
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
tamara berlari meninggalkan dokter dan ghibran yang masih berbincang soal garvi, yang ada diotaknya saat ini adalah keinginannya untuk sesegera mungkin menemukan pendonor untuk garvi, setidaknya hal inilah yang bisa dilakukannya untuk membalas budi kepada garvi, karena bersedia menyelamatkan dirinya, yang bukan siapa-siapanya garvi.
tamara menyesali dirinya sendiri, mengapa bukan dia orangnya, orang yang sangat dibutuhkan garvi saat ini, orang yang memiliki darah O rhesus negatif, sehingga dia bisa mendonorkan darahnya untuk garvi secara langsung, jadi garvi tidak perlu menunggu untuk operasinya dan mempertaruhkan nyawanya di meja operasi.
namun tiba-tiba tangannya dicekal seseorang, hampir saja tamara memarahi orang itu jika saja dia tidak segera melihat siapa yang tengah menghentikan langkahnya itu.
" kamu mau pergi kemana tamara ? " tanya ghibran
" lepaskan aku ghibran !!! " tamara meronta
" tidak, aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kamu menjawab pertanyaanku, apa kamu tidak sadar sekarang ini jam berapa " balas ghibran
" aku tidak peduli, aku harus pergi sekarang juga, aku harus bisa menemukan orang yang punya golongan darah yang sama dengan garvi " ujar tamara yang saking paniknya sampai tak sadar memanggil garvi tanpa title bapak diawal namanya
" dengarkan aku dulu tamara, tenanglah " timpal ghibran
" bagaimana aku bisa tenang ghibran, kamu dengar sendiri kan apa kata dokter tadi, garvi butuh darah itu sekarang, dia tidak bisa menunggu lagi, atau semuanya akan terlambat " lagi tamara mengulangi memanggil garvi tanpa embel-embel pak didepan namanya
" kamu pikir hanya kamu saja yang peduli dengan garvi, aku juga " bentak ghibran
tamara bergeming, sepertinya dia tidak begitu peduli dengan apa yang dikatakan ghibran.
" ok, baiklah, kemana kamu akan mencari orang itu di waktu dini hari begini " lanjut ghibran mengalah
" aku akan mencarinya kemanapun, bila perlu aku akan mengetuk rumah orang satu persatu untuk mencarikan pendonor untuk garvi " sahut tamara
__ADS_1
" sepenting itukah garvi buatmu tamara ?, memangnya apa hubunganmu dengannya, sehingga kamu sebegitu ngototnya ingin mencari pendonor itu untuk garvi ? " tanya ghibran
" karena aku mencintainya " tanpa sadar tamara mengucapkan kalimat sakral itu, dia jadi terdiam sendiri setelah menyadari apa yang baru saja dilontarkannya, dia sendiri tidak percaya bahwa dirinya mampu mengucapkan kata itu tanpa keraguan sedikitpun, bahkan didepan orang yang notabene nya adalah orang terdekat garvi, dia tersentak sampai terkulai lemas dilantai karena saking terguncangnya, dia begitu syok dengan apa yang barusan dikatakannya.
mengapa dia harus mengucapkan kalimat yang tidak sepantasnya diutarakan kepada atasannya sendiri ?, mengapa kekhawatirannya malah menyingkap rahasia perasaannya yang sebenarnya, apa yang harus dilakukannya sekarang, haruskan dia menarik kata itu kembali, sedangkan kata itu sudah terlanjur di keluarkannya.
penjelasan apa yang akan diberikannya kepada ghibran, yang kini ikut terdiam setelah mendengar pengakuan dari tamara untuk garvi, padahal tamara sendiri masih bingung dengan perasaannya kepada garvi, meskipun dari alam bawah sadarnya telah mendesaknya untuk mengucapkan kata cinta kepada bos kece nya itu.
ghibran tertegun, dia menunggu reaksi tamara selanjutnya, setelah dia mengeluarkan kalimat yang sensitif barusan, tamara jadi salah tingkah, dan itu membuat suasana diantara keduanya pun menjadi canggung, ghibran mencoba membuat tamara nyaman, dia mendekati tamara dan menepuk pundaknya untuk menenangkannya.
" apa kamu sudah lupa tamara ?, kamu itu baru saja selamat dari penculikan, nyawamu juga dalam bahaya, aku tidak bisa mempertaruhkan keselamatanmu, garvi sudah bersusah payah menyelamatkanmu, aku tidak ingin membuat pengorbanannya jadi sia-sia, jadi kamu tunggu saja disini, biar aku dan anak buahku yang akan mencari pendonor untuk garvi " ujar ghibran mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin membuat tamara menjadi malu
" tidak bisa bran, aku tidak bisa hanya duduk diam saja disini, setidaknya biarkan aku turut membantu " paksa tamara
" hah, baiklah, tapi kamu harus selalu bersamaku dan menuruti semua kata-kataku, setidaknya jika kamu bersamaku, aku bisa mengawasimu " titah ghibran
tamara mengangguk, ghibranpun membantu tamara berdiri.
" tapi bran, tolong rahasiakan apa yang aku katakan tadi " pinta tamara
" ok, kamu bisa percaya padaku, rahasia ini hanya kita berdua saja yang tau, dan kamu tidak perlu merasa canggung seperti itu padaku " timpal ghibran
🤗🤗🤗🤗🤗
vandra duduk dengan serius dimeja kerjanya, dia tengah menunggu kabar dari anak buahnya tentang garvi, jauh didalam lubuk hatinya, dia mengharapkan kabar tentang kematian garvi.
