
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
Garvi sedang berada di ruang kerja ghibran,dia tengah mendiskusikan masalah yang penting dengan ghibran, kini mereka tengah mengobrol santai di sofa yang ada di ruangan ghibran, sambil ditemani kopi dan beberapa camilan.
" kamu kan sudah tau kalau pelakunya itu vandra, kenapa kamu tidak menyuruhku untuk membereskan dia ?, sepertinya kamu terlalu santai menghadapinya, makanya dia jadi ngelunjak gitu " tanya ghibran
" sudah ku bilang belum saatnya, ini bukan waktu yang tepat untuk menghancurkannya " kawab garvi sambil menyeruput kopi panasnya
" terus kapan waktunya ?, aku sudah tidak sabar ingin menghajarnya " ghibran bicara penuh dengan semangat
" kamu pikir aku sabar, aku bahkan sudah lama sekali ingin menghajar bocah itu, tapi aku tidak bisa melakukannya saat ini, aku tidak boleh salah langkah, atau semua rencana yang sudah aku susun, jadi berantakan, aku tidak mau mengambil resiko sebesar itu, ini sangat berbahaya " ujar garvi
" hemm...baiklah, aku mengerti " patuh ghibran
" oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, mengapa pada akhirnya kamu membiarkan tamara pulang ke apartemennya ?, bukankah kamu sengaja mengurung dia selama ini, karena kamu takut dia akan membocorkan rahasia perusahaan mu, apa sekarang kamu sudah bisa mempercayainya " lanjut ghibran
garvi mengusap wajahnya
" karena dia yang memintanya, dia ingin aku membebaskannya, dan aku tidak punya pilihan " ujar garvi kemudian, dia memalingkan pandangannya ke luar jendela, seakan menghindari tatapan intens ghibran.
" sejak kapan seorang garvi akhilendra mudah luluh begitu " ledek ghibran
__ADS_1
" sudah, jangan bicara macam-macam, mau aku pecat kamu " ancam garvi
ghibran tertawa kecil melihat garvi yang mulai naik pitam
" tapi kamu nggak naksir dia kan ? " goda ghibran
" cukup ghibran !!! " geram garvi, dia memegang sofa yang didudukinya kuat-kuat untuk menahan luapan yang ada dihatinya agar tidak keluar, dia tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan menyakiti sahabatnya itu, karena dia menghormati ghibran dengan semua jasanya kepada keluarganya.
ghibran tertunduk, dia menyadari kalau dirinya sudah keterlaluan, tidak seharusnya dia bertanya hal konyol seperti itu kepada garvi, sudah pasti garvi akan marah karenanya, sebab bagi garvi, hanya ada satu wanita saja didalam hidupnya yang bisa membuatnya jatuh cinta, dan sampai detik ini, garvi selalu mencintainya, tidak pernah berkurang sedikitpun.
" sorry vi, aku berlebihan, aku hanya ingin kamu kembali seperti dulu, aku tidak tahan melihatmu menderita begini, kamu mungkin tidak akan pernah mengatakan kepedihan yang ada dihatimu itu kepada siapapun, tapi aku tau vi, meski kamu diam sekalipun, aku tau kalau setiap harinya, hatimu semakin terluka gara-gara dia kan " jelas ghibran serius
" tapi jika kamu menyalahkan dirinya atas penderitaanku ini, rasanya hatiku ini jauh lebih sakit dibandingkan dengan apa yang tengah ku alami ini " sahut garvi
" tapi bagaimana kalau dia tidak akan kembali lagi, aku tidak ingin kamu hancur seperti dulu " lanjut ghibran
" tapi yang menjalaninya itu aku bran, bukan kamu, dan aku sudah memutuskan untuk bertahan, jadi kumohon, jangan kamu menyalahkannya atas semua yang terjadi ini, karena sampai kapanpun, aku tidak akan bisa menerima jika ada yang menyalahkan " timpal garvi
semenjak hari itu, garvi menjadi pecandu alkohol, dia menghabiskan waktunya untuk menyiksa dirinya dengan minuman yang memabukan itu, hal yang tidak pernah dilakukannya selama ini, dia begitu frustasi karena wanitanya, dia tidak bisa menghadapi kenyataan tentang wanitanya, untunglah dia dapat mengatasi semua permasalahannya itu, meski tidak mudah untuk lepas dari kecanduannya itu, tapi garvi berhasil kembali menemukan semangat hidupnya, dan kini dia tengah memperjuangkan apa yang diyakini hatinya itu.
