Dambaan Kalbu

Dambaan Kalbu
episode 21


__ADS_3

🤗🤗🤗🤗🤗


.


.


.


.


.


vandra mengacak-ngacak meja kerjanya, dia kesal bukan kepalang mendengar laporan dari anak buahnya yang ada di paris, mengapa semuanya jadi berantakan, semua yang telah direncanakannya, tidak ada satupun yang berjalan dengan mulus.


" damn ! " umpatnya


" maafkan saya pak vandra, kami sudah mengirimnya jauh ke paris, agar tidak ada yang bisa melacak keberadaannya, tapi rupanya pak garvi bisa menemukannya dengan mudah, bahkan pergerakannya tak terendus sama sekali oleh anak buah kita yang ada disini " lapor salah satu anak buahnya


" itu bukan salah kalian, aku yang gegabah, harusnya aku sadar siapa lawanku, dia tidak bisa dianggap remeh, dia pemain lama dibidang ini, tentu saja itu adalah keahliannya, aku harus membuat rencana baru " sahut vandra


" kita tidak bisa tinggal diam, garvi pasti akan membalasnya, dia tidak akan membiarkan kita begitu saja " lanjutnya


" lalu... apa tindakan kita selanjutnya ? " tanya anak buah vandra


vandra tampat berpikir sejenak, sebelum akhirnya, dia mendapatkan ide untuk membalas garvi.


" tenang saja, aku tau bagaimana mengatasinya, karena kelemahan garvi ada dalam genggamanku " ujar vandra dengan senyuman liciknya


vandra dan garvi, sejujurnya sudah lama saling mengenal, hanya saja hubungan mereka memang tidak berjalan baik dari awalnya, bahkan hingga kini, itulah mengapa mereka selalu bersitegang setiap kali bertatap muka.


🤗🤗🤗🤗🤗


garvi menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat dari perkiraan, dia memang sengaja melakukannya, agar bisa cepat kembali ke milan, meski pun untuk itu, dia harus merelakan waktu istirahatnya, dia bahkan baru tidur satu jam yang lalu, lalu langsung bergegas menuju bandara, dia ingin pulang hari itu juga.

__ADS_1


begitulah garvi, cara berpikirnya susah ditebak, terkadang dia suka berbuat semaunya, dia tidak suka membuang-buang waktu, tak peduli selelah apapun dirinya, jika dia ingin pulang sekarang, maka tidak ada yang bisa menghalanginya.


saat ini, dia tengah didalam pesawat first class, namanya juga orang kaya, wajarlah ya milihnya yang mahalan dikit.


garvi terlihat gelisah, jelas sekali dari sikapnya yang sangat tidak tenang, berkali-kali dia melirik jam ditangannya.


" ada apa vi ?, apa ada masalah ? " tanya ghibran


" no, aku baik-baik saja " jawab garvi.


wajahnya memang terlihat tenang, tapi matanya tak mampu menutupi keresahaan yang ada didalam hatinya, apa lagi ghibran sudah mengenalnya sedari kecil, garvi tidak bisa menipu mata ghibran dengan perangainya itu.


" mau sampai kapan kamu nungguin dia vi ? " tanya ghibran


" maksudmu ? " garvi balik nanya


" kamu tau maksudku " jelas ghibran


" sampai dia pulang " jawab garvi pasti


" aku tidak pernah seserius ini meyakini sesuatu " jawab garvi pasti


" dia saja melupakanmu ? sepertinya kemungkinannya kecil sekali, kalau dia akan pulang " ujar ghibran


" aku percaya padanya " balas garvi


" maaf sebelumnya, bagaimana kalau dia selamanya tidak akan kembali ? " tekan ghibran


garvi menatap tajam ke arah ghibran


" kenapa kamu bertanya seperti itu ? " tanya garvi balik


" karena sepertinya, dia sudah benar-benar meninggalkanmu, sebagai temanmu, aku tidak bisa melihatmu seperti ini " jawab ghibran

__ADS_1


garvi terdiam sesaat, sebelum menjawab ghibran yang menunggu dengan sabar jawaban dari garvi.