" maaf tuan, saya ingin melaporkan sesuatu " ujar anak buah vandra
" apa ini tentang garvi ? " tanya vandra
" iya tuan, ada kabar baik dari rumah sakit "
" apa si garvi sudah mati ? " tanya vandra lagi
" belum tuan, tapi sepertinya tidak akan lama lagi, menurut informan saya, pak garvi saat ini sedang membutuhkan donor darah " jawabnya
" donor darah " gumam garvi
__ADS_1
" iya tuan, yang saya dengar golongan darahnya O rhesus negatif, sementara dirumah sakit tidak ada stok untuk darah golongan itu, dan sepertinya anak buah pak garvi sedang mencari orang yang bergolongan darah sama dengan pak garvi, jika mereka tidak berhasil menemukannya saat ini juga, maka dipastikan, pak garvi pasti akan segera mati, karena kabarnya dia mengalami pendarahan dan membutuhkan transfusi darah saat ini juga " jelas anak buah vandra
vandra diam, dia sedang memikirkan sesuatu, sepertinya dia punya rencana yang lebih bagus dibandingkan dengan kematian garvi, dia tidak boleh mati segampang itu, setidaknya garvi harus mengalami penderitaan dulu, barulah vandra akan merasa puas melihat rivalnya itu menderita, dia harus bisa menyiksa garvi pelan-pelan, dan ini adalah pembalasan yang sempurna.
bukan hanya pembalasan yang sempurna untuk garvi, tapi hal ini juga bisa menjadi senjata ampuh untuk melumpuhkan hati tamara, vandra yakin, dengan rencana yang telah dia susun di otaknya, dia akan bisa mendapatkan tamaranya kembali.
" tarik informanmu dari sana " titah vandra
" kenapa tuan ? " tanyanya
" kau tidak perlu tau alasannya, lakukan saja perintahku " jawab vandra
anak buahnya pun menurut, dia segera meninggalkan ruang kerjanya, meninggalkan vandra yang tersenyum misterius, sepertinya dia sudah mempunyai tak tik yang jitu untuk menaklukan kedua mangsanya tersebut.
🤗🤗🤗🤗🤗
sementara itu, ghibran dan tamara berkeliling mencari di bank-bank darah yang ada didaerah situ, merekapun berkeliling mencari siapa saja yang menyumbangkan darahnya untuk garvi, ghibran bahkan telah menyuruh anak buahnya untuk menyisir ke daerah-daerah terpencil, namun tak ada hasil.
mereka pun sudah mengumumkannya lewat jajaring sosial, tapi memang dasarnya waktu sudah dini hari, tak banyak orang yang masih terjaga di jam malam seperti ini.
tamara dan ghibran begitu gelisah karena tak jua menemukan pendonor itu, sedang garvi tidak bisa menunggu lebih lama lagi, mereka hanya berharap ada keajaiban untuk garvi, ghibran bahkan rela memberikan uang berapa saja, asal ada yang bisa menyumbangkan darahnya untuk garvi.
lelah berkeliling ghibran pun memberhentikan mobilnya, dia mulai putus asa, pikirannya kalut, dia tidak bisa menemukan opsi lain untuk masalah ini.
tamara yang duduk disebelah ghibran cuma memperhatikan, karena memang ghibran tidak mengijinkannya untuk pergi sendirian, padahal dia ingin sekali membantu garvi, apapun akan diusahakannya demi untuk keselamatan garvi.
" sekarang bagaimana ? " tanya tamara lesu
" kita kembali saja ke rumah sakit " jawab ghibran
" tapi kita belum menemukan pendonor untuk garvi, tidak mungkin kita kembali dengan tangan kosong, kalau memang kamu sudah menyerah, kamu duluan saja, turunkan saja aku disini, aku tetap akan mencari pendonor untuk garvi, aku tidak bisa menyerah sekarang, tidak sebelum aku mendapatkan darah untuk garvi " oceh tamara
ghibran mencekal tangan tamara yang hendak turun dari mobilnya
" bukan itu maksudku, kita kembali dulu ke rumah sakit, siapa tau sudah ada pendonor disana, bukankah kita sudah mengumumkannya di sosial media, aku yakin beberapa orang pasti sudah membacanya, dan siapa tau diantara mereka ada yang berbaik hati dan mau mendonorkan darahnya untuk garvi, jika memang ketika kita kembali ke rumah sakit, belum ada juga orang yang mau mendonorkan darahnya untuk garvi, maka kita berdua akan mencarinya lagi, bila perlu, aku akan menggunakan kekerasan, aku tidak akan berbaik hati lagi " tekad ghibran
tamara tidak bisa berkutik, dia menyetujui saja dengan apa yang dikatakan ghibran barusan, siapa tau ghibram benar, mungkin saja ada orang yang langsung datang ke rumah sakit dan bersedia mendonorkan darahnya untuk garvi.
__ADS_1
dan jika belum ada juga, maka dia akan terus mencari dan mencari, sampai dia lelah, sampai seluruh harapannya sirna, namun tetap didalam hatinya, tamara tak pernah lepas dari mendoakan keselamatan garvi.
🤗🤗🤗🤗🤗