" kamu tau bran, apa yang membuatku bertahan sampai hari ini " ujar garvi
" apa ? " tanya ghibran sambil mengangkat kepalanya
" kamu tentu masih ingat betapa kacaunya hidupku saat itu, aku bahkan menyiksa diriku dengan minuman-minuman itu, aku tidak sanggup menghadapi kenyataan berat ini, tapi disuatu waktu, diantara sadar atau tidak, saat itu, aku merasa seperti ada seorang wanita yang mendekatiku, dia membelai rambutku dengan penuh kasih sayang dan memberikanku senyumannya yang hangat, dan aku tau itu adalah dia, meski aku tidak sadar sekalipun, dia tetap datang menyelamatkanku, saat itu dia berkata padaku, dia bilang, " tolong... jangan menyerah padaku " , entah itu halusinasiku atau bukan, tapi justru gara-gara itulah aku kembali menemukan alasanku untuk bertahan, yaitu untuknya,
untuk menuntunnya kembali pulang,
aku tau ini tidak mudah, bahkan sangat melelahkan, setiap kali aku merasa ingin menyerah, tapi dikala aku menatap wajahnya, meskipun itu hanya sebuah foto dirinya, hal itu sudah cukup untuk meyakinkanku, bahwa aku harus menunggunya, karena dia pasti akan datang kepadaku, dan biarkanlah aku terus seperti ini, sampai hatiku puas menantikannya " cerita garvi
" sekali lagi maafkan aku vi, aku tidak berniat untuk menyakitimu " sesal ghibran
__ADS_1
" aku tau itu, karena kamu sahabatku, aku tau kamu pasti menginginkan yang tebaik untukku, tapi kamu tenang saja bran, i am ok " ujar garvi
ghibran sedikit tenang mendengar kata-kata dari garvi, dia hanya bisa berdoa, semoga penantian temannya itu tidak akan sia-sia, dan jika seandainya hal yang ditakutkannya terjadi, semoga saja garvi bisa bertahan dan melewatinya seperti dulu.
🤗🤗🤗🤗🤗
" sial.. sial... sial... " umpat vandra
dia tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi tamara, gadis itu menghindari dirinya terus, sekeras apapun dia berusaha, tidak ada hasilnya sama sekali, semua usaha yang telah dilakukannya, tidak mampu meluluhkan hati tamara.
kepada siapa lagi dia harus meminta bantuan, sementara tidak ada satu orang pun yang mau membantunya untuk bisa kembali kepada tamara, semua jalan sudah buntu, kini vandra hanya mampu meratapi keadaannya ini.
dia memegang gelas yang berisikan alkohol, sudah hampir dua botol dia menghabiskan minumannya itu, dia tidak bisa menemukan cara untuk bisa bertemu tamara, meski dia tau gadis itu sudah tidak lagi tinggal di rumah garvi dan itu membuatnya stres.
tamara selalu saja punya cara untuk kabur darinya, padahal dia hanya ingin bicara baik-baik dengannya, tapi tamara tak memberinya kesempatan sama sekali.
" mengapa tamara ?, mengapa ?, semudah itukah kamu mencampakanku, aku tau aku salah, tapi aku sudah meminta maaf padamu, harusnya kamu itu memaafkanku, dasar ****** !!! "
pyaaaarrr....!!!
garvi melempar gelas yang dipegangnya, dia sangat tersiksa diperlakukan seperti ini oleh tamara, gadis itu telah berani mempermainkan perasaannya.
" dasar sok jual mahal kamu tamara, kamu pikir, kamu siapa hah ?, aku bisa saja mendapatkan yang lebih dari dirimu itu, harusnya kamu bersyukur, dasar wanita sialan,
aku sudah melakukan semuanya untukmu, tapi mengapa kamu malah meninggalkanku, apa pengorbananku selama ini tidak cukup untuk membuatmu memaafkanku, kamu keterlaluan tamara, aaaaaahhhhh..... !!!! " teriak vandra kencang
karena pengaruh alkohol, vandra jadi tidak terkendali, dia mengahancurkan semua barang yang ada disana, tanpa memperdulikan suara gaduh yang ditimbulkannya, dia melampiaskan amarahnya kepada benda mati yang tidak bersalah itu.
ruangan itu menjadi berantakan, seperti kapal pecah, banyak pecahan beling disana sini, juga beberapa serpihan kayu yang berserakan dilantai marmer, vandra benar-benar buta karena cinta, cinta yang kini menyakitinya.
" awas kau tamara, jika aku tidak bisa memilikimu, maka orang lainpun tidak boleh ada yang memilikimu, kamu itu milikku dan selamanya akan selalu menjadi milikku " ujar vandra dengan berapi-api.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