" aku mengerti maksudmu bran, tapi aku baik-baik saja, aku tidak akan munafik dihadapanmu, karena kamu sahabatku, ini semua memang berat buatku, bahkan sangat menyakitkan menerima semua kenyataan ini, kamu bisa bayangkan sendiri jika jadi aku, hidup berjauhan dengan orang yang kita cintai, namun setiap kali aku melihatnya, meski aku tidak bisa menyentuhnya, hatiku merasa tenang, hilang sudah semua keresahanku, dia seperti obat yang mujarab buatku, dan hatiku selalu berkata bahwa aku harus memperjuangkannya,


ini semua kulakukan bukan untuk dirinya, tapi untuk diriku, aku yang ingin menunggunya, aku yang rela menjaganya, meski hanya dari jauh, bahkan mungkin dia sendiri tidak menyadarinya sama sekali " cerita garvi


ghibran manggut-manggut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut garvi, dia sudah lama mendampingi garvi, dia tau semua yang terjadi dalam hidup garvi, dan sesungguhnya, diapun tau, sebesar apa garvi mencintai wanita itu, ghibran hanya ingin agar garvi mengurangi sedikit beban dihatinya, garvi bukan tipe orang yang suka menceritakan masalahnya, itulah mengapa ghibran sengaja memancingnya, agar garvi mau membagi dukanya.


" aku paham, itulah mengapa kamu sampai membuat ruangan khusus untuk menyimpan semua kenangan tentang wanita itu, bahkan kamu tidak mengijinkan siapapun memasuki ruangan itu, karena disitu ada semua yang bisa mengingatkanmu kepadanya, kamu benar-benar sangat melindunginya, aku harap dia bisa merasakan semua pengorbananmu ini, supaya kalian bisa kembali bahagia seperti dulu " ucap ghibran


garvi tersenyum mendengar itu semua, dia lalu memejamkan matanya, mencoba tidur sejenak, semoga saja dia bisa bermimpi indah dengan kekasihnya itu, karena hanya di dalam mimpilah, dia bisa bersama dengan orang yang dicintainya.


garvi dan ghibran sudah menginjakan lagi kakinya di milan, mereka pun langsung menuju ke mansionnya garvi, tak butuh waktu lama merekapun kini sudah sampai disana.


ghibran berpamitan kepada garvi karena dia harus menyelesaikan sesuatu, meski garvi menyuruhnya untuk pulang dan istirhat namun pria itu tidak menurutinya, walaupun memang hari ini adalah hari libur, tapi itu tak serta merta membuatnya berleha-leha di rumahnya, dedikasinya untuk garvi harus diacungin jempol, kepentingan garvi dan keluarga akhilendra adalah segalanya baginya.


baru saja garvi memasuki mansionnya, dia sudah disambut oleh tamara dengan ekspresi wajahnya yang datar, disebelahnya sudah ada koper, rupanya tamara memang sengaja menunggu garvi pulang, dia tau garvi akan pulang dari nanna.


garvi diam sesaat, kemudian berjalan mengacuhkan tamara, garvi berpura-pura tidak melihat tamara, dia melewati tamara begitu saja, tanpa bertanya apapun.


" kita perlu bicara " ujar tamara setelah dilewati oleh garvi barusan


" aku lelah " balas garvi tanpa menoleh ke arah tamara


" ini penting pak garvi " paksa tamara


" sudah aku bilang, aku lelah, besok saja kita bicara " tolak garvi


" tidak bisa, saya mau sekarang juga " desak tamara


garvi membalikan tubuhnya, dia menatap lurus ke arah tamara yang sangat serius dengan keinginannya itu, entah apa yang ada dibenak tamara, sehingga dia tidak memberikan garvi kesempatan untuk beristirahat, setidaknya tamara bisa menunggu sampai waktu makan malam, tapi sepertinya gadis itu sudah tidak sabar lagi ingin bicara dengan garvi.


bukannya garvi tidak mengerti apa yang diinginkan tamara, dengan koper yang sudah ada di sampingnya, sudah dipastikan dia pasti ingin meminta pulang ke apartemennya, tapi dengan kondisi garvi yang sangat lelah dan mengantuk ini, rasanya tidak mungkin untuk berbicara sekarang, tapi tamara tidak mau mengerti, dia sudah menyiapkan jauh-jauh hari rencana ini, rencana untuk bisa menjauh dari garvi, meski bukan untuk selamanya karena memang mereka terikat kontrak kerja, tapi setidaknya dia tidak perlu tinggal serumah lagi dengan garvi, cukuplah dia berjumpa pria itu di kantor saja, melihat dia dikantor saja sudah membuat tamara jengah, apa lagi jika harus melihatnya selama dua puluh empat jam, bisa stres tamara dibuatnya.

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2