
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
tamara menunggu dibangku rumah sakit, dia masih terbayang dengan insiden yang baru saja terjadi kepadanya, ada perasaan was was dihatinya, kalau-kalau para penjahat itu akan kembali menculiknya, dia tidak ingin peristiwa ini terulang kembali dalam hidupnya, sudah dua kali dia mengalami situasi berbahaya seperti ini, dan itu sangat menakutkan baginya.
ingatannya kembali menerawang pada garvi, dengan perasaan yang menyendu, tamara begitu tersentuh melihat kegigihan garvi ketika melindunginya, dia bahkan menjadikan tubuhnya sebagai tameng demi untuk tamara yang hanya seorang karyawan di perusahaannya, sungguh tamara sangat terenyuh dengan perlakuan garvi yang dengan jantannya membela dirinya dari para penjahat itu.
garvi begitu tulus melakukan itu semua untuknya, dia bisa melihat dengan jelas dari sorot matanya ketika garvi berada begitu dekat dengan wajahnya, entah ini pantas atau tidak bagi tamara, tapi mengapa dia bisa menemukan kedamaian disana, dari tatapan lembutnya, dari senyum manisnya, garvi seakan membius tamara dan melupakan rasa takutnya.
tangannya masih bergetar, efek dari ketakutan yang tadi di rasakannya, meskipun tamara mencoba menutupinya dengan menggenggam tangannya dengan tangan satunya lagi, tapi itu tidak berhasil.
tamara mencoba mengalihkan pikirannya dari mimpi buruk itu, dia tidak ingin mengingatnya lagi, itu sangat menguras energinya.
ghibran yang baru saja selesai menelpon keluarga garvi, mendadak masuk kembali ke dalam, membuat tamara kaget, di berdiri menantikan ghibran, namun ghibran justru langsung menemui suster yang tadi meminta tanda tangan dari keluarga garvi, agar garvi bisa dioperasi secepatnya.
__ADS_1
selesai dari sana, ghibran pun kembali mendekati tamara yang terlihat mematung menantikan penjelasan dirinya.
" lebih baik kamu pulang dulu saja tamara, sepertinya kamu butuh istirahat, aku bisa menyuruh anak buahku untuk mengantarmu pulang " suruh ghibran
" tidak pak ghibran, saya akan tetap disini, saya akan menemani pak garvi sampai beliau sadar " tolak tamara
" tapi kamu pun terluka tamara, apa tidak sebaiknya kamu pulang dulu untuk beristirahat, nanti jika badanmu sudah sehat, kamu bisa kembali kemari " tawar ghibran
" tolong jangan usir saya dari sini pak ghibran, saya tidak akan tenang, sebelum mengetahui kalau kondisi pak garvi baik-baik saja, tolonglah... !!! " pinta tamara
ghibran menatap iba ke arah tamara, wanita itu terlihat begitu mencemaskan garvi, membuat ghibran tak tega untuk menolak permintaannya.
" baiklah, tapi jika kamu merasakan sakit, kamu harus pulang " ujar ghibran
para dokter dan staf yang akan mengoperasi garvi pun datang, mereka berjalan dengan cepat menuju ruang operasi, tamara hanya bisa melihat mereka memasuki ruang operasi itu tanpa bisa berbuat apa-apa, hanya seuntai doa yang bisa dipanjatkannya, semoga operasi bisa berjalan dengan lancar dan garvi bisa selamat tanpa ada kekurangan sedikitpun.
" dok, tolong selamatkan pak garvi, bagaimanapun caranya, tolong usahakan yang terbaik, atau aku akan menghancurkan rumah sakit ini jika terjadi sesuatu pada pak garvi " ancam ghibran
" tenanglah pak ghibran, kami akan berusaha sekuat kami, tapi tolong bantu doa juga, karena kami hanyalah perantara saja " balas dokter
" tentu dokter " timpal ghibran
dokter itupun masuk ke ruang operasi, sebelum pintu benar-benar tertutup, tamara sempat melihat garvi yang sudah berada di meja operasi, wajah garvi begitu pucat karena dia kehilangan banyak darah, semoga tidak terjadi pendarahan, atau itu akan membahayakan nyawanya.
