengenal karakter tamara, sampai dia mempertanyakan sesuatu yang sangat melukai harga dirinya sebagai wanita, vandranya, vandra kesayangannya itu telah berubah menjadi orang yang telah menjatuhkan harga dirinya, serendah-rendahnya.
tamara mengusap air matanya, hatinya kini terluka, ucapan vandra berhasil menusuk tamara tepat dijantungnya, meski tak ada darah yang mengalir ditubuhnya, tapi rasa perihnya menjalar disetiap urat nadinya.
" pantas saja setiap kali aku ingin mengantarmu, kamu selalu menolaknya, ternyata ini alasannya, rupanya kau sudah tinggal bersama dengannya, bagaimana ? apa dia memuaskanmu diranjang ? .... "
belum sempat vandra melanjutkan kata-katanya, garvi kembali menghadiahkan bogem mentah ke wajah vandra
" kau tidak pantas menghina seorang wanita dengan kata-kata hina seperti itu " ucap garvi
" biar, biar saja pak garvi, biarkan dia bicara, aku ingin dengar semuanya, aku ingin tau apa yang dipikirkannya selama ini tentangku " cegah tamara
garvi melepas paksa vandra dari cengkramannya
" kamu tidak perlu sok suci begitu ra, kalau saja hari ini aku tidak datang ke apartemenmu, dan mendengar tentangmu dari security, bahwa sekarang kamu tinggal disini, maka aku tidak akan pernah tau apa yang kamu sembunyikan dibelakangku ra, aku hanya ingin tau, apa alasanmu melakukan ini padaku ?, selama kita berhubungan selama ini kamu tidak pernah ingin aku sentuh, tapi coba kamu lihat sekarang.
dengan gampangnya kamu menyerahkan tubuhmu itu kepada bosmu, agar kamu bisa tinggal dirumah mewah ini, dibayar berapa kamu selama ini untuk memuaskannya ?, mungkin karena alasan itu pula lah, kamu sampai hari ini bisa bertahan menjadi sekretarisnya, pasti kamu telah membayarnya dengan tubuhmu itu untuk posisi ini kan ?
aku tau, aku tidak sekaya garvi, makanya kamu tidak ingin melakukan itu denganku, tentu aku kalah bersaing dengan garvi, dia punya segalanya yang wanita butuhkan, tapi aku nggak nyangka, kamu pun sama dengan perempuan yang lainnya, hartalah yang menjadi prioritasmu " celoteh vandra dengan perasaannya yang hancur
" apa masih ada lagi ? " tanya tamara pilu
" heh...lihat, kau bahkan tidak peduli lagi padaku, kau tidak ingin aku berlama-lama disini kan, kau pasti sudah tidak tahan untuk bercinta dengannya malam ini ?, dan kehadiranku disini hanya mengganggu kalian " lanjut vandra
" hentikan vandra, kamu sudah keterlaluan, tamara bukanlah wanita seperti itu " sergah kalila dengan berlinang air mata, dia tidak bisa menerima sahabatnya di cemooh seperti itu, tamara mengangkat tangannya ke arah kalila sebagai isyarat bahwa dia baik-baik saja, dia sudah siap mendengar semua omong kosong dari vandra.
" jika memang dia tidak begitu, lalu mengapa dia tidak memberitahuku, mengapa dia menyembunyikannya dariku, apa aku ini orang lain baginya ?, katanya dia mencintaiku, tapi sampai hati dia menyembunyikan semuanya dariku " sambung vandra.
garvi membalikan tubuhnya, dia tidak ingin melihat wajah pria yang tadi menjadi lawan tandingnya, dia tidak tahan menghadapi prasangka buruk yang terlontar dari mulut vandra, iapun memutuskan untuk masuk kedalam, meninggalkan semua yang ada disitu, tangannya terus mengepal, memandakan dirinya yang masih dikuasai emosinya.
" coba jelaskan ?, kamu pasti tidak bisa menjelaskannya kan ? " tanya vandra
" aku harus mulai dari mana van, apa dari saat kamu menuduhku menjual tubuhku padanya ? atau saat kamu mengatakan diriku ini wanita rendah ? atau saat kamu mengatakan aku gadis yang sok suci ?, aku harus memulainya dari mana ? " tamara balik bertanya
" he...tentu saja, kamu pasti akan berkata seperti itu, karena kamu tidak punya jawabannya, lalu setelah semua itu, kamu akan menyudutkanku, dasar wanita ******.... "
plak....‼️
sebuah tamparan mendarat dipipi vandra, kali ini tamara yang maju, dia menampar vandra dengan kepedihannya, tidak ada penyesalan di wajah tamara, dia melakukannya dengan sadar, rasa perih yang diberikan vandra tak sebanding dengan tamparan yang diberikannya pada vandra.
" pergilah, dan jangan pernah tampakan wajahmu lagi dihadapanku, aku sudah mendengar apa yang perlu aku dengar, hari ini, kamu telah menunjukan siapa dirimu sebenarnya dan seberapa berharganya aku dimatamu " ucap tamara pilu
selesai tamara mengatakan hal itu, dia masuk ke dalam mansion garvi, malam ini semuanya telah terbuka, tirai kehidupan yang selama ini tertutup perlahan mulai terbuka, hari ini kehidupan mengajarkan sesuatu pada tamara, sesuatu yang akan dia ingat selama hidupnya, bahwa pria yang selalu dibanggakannya dihadapan teman-temannya selama ini , ternyata dia pulalah yang menodai ikatan ini dengan prasangkanya yang membuat tamara jatuh ke dasar jurang yang paling dalam, kata-kata yang telah diucapkan vandra akan tamara ingat selama hidupnya, dan kata-kata yang sudah terlanjur keluar, tidak akan pernah bisa ditarik kembali.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1