
🤗🤗🤗🤗🤗
.
.
.
.
.
mobil ghibran berhenti di parkiran rumah sakit, tamara dan ghibran turun dari mobil dan langsung menuju ke ruang operasi garvi, namun sebelum sampai di tempat itu, tiba-tiba seorang perawat memberhentikan mereka.
" maaf pak ghibran, tunggu sebentar !! " panggilnya
" iya, ada apa sus ?, apa terjadi sesuatu pada pak garvi ? " tanya ghibran khawatir, dia dan tamarapun menghentikan langkahnya
" tidak pak ghibran, justru saya ingin menyampaikan kabar baik untuk anda, dokter tadi menyuruh saya memberitaukan anda kabar baik ini, syukurlah tadi ada orang yang datang kemari dan dia bersedia mendonorkan darahnya untuk pak garvi " jawab perawat itu
ghibran dan tamara sama-sama bernapas lega, mereka sangat bersyukur ternyata didunia ini masih ada orang baik, yang tanpa pamrih mau membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan.
" syukurlah sus " ujar ghibran
" iya pak ghibran, tak lama kalian pergi, orang itu datang kemari dan menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya, kebetulan golongan darahnya sama dengan pak garvi, dan kini dokter sedang mengoperasi pak garvi, semoga semuanya berjalan dengan lancar, jika sampai terlambat sedikit saja, saya tidak tau apa yang akan terjadi pada pak garvi nantinya " sahut perawat itu
" sekarang, orang itu dimana sus ?, kami harus berterima kasih padanya " tanya tamara antusias
" oh, dia sedang di ruang pemulihan, setelah tadi darahnya kami ambil, kami menyuruhnya untuk beristirahat sebentar " jawab perawat
" bisakah kami menemuinya sekarang ? " tanya ghibran
" tentu saja, mari saya antarkan " timpal perawat itu
dengan perasaan yang dipenuhi rasa syukur, ghibran dan tamara mengikuti langkah perawat yang mengantarkan mereka menemui sang pendonor, mereka sangat sangat berterima kasih dengan orang itu karena mau memberikan darahnya kepada orang yang tidak dikenalnya, sungguh mulia hatinya.
merekapun masuk ke salah satu kamar yang ada dirumah sakit itu, alangkah terkejutnya ghibran dan tamara melihat siapa yang menjadi pendonor darah untuk garvi, seseorang yang sangat mereka kenal.
tamara tertegun karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sedang ghibran dengan perasaan marah menatap nanar ke arah orang itu, dan orang itu hanya memamerkan senyum penuh maknanya untuk tamara dan ghibran.
__ADS_1
" ini dia orangnya pak ghibran, saya tinggal dulu ya, permisi " pamit perawat itu
tanpa aba-aba ghibran langsung menerjang vandra yang tengah tersenyum licik ke arahnya, ya... orang yang mendonorkan darahnya untuk garvi itu ternyata vandra, rival abadinya garvi, dan mantan kekasih dari tamara.
" brengsek, apa maksudmu hah ? " tanya ghibran yang mencengkram kerah kemeja vandra
" ghibran hentikan, ini rumah sakit, kamu tidak boleh membuat kerusuhan " cegah tamara dengan memegangi tangan ghibran
" tidak bisa tamara, pria ini pasti punya niat busuk kepada garvi " tolak ghibran
" ok... aku paham, tapi kamu tetap harus tenang " ingat tamara
" ayo katakan, bajingan " paksa ghibran
" aku tidak ada maksud apa-apa, aku melakukannya demi untuk kemanusiaan " jawab vandra sambil melirik tamara
" apa kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan kata-kata busukmu itu " oceh ghibran
" terserah kamu mau percaya atau tidak, yang pasti aku kesini dengan niat baik, aku tau hubunganku dengan garvi selama ini tidak baik, tapi apa aku salah, jika aku ingin membantunya ketika dia sedang membutuhkan pertolongan " sahut vandra sok bijak
" aku tidak akan membiarkan darah kotormu itu masuk ketubuh garvi " lanjut ghibran
" tau apa kau tentang persahabatan kami ?, orang sepertimu bahkan tidak pantas untuk mengucapkannya " balas ghibran
ghibran melemparkan tubuh vandra dengan segenap emosinya, dan diapun buru-buru ke ruang operasi garvi, ghibran tidak akan membiarkan rencana busuk vandra berhasil, jika sampai itu terjadi, maka dia tidak akan bisa menjelaskannya ke pada garvi, ghibran yakin, garvi akan lebih memilih mati dari pada menerima darah dari musuhnya itu.
tamara menatap kosong kepergian ghibran, lalu pandangannya kembali tertuju kepada vandra yang tengah merapihkan kemejanya.
" apa benar apa yang dikatakan ghibran barusan ? " tanya tamara
" tentu tidak tamara, aku benar-benar tulus sayang " jawab vandra
" tolong, jangan sebut aku dengan kata itu, kita sudah berpisah, apa kamu lupa ? " jelas tamara
" aku tidak akan pernah lupa, karena itu adalah hari, dimana aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagiku, yaitu dirimu " ucap vandra tegas
" vandra please, bukan itu yang aku ingin bahas sekarang "
" ok, i am sorry " sahut vandra
__ADS_1
" yang aku tau, kamu dan pak garvi tidak pernah akur, aku juga sependapat dengan ghibran, karena aku tau bagaimana kamu begitu membenci pak garvi, seperti dia membenci dirimu, jadi aneh saja, jika tiba-tiba kamu mau mendonorkan darahmu untuk pak garvi " selidik tamara
" apakah yang ada dihadapanku ini adalah tamara yang aku kenal dulu ?, tamara yang selalu percaya padaku ? " tanya vandra
tamara tak menyahut, dia lebih memilih membuang mukanya.