__ADS_1
ghibran dan tamara menunggu dengan setia diluar ruang operasi, ghibran terus saja mondar mandir tidak tenang, dia tidak bisa duduk sama sekali, seakan ada paku yang menancap di bangku itu.
" mengapa lama sekali mereka didalam, apa terjadi sesuatu dengan garvi " gumam ghibran gelisah
dia tidak bisa berdiam diri disana, atau jantungnya akan meledak karena deg-deg an menunggu kabar hasil operasi garvi, diapun keluar dari ruangan itu untuk mencari udara segar.
begitupun dengan tamara, dia pun sama gundahnya dengan ghibran, berkali-kali dia melirik ke arah pintu ruang operasi, namun pintu itu tak jua membuka, satu menit saja berada disitu, bagaikan ribuan tahun bagi tamara, entah mengapa dia begitu mengkhawatirkan garvi, dan perasaan khawatir ini, bukanlah sekedar perasaan bersalahnya kepada garvi, tapi lebih dari itu.
tamara mengenal betul perasaan ini, ini adalah sebuah perasaan takut akan kehilangan seseorang , dan perasaan seperti ini hanya dimiliki oleh orang yang mencintai, tamara tersentak dari pemikiriannya sendiri, dia tidak percaya dengan apa yang dipikirkannya barusan, perasaan apa ini ?, apakah tanpa disadarinya, selama ini dia telah mencintai bosnya sendiri ?, tidak, tidak mungkin, tamara tidak ingin mempercayai pikiran konyolnya ini.
tapi nuraninya pun tidak bisa berbohong, dia tidak bisa mengelak lagi, bahwa kenyataannya dirinya memang takut kehilangan garvi, kehilangan pria yang rela berkorban nyawa untuk dirinya.
jika itu bukan cinta, lalu apa namanya ?, tamara sendiri tidak bisa menjawabnya, dia membuang napasnya berat, dia tidak ingin mengakui perasaannya, walau jauh didalam lubuk hatinya, dia pun bisa merasakan debaran hatinya tiap kali dia berjumpa dengan garvi, bahkan ketika garvi mengacuhkannya, dia begitu menderita, dia terus saja memikirkan pria itu, kapanpun dan dimanapun, dia selalu menyebut nama garvi, meskipun hanya keburukan dari pria itu yang tertanam di memorinya.
tamara selalu mencari keberadaan garvi jika sehari saja dia tidak berjumpa dengannya, malahan sewaktu garvi melarangnya ke mansionnya, tamara justru merindukan masa-masa dimana dia mengurusi segala kebutuhan garvi, jika ini bukan cinta, lalu apa namanya ?, bisakah tamara menemukan kata yang tepat untuk bisa mengartikan semua ini ?.
tamara mengusap wajahnya kasar, mengapa, mengapa harus disaat seperti ini dia baru menyadari semuanya, disaat garvi tengah memperjuangkan hidupnya, dan apakah dia masih punya waktu untuk bisa bersama pria itu, meski mungkin sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa memiliki garvi, karena cinta ini salah dan ini sangat tidak pantas.
dirinya dan garvi bagaikan bumi dengan langit, begitu jauh, tidak akan pernah terjangkau, tidak ada harapan untuk bisa bersama, ini adalah aib baginya, tentu dia tidak sepadan dengan garvi, apa yang dipikirkan tamara sehingga dia bisa mempunyai perasaan cinta untuk bosnya.
tamara menggelengkan kepalanya, dia sungguh tidak tau diri, bisa-bisanya disaat seperti ini, dia malah memikirkan hal yang tidak-tidak, garvi disana tengah berada dalam kondisi antara hidup dan mati, sedangkan tamara, justru malah sibuk berkecamuk dengan perasaannya sendiri, bukannya berdoa demi keselamatan garvi.
tamara berusaha menepis semua pemikiran bodohnya tadi, yang garvi butuhkan saat ini adalah doa darinya, bukan perasaannya, yang mungkin saja dia salah mengartikannya, dia tidak ingin melanjutkannya lagi, dia harus fokus untuk bermunajat kepada tuhan demi keselamatan garvi.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