" kamu diam, berarti benar ada yang berubah dari wanita yang ada dihadapanku ini, baiklah kalau memang begitu keadaannya, sekarang dengarkan aku baik-baik tamara, kamu benar, aku memang mempunyai maksud tertentu dari semua yang kulakukan ini, tapi niatku juga tidak buruk, aku hanya ingin berubah menjadi lebih baik, dan salah satunya ini, aku berusaha memperbaiki hubunganku dengan garvi,
setelah kita berpisah, aku banyak belajar dari sana ra, aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, aku tau ra, kamu tidak suka mendengarku mengatakan hal ini, tapi tetap akan ku katakan, aku sedang berusaha menuju ke arahmu, jadi ku mohon.. jangan cabut hak itu dariku, karena akupun berhak untuk mencintaimu dan aku juga berhak untuk berusaha kembali padamu dengan caraku " cerita vandra
tamara hanya mampu menanggapi ucapan vandra dengan kediamannya, meski dia ingin sekali menyanggah kata-kata vandra barusan, namun melihat tatapan serius dari vandra, membuat tamara mengurungkan niatnya, dia jadi mati kutu dibuatnya, dan demi menghindari tatapan mata vandra yang intens kepadanya, tamarapun meninggalkan vandra tanpa memberikan komentar apapun.
🤗🤗🤗🤗🤗
ghibran sudah sampai didepan ruang operasi garvi, dia langsung menggedor pintu ruang operasi dengan keras, dia pun sengaja beteriak dengan kencang, agar ada yang mendengar suaranya dari dalam dan mau membukakan pintu untuknya.
namun sekeras apapun ghibran berteriak, tidak ada satu orang pun yang keluar dari ruangan itu, bahkam kini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disekitar situ, tapi ghibran tak peduli, bagaimanapun caranya, dia harus bisa menghentikan bencana ini.
" pak, tolong berhenti pak, anda mengganggu operasi yang tengah berlangsung " larang perawat yang menghampiri ghibran
" aku tidak peduli suster, cepat suruh hentikan operasi pak garvi sekarang juga, darah bajingan itu tidak boleh masuk secuilpun ke tubuh pak garvi " titah ghibran
" maaf pak ghibran, ini terlalu berbahaya untuk pasien, jika kita menghentikan operasi sekarang juga, maka bisa dipastikan nyawa pak garvi tidak akan selamat, dan lagi pula anda sudah terlambat untuk menghentikan operasi ini, dokter pasti sudah mentransfusi darah itu kepada pak garvi sekarang, tidak ada yang bisa anda lakukan lagi untuk mencegah semua ini terjadi " timpal perawat itu
" aku tidak peduli suster, tolong cegah dokter untuk memberikan darah penjahat itu kepada garvi, aku jamin, aku pasti akan menemukan pendonor itu secepatnya " ujar ghibran
dia mengangkat bangku yang ada di situ dan melemparkannya ke pintu ruang operasi, namun pintu itu tetap tertutup rapat, tak habis akal, ghibran terus saja memukuli pintu ruang operasi meski dia tau usahanya sia-sia.
ghibran terus mencobanya tanpa lelah, meski dirinya jadi tontonan, tak ada yang dipedulikannya lagi saat ini, selain menghentikan operasi garvi, apa yang akan dikatakannya kepada garvi nanti, jika garvi tau bahwa orang yang paling dibencinyalah yang justru mendonorkan darahnya untuk garvi.
garvi pasti akan murka, dia akan mempertanyakan kinerja ghibran, mengapa bisa darah si keparat itu mengalir didalam tubuhnya, karena baik ghibran ataupun garvi, mereka berdua sama-sama tau, kalau vandra tidak mungkin melakukannya dengan suka rela, pria itu pasti punya tujuan tersembunyi dibalik semua ini.
ghibran jadi menyesal, mengapa waktu itu dia tidak memberitau dokter, bahwa siapapun boleh mendonorkan darahnya kepada garvi, kecuali makhluk yang benama vandra, dan kini pria itu telah mengambil kesempatan dari keteledorannya, nasi sudah menajdi bubur, semuanya sudah terlanjur, kini yang bisa dilakukan ghibran hanyalah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi garvi, ketika pria itu siuman nanti.
perawat itu memanggil petugas keamanan untuk mengamankan ghibran yang sudah kalap, dia tidak bisa membuat pemuda itu tenang, jika dia terus membiarkannya, maka itu akan membuat takut pasien yang lainnya.
dua petugas keamanan langsung menyergap ghibran yang sudah kesetanan, mereka mengunci tubuh ghibran dan menyeretnya menjauhi ruang operasi, tapi ghibran terus saja berteriak agar dokter menghentikan operasi garvi, bukan karena dia tidak ingin garvi selamat, tapi karena dia yakin, semua yang dilakukan vandra hari ini, pasti akan ditagihnya suatu hari nanti.
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